Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Harry untuk Mutia


__ADS_3

Bagi beberapa orang, setelah cinta pertama mereka akan menemukan cinta kedua, ketiga sampai menemukan cinta terakhirnya.


Tapi tidak bagi Mutia. Dia hanya memiliki satu cinta, yaitu cintanya terhadap Harry.


Mutia dan Harry bertemu ketika mereka duduk di bangku SMP.


Harry berlari sangat cepat, keluar lingkungan sekolah sambil menggendong Mutia di punggungnya. Dan seorang guru yang mengikutinya dari belakang.


"Muti, sadar!" ucap Harry.


Mutia yang terkulai lemas di punggungnya belum juga sadar. Dia berniat menunggu supirnya yang ia telepon. Tapi keadaan Muti yang terlihat pucat pasi membuatnya memilih berlari ke arah rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari sekolahnya.


10 menit kemudian ia tiba di depan rumah sakit. Bajunya sudah basah akibat keringat.


Dia pun langsung membawanya ke dalam ruang UGD.


Mutia yang ditemukan Harry dalam keadaan pingsan dengan pergelangan teriris di dekat tempat sampah halaman belakang sekolahnya.


Iya, Mutia yang saat itu putus asa dan malu dengan kehidupannya.


Semua orang mencemoohnya. Bisikan buruk tentangnya di mana-mana.


"Menjijikan, pasti dia yang menggoda ayah tirinya." ucap salah satu kakak kelasnya.


"Paling karena dia cari perhatian. Cuih." imbuh yang lain.


"Sampah." tambah yang lain.


Semenjak Ia dan ibunya memutuskan melapor pada polisi tentang pelecehan yang dilakukan ayah tirinya. Mutia malah menjadi sasaran hinaan orang-orang.


Itu semua juga karena kekuasaan yang dimiliki ayah tirinya.


Dia terbukti tidak bersalah, sehingga ia mulai menyebar rumor tentang Mutia ke mana-mana.


Meskipun saat itu, ibunya juga orang yang kaya dan memiliki kekuasaan tapi stigma bahwa perempuan yang selalu menggoda laki-laki masih keras.


Dia di tuduh nemakai baju seksi di dalam rumahnya, dia di tuduh kurang kasih sayang ayah sehingga mencari perhatian ayah tirinya dengan cara yang salah.


Ibunya hanya bisa meminta maaf pada apa yang terjadi pada putrinya karena menikahi laki-laki bejat..


Ibunya malah di tahan karena tindak kekerasan setelah memukul suami bejatnya itu. Tapi di bebaskan setelah satu bulan.


Mutia semakin tenggelam dalam kesedihan dan ketidakberdayaannya.

__ADS_1


Dia benci dengan hidupnya. Padahal yang ia lakukan hanyalah memperjuangkan hidupnya. Tapi kenapa orang-orang memperlakukan ia seperti sesuatu yang hina.


Sesuatu yang bukan salahnya.


Akhirnya dia sudah tak sanggup dan memutuskan meninggalkan dunia yang hina ini. Dia memilih tempat sampah yang jarang di datangi orang-orang. Tapi Harry menemukannya, yang saat itu bertugas membuang sampah.


Saat ini,


Harry sangat khawatir dengan keadaan Mutia.


Di depan ruangan ia sudah mondar mandir. Tidak memperdulikan keadaannya yang basah karena keringat.


"Har, dia akn baik-baik saja." Pak Guru yang menemaninya berusaha menenangkan Harry.


"Semoga Pak, semoga." Ia berdoa dalam hatinya semoga temannya itu bisa selamat.


"Lebih baik kamu pulang ganti baju dulu. Biar bapak yang jaga di sini." Menunjuk keadaan Harry.


"Iya, bapak betul. Saya pulang dulu. Saya pasti kembali." Dia jalan agak berlari keluar dari rumah sakit.


"Semoga saja dia sadar kalau aku kembali nanti." Dia kembali ke sekolah karena hanya sekolahnya yang memiliki telepon dan mobilnya sudah menunggu di sana.


Dengan cepat ia mandi dan ganti baju. Lalu kemudian kembali ke rumah sakit setelah meminta ibunya untuk menghubungi keluarga Mutia.


Mutia sudah dipindahkan ke ruang perawatan, setelah menerima beberapa kantung transfusi darah.


Ia terbangun, karena Pelayan Mutia yang datang.


"Emm, terima kasih sudah menjaga Non Mutia. Biar saya yang akan menemaninya sekarang."


"Gak. Biar aku aja yang temani dia. Hoooammm, nanti kalau aku pulang baru bibi yang temani." ucap Harry sambil menguap.


Mutia mulai menggerakkan tangannya.


Harry langsung memperhatikannya.


"Mut, muti? kamu bisa dengar aku kan? Panggilkan dokter bi." Bibi itu langsung keluar memanggil dokter.


Dokter mengatakan kalau keadaan Mutia baik-baik saja. Harry yang mendengar hal itu langsung merasa lega.


"Muti, aku pulang dulu. Besok pulang sekolah aku kembali lagi." Mutia memalingkan wajah tidak menghiraukannya.


Setelah kepergian Harry Mutia langsung menangis. Bibi berusaha menenangkannya.

__ADS_1


Harry masih bisa mendengar teriakan Mutia, tapi ia tak mau membuat temannya itu merasa lebih sedih. Ia hanya memanggil dokter untuk memeriksa Mutia. Mutia akhirnya di beri obat penenang.


Selama di rawat di rumah sakit. Harry mengunjungi Mutia setiap hari.


Mutia pun mulai tersenyum lagi. Meski kadang mimpi buruknya datang. Tapi ia bisa mengontrol dirinya.


2 Minggu kemudian, Mutia sudah bisa kembali ke sekolah. Ia sangat gugup kembali ke sekolah. Bagaimana kalau teman-temannya menghinanya lagi.


Harry sudah menunggu Mutia di depan gerbang. "Mutia!!" teriak Harry melambai.


Mutia menutup wajahnya berjalan menuju Harry. "Kamu bisa gak jangan umumkan kedatanganku?" bisik Mutia pada Harry.


Mereka pun masuk lingkungan sekolah. Mata tertuju pada Mutia, tapi tidak ada yang berani bicara.


"Hah, benarkan aku bilang. Dia itu cuma pengen cari perhatian." Harry langsung marah berjalan ke hadapan gadis itu.


"Kamu juga perempuan. Harusnya kamu mengerti kondisinya.


Kalau memang dia mau cari perhatian dan senang diperlakukan seperti itu. Pasti dia gak akan ngelapor polisi dan harus dihina sama kalian yang belum tentu lebih baik dari dia.


Kalau ada kudengar satu kata saja yang menghina Mutia, kalian akan berhadapan denganku." Ucap Harry tegas.


"Denganku juga," Ucap Jihan tiba-tiba, yang saat itu beda kelas dengan Mutia dan Harry. Dan Anton ikut di belakang Jihan, meskipun tak mengucapkan apa-apa, Anton sudah ditakuti oleh teman-temannya karena cara berbisnis keluarga Sugesti.


"emm, makasih kalian semua." ucap Mutia malu dan bersyukur ada orang yang mendukungnya.


Dan sejak saat itu mereka menjadi teman dan sahabat.


Berbeda denga Jihan dan Anton yang mulai pacaran kelas 3 SMP, Harry dan Mutia mulai pacaran kelas 2 SMA.


Harry sudah menyatakan perasaannya pada Mutia sejak kelas 1 SMA tapi ditolak Mutia tapi Harry tidak menyerah.


Dan akhirnya mereka pecaran, Itupun karena Jihan membujuk Mutia, karena Mutia menganggap dirinya perempuan yang kotor dan tak pantas di cintai dan disayangi oleh laki-laki.


Dan di SMA mereka bertemu dengan Fuad dan Amira siswa beasiswa yang masuk ke sekolah elit. Semuanya ikut OSIS kecuali Anton. Jihan ingin memaksanya agar punya kegiatan dalam sekolah. Tapi ia menolaknya.


Mulai sejak saat itu, persahabatan mereka terikat.


Setelah tamat SMA semuanya masing-masing sibuk dengan dunia nyata.


Jihan dan Anton memutuskan berpisah karena sikap Anton yang sudah tidak bisa di tolerir. Jihan sudah berkali-kali menerima Anton, tapi Anton selalu merusaknya. Dan Jihan pun meninggalkannya.


Sementara itu, Harry dan Mutia hubungannya menjadi semakin kuat. Mutia yang hanya mencintai Harry dan Harry yang mencintai Mutia. Mutia tahu bahwa Harry akan menjadi satu-satunya cinta dalam hidupnya. Ia tak pernah membayangkan mencintai laki-laki lain seperti ia mencintai Harry. Dan diapun berfikir Harry juga begitu

__ADS_1


Ternyata Mutia salah, cinta Harry tidak selamanya untuknya.


*bersambung......


__ADS_2