Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Sembunyi- Sembunyi


__ADS_3

Semenjak dilarang membaca buku di perpustakaan. Tiyah hanya bermain di dapur, dan di taman.


Seminggu kemudian, Tiyah sudah diziinkan kembali ke sekolah. Ia harus mengejar ketertinggalan di sekolahnya dengan cepat. Sehingga ia tak punya waktu untuk membaca buku lain selain buku pelajaran.


Mengejar materi dan nilai-nilainya yang ketinggalan. Benar-benar menguras energi dan fikirannya. Meskipun begitu, akhirnya ia berhasil mengejar ketertinggalan.


Belajar dan terus belajar. Apa yang bisa dia lakukan selain belajar?


Belum saja waktu pulang, supir sudah menunggu di depan sekolah menjemputnya.


Pulang sekolah langsung di sambut guru tata krama.


Sementara itu, Jihan akhirnya hamil. Tapi kehamilannya tidak pernah bertahan lama.


Dia selalu kehilangan anaknya, selama 3 tahun tinggal bersama Anton, sudah 5 kali kehilangan. Dan setiap itu juga Anton menyalahkan Tiyah sehingga mendapatkan hukuman.


Jihan belum benar-benar bisa menerima Anton. Begitu dia hamil, dia selalu stress berlebihan dan membuat tubuhnya lemah dan kehilangan bayinya.


Kadang Anton juga sering mendapati Tiyah membaca buku, dan dia juga di hukum.


Meskipun sering dimarahi karena membaca buku bisnis. Tiyah tetap melakukannya sembunyi-sembunyi. Ia tidak berani meminjam di perpustakaan sekolah, karena resiko ketahuan Anton.


Karena sebelumnya ia melakukannya dan dia di hukum. Sehingga ia pun meminta Gama membawakan buku yang sering di baca ayahnya setiap hari ke sekolah.


Begitu hidup Tiyah dan Jihan.


Tiyah sudah mulai terbiasa meski harus di hukum cambuk dan kelaparan oleh Anton.


Tubuhnya yang penuh luka pun tak sesakit ketika pertama ia rasakan.


Tubuhnya sudah mulai terbiasa.


Tiyah, Gama dan Aira sering bertemu ketika ada kegiatan amal.


Meski Harry tak merencanakannya, tapi Anton sengaja mengikuti ke mana Harry pergi. Hanya untuk memhuat Harry kesal.


Karena Anton tahu Harry sedang berusaha memutuskan kerja samanya dengan Anton.


4 Tahun berlalu sejak mereka tinggal di rumah Anton, Tiyah dan Gama akan memasuki SMP. Anton memutuskan memasukkan Tiyah ke sekolah biasa.


Berbeda dengan sekolah swasta koleksi bukunya seperti koleksi perpustakaan internasional.


Kalau di sekolah biasa hanya akan ada buku pelajaran.


Anton tidak suka Tiyah belajar bisnis. Karena ia tahu Tiyah adalah gadis yang cerdas dan cepat belajar.


Anton, Jihan ,Harry, Mutia, Gama dan Aira sedang makan malam di sebuah pesta. Kemanapun pergi, Gama selalu berusaha mengajak Aira ikut. Karena ia juga tak suka sendirian dan begitu juga Aira.

__ADS_1


"Tante Jihan, kenapa Tiyah gak satu sekolah lagi sama aku. Sekarang aku sudah gak punya teman nyontek lagi." ucapnya kecewa.


Jihan hanya tersenyun tak menjawabnya.


"Bukannya kamu kangen sama dia karena kamu suka sama Tiyah?" tanya Mutia bercanda menggoda putranya


"Gak, aku sukanya cuma sama Aira." Jawab Gama serius.


"Berarti selama ini, kamu selalu nyontek sama Tiyah dong?" ucap Aira.


"Begitu deh," jawab Gama cuek.


"Ih, berarti Gama malas." ucap Aira.


Kembali Orang dewasa di meja itu hanya fokus dengan makanannya.


Tapi Anton tidak berhenti membuat Harry kesal dengan senyum liciknya yang mneyebalkan.


"Tapi, tante belum jawab pertanyaan Gama."


"Emm..itu karena...." Jihan berfikir tentang alasan apa yang akan diberikan pada Gama.


"Dia pengen rasain sekolah biasa. Soalnya dia capek belajar." potong Anton menjawab pertanyaan Gama


Gama otomatis tertawa.


"Capek belajar? Tiyah? Hahhahahaha. Mana ada kamus Tiyah yang namanya capek belajar. Waktu kita di kelas 6, dia minjam buku bisnis Ayah buat di baca. Semuanya sudah dia baca. Malahan dia minta buku lain." ucap Gama santai.


"Terus dia belajarnya kapan?" tanya Anton.


Ketika akan menjawab pertanyaan Anton,


Jihan mengalihkan pembicaraan. "Menurut Gama, apa yang beda dari SD sama SMP nya?" Akhirnya pembicaraan teralihkan meskipun Jihan tahu itu sudah terlambat. Anton hanya menyeringai.


Anton sama sekali tidak mengerti, gadis kecil itu seperti menurut tapi selalu membangkang.


Sesampainya di rumah. Anton yang sudah menahan amarahnya langsung berjalan ke kamar Tiyah.


Dan berteriak dari luar kamarnya.


"Tiiyyyaaaahhhh!!" Tiyah yang kaget langsung terbangun. Dia sudah menarik nafasnya dalam-dalam. Meski tak melakukan kesalahan ia hanya terima ketika di hukum.


"Aku dengar kamu belajar bisnis sembunyi-sembunyi. Di depanku kamu berpura-pura menurut. Tapi nyatanya di belakangku yang kamu lakukan adalah membangkang."


Dalam hatinya, Tiyah memutar bola matanya. Dia sangat ngantuk mendengar ocehan Anton, dia hanya menunggu mendapat hukumannya.


Tak lama kemudian ia merasakan cambukan di tubuhnya. Ia hanya meringis.

__ADS_1


Anton merasa ada yang berubah. Lagipula siapa yang tidak akan berubah selama 4 tahun lebih disiksa. Jadi dia mengabaikannya.


Keesokan harinya Tiyah bersekolah seperti biasa, menggunakan cardigan. Jihan juga sarapan di meja seperti tak terjadi apa-apa.


Tiyah sedang asyik menikmati sejuk udara di sekitar lapangan bola. Seorang anak laki-laki duduk di belakangnya, memperhatikan.


"Kamu dikirim ayah Anton juga? Maksudku kamu harusnya belajar ngapain jagain aku."


"Yah, kalau diperintah seperti itu, yaah aku hanya harus menurut."


Lagi Tiyah menatap langit. "Kira-kira menurutmu berapa lama aku akan bisa bebas dari rumah itu?"


"Hahahhahahaaha, gak usah mimpi. Aku sudah 15 tahun di sana dan sampai sekarang aku dan ibuku gak bisa keluar dari sana."


Tiyah langsung berbalik melihat anak laki-laki itu. "15 Tahun? kamu masih kelas 1 SMP 15 tahun?" tanya Tiyah kaget.


"Terima kasih sama kamu. Karena di suruh jagain kamu akhirnya aku bisa lanjut sekolah."


Tiyah mengerutkan dahinya. "siapa ibumu dan kenapa kamu gak di izinin sekolah?"


Anak laki-laki itu ragu untuk bicara, tapi akhirnya menceritakan bahwa ia dan Anton adalah saudara satu ayah. Ibunya adalah Narti seorang pelayan di rumah Anton. Ibunya di paksa oleh ayah Anton dan akhirnya mengandungnya.


Tiyah terkejut mendengar ceritanya.


"Tapi aku belum tau nama Kakak?" tanya Tiyah.


"Hendrik" Mereka akhirnya mengobrol.


Meski di suruh mengawasi Tiyah. Hendrik dan Tiyah justru menjadi teman.


Sampai suatu hari, Tiyah di panggil oleh Anton dan siap menghukumnya. Di sana juga berdiri Hendrik dengan wajah bersalahnya. Dia hanya melihat Anton tersenyum.


Ternyata Hendrik mencatat setiap buku yang dibaca Tiyah di sekolah. Ia pikir tidak ada salahnya hanya mencatat judul buku. Dia tidak menyangka kalau Tiyah akan di hukum dengan cara kejam. Tapi Tiyah tetap tersenyum pada Hendrik.


Setelah hari itu, Hendrik tidak pernah lagi mencatat judul buku yang diluar buku pelajaranmya.


Tiyah sangat senang karena dia punya teman ngobrol, setidaknya ia akan kuat menghadapi semuanya. Hukuman yang ia dapatkan pun sudah berkurang. Mereka berteman sampai kelas 3 SMP.


Hingga suatu hari, Anton mengirim Hendrik ke luar negeri.


Tidak ada yang tahu alasannya.


Bi Narti yang memohon agar anaknya jangan dikirim ke jauh.


Tapi mana mau Anton mendengarkannya.


Tiyah hanya bisa menangis sesegukan dalam kamarnya sedih karena kepergian Hendrik.

__ADS_1


"Tiyah, tunggulah aku kembali. Aku pasti akan jadi lebih kuat dan akan melindungimu." ucap Hendrik yang berangkat pergi. Meski dia sendiri tidak tahu ke mana Anton mengirimnya.


*bersambung......


__ADS_2