Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Hang Out


__ADS_3

"Siapa yang buat kamu pagi-pagi begini tersenyum?" tanya Gama yang baru berganti pakaian dengan pakaian santai.


"Kak Hendrik. Dia baik-baik aja. Dan sekarang aku merasa tenang. Tapi, kok kamu gak kerja?"


"Kamu lupa sekarang hari apa?"


"uppss...aku lupa. hehhehe." jawab Datiyah cengengesan.


"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan? Kencan?"


Tanya Gama tiba-tiba. Dia sendiri terkejut dengan ucapannya.


"kencan?" tanya Datiyah mengangkat alisnya


"Yah, maksudku seperti hangout. Keluar bareng teman." ucap Gama membela diri.


"hahhaha...santai aja. Aku tau maksud kamu.


tapi, kita mau hangout ke mana? aku sama sekali gak tau tempat yang asik." ucap Datiyah yang berlalu ke kamar mandi.


"Ntar kita lihat aja atau biar aku tanyakan Gina dulu." Gama lalu berlalu ke kamar Gina, sementara Datiyah mandi.


"Gina? Gina?" Gama memanggil nama Gina sambil mengetuk pintunya dengan tak sabar.


"Kenapa?kenapa? Kenapaaaa? Apa kakak gak tau sekrang hari Sabtu, dan aku butuh istirahat cantik." ucap Gina yang setengah berteriak dan kesal.


"Rendra ada kencan buta, dengan teman kakaknya." Mata Gina langsung terbelalak terbuka lebar, kantuknya hilang. Gama sangat tau cara menganggu adiknya.


"maksud kakak Apa?" Mengabaikan pertanyaan Gina, Gama langsung ke inti pembicaraan.


"Kamu tau tempat hangout yang asik gak?"


"Ya banyak lah. Tunggu dulu. Maksud kakak apa? om Rendra ada kencan buta?"


Lagi-lagi dia mengabaikan pertanyaan Gina.


"Di mana aja itu? Tempat yang asyik. Tapi bukan seperti kencan. Tempat nongkrong yang biasa aja."


Gina pun menyebutkan beberapa tempat. Setelah mendengarnya Gama langsung kembali ke kamarnya. Gina yang kesal meneriaki nama Gama.


"Kaaak Gaamaaa!" Gina langsung berjalan menuju kamar Rendra.


Dia mengetuknya dengan kencang dan cepat.


Rendra membuka pintu dalam keadaan sudah rapi, meski dengan pakaian biasanya.


"Kencan buta? dengan siapa? kapan? dan dimana?" Gina bicara dengan cepat.


"Darimana Nona tau?"


"jawab!"


"Saya rasa itu bukan urusan Nona." Rendra berusaha menutup pintu kamarnya.


Dengan wajah meweknya, dia berusaha membujuk Rendra. Tentu saja Rendra langsung luluh. Tanpa perlu membuat wajah seperti itupun Rendra sudah luluh.


"Heeeeeh. Nona, saya sudah cukup tua untuk menikah. Dan saya harus menemukan wanita yang seumuran dengan saya untuk saya jadikan istri."


Wajah Gina semakin merah menahan tangis.

__ADS_1


Rendra menutup matanya, berusaha menjauhkan bayangan wajah Nona mudanya dari fikirannya.


"Apa aku belum cukup dewasa? Aku sudah siap menikah kalau itu yang Om mau."


Mata Rendra membelalak, tak bisa berkata-kata.


"apa dia serius bilang siap menikah denganku?" batinnya, cepat Rendra menggeleng.


"Nona." dengan satu kata itu, Gina tau Rendra akan membuat semua alasan untuk menerima alasan Rendra menolaknya. Dan dia tak mau lagi mendengarnya.


Gina langsung pergi ke kamarnya.


"Kamu fikir akan semudah itu? aku bakalan buat kamu jadi perjaka tua." ucap Gina kesal dan kembali ke kamarnya.


Sementara itu, Gama sibuk mencari lewat internet tentang tempat-tempat yang disebutkan Gina padanya.



"kita berangkat sekarang kan?" Tanya Datiyah yang sudah siap.


"Iya, setelah sarapan kita langsung berangkat." jawab Gama yang langsung berganti pakaian.



Meski sering melihat Gama memakai jasnya membuat Gama terlihat tampan. Dengan celana jeans dia terlihat lebih tampan.


"Wahhh, emang bisa cowok makin ganteng?" batin Datiyah yang tak mengedipkan matanya.


"Hai, kamu ngelihatin apa sih? Apa aku setampan itu sampai-sampai kamu ngelihat aku kayak gitu?" ucap Gama bercanda.


"Hah, semua yang lihat pun tau kalau kamu memang tampan. Yah, jadi gak ada salahnya dong. Aku ambil kesempatan." ucap Datiyah bercanda juga.


Telinga Gama berubah jadi merah karena dipuji Datiyah. Meski sebelumnya sering dipuji tapi tidak dengan orang-orang didekatnya.


Langkah Gama terhenti ketika melihat Mutia di meja makan.


"Tante!" panggil Datiyah ceria.


"Kalian sudah rapi. Mau ke mana?"


"Kencan mah." jawab Gina berceletuk.


"Apa?" tanya Mutia kaget.


"Gak kok, tante. Kita cuma mau hangout aja. Aku pengen sekali-sekali jalan-jalan."


Satu sisi, Mutia merasa senang, karena Datiyah akan bersenang-senang, membayangkan kalau selama ini Datiyah menderita hidup bersama Anton.


Tapi, di satu sisi. Ia khawatir kalau sampai Datiyah menyukai Gama.


"Ya sudah, sarapan dulu." Mutia tersenyum. Sementara Gama hanya terdiam.


Datiyah menarik tangan Gama yang masih terdiam dan duduk di kursinya.


Mereka makan dalam diam sampai Datiyah memecah keheningan.


"Gina, kamu mau ikutan?"


Gina melirik Datiyah, kemudian melirik Rendra yang tak tertarik dengan percakapan. Seolah mengerti pandangan Gina.

__ADS_1


"Kak Rendra mau ikut juga?" tanya Datiyah.


Rendra yang namanya tiba-tiba disebut. Kaget dan terbatuk. Cepat Gina mengambilkan air dan menepuk pelan punggungnya.


"Maaf..uhukk..uhuk.. eeheemm.. Saya baik-baik saja di rumah." Mendengar jawaban Rendra, wajah Gina berubah sedih. Dia pun kembali duduk ke kursinya melanjutkan makannya. Datiyah pun semakin merasa bersalah.


"Jaga Tiyah baik-baik." Ucap Mutia memegang lengan Gama.


"Kamu bisa cari mama di ruang kerja mama. Kalau kamu sudah siap mendengarkan semuanya." Mutia mengelus punggung putranya. Dan dibalas senyuman oleh Gama.


Gina yang merajuk kembali ke kamarnya.


Rendra juga memilih kembali ke kamarnya menyiapkan pekerjaan untuk hari Senin.


"Kalo gitu, kita pergi dulu Tante."


"Ma, kita pergi." ucap Gama.


Kedua orang itu pamit dan kemudian berjalan keluar rumah. Dan masuk ke mobil.


"Kenapa kamu tegang banget?" tanya Datiyah.


Gama menggeleng. "Aku gak tau, apa aku benar-benar siap."


Datiyah langsung meraih tangan Gama dan meremasnya pelan.


"Bukannya tante yang bilang, akan menunggu kamu benar-benar siap?" Datiyah tersenyum menatap Gama. Gama pun memandang Datiyah.


Melihat mata Datiyah, beralih melihat hidung dan bibirnya. Datiyah pun melakukan hal yang sama pada Gama, wajah Datiyah mulai terasa panas, iapun tersadar.


"udah nyalain AC nya?" tanya Tiyah yang meraih tombol dihadapannya.


"Belum juga di starter." Gama kemudian menyalakan mobil dan menyalakan AC, dengan kuping yang sudah memerah.


"Kita mau ke mana?"


"Karena berhubung, tempat hiburan belum buka sekitar pukul 9, gimana kalau kita ke kafe aja?" Datiyah hanya mengangguk. Ke manapun di ajak gama hari ini. Ia akan mengikutinya.


Setelah itu, mereka jalan-jalan ke mall. Main game di mall seperti anak-anak yang baru oertama kali main game.


Taknjarang Datiyha digoda laki-laki. Bahkan ada fans Datiyah yang sudah tau dia menikah masih meminta nomornya dengan berbagai alasan. Tentu saja Gama langsung merangkulnya dan menunjukkan kalau dia adalah suami Datiyah.


Datiyah hanya bisa tersenyum. Mereka berdua tidak melewatkan makan siang, di food carts. Di mana semua jenis makanan ada di sana. Berhubung Datiyah kuat makan mereka membeli segala jenis makanan dari bebagai daerah dan negara.


Setelah kenyang mereka memutuskan jalan-jalan melihat toko-toko disekitar. Hingga sore hari sebelum makan malam, mereka memutuskan untuk nonton bioskop.


"Kamu beli popcornya dulu. Aku mau ke kamar kecil dulu." bisik Gama pada Datiyah.


Setelah Datiyah membeli popcorn dia menunggu Gama di salah satu bangku.


Tiba-tiba dia melihat Gama berlari keluar dengan buru-buru.


"Gamaaa!" Datiyah berlari agak pelan karena 2 popcorn yang ia pegang. Dia melihat Gama berlalu dengan mobil didepan matanya.


Cepat dia mengambil merogoh kantungnya mencari ponselnya.


"Ahh, sial. Pasti ketinggalan di mobil. Dia kemana sih? Kenapa buru-buru begitu?"


Tidak mau berfikiran negatif, akhirnya ia kembali duduk menunggu. 1 jam berlalu.

__ADS_1


"Gama pasti kembali. Dia gak mungkin kan lupain aku disini?" ucap Datiyah menghibur diri dengan mata yang berkaca dan mulai memeakan popcornnya.


*bersambung......


__ADS_2