
Keesokan harinya, setelah sarapan Tiyah dipertemukan dengan guru-gurunya. Karena wajahnya yang masih lebam. Ia belum diizinkan ke sekolah. Jadi untuk sementara waktu, dia diberikan kursus adab di meja makan, cara berjalan, dan semua yang berhubungan dengan imej keluarga Sugesti. Pakaiannya pun, sudah seperti pakaian putri hanya untuk kegiatan sehari-hari.
Padahal sudah menjadi rahasia umum, keluarga Sugesti adalah keluarga konglomerat yang sadis dan tak kenal ampun. Selalu melakukan segala cara agar bisnisnya tetap berjalan lancar.
Meskipun begitu, Anton tetap ingin merubah pandangan orang-orang terhadap keluarganya dengan memanfaatkan Datiyah dan Jihan yang memang sudah terkenal karena kedermawanannya dari keluarga Gunawan.
Tapi ia akan mengubahnya menjadi kedermawanan keluarga Sugesti.
Seperti yang di janjikan. Jihan sudah tidak pernah lagi berbicara lagi dengan Tiyah.
Ia hanya melihat putrinya dari jauh. Bahkan meski duduk satu meja mereka hanya fokus pada makanannya.
Belum beberapa hari Jihan sudah merasa jenuh. Karena biasanya ia akan kerja, jika tidak ia akan pergi mengerjakan bakti sosial di panti jompo dan tempat lainnya.
"Anton? Apa aku boleh kembali bekerja di butikku?" Tanya Jihan ragu.
"Kamu harus fokus mengandung anakku. Setiap aku menyentuhmu, tubuhmu selalu gemetar.
Cihh. padahal aku sudah bersikap baik pada putrimu. Jadi, sebelum kamu mengandung dan melahirkan anakku jangan harap kamu bisa keluar dari rumah ini.
Di bibirmu kau katakan sudah menerimaku, tapi hati dan tubuhmu tidak pernah benar-benar menerimaku."
"Bagaimana mungkin aku menerimamu? Apa kamu lupa apa yang kamu lakukan terhadap keluargaku?" batin Jihan
Anton sudah sabar menunggu Jihan. Ia sendiri tak tahu sampai kapan ia akan menunggunya.
Meski ia pernah kasar pada Jihan, tapi ia tak ingin lagi mengulangnya.
Tiyah yang sudah menyelesaikan belajarnya, memutuskan pergi ke perpustakaan di rumah itu, yang kebetulan berdekatan dengan ruang kerja Anton.
Asyik membaca tentang sejarah keluarganya, karena papanya selalu menunjukkan bahwa apa yang mereka miliki bukanlah datang begitu saja melainkan dengan usaha keras dan prinsip hidup keluarga sebelumnya.
Karena termasuk gadis yang pintar dan cerdas, Tiyah juga sudah mengerti tentang saham, dan urusan bisnis. Papanya juga sering mengajarkannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Anton yang mengagetkan Tiyah.
"Saya cuma sedang baca buku."
"Siapa yang mengizinkanmu? Dan buku apa yang kamu baca?" Anton melihat semua buku yang di baca Tiyah.
"Seharusnya perempuan itu baca buku masak." Anton melempar semua buku yang ada di depan Tiyah.
"Ayah Anton!"
"Kalau sekali lagi aku melihatmu membaca buku-buku yang berhubungan dengan bisnis atau keluargamu. Aku akan menghukum mu lagi. Mengerti?"
Tiyah mengangguk dan menangis.
"Jawab!! jangan hanya mengangguk!!" teriak Anton.
__ADS_1
"iya ,Ayah Anton."
Jihan hanya bisa melihat dari depan pintu perpustakaan. Jika ia membantu Tiyah, maka Tiyah yang akan dihukum lagi.
"Keluar dari sini. Mulai hari ini selain pelajaran sekolah, dan pelajaran dari guru-guru yang ku tunjuk. Kamu dilarang menyentuh buku lain."
Setelah menjawab Anton, ia pun keluar dan berpapasan dengan mamanya. Mata Jihan berkaca-kaca. Sementara ia membalas tatapan mamanya dengan senyuman.
Akhir pekan, akhirnya Anton mengajak Jihan dan Tiyah mengunjungi panti asuhan dan "berbuat baik" di sana.
Sebelumnya, Harry dan Fuad selalu pergi bersamaan.
Tapi hari ini, meski tak direncanakan, Anton bertemu dengan Harry ataukah Harry bertemu dengan Anton?
"Tiyah!" Gama berlari ke arah Tiyah, dan merangkul bahu temannya itu. Tiyah sempat meringis, tapi di tutupi dengan senyuman.
"Ayo kita ketemu anak-anak lain! Aira juga ikut hari ini."
"Kak Aira! Gama, Kak Aira."
"Terserah!" Gama menarik tangan Tiyah ke tempat taman di mana Aira dan anak-anak panti bermain.
Sementara itu, Jihan dan Mutia langsung masuk ke dapur membantu memasak. Seperti yang biasa mereka lakukan.
"Emmm....kamu gak apa-apa kan?" tanya Mutia, agak ragu.
"Kenapa? kamu ada dengar sesuatu?" Jihan bertanya agak cuek, karena tahu sahabatnya itu akan ragu-ragu kalau tahu suatu rahasia tapi takut menanyakannya.
Tercekat tenggorokannya menahan tangis tapi Jihan menarik tangannya. "Apa yang sebenarnya kamu dengar?"
"Itu tentang Ayah dan Suamimu. Katanya, Anton terlibat." Jihan menahan tangisnya.
"Terus apa kata suamimu?"
"huh? maksudmu Mas Harry? Dia cuma bilang aku gak perlu ikut campur. Tapi aku mana bi..."
Jihan mengunyah bagian dalam pipinya menahan marah, tapi tak sampai terluka. Dan memotong ucapan Mutia.
"Kalau begitu, ikuti kata suamimu. Gak usah ikut campur! Aku pergi cuci sayurnya dulu." Jihan kemudian meninggalkan Mutia yang masih kaget karena dibentak Jihan.
Sementara itu.
"Kamu tidak menyentuh Tiyah kan?" Tanya Harry tiba-tiba.
"Apa?? Ahh, ayolah Harr, kamu tahu aku lebih baik dari ini. Mana mungkin aku menyentuh gadis kecil. Dia itu sudah ku anggap anakku. Terlebih lagi dia putri dari wanita yang aku cintai."
"Kamu tidak menyiksanya kan?"
Anton menyeringai dan mengangkat bahunya.
Rasa bersalah di wajah Harry semakin terlihat jelas.
__ADS_1
"Ini semua berkat kamu juga Har, aku bisa bersama dengan wanita yang aku cintai."
"Kamu tahu aku tidak melakukan apa-apa" Ucap Harry yang semakin kesal.
"Ya, aku tahu. Tapi bekerja sama denganku, mengkhianati Fuad dan tidak melakukan apa-apa juga adalah sesuatu yang kamu lakukan.
Ayolah, kita sudah bekerja sama hampir 9 tahun dan sejak saat itu juga perusahaanmu semakin berkembang kan?"
"Hentikan omong kosong mu." Harry mulai marah.
"Jika bukan karena aku, Ayahmu sudah masuk penjara karena rasa keadilan dan sok suci Fuad dan Gunawan. Hal itu juga yang membuat keluarga Kencana kembali berdiri." Anton menyeringai, menepuk bahu Harry dan masuk ke dalam ruangan pimpinan panti.
Harry hanya diam membeku di tempatnya. Ia tahu bahwa apa yang ia lakukan akan kembali padanya.
Apa yang kau tanam adalah apa yang akan kau petik.
Penghianatan terhadap sahabatnya, mengabaikan istri sahabatnya yang juga temannya. Mengabaikan putri sahabatnya yang kemungkinan juga dalam bahaya besar.
Sementara itu anak-anak sibuk bermain di taman panti, ada yang berlarian, merangkai bunga, duduk mengobrol.
"Aira, lihat apa yang ku buat?" Gama memperlihatkan mahkota yang ia rangkai dari bunga.
"Wahh, cantik Gam!" ucap Tiyah memuji hasil karya Gama.
Gama pun meletakkan mahkotanya di atas kepala Aira. Aira menerimanya dengan senang. Aira kemudian mencium pipi Gama.
"Eeeewwww.... kalian berdua jorok" ucap Tiyah geli.
"Kenapa, nanti kalau sudah besar aku dan Aira akan menikah."
"Kalian masih kecil. Belum boleh menikah." ucap Tiyah yang sudah mengerti, meskipun masih kecil.
Sementara Aira, hanya tertawa, 2 tahun lebih tua iapun mengerti. Tapi tak perduli apa yang ia katakan Gama hanya akan bilang bahwa ia akan menikahi Aira.
Mereka tahu bahwa Gama sangat menyukai Aira. Mutia yang melihat anak-anak bahagia ikut merasa bahagia.
Jihan hanya melihat putrinya dari jauh.
"Tante, ini dari Kakak Tiyah."
Seorang anak kecil memberikannya mahkota bunga yang dibuat Tiyah. Bahkan untuk memberikan bunga untuk mamanya harus melewati orang lain. Karena Tiyah juga mengerti kalau Mamanya sampai mengajaknya bicara. Maka ia yang akan di hukum dan Mamanya akan bersedih.
Jihan hanya bisa menahan tangis.
"Sampai kapan kita akan hidup seperti ini? Kapan kita akan bisa bebas?" Jihan menutup matanya dan berdo'a.
*bersambung......
__ADS_1