Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Panggilan dari Anton


__ADS_3

Tidak ada yang dapat menafsirkan cinta.


Karena cinta itu, apa yang kamu rasa.


Dan cinta akan memiliki tafsirnya sendiri, sebagaimana orang yang merasakannya.


__________________________________________


Huhungan antara Datiyah dan Gama semakin dekat dan erat tanpa mereka sadari. Bagi mereka, menghabiskan waktu bersama terasa menyenangkan dan membuat mereka lupa dengan masalah mereka.


Mutia, yang masih tenggelam dalam marah dan kecewanya masih belum mau membicarakan tentang Harry dan Amira yang membuat Gama sedikit lega.


Meski tidak setiap hari, tapi Gama tetap menelepon Aira, meski hanya sekedar menanyakan kabarnya. Dan Aira yang kebetulan sibuk dengan jadwal syuting dan foto di luar negeri.


Sementara itu, Datiyah sendiri, masih belum menemukan orang yang dia cari. Bukan dia berputus asa, hanya saja mereka sama sekali tidak bisa membangun jaringan dengan pengawasan Anton yang semakin ketat pada orang-orang besar di sekitar perusahaan.


Karena itu, ia memutuskan untuk menikmati waktunya lebih lama.


Setelah sarapan, Gama berangkat kerja dan Datiyah mengantarnya sampai pintu. Hal itu sudah jadi kebiasaan baru buat mereka.


Setelah Gama sudah berangkat dan mobilnya tak terlihat Datiyah berbalik dan akan menuju perpustakaan.


"Nona, hari ini kita bisa beristirahat penuh?" ucap Hendrik.


"kenapa?"


"Saya di telepon Tuan Anton dan diminta kembali ke rumah."


"Maksud kakak apa? Kenapa kakak diminta pulang? Telepon Ayah Anton sekarang."


"Nona."


"Sekarang!" Tiyah tidak mengerti kenapa tiba-tiba Anton meminta Hendrik pulang.


Hendrik menelepon Anton dan memberikan ponselnya pada Datiyah.


"Kenapa ayah minta Kak Hendrik pulang?" ucap Datiyah sedikit menggebu.


"Kamu tenang saja. Ada yang ingin kubicarakan dengannya. Dia akan kembali jadi asisten mu. Lagipula dia kan mata-mata yang aku bayar umtuk mengawasimu." ucap Anton santai.


"Ayah Anton janji kan? Kak Hendrik tetap jadi asistenku?"


"Iya. Aku janji."


Datiyah mengunyah bagian dalam bibir bawahnya karena gugup, karena sudah lumayan lama tak bicara pada Anton.

__ADS_1


"oke, aku percaya. Kalau sampai ayah Anton bohong. Ayah Anton tau kan apa yang bisa aku lakukan!?"


Datiyah lalu menutup teleponnya.


"Apa kakak gak bisa cari alasan, supaya gak pergi? Entah kenapa aku ngerasa gak tenang."


Hendrik tersenyum, hendak menyentuh bagian atas kepala Datiyah untuk menenangkannya, seperti yang dilakukan Gama. Tapi dia menarik tangannya dengan cepat.


Datiyah masih terlihat khawatir.


"Tenang saja. Saya akan kembali sebelum makan malam."


Dengan terpaksa dia melepaskan kepergian Hendrik.


Seharian ia merasa tak tenang. Memainkan game, membaca buku. Tidak membuatnya tenang.


Hari ini, Gama lembur di kantornya. Membuat ia semakin galau sendirian. Dan juga mereka tidak akan makan malam bersama.


Jam makan malam, Datiyah menuju meja makan dan hanya melihat Gina.


"Bi, Kak Hendrik belum kembali?" Tanya Datiyah khawatir, pada salah satu pelayan.


"Belum Non."


"Kakak di mana? katanya akan kembali sebelum makan malam?"


Lama berselang, dia belum juga mendapat balasan. Dia mengirim chat yang sama berulang kali.


Dia pun, tidak bisa makan malam karena khawatir.


"Kak, kenapa khawatir begitu sih? Lagian kan cuma pulang ke rumah kakak." ucap Gina berusaha menenangkan Datiyah.


Datiyah menggeleng kencang, dan meremas tangannya sendiri. Membayangkan apa ynag bisa dilakukan Anton pada Hendrik.


"Ayah Anton, tidak mungkin macam-macam kan?" Ucaonya dalam hati, Dia menggigit bibir bawahnya berusaha menahan tangis, ketakutan kalau orang disekitarnya tersiksa.


"Kak?!" ucap Gina memegang tangan Datiyah, yang ditarik Datiyah secara kasar.


"Maaf, aku ke kamar dulu." Datiyah lalu berlari ke kemarnya. Dia duduk meringkuk di atas sofa. Tak ingin membayangkan sesuatu yang buruk. Dan hari ini pertama kalinya semenjak kedatangan Hendrik dia ditinggal sendirian.


Sementara itu, Gina di lantai bawah terkejut dengan reaksi Datiyah. "Apa kak Tiyah baik-baik saja? Dia sepertinya mengalami serangan panik." Gumam Gina pelan.


Gina langsung mengirimi Gama pesan,


"kak, apa kakak bisa pulang lebih cepat. Ada yang aneh dengan kak Tiyah. Hendrik sejak pagi pulang ke rumah Sugesti, tapi Kak Tiyah terlihat sangat khawatir."

__ADS_1


Gama yang membaca pesannya. Tanpa menunda lebih lama, langsung pulang.


"Di mana Dia?" Tanya Gama yang langsung melihat Gina di ruang keluarga.


"Di kamar. Aku gak dengar suara-suara aneh. Hanya suara sesegukan pelan. Aku takut kalau masuk, malah bikin kak Tiyah gelisah."


"Kerja bagus." ucap Gama menepuk lengan Gina. Dia langsung berlari ke kamarnya.


"Tiyah!! ini aku, Gama." Gama mengetuk pintu kamar dan membukanya perlahan.


Tiyah langsung berdiri dan berlari memeluk Gama.


"Dia belum kembali, dan memberi kabar!" suara Datiyah sesegukan.


"ssssttttt...sssstttt...semuanya pasti baik-baik saja. Ingat Spero Spera." ucap Gama sambil mengelus kepala Datiyah.


Datiyah masih menangis sesegukan di dada Gama. Tak berselang lama, ponselnya berbunyi tanda pesan masuk.


"Maaf Nona. Saya tadi sedang membantu Ibu di dapur dan mengecas ponsel saya. Saya akan kembali dua minggu lagi. Saya harap Nona menikmati waktu Nona untuk berlibur."


"Apa?? dua minggu? Apa dia sudah gila?" teriak Datiyah melepaskan pelukannya dari Gama.


"Tiyah? Kenapa?"


"Kak Hendrik pergi ke rumah selama 2 minggu. Apa dia sudah gila? Dia itu asistenku. Pasti sudah terjadi sesuatu padanya." mata Datiyah mulai keluar air mata dan khawatir.


"Maafkan saya Nona, saya tau Nona sangat khawatir. Saya baik-baik saja. Semenjak pulang, selama 3 tahun saya selalu menemani Nona. Saya sedikit tenang meninggalkan Nona di rumah Tuan Gama. Saya ingin menghabiskan waktu bersama Ibu saya." Datiyah sedikit lega membaca pesan Hendrik.


"Kakak yakin baik-baik saja?" balas Datiyah.


"Iya, saya baik-baik saja. Selamat istirahat Nona." Datiyah akhirnya lega melihat pesan terakhir Hendrik, meskipun masih ada perasaan menganggu dalam hatinya.


Dia pun merebahkan tubuhnya ke atas sofa.


"Kenapa kamu begitu khawatir? Dia hanya pulang ke rumah." Tanya gama yang kemudian duudk di samping Datiyah.


Datiyah kemudian menegakkan posisi duduknya.


"Tidak ada apa-apa." jawab Tiyah singkat.


"Tiyah, apa kamu benar-benar nganggap aku sahabatmu? Kenapa kamu tidak pernah menceritakan masalahmu? Dari sikap histerismu, apa yang kamu dan Hendrik lakukan, dan juga dari kekhawatiranmu yang berlebihan. Kenapa kamu tak pernah membaginya padaku. Sementara aku, menceritakan semua kegundahanku padamu." Ucap Gama yang duduk menghadap Datiyah dan mengambil tangannya untuk di genggam.


"Nanti, kalau aku sudah siap. Aku belum siap membagi semuanya. Tapi, aku akan beritahu kamu satu hal. Aku ingin memgambil hakku dan harta keluarga kembali dari Sugesti. Apa yang dimilikinya sekarang adalah hasil merebut apa yang keluargaku miliki. Aku akan mengambil semua milikku, termasuk mamaku." ucap Datiyah dengan tekad.


bersambung......

__ADS_1


__ADS_2