
Tiba-tiba ponsel Hendrik berdering.
"Jangan biarkan Datiyah ke rumah ini, maafkan aku yang tak bisa melindungi kalian dan orang-orang yang selama ini selalu menjagaku." panggilan terputus, tubuh Hendrik membeku....
"Ada apa? Siapa yang telepon barusan". Tanya Datiyah khawatir melihat ekspresi Hendrik.
Hendrik berusaha mengatur nafasnya dan tubuhnya. Kemudian tersenyum pada Datiyah.
" Nona, anda tidak perlu khawatir. Saya perlu kembali ke rumah hari ini. Nona disini saja. Saya akan menjemput Nona kalau urusan di sana sudah selesai."
Hendrik langsung keluar dan melajukn mobilnya dengan cepat ke rumah Sugesti.
Datiyah tentu saja tetap merasa khawatir, Hendrik terlihat sangat pucat dan tak memperdulikan apapun.
Datiyah pun, meminta salah satu supir di rumah itu untuk mengantarnya ke rumah Anton.
Sementara itu, di rumah Anton.
Seorang pembantu, yang tidak lain adalah ibu Hendrik terluka parah akibat siksaan dari Anton.
Anton duduk di atas kursi sambil memegang tongkat baseball.
"Kamu tahu, putramu sudah membantu orang-orang itu mengambil milikku." ucapnya sambil ngos-ngosan.
Dia lalu berdiri dan mendekati, tubuh wanita yang sudah tak berdaya tapi masih bernafas. Tubuhnya sudah dipenuhi lebam, luka dan darah.
"Bagaimana kalau sekarang, aku mengambil apa yang merupakan miliknya" sambil meletakkan tongkat baseball di kening wanita itu.
Jihan dan Raka, sudah di kunci di dalam kamarnya. Sehingga Jihan tidak bisa menolong ataupun membujuk Anton. Dia hanya bisa menangis dan memeluk putranya dalam ketakutan.
Sementara pelayan yang lain, hanya bisa terdiam dan menangis, mereka takut akan terjadi sesuatu pada keluarga mereka. Karena begitulah Anton mengikat dan mengontrol semua pelayan dan anak buahnya.
Terdengar suara mobil yang mengerem di halaman rumah Anton.
Hendrik turun dari mobil dengan cepat, dan masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah, di tonton oleh belasan pelayan, dia melihat ibunya yang berlumuran darah, terbaring dengan lemah.
Langkahnya terhenti, nafasnya memburu dengan cepat, begitu juga langkahnya yang melaju dengan cepat ke arah Anton,
Anton tersenyum licik, dan anak buahnya mulai memegangi Hendrik.
"aaaaaarrhhh... Kamu bukan lagi manusia, kamu jelmaan iblis. Lepasskan.. Lepaskan akuu.... " Teriak Hendrik berusaha melepaskan diri. Ia sangat ingin memb*nuh Anton.
Anton kemudian menggerakkan tongkat dari bawah dan memukul dagu Hendrik. Hendrik pun terdiam dan tertunduk lemas. Dengan darah mengalir dari mulutnya.
"Auuhh.. Kau sangat berisik sekali." Anton jongkok di depan Hendrik dan menjambak rambutnya agar wajahnya terangkat dan melihat Anton.
"Lihat aku, sejak beberapa hari ini, aku tidak bisa tidur gara-gara kamu dan gadis itu. Aku sudah berusaha baik pada kalian. Tapi ini balasannya." Anton tertawa gila.
"Hahahahaha... Kamu tau, apa yang aku bayangkan saat ini? Gadis bodoh itu akan masuk, melihatmu dan ibumu dalam keadaan seperti ini. Aku sangat tidak sabar ingin melihat wajahnya."
__ADS_1
"nnnggghhh... Nona Tiyah tidak akan datang ke sini. Dia sedang berpesta merayakan kekalahanmu... Cuiihh" Hendrik meludah pada Anton.
Anton berdiri menyuruh anak buahnya mundur, kemudian memukul lengan Hendrik..
"aaaarrggghhh" Hendrik mengerang kesakitan.
Anton merasakan seseorang menyentuh kakinya. Ibunya Hendrik, memegang kaki Anton, Hendrik menggeleng melarangnya.
Anton menendang tangan itu dan terkena tubuhnya yang membuat wanita tua itu kembali terlentang.
"iiiibuuuuuu....!!!! Dasar kau sampah. Pengecut sama seperti ayahmu." teriak Hendrik sepenuh tenaganya.
Anton tertawa melihat, betapa lemahnya manusia ini tanpa kekuasaan. Orang-orang yang hanya menonton kejahatan, karena uang dan kekuasaan yang dia punya, membuat orang-orang lemah itu tak berkutik.
Datiyah yang tiba, melihat adegan di hadapannya membeku, tapi mata, kepalanya, dan jantungnya terasa panas.
Datiyah melihat sekitarnya, dan menemukan vas bunga, dia mengambilnya dan melemparkannya ke arah Anton, sayangnya hanya mengenai punggungnya.
Tak ada yang sempat menghalanginya karena semua tengah fokus pada Anton.
Anton berbalik dan melihat Datiyah. Dia melaju dengan cepat ke arah Datiyah, dia fikir Datiyah akan mundur tapi Datiyah juga maju dengan cepat ke arah Anton.
Ketika anak buahnya akan menghalangi Datiyah, Anton melarang mereka. Dia sangat ingin melihat sampai mana Datiyah akan bergerak kali ini.
Datiyah maju, sampai dia berhadapan dengan Anton. Dia Langsung memukul wajah Anton.
Semua irang yang melihat sangat terkejut.
"Cukup, hentikan baji*gan. Bahkan setan pun kalah dengan perilakumu."
Anton maju, dan langsung menampar Datiyah dengan keras, sampai terjatuh.
"Berani sekali kamu... " ucap Anton sambil mengayunkan tongkat baseball di tangannya.
"Aaaaarrhhhh.... " Hendrik berlari ke arah Anton sekuat tenaganya dan mendorong Anton sampai terjatuh.
Dengan cepat anak buahnya memegangi Hendrik.
"Kak Hendrik... " teriak Datiyah.
"Baiklah, sepertinya kalian berdua sudah bosan hidup." ucap Anton sambil berdiri yang semakin murka dan marah.
Dia berjongkok di hadapan Datiyah.
"Kamu ingat, ketika aku bilang kamu harus kehilangan sesuatu karena mendapatkan sesuatu? Aku Bahkan sudah tidak perduli dengan harta keluargamu. Hal ini lebih seru dari yang kubayangkan." Anton tersenyum licik dan berjalan ke arah Hendrik yang tak sampai 2 meter dari Datiyah.
"Tidaaak... Tidaaak... Kamu tidak akan berani. " Datiyah menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya.
Anton pun mulai memukul tubuh Anton beberapa kali sampai tak berdaya.
__ADS_1
Dan tubuh Datiyah ditahan oleh anak buah Anton.
"Tidaaakkkk.... Hentikaaann... Aaaaaaaaakkk. " Datiyah hanya bisa berteriak dan menangis.
Melihat tubuh Hendrik yang sudah tak berdaya dan lemah. Anton pun duduk di kursi di tengah-tengah mereka.
"Kamu tahu, sejak kemarin aku berfikir untuk menggunakan ini, untuk memusnahkan kalian." ucap Anton mengeluarkan pistolnya.
"tapi siapa sangka, menyiksamu begini lebih menyenangkan."
"Eeemmmm.. Heeemmm... " Datiyah menahan tangisnya.
"Kamu tidak layak untuk dicintai. Aku pernah berfikir membiarkanmu bahagia dan normal sama mama. Tapi, aku benar. Kamu tidak pantas dan berharga untuk hal itu." ucap Datiyah di antara tangis dan amarahnya.
"Karena kamu sudah di sini, bagaimana kalau kamu mengenang masa lalu? Ambilkan cambuk ku" ucap Anton menyuruh anak buahnya mengambilkan cambuk.
Pada tahap ini, Datiyah benar-benar tak perduli, namun dalam hatinya berdoa.
"Tuhan, kuatkan aku... Bukankah, sudah cukup semua ini? Aku terjerat di neraka dunia ini." Datiyah menutup matanya.
"eeeeeemmmmmhhhhh... " Datiyah menahan cambukan pertamanya setelah sekian lama.
"Ini, sudah pernah kulalui, ini bukan apa-apa." Batin Datiyah.
Dia merangkak perlahan ke arah Hendrik.
"Kak Hendrik , bangun. Kita bisa melewati ini.. " ucap Datiyah pelan sambil menahan sakit.
"Kau, mau kemana? " ucap Anton sambil melayangkan cambukan keduanya.
"Eeehhhmmmmhhhh... Errgg. " suara Datiyah menahan cambukan keduanya.
Setelah tiba di tempat Hendrik, dia duduk perlahan dan memeriksa Hendrik.
"Kak.... " dia memegang kepala Hendrik, ada darah yang mengalir dari kepalanya. Dia Sudah tak memperdulikan cambukan yang dia terima.
Ketika Anton hendak memukulnya ketiga kali, tiba-tiba polisi menyerbu masuk dan menghentikan Anton.
Datiyah melihat ke arah Anton,
"Siapa mereka? Polisi?" batin Datiyah.
Beberapa orang berjalan ke arah Ibunya Hendrik, ke arah Hendrik dan Datiyah.
"Telpon ambulan, ada 3 orang terluka."
Datiyah hanya mendengar suara Anton berteriak suruh melepaskannya. Setelah itu dia tak sadarkan diri.
Samar dia mendengar suara Gama.
__ADS_1
...****************...