Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Terkejut


__ADS_3

Setelah menyelesaikan sarapannya.


Datiyah langsung menuju perpustakaan dan bertemu dengan Hendrik.


"Apa sudah ada kemajuan mengenai informasi siapa orang itu?" Tanya Tiyah pada Hendrik yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Hendrik.


Berkali-kali Hendrik membuka mulutnya dan menutupnya lagi.


"Tanya aja kalau mau nanya" ucap Datiyah yang juga melihat gelagat Hendrik.


"Nona tidak sedang sakit atau kenapa-kenapa kan?" tanya Hendrik yang sedang berhadapan dengan Datiyah meski posisinya cukup jauh.


"Maaf kalau udah bikin kakak khawatir. Aku gak kenapa-kenapa. Emmm, sebenarnya. Gama semalam downloadin aku game di hp yang dia beliiin. Dan semua gamenya seru-seru. Hehehehheheheheh" ucap Datiyah cengengesan.


Entah kenapa, melihat wajah Datiyah yang cengengesan. Hendrik merasa sedikit lega. Wajahnya yang tanpa beban, dan senyumnya yang terlihat lebih tulus dan bahagia dari sebelumnya.


Tapi, Hendrik juga takut, jika Datiyah terlalu dekat dengan Gama. Ada rasa takut yang mendalam dalam hatinya. Dia takut jika Datiyah akan terluka. Begitu juga dengan dirinya. Luka Datiyah adalah lukanya.


Disisi lain juga, mereka benar-benar harus menemukan siapa pemegang sahan terbesar di perusahaan itu. Dan berharap orang itu ada di pihak keluarga Gunawan.


Setiap pertemuan atau rapat, dia selalu memberikan surat kuasa untuk seseorang mewakilinya. Tak pernah terlihat dimuka umum. Bahkan namanya pun dirahasiakan.


Hanya beberapa eksekutif terpecaya yang mengetahui identitasnya.


Jadi, untuk sementara mereka hanya memantau perjalanan saham di perushaaan Keluarga Gunawan.


Tiyah melihat jam, sudah mendekati pukul 5.


Sebentar lagi Gama pulang, tak berselang lama, ponselnya masuk pesan.


"Aku sedang perjalanan pulang. Apa ada yang ingin kamu makan atau pesan?" Pesan yang tidak lain adalah dari Gama, karena dalam ponselnya hanya ada 5 kontak saja.


Gama, Hendrik, Mutia, Gina dan Rendra.


Langsung Datiyah, berpura-pura berdiri dan menggeliat. "Aaahhh.... hari ini sampai sini aja yah? Lagian informasinya juga belum ada."


Hendrik menggeleng, melihat kebohongan Datiyah.


Padahal biasanya, meskipun harus menatap layar laptop seharian penuh pun dia tidak akan masalah.


Hendrik menghela nafasnya. "Apa Nona tidak bisa bicara jujur dengan saya saat ini?"

__ADS_1


Datiyah kembali duduk dan melihat ke arah Hendrik. Karena ia tahu, dia tidak bisa berbohong pada Hendrik.


"Aku, cuma pengen nikmatin waktuku untuk sementara. Aku merasa kembali ke masa aku masih anak-anak. Dan aku ingin menikmatinya untuk sebentar saja. Tidak. Aku ingin menikmatinya sedikit lebih lama." ucap Datiyah lirih.


"Biaklah, kita istirahat sampai di sini saja." ucap Hendrik yang langsung menutup laptopnya dan mengemasi barang lainnya dari atas meja.


"kalau gitu, aku ke kamar dulu." ucap Datiyah yang hendak pergi.


"Nona, jika butuh saya. Saya akan ada di kamar atau Nona bisa mengirimkan saya pesan lewat ponsel baru nona." ucap Hendrik yang juga beranjak dari sofa.


Cepat Datiyah berjalan ke kamarnya.


"Aku mau sate yang waktu itu pernah kamu bawakan. 3 porsi yah?" Datiyah membalas pesan Gama sebelum mandi.


Gama tersenyum di atas mobil, melihat Datiyah memesan 3 porsi.


Datiyah berganti baju. Entah kenapa dia berusaha mencari baju yang lumayan bagus untuk ia kenakan.



Tapi, semua pakaian yang ia miliki pakaian longgar dan tertutup dengan warna gelap yang berbeda. Dia hanya tertawa dan menghela nafasnya melihat kumpulan pakaian rumahannya.


Dia pun duduk merapikan buku-buku di atas meja dekat sofa. Tapi kembali membuatnya berantakan supaya terlihat dia sudah membacanya.


Mendengar pintu kamar yang terbuka, Tiyah langsung berdiri menghampiri Gama sambil tersenyum dan melirik ka arah tangan Gama. Datiyah menunjukkan ekspresi kecewa karena Gama tak membawa pesanannnya.


"Satenya mana?" dengan wajah sedihnya bertanya pada Gama. Gama melihatnya sangat lucu.


"Astagaaaa, aku lupa."


"Apaaa..? Kan kamu yang nawarin aku. Kok malah lupa?" Datiyah terlihat kecewa.


"Aku lupa ngasih tau kamu, kalau satenya lagi di siapin dalam piring sama bibi." ucap Gama tersenyum.


"apaan sih?" ucap Datiyah memutar bola matanya.


"Aku mandi dulu. Aku beli satenya 8 porsi. Kamu 3 aku 5." Ucap Gama langsung berlalu ke ruang ganti.


Tak berselang lama, makanan mereka di antarkan oleh salah satu pelayan.


Gama pun sudah selsei mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


"Loh, kenapa belum dimakan?"


"Ya aku nungguin kamu lah. Masa' aku makan duluan." Gama tersenyum dan duduk di sofa.


Mereka menikmati makanannya sambil membahas kegiatan mereka masing-masing.


Setelah makan, Gama memgajak Datiyah jalan-jalan ke taman arah rumah belakang dimana dulu Amira dan Aira pernah tinggal.


"Kak Aira dulu tinggal di rumah itu kan?" tanya Datiyah pada Gama.


"Iya, sekarang cuma beberapa pelayan yang tinggal di sana. Ayo masuk. Kamu baru pertama kali kan ke sini?"


Datiyah tersenyum dan mengikuti langkah Gama.


"Ini kamar Aira, sejak kepergiannya. Aku membiarkannya kosong dan berharap suatu hari dia akan kembali ke rumah ini, dan padaku. Tapi, saat sia ada dihadapanku, aku justru mendapatkan rintangan dari Mama" Ucap Gama lirih, Ia ingin.menceritakan alasan mamanya tidak menyutujui Aira. Agak lama terdiam, Datiyah lalu menggenggam tangan Gama.


"Aku yakin, kalau kamu dan Kak Aira terus berusaha. Suatu hari nanti Tante Mutia bakalan testuin kalian. Dan aku juga akan ngebantu kamu dan Kak Aira agar kembali bersama."


"Tapi, apa yang kamu dapatkan dengan membantuku?" tanya Gama curiga.


"Waktu, aku butuh waktu untuk pergi dari rumah Sugesti. Tapi, seandainya tante Mutia memutuskan menerima Kak Aira dengan cepat, bisa tidak, waktunya aku yang menentukan?" Datiyab menatap Gama dengan penuh harap, agar dia mengabulkan permintaannya.


"Maksud kamu? waktu untuk apa?"


"Aku janji, gak bakalan lama. Mungkin 6 bulan atau setahun? Maksud aku, pinjamkan aku status sebagai istri Gama Putra Kencana.


Dan kamu gak boleh bertanya tentang apapun. sebagai gantinya Aku akan berusaha sekuat tenaga meyakinkan tante Mutia agar menerima Kak Aira."


"Kamu yakin, bisa meyakinkan mama?"


"Kamu kasi tau dulu, masalahnya di mana. Maka aku yakin bisa bantu kamu. Aku lihat tente sudah gak pernah makan bareng sama kita. Apa ada hubungannya dengan masalah kamu?"


"Hemmm..." Gama mengatupkan bibirnya dan berjalan menuju kursi di taman dan dudu. Datiyah melakukan hal yang sama dan duduk di samping Gama.


"Meskipun aku tau, apa yang buat mama. Gak mau terima Aira. Tapi aku gak bisa ngelepasin Aira dari hidup aku. Dia adalah orang yang menemaniku di masa tersedihku. Di masa kesepianku sibuk dengan urusan perusahaan dan sekolah. Aku sudah suka sama dia sejak dia tiba di rumah ini."


"Apa kamu bisa kasi tau aku? kenapa tante Mutia gak mau nerima Kak Aira?"


Gama melirik ke arah Datiyah, dan melihat gadis disampingnya. Merasa bisa mempercayai Datiyah.


"Ayah selingkuh dengan tante Amira" ucap Gama datar.

__ADS_1


"Apaaaaaa?" ucap Datiyah agak berteriak.


*bersambung......


__ADS_2