Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Jiwa Anak-Anak


__ADS_3

Gama yang sejak beberapa hari ini setelah pulang kantor tidak langsung ke kamarnya atau ke ruang kerjanya.


"Kamu kembali saja ke kamarmu." Ucap Gama pura-pura memegang gagang pintu ruang kerjanya.


Rendra hanya mengangguk. Dia tahu kalau Gama merasa sangat sedih dan kecewa sehingga menghabiskan waktunya dengan pekerjaan.


"Tuan, lebih baik jangan memaksakan diri. Apa perlu saya sia....." Belum selesei bicara Gama memotong pembicaraan Rendra.


"Tidak, aku tidak perlu apa-apa. Kamu boleh pergi."


Akhirnya Rendra pergi. Gama memeriksa kamarnya melihat Tiyah sudah tidur dan dia menuju perpustakaan.


Dia menuju rak paling ujung di pojok. Disitu Gama manyimpan buku komik dan manganya. Koleksinya sejak dulu.


Yang menjadi favoritnya tidak lain dan tidak bukan adalah Crayon Sinchan yang selalu membuat ia tertawa dengan kejahilan dan kelucuan Sinchan.


Ia selalu membaca komik ketika ia merasa stress. Sedang asyik membaca, dia terkejut ketika mendengar suara.


"Gama?!" panggil Tiyah.


Gama yang terkejut, tak sengaja melepas bukunya. Entah kenapa setelah mengetahui itu adalah Tiyah, dia merasa tidak perlu menyembunyikan komiknya.


Gama membalas sapaan Tiyah dengan senyuman.


"Hai, belum tidur?" sapa Gama.


"Kamu ngapain?" Tiyah mengangkat alisnya bertanya-tanya pada sahabatnya itu.


Gama mengangkat bukunya lagi, dan memperlihatkan sampul bukunya pada Tiyah.


Tiyah memutarkan bola matanya.


"Kamu seriuss?" tanya Tiyah tak percaya. Gadis yang bahkan tak pernah membaca cerita kisah anak-anak masa kecilnya itu.


"Heyy, jangan menghina Sinchan. Memangnya kamu pernah baca?"


Tiyah hanya menggeleng tak perduli. Gama lanjut membaca bukunya.


Tiyah sempat terdiam dan hanya melihat Gama, kemudian ia memutuskan duduk di dan bersandar di rak yang hanya di berjarak selorong dari Gama.


"Kamu baik-baik aja kan?"


"Emm??" jawab Gama masih melihat bukunya.


"emm, aku mau minta maaf soal sebelumnya.


Aku cuma ada sedikit masalah, dan aku malah lampiaskan ke kamu."

__ADS_1


Gama kemudian mengangkat kepalanya dan menoleh kesamping ke arah Tiyah duduk.


"Aku sebenarnya gak terlalu khawatir masalah itu. Tapi aku lebih khawatir waktu aku gak sengaja kagetin kamu."


Tiyah lalu berdiri ingin menghindari pertanyaan itu.


"oke.oke. Aku gak bakalan nanya lagi tentang hal itu. Duduklah."


Tiyah menghela nafas pelan."Tapi kamu harus jajnji kita gak akan pernah bahas masalah itu lagi."


"oke, aku janji. Aku tahu ada banyak waktu kosong antara kita. Aku tidak mengenal versi dewasa mu dan kamu tidak mengenal versi dewasaku."


Tiyah memgangguk, duduk kembali dan bersandar di rak.


"Iya, kamu benar. Meskipun harus aku akuin begitu ketemu sama kamu di restoran aku senang banget. Padahal sering satu event pun kita jarang berpapasan."


"Iya, aku juga sempat baca berita, kamu hadir di acara yang juga aku hadiri tapi kita gak ketemu."


"hehehehe.. iya. Aku malah sempat kaget waktu kamu dijuluki CEO dingin dan sempat disangka impoten karena gak oernah gandeng cewek. Hahahahaha.


Anak bocah yang dulunya rajin nyontek sama aku dan jahilin teman-teman malah dijuluki CEO dingin dan impoten."


"Hahahahah, yah. Itu semua karena aku gak mau dekat sama cewek selain Aira. Aku sangat menyayangi dia, merindukan dia.


Tapi ada begitu banyak hal yang tidak aku tahu tentangnya, tentang hatinya, tentang rahasianya, dan kehidupannya.


"eeeyyy.. semua orang juga seperti itu. Seringnya alam bawah sadar kita membuat kita mementingkan diri kita sendiri. Mungkin banyak yang perduli dengan orang lain, tapi tentu saja mereka juga akan memikirkan dirinya sendiri.


Tapi, kamu sama Kak Aira baik-baik aja kan?


Gama mengangguk.


"Ngomong-ngomong. Kamu sama asistenmu ngerjain apa? Kamu udah gak sesibuk kemaren-kemaren." ucap Gama berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Rahasia lah. Sekarang kita lagi nyari info terbaru lagi. Dan aku gak bakalan menyerah semudah itu." jawab Tiyah tersenyum dan mengepalkan tangannya.


"Coba deh, kamu baca buku itu. Aku yakin kamu pasti bakalan ketagihan bacanya. Tau gak, aku penasaran banget kenapa kamu dulu slebih sering baca buku bisnis. Padahal sekarang pun kmau gak bergelit sama bisnis." ucap Gama, sambil menyodorkan salah satu hukunya dihadapan Tiyah.


Tiyah mengangkat bahunya. "Nggak taulah."


Tiyah mulai membuka buku itu, dan tersenyum setelah membaca beberapa halaman.


Gama hanya memperhatikan Tiyah, dan ikut tersenyum ketika Tiyah tersenyum.


"Sepertinya kebandelan mu kamu warisi dari Sinchan. hehehhehe." Tiyah tertawa setelah membaca buku lalu melihat ke arah Gama.


"Hahhaha, sepertinya begitu. Kamu ingat gak, waktu kelas 2, aku kira Ben sudah tidak mau makan kuenya. Lalu aku makan gak bilang-bilang dia langsung menangis."

__ADS_1


"Kalau itu karena kamu hobi makan aja. Semua yang ada di meja kamu sikat. Tapi yang paling aku ingat, waktu kamu sembunyikan sepatunya Lily karena dia bilang akan menikah sama kamu ke seluruh teman sekolah. Hahahahha. Bagaimana kabarnya yah anak itu?"


"Hahahahha, dia selalu kejar-kejar aku. Jadinya yah aku sembunyikan sepatunya biar sibuk cari sepatunya dan gak gangguin aku. Mungkin dia sudah bahagia dengan keluarganya sekarang. hehehehhe."


Asyik mereka berdua mengobrol tentang masa lalunya. Tak sadar mereka sudah mengobrol lama dalam ruangan itu.


"hAhhh...aku tau itu gak mungkin. Tapi ingin rasanya kembali ke masa itu. Saat papaku masih ada." Tiyah menghela nafas kmeudian tersenyum dengan mata sedihnya dan Gama melihatnya, lagi.


"Iya, kita gak perlu stress dengan semua hal-hal yang orang dewasa lakukan."


"Sekarang sudah jam berapa? Kenapa sepertinya sudah agak terang?" Tiyah bertanya dan menatap ke arah jendela.


Gama melihat jam tangannya.


"Hahahhaha, kamu tau sekarang jam berapa?"


Tiyah melihat Gama dan menggeleng.


"Jam 5 lewat 23 menit."


"Apa?? jadi kita semalaman di sini?"


"hahahahha, gak terasa. Kita sudah membicarakan masa lalu. Masa bahagia kita sebagai anak-anak. Bagaimana kalau kita mulai mengenal satu sama lain lagi. Karena aku juga ingin mengenal Tiyah yang remaja."


"Lebih baik kita tinggalkan masa remaja. Dan kita sudah ada di sini." ucap Tiyah.


"Apa kamu menderita?"


"Banyak orang yang hidupnya lebih menderita dari aku.


Malam ini menyenangkan bisa mengingat kembali masa lalu yang bahagia.


Aku kembali duluan." Ucap Tiyah melangkah meninggalkan Gama.


"Tiyah, aku gak perlu tau masa remaja mu. Tapi kita bisa kan lakuin hal ini kadang-kadang? Aku janji, kita gak perlu cerita tentang yang kamu gak mau bicarakan. Karena saat ini, cuma kamu teman yang bisa aku ajak bicara dengan santai."


Tiyah tersenyum lebar.


"Iya, aku setuju. Tapi lebih baik kita cari tempat yang lebih nyaman."


"Bagaimana kalau di kamar? Aku bisa bawa komik-komik ini. Dan kita bisa baca tanpa perlu takut ketahuan orang lain. Karena sekarang ada kamu, jadi aku gak perlu di tuduh pemilik buku ini." ucap Gama membereskan bukunya.


"Tunggu dulu, kamu serius baca buku ini sembunyi-semhunyi karena kamu gak pengen mereka tau kamu baca buku kayak gini?" Tiyah tersenyum dan menggeleng tak percaya.


"Oke, gak apa. Aku adalah pemilik buku ini." Tiyah ikut membantu Gama membereskan bukunya dan membawa buku-buku itu ke kamar Gama.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2