Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Media gosip


__ADS_3

"Nona Datiyah, apa anda tahu kalau suami anda bermalam bersama artis Aira?" sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Monica langsung mengamankan Datiyah, Mutia dan Gina ke dalam galeri.


"Apa maksudnya?" tanya Gina kaget dan membuka ponselnya dan mencari tentang Aira.


Dan benar saja. Berita tentang Gama yang bertemu dengan Aira di rumah sakit sudah tersebar luas.


Mutia yang mendengarnya semakin geram. Belum saja sempat menyelesaikan satu masalah dengan Gama. Ia harus berdebat lagi dengan Gama tentang masalah ini.


Datiyah hanya diam dan berdiri.


"Aaahhh, jadi tadi malam dia buru-buru ketemu dengan Kak Aira. Lagipula siapa aku? dia harus menjelaskan hal itu padaku." Batin Datiyah menghibur diri sendiri. Meski tanpa di sadari matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Kak Tiyah, jangan diambil hati. Aira masuk rumah sakit jadi Kak Gama cuma bantuin dia aja."


"Hahahhaah, Kamu gak perlu repot jelasin masalah itu. Semua orang rumah kan tau. Aku sama Gama cuma teman aja. Dan aku mengerti dia pasti sangat khawatir dengan Kak Aira. Karena kak Aira adalah wanita yang ia cintai. " Datiyah tersenyum getir.


Gina balik tersentum getir.


"Ya udah, ayo kita lanjut lihat karya di galeri. Daripada ngurusin berita gak jelas." Datiyah dan Gina berjalan menuju ke dalam galeri.


Komentar hujatan mulai di layangkan untuk Aira, karena sudah menggoda laki-laki beristri.


Terutama suami Dewi Kebaikan yang terkenal dengan kedermawanannya.


Begitu juga hujatan terhadap Gama, karena berani menduakan Datiyah.


Sementara Datiyah, Sang Dewi Kebaikan, mendapat komentar agar diberi ketabahan dan kekuatan. Komentar penuh rasa iba dilayangkan untuk Datiyah.


Datiyah tidak ingin ambil pusing, meski sedikit sedih karena Gama meninggalkannya. Setelah tau alasannya, dia mengerti. Tapi kesedihan di hatinya tidak berkurang.


Sedang sibuk melihat karya seni. Tiba-tiba ponsel Gina berbunyi. Dan dia memberikannya pada Datiyah setelah bicara beberapa saat di telepon.


"Nona, apakah anda baik-baik saja?" Ucap Hendrik dari balik telepon.


"Kak Hendrik. Aku baik-baik aja. Lagian itu bukan masalah besar."


"Tapi, nada bicara Nona, sama sekali tidak baik-baik saja. dan tentu saja hal ini menguntungkan Tuan Anton. Saham langsung melonjak untuk Semugesti dan turun untuk perusahaan Kencana." Datiyah memutar bola matanya, karena Hendrik selalu tau kalau dia berbohong dan membayangkan wajah Anton yang senang.

__ADS_1


"Aku benar-benar baik-baik saja. Aku cuma perlu Kak Hendrik segera kembali ke sini." ucap Datiyah yang berjalan ke arah ruangan yang sepi.


"Nona, jangan pergi terlalu jauh sendirian!" Ucap Hendrik tiba-tiba yang membuat Datiyah melihat kiri dan kanannya mencari kehadiran Hendrik.


"Kakak ada di mana? Darimana kakak tau kalau aku sendirian." Tubuhnya memutar melihat ke seluruh ruangan. Tapi dia tidak menemukan Hendrik.


"Nona. Ibu saya sedang memanggil saya. Nanti saya akan menghubungi Nona kembali. Jaga diri nona baik-baik. Spero Spera." telepon mereka lalu terputus.


Datiyah menarik nafas dalam-dalam.


"Kamu selalu sendiri selama ini. Kamu akan baik-baik saja. Yang perlu kamu lakukan adalah bersikap seperti biasanya. Semua masalah pasti berlalu." Datiyah melihat cermin dan berbicara pada dirinya sendiri.


Dia kembali menemui Gina yang sudah duduk di dalam.


"Ternyata di sini lumayan membosankan." bisik Gina tak mau Mamanya mendengar.


Datiyah hanya tersenyum mengangguk cekikikan pelan.


"Aku tau tempat nongkrong yang asyik. Dan aku tau. Mama pasti sibuk dengan urusan Kak Gama." Gina menarik tangan Datiyah dan menuju ruang kerja Mutia.


Dari luar ruangan suara Mutia terdengar jelas.


"Ssssttt...nanti mama aku sms saja. Sepertinya bukan saat yang tepat untuk gangguin mama." bisik Gina.


Datiyah mengangguk dan mengikuti langkah Gina.


Setelah beberapa lama, mereka turun dari mobil. Mereka berhenti di sebuah panti jompo.


Gina mengajak Datiyah dengan senang. Dan tentu saja Datiyah tidak keberatan, justru malah senang. Tanpa perlu mengambil foto dan video ketika dia berbuat baik.


"kak Ajeeeeng" Gina sedikit berteriak dan berjalan dengan cepat ke arah Ajeng, kakak dari Rendra.


Datiyah hanya menggeleng tersenyum melihat tingkah Gina.


"Gina, ada apa kamu ke sini? Dan jangan bilang kamu ke sini supaya aku ngelarang Rendra pergi kencan."


Wajah Gina langsung berubah 180 derajat.

__ADS_1


Ajeng yang melihat wajah Gina menjelaskan.


"Gina, Rendra sudah dewasa. sudah saatnya dia membangun rumah tangga dan mempunyai anak. Aku yang suruh dia kencan buta."


mata Gina langsung terbuka lebar dan melotot ke arah Ajeng.


"Bukannya Kak Ajeng mendukung aku dengan om Rendra? Kenapa sekarang tiba-tiba berubah?" Ucap gina dengan air mata diujung pelupuk matanya.


"Aku tau Rendra menyukai kamu. Dan kamu pun menyukai Rendra. Tapi, bagi Rendra itu sebuah kesalahan."


"Kenapa mencintai satu sama lain suatu kesalahan? Apa yang salah dengan cintaku? apa yang salah dengan cinta kami?" Gina mulai merasa kesal, marah dan sedih.


"Gina, tenang! Di sini panti jompo. Nanti semua orang tua itu bisa terkejut." Ucap Datiyah yang menyentuh lengan Gina.


Bibir Gina mulai bergetar dan air matanya mengancam jatuh.


"Coba kamu fikirkan baik-baik. Kalian begitu berbeda. Bagi Rendra dia punya tanggung jawab yang dititipkan oleh Ayahmu. Dan dia sangat memegang teguh hal itu."


"Kalian hanya menganggap aku anak kecil. Karena itu kalian selalu mengabaikan ucapan dan perasaanku." Gina lalu berjalan pergi, ketika Datiyah akan mengejarnya, Ajeng memegang lengan Datiyah.


"Biar saya saja. Saya tau ke mana dia pergi. Dan jika anda ingin membantu, anda bisa berjalan lurus, di koridor ada meja resepsionist. Mereka akan memberitahu anda dimana membutuhkan orang."


Datiyah tersenyum. " Terima kasih. Saya titip Gina yah. Emm.Mbak?"


"Ajeng. Panggil saja saya Ajeng. Saya kakak dari Rendra."


Mereka berdua bersalaman dan pergi ke arah tujuan mereka masing-masing. Ajeng membujuk Gina dan Datiyah pergi membantu pekerjaan di panti jompo.


Datiyah baru pertama kali ke panti Jompo ini. Padahal panti ini sangat sering digunakan petinggi-petinggi politik untuk mencari muka.


"Nak, bisa bantu aku sebentar." Tiba-tiba seorang kakek-kakek yang cukup renta berjalan dengan tongkat tanpa sengaja menjatuhkan sesuatu dari tangannya.


"Ya kek. Tentu saja." ucap Datiyah yang langsung mengambil sekaleng makanan dari lantai.


Setelah itu, Datiyah membantu kakek itu berjalan dan duduk di salah satu bangku di koridor.


"Kamu lebih kuat dari yang aku bayangkan. Lagipula dia memang anak laki-laki yang lemah dan tak bisa apa-apa." ucap kakek itu tersenyum.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2