Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Milikku


__ADS_3

Sementara itu, di rumah Anton sedang membersihkan sebuah pistol di atas mejanya.


Anton tahu betul, bahwa semua harta yang selama ini dalam genggamannya, tak akan lama lagi akan direbut oleh putri tirinya.


"aku sudah terlalu baik belakangan ini." batin Anton, melihat foto keluarga di mejanya yang terdiri dari Dirinya, Jihan, Datiyah dan Raka.


"Semua ini adalah milikku, tak akan kubiarkan siapapun merusak dan mengambil milikku."


Selama ini, Anton tidak mau mengotori tangannya dengan memusnahkan siapapun. Tapi, apa yang dilakukan Datiyah sudah keterlaluan, dan membuat Anton sangat murka.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.


"Masuk." perintahnya.


"Apa aku juga perlu ikut?" tanya Jihan, pelan sambil melihat Anton yang sedang membersihkan pistolnya.


Anton menatapnya dengan tajam, kemudian berusaha menangkan amarahnya.


"jika bisa, aku akan melakukan hal yang sangat ingin aku lakukan. Tapi aku tau, itu hanya akan buat kamu menderita. Jadi kamu tidak usah khawatir tentang putrimu."


Jihan menggigit dalam bibirnya karena gugup. Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan kepada putrinya. Meski Sudah mendengar apa yang dikatakan Anton, Jihan masih tidak bisa tenang.


Anton menatap Jihan, yang masih berdiri di depannya.


"Apa yang kamu takutkan, tidak akan terjadi." Anton, langsung berdiri dan memeluk Jihan.


"Kamu tahu, jika aku melakukan sesuatu padanya, aku tahu kamu akan menderita. Dan kalau kamu menderita Raka dan aku tidak akan bertahan." mengelus kepala dan punggung Jihan.


"Kamu janji kan? Hal ini sangat menakutkan. Anton, aku akan tetap sama kamu dan Raka. Kembalikan semuanya pada Datiyah, dan biarkan dia menjalani kehidupannya." Jihan menangis dan memohon dalam pelukan Anton.


Apa yang dari awal diinginkan Anton, memang hanyalah Jihan, tapi Anton masih tidak bisa menerima Datiyah yang merupakan anak Jihan dan laki-laki lain. Dan baginya, Datiyah adalah bukti dan pengingat kalau Jihan pernah meninggalkannya.


Anton kemudian memegang bahu Jihan dan menatap wajahnya.


"Kamu lupakan tentang hal ini atau lebih baik kamu tidak usah ikut. Ajak Raka, jalan-jalan."


Jihan merasa ragu, dia sangat takut, tapi dia juha perlu ada di sana untuk melindungi putrinya.


Tapi memutuskan untuk tetap ikut dalam pertemuannya.


Sementara itu, Gama dan Datiyah sudah menyelesaikan sarapannya.


Rendra datang mengetuk pintu kamarnya.


"Tuan, saya mencoba menelfon tuan sejak tadi." Ucap Rendra buru-buru.


"Aku tak sengaja menjatuhkannya."

__ADS_1


"Aira, di larikan ke rumah sakit tadi malam."


Secara reflek Gama langsung berdiri,


"bagaimana bisa? Ada apa? " tanya Gama khawatir.


Deg, hati Datiyah mulai bimbang lagi, dan berdegup kencang.


"Gama tidak akan bisa lepas dari kak Aira" batinnya.


"Di duga terjadi penganiayaan" jawab Rendra.


"Apa, penganiayaan apa? Lebih baik aku langsung ke sana. " ucap Gama mengambil ponselnya yang rusak, dan buru-buru menyiapkan diri.


Datiyah menatapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tiyah, aku akan menjenguk dan melihat keadaan Aira dulu. Setelah itu. Aku akan kembali. "


Datiyah menggeleng, kemudian menarik lengan baju Gama.


"Apa harus kamu yang pergi? Kak Rendra bisa membantunya. Bukannya K Rendra yang lebih tau urusan seperti ini di banding kamu." ucap Datiyah pelan.


"Aku tau, harusnya aku tidak boleh begini, baru sebentar aku merasa kalau Gama benar-benar milikku, tapi sekarang dia harus pergi lagi karena wanita lain. " batin Datiyah.


Gama kemudian menggenggam kedua tangan Datiyah.


Datiyah tidak tau harus menjawab apa. Dia sebenarnya ingin marah, tapi Aira sedang terluka, tapi dia juga tidak rela kalau Gama pergi saat ini.


Diamnya Datiyah, dianggap lampu hijau oleh Gama, dan dia pun pergi dan melepaskan tangan Datiyah lalu mengecup kening Datiyah.


Setelah Gama keluar, Datiyah menjatuhkan tubuhnya di sofa, dan termenung.


"Aku tidak butuh siapapun, selama ini pun, hanya ada aku dan Kak Hendrik." Perlahan dia mulai menangis, kemarahan mulai menguasainya lagi.


Dia membanting semua pring dan makanan di atas meja.


"aku tidak perlu, aku tidak butuh semua ini... Aaaaaaaarrrhhhhh... "


Hendrik yang mendengar keributan lalu masuk dan terkejut, dan dengan cepat memeluk Datiyah untuk menenangkannya.


"kenapa... Kenapa??... aaaaaahhhh" suara isak Datiyah terdengar.


Karena masih pagi, semua orang berada di rumah.


Mutia , Gina dan beberapa pembantu masuk ke kamar dan melihat kekacauan yang dibuat oleh Datiyah.


"Kenapa, Tiyah? Ada Apa? " Tanya Mutia khawatir.

__ADS_1


Datiyah tak menjawab dan hanya terus menangis.


Mutia hanya bisa menunggu jawaban dan menyuruh pembantu membersihkan semuanya.


Semua orang kembali turun. Gina dengan cepat mengirim sms pada Rendra.


"Kak Tiyah kenapa? Kak Gama dimana? Tau gak, Kak Tiyah teriak histeris."


Rendra sangat pusing, mereka bahkan belum sampai rumah sakit, tapi Datiyah juga perlu perhatian.


"Tuan... Lebih baik saya pergi sendiri, ada baiknya Tuan tetap disamping Nona Tiyah, bukannya dia juga baru keluar dari rumah sakit? " bujuk Rendra, supaya Gama kembali.


"Dan juga, Nona Tiyah sedang.... "


"Sudah, urusan Tiyah biar aku yang selesaikan nanti." ucap Gama memotong ucapan Rendra.


Setelah beberapa saat menangis dan marah, Datiyah kembali duduk.


"Suruh seseorang memasukkan semua barangku ke koper, aku tidak perlu berada di sini lagi." ucap Datiyah pada Hendrik.


"Nona, akan ke mana?" tanya Hendrik bingung.


"Aku sudah meminta seseorang untuk menyiapkan rumah untukku, harusnya aku tau. Kalau Gama, memang bukan untuk aku. Dia dari dulu selalu bingung dan tidak memutuskan pilihannya dengan cepat." ucap Datiyah yang marah dengan nafas terengah.


Pukul 2 siang nanti pertemuan besar itu akan di adakan. Selain melihat hancurnya hidup Anton, dia juga berharap Gama ada di sana, dan tidak hanya menjaga Aira sepanjang hari di rumah sakit. Dan itu adalah kesempatan untuk Gama dari Datiyah.


"Kak Tiyah, aku dengar kakak mengemas semua barang kakak. Apa kak Gama nyakitin kakak?" Tanya Gina pada Datiyah yang akan berangkat.


Datiyah tersenyum Getir. Dia tidak ingin menjelaskan apapun panjang lebar.


"Nanti, kamu akan tau kalau waktunya tiba." ucap Datiyah singkat.


"Sekarang aku harus pergi dan bersiap-siap".


Datiyah langsung pergi, naik mobil bersama Hendrik.


Begitu sampai di ruang rapat, Datiyah duduk di tempatnya. Satu persatu eksekutif mengambil tempat dududknya masing-masing.


Ketika melihat Rendra, Datiyah tersenyum, berharap Gama ada di belakangnya, tapi Gama tak ada di sana. Mata Datiyah berkaca-kaca.


" Gama, aku harap kita bisa bertemu disini dan aku akan menceritakan semuanya sama kamu. Tapi, sepertinya. Rasa cintaku tak cukup membuatmu untuk tetap di sampingku. Karena kamu lebih memilih berada di samping Aira."Batin Datiyah.


Rendra yang baru melihat Datiyah terkejut.


"Nona, apa yang Nona lakukan di sini? "


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2