
"Krrriiiinng.. Kringggg. " pagi-pagi sekali ponsel Datiyah berdering...
Dia lalu duduk dan mengangkat teleponnya.
Setelah menerima kabar dari seberang, Tubuh Datiyah terasa lemas, tangannya seperti tak ada tenaga, orang dari seberang sana berusaha terus bicara pada Datiyah, Gama yang melihat Datiyah tak bicara apa-apa, mendekati dan menerima telpon Datiyah. Gama juga terkejut.
Hendrik mengakhiri nyawanya sendiri, dipenuhi rasa takut yang menguasainya. Selama ini dia sudah berusaha bertahan dengan mimpi-mimpi buruk yang selalu menguasai pikirannya.
Tengah malah, dia mengambil sikat giginya dan menusuknya tepat di lehernya.
Datiyah ingin berjalan ke kamar mandi, dan mempersiapkan dirinya menjenguk Hendrik, berharap telepon yang di terimanya adalah sebuah kebohongan.
Tapi kakinya melemah di tengah jalan, tubuhnya terjatuh di lantai sebelum sempat Gama tangkap.
"Tiyah.... " panggil Gama lirih.
Datiyah menatapnya dengan tatapan sedih, air matanya mulai terkumpul di pelupuknya. Dia tak ingin menangis, sebelum memastikannya.
"Seharusnya aku memaksa menemuinya, harusnya ku paksa dia berhenti memikirkan semuanya. Aku yang tak berusaha melindunginya karena terlalu sibuk dengan duniaku." batin Datiyah.
Gama memeluk Datiyah, dan tanpa sadar Datiyah mulai menangis dengan kencang sambil menarik-narik pakaian Gama.
Karena Datiyah yang sedang lemah, jadi kali ini Gama yang akan mengurus pemakaman Hendrik dan semuanya.
Setelah pemakaman selesai, Datiyah sama sekali taka bernafsu makan.
"Aku tau, ini berat buat kamu. Tapi kamu juga harus makan. Ingat, ada Raka yang masih harus kita jaga."
Datiyah melihat ke arah Gama.
"Aku, tak sempat mengatakan betapa bersyukurnya aku memiliki dia. Betapa bersyukurnya aku, dia mencintaiku tanpa balasan dariku."
"Apakah sekarang, aku masih harus cemburu pada Hendrik.? " ucap Gama sedikit merajuk.
"Kamu tau, bukan itu maksudku. " Datiyah membela diri dengan lemas.
"Lihat, untuk membela diri saja kamu selemah itu. Setalah kamu makan, maka aku tidak akan cemburu pada Hendrik." Gama lalu menyuapi bubur pada Datiyah.
Dia memakannya beberapa suap, setelah itu dia beristirahat.
Gama sedih melihat Datiyah bersedih. Dan dia tak tahu harus melakukan apa.
Raka yang pulang sekolah langsung masuk kamar Datiyah, Gama yang melihatnya langsung mengajaknya keluar kamar.
"Kak Tiyah kenapa? " tanya Raka polos.
"sedang tidur dan butuh istirahat. Raka ada keperluan dengan kak Tiyah? "
"Raka ada acara kemah di sekolah, nginap 3 hari 2 malam. Jadi mau minta kak Tiyah tanda tangan. "
"Mana kertasnya, nanti begitu kak Tiyah bangun, Kak Gama akan memberikannya pada Kak Tiyah. " Melihat kertas yang diberikan Raka, Gama memiliki ide untuk menghibur Datiyah.
"Rendra, aku akan liburan selama seminggu. Tolong kamu urus." Gama. Menelepon Rendra.
"Arvina, tolong urus kekosongan Datiyah untuk seminggu, aku akan mengajaknya berlibur." Gama juga menelepon asisten Datiyah.
Setelah Datiyah terbangun, Gama langsung menyodorkan kertas izin Raka. Lalu memberi tau idenya.
__ADS_1
"Gimana kalo akhir minggu ini, kita pergi liburan ke resort pinggir pantai? "
"Kamu aneh deh. Kamu tau. Kita berdua sama-sama sibuk. Kita mana ada waktu sebanyak itu."
"Tenang, aku sudah mengurus semuanya." Gama mengangkat alisnya sambil tersenyum.
"Lagipula Raka akan ada kemah akhir minggu ini. Dan kita sudah lama tidak.. Ehemmm.... Semenjak malam pertama kita." Bisik Gama pada Datiyah.
Pipi Datiyah langsung memerah, Lalu Datiyah menggelengkan kepalanya.
Memang setelah malam pertama saat itu, mereka tak pernah lagi berhubungan suami istri. Karena banyak hal. Jadi Gama ingin membuat kesempatan ini selain untuk menghibur Datiyah, juga menghibur dirinya.
Akhirnya, mereka memutuskan pergi berlibur berdua.
Setelah perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya tertidur dan terbangun di sore hari.
Mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sore di tepi pantai dan melihat matahari terbenam.
Setelah makan malam, mereka kembali ke kamar, Datiyah memutuskan mandi lebih dulu.
Setelah Gama Masuk ke kamar mandi, Datiyah berdiri di depan cermin, membuka jubah mandinya, dan melihat bekas luka lama. Dia memeriksa setiap luka itu.
"Semua luka ini, apakah bisa hilang. Ini terlihat jijik dan menyedihkan." batinnya.
Dia tak melihat Gama berdiri di belakangnya, dengan cepat ia menutup jubahnya kembali.
Gama melangkah mendekatinya, memeluknya dari belakang, mereka berdua saling bertatapan melalui cermin.
"Gama... Aku rasa aku belum siap menunjukkannya padamu." Mata Datiyah mulai berkaca-kaca.
Tangan Gama dengan perlahan menyentuh bekas luka di perut Datiyah, beralih ke bekas luka lain ke atas perutnya.
Gama perlahan membuka jubah Datiyah, mencium bekas luka di pundak kanan, dan lengan kanan Datiyah. Beralih Ke bahu kiri dan lengan kiri Datiyah.
Sementara Datiyah, menutup matanya antara menikmatinya dan malu akan tubuhnya.
Gama membalik tubuh Datiyah, agar menghadapnya. "Tiyah, buka mata kamu. "
Mereka saling menatap satu sama lain.
"Gama, apa kamu tidak merasa jijik dengan bekas luka yang mengerikan itu.? "
"Bagaimana bisa aku merasa jijik, luka itu adalah bagian darimu. Aku akan tetap mencintai kamu."
Perlahan, Gama. Menuntun Datiyah ke atas tempat tidur. Dengan perlahan dan lembut, dia menyentuh setiap bagian tubuh Datiyah.
Sementara Datiyah mengeluarkan ******* -*******.
Membuat Gama semakin bernafsu.
Setelah Gama mulai mencium bibir Datiyah,
Tiba-tiba rasa mual yang hebat muncul dari perut Datiyah, membuatnya mendorong Gama dengan sangat keras dan dia berlari ke toilet.
"Uuuueeekkk... Uuuueeekkkhhh. " Datiyah muntah berkali-kali. Gama mengambilkannya air minum.
"Apa kamu salah makan? " Tanya Gama khawatir.
__ADS_1
Datiyah hanya menggeleng lemas.
Gama mengambilkan pakaian Datiyah, dia juga kembali. Mengenakan pakaiannya.
"Bagaimana perasaanmu? Apa masih mual?"
Belum menjawab, Datiyah kembali ke kamar mandi untuk muntah. Gama membantu dengan memijat tengkuknya. Ketika berjalan keluar kamar mandi, Datiyah pingsan, untuk tubuhnya tertangkap oleh Gama.
Dengan cepat dia mengangkatnya ke tempat tidur dan menelepon resepsionis dan meminta mendatangkan dokter yang terbaik dan cepat.
"Apakah, datang bulan istri anda teratur? "
"Saya kurang tau Dok." Gama menjawabnya pelan.
"Saya memang sudah telat 3 bulan dok." Datiyah menjawabnya dengan lemas.
"Saya menyarankan pemeriksaan ke rumah sakit, agar lebih jelasnya. Saya sudah meresepkan obat yang kiranya aman untuk istri anda, Dan untuk anda berdua menunda, kegiatan....ehkkeeem." ucapan dokter terhenti melihat pakaian yang berserakan di lantai.
"oooouuhh... Okebaik Dok. Besok pagi saya akan membawanya ke rumah sakit." Gama pun mengantar dokter keluar.
"Gama...? "
"Iya? Kamu butuh sesuatu.?" Gama melihat Datiyah dengan khawatir. Datiyah terlihat sedang berfikir.
"Kamu gak mikir aku... eeemmmm...sedang... " Datiyah mengelus perutnya.
Gama terlihat tersenyum lebar.
"Nanti dulu, kita akan tahu pastinya besok."
Akhirnya Gama tidur memeluk Datiyah.
"Gama, bekas lukaku, apa benar-benar gak ganggu kamu? "
"Sama sekali nggak, lukamu adalah apa yang bentuk kamu sekarang. Jadi aku gak ada alasan untuk merasa gak nyaman dengan itu."
"Bagaimana kalau aku operasi aja?" Tanya Datiyah menatap Gama.
"Apa kamu merasa terganggu dengan bekas luka itu?
" Hanya kadang-kadang saja."
" Kalau kamu pengen menghilangkannya, aku akan mendukung kamu. Selama apa yang kamu lakukan tidak merusak diri kamu sendiri aku akan dukung kamu. Apapun itu. "Gama menatap Datiyah dengan kasih sayang.
Keesokan harinya, mereka mengunjungi rumah sakit, benar saja Datiyah ternyata hamil. Mereka sangat senang. Anak ini adalah hadiah untuk Gama dan Datiyah.
Mereka tentu saja langsung membatalkan rencana liburan mereka. Datiyah harus beristirahat ekstra, karena sedang dalam keadaan kurang vitamin.
Dan mereka juga tidak boleh melakukan hubungan setidaknya 2 minggu ke depan, setidaknya sampai dokter memeriksa USG kedua.
Semua orang terkejut, melihat mereka berdua yang pulang lebih awal dari yang mereka rencanakan.
Setelah mereka turun dari mobil, sebuah mobil di belakang mereka berhenti. Dan Aira keluar dari mobil itu.
"Aira? " ucap Gama dan Tiyah bersamaan dan saling melihat.
...****************...
__ADS_1