
Rendra dengan cepat kembali ke kamarnya. Memegang dadanya yang berdetak cepat karena seorang gadis yang 15 tahun lebih muda darinya.
Iya, Rendra menyukai gadis itu. Tapi menurutnya, itu adalah kesalahan besar dari segala sisi.
Sebelumnya, ia hanya melihat Gina sebagai seorang anak kecil, anak majikannya yang harus dia lindungi.
Tapi, ketika Gina berusia 16 tahun. Ia menyadari gerak gerik Gina yang sepertinya menggodanya. Tapi cepat ia menepis fikirannya itu. Dan ia berfikir ia bukan pedopil yang memburu anak kecil untuk dijadikan kekasih.
Dan ternyata fikirannya benar, Gina menyukainya dan menyatakan cintanya pada Rendra. Tapi ia tidak bisa dan tidak boleh memiliki perasaan seperti itu terhadap anak majikannya. Yang sudah memberikannya amanat untuk menjaga seluruh keluarga Tuannya.
Rendra dan Harry, pertama kali bertemu 26 tahun yang lalu. Tahun di mana Harry memutuskan untuk menghianati sahabatnya, Tahun dimana Gama sedang berada dalam kandungan.
Harry yang saat itu, sedang termenung di pinggiran sungai Taman kota melihat jauh ke langit. Memikirkan apakah menghianati sahabatnya sebanding dengan apa yang akan dia lindungi. Keluarganya, hanya itu yang ada di dalam fikirannya.
Saat itu, Kencana kedapatan melakukan penggelapan pajak oleh Ayah Harry dan rekannya yang mana ditemukan oleh Fuad dan Gunawan yang saat itu sudah lama bekerja sama.
Dia memberikan pilihan pada Kencana, untuk membayarnya ataukah menyerahkan diri.
Tapi ia memilih tawaran Anton yang saat itu yang juga akan menggulingkan kepemimpinan Sugesti, ayahnya sendiri.
Mereka bekerja sama dan akhirnya berhasil membuat Keluarga Gunawan diperiksa atas tuduhan yang harusnya untuk keluarga Kencana.
Tengah termenung dengan fikirannya sendiri. Harry tersadar ketika ada suara ribut dari bawah jembatan.
"kakaaak..kakaaaak....!" teriak seorang anak laki-laki dengan seorang gadis di pangkuannya yang coba ia bangunkan.
Anak laki-laki itu ketakutan melihat kakanya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Harry memerintahkan anak buahnya untuk memeriksanya. Ketika anak laki-laki itu melihat anak buah Harry dia semakin memeluk erat kakaknya dan ketakutan.
Harry pun mendekat, "Tidak usah khawatir, kami bukan ingin menyakitimu. Kami bukan orang jahat." Setelah mengucapkan hal itu, Harry tertawa dalam hati yang mengatakan bahwa ia bukan orang jahat.
Setelah Harry melihat lebih dekat, keadaan anak laki-laki itu tidak kalah mengerikannya di banding kakaknya.Wajah dan tubuhnya sudah dipenuhi luka lebam.
"Kalian siapa? Kalian bukan suruhan Boss Andro kan?" tanya anak laki-laki itu sedikit ketakutan.
"Bukan. Dan sepertinya kita harus segera membawa kakakmu ke Rumah Sakit secepatnya." jawab Harry.
Anak laki-laki itu pun melihat ke arah kakaknya yang sudah semakin pucat dan membiarkan anak buah Harry membawa kakaknya. Dia ikut masuk ke dalam mobil.
Segera Fadil, asisten Harry memberikan air pada anak laki-laki itu.
"Mereka semua pun, pergi ke rumah sakit."
__ADS_1
Kakaknya langsung di bawa ke ruang operasi karena ternyata tubuhnya terluka karena sayatan yang lebar dan kehilangan banyak darah. Sementara anak laki-laki itu di bawa ke UGD dan di obati luka sekujur tubuhnya.
"Kamu yakin baik-baik saja?" tanya Harry pada anak laki-laki itu.
"Saya baik-baik saja. bagaimana dengan kakak saya?"
"Mereka masih mengoperasinya. Berdo'a saja supaya dia baik-baik saja." ucap Harry yang kemudian duduk di ujung tempat tidur.
"Siapa namamu? dan apa yang terjadi padamu dan kakakmu?"
"Nama saya Rendra, kakak saya..." belum melanjutkan kata-katanya, anak laki-laki yang berusia 10 tahun itu menangis tersedu-sedu.
"Tenangkan fikiranmu. Kamu adalah anak laki-laki." perintah Harry. Setelah lama agak tenang Rendra melanjutkan ceritanya.
Bahwa ayahnya berjudi dan berhutang pada rentenir. Dan sebagai hasilnya, bapaknya menyerahkan kakaknya yang berusia 16 tahun pada rentenir itu.
Saat akan memaksa kakaknya, Rendra datang dan mendorong rentenir itu dan anak buahnya. Entah kekuatan dari mana ia bisa mendorong rentenir dan anak buahnya itu.
Tapi ketika seorang anak buahnya mengeluarkan pisaunya, dengan sigap kakaknya menghalau pisau itu dan terluka.
Dan langsung terjatuh. "cepat pergi dari sini."bisik kakaknya pada Rendra.
Rendra menggeleng dengan cepat.
Begitu di depan pintu, Ajeng, kakak Rendra dengan cepat mendorong tubuh Boss Andro ke dalam rumah dan menguncinya dari luar.
Dalam keadaan lemah dan berdarah mereka berlari secepatnya dan memutuskan sembunyi di bawah jembatan. Mereka tak berani ke rumah sakit karena pastinya itu adalah tempat pertama yang akan dicari oleh boss Andro dan anak buahnya.
Mendengar kisah dari Rendra, Harry sangat iba. Dia pun memutuskan untuk merawat Ajeng dan Rendra.
Mereka berdua disekolahkan dan diberikan kehidupan yang layak oleh Harry.
Ajeng sekarang sudah menjadi perawat di sebuah yayasan sosial, dan Rendra menjadi pelayan setia Harry.
Rendra dan Ajeng merasa sangat berhutang budi pada Harry.
Setahun setelah ketahuan melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, Harry jatuh sakit, dia terserang tumor otak.
Awalnya, Harry tak mau memberi tahu pada siapapun. Karena disisinya saat ini ia hanya memiliki Rendra yang setia menemaninya.
Ia tak mau Mutia merasa iba padanya dan terpaksa memaafkannya.
Ia ingin Mutia dengan tulus memaafkannya. Tapi, ia juga tidak bisa membayangkan seandainya Mutia melakukan kesalahan yang sama dengannya. Jadi, sedikit ia tahu kenapa Mutia rela menyakiti dirinya sendiri dengan amatah yang sangat terhadapnya.
__ADS_1
"Rendra!" panggil Harry yang melihat ke luar jendela rumah sakit.
"Ya Tuan"
"Apa kamu tahu? Hari itu, Aku sama sekali tak berniat menyelamatkanmu."
"Yang saya terjadi, adalah Tuan menyelamatkan saya. Niat atau tidak."
"Hari itu, aku berkhianat pada sahabatku. 2 orang sahabatku. Jihan dan Fuad. Aku tahu, apa yang dilakukan ayahku adalah salah.
Tapi aku tidak bisa membiarkannya di periksa dan dipenjara.
Istriku sedang mengandung Gama, dan Jihan sedang mengandung Tiyah.
Kami selalu menganggap semuanya takdir.
Tapi, aku jadi teringat ucapan Jihan, saat ia meminta tolong padaku.
Dia mengutukku. Di akhir hayatku, mungkin aku baru akan sadar, kalau penghianatanku akan membuatku dikutuk oleh orang-orang yang aku cintai, itu adalah yang dikatakan Jihan padaku. hahahahhaha" Harry tertawa, tapi hatinya sangat sakit mengingat kesalahan masa lalunya, merindukan istri dan anak-anaknya.
" Tuan hanya melindungi keluarga Tuan."
"Salah, tetaplah salah. Tidak perduli apa yang kamu lindungi. Akhirnya pengkhianatanku membuatku fikiranku kalut, dan melakukan pengkhiantan lain." ucap Harry sedih menatap cincin kawin di jarinya.
"Tapi, tidakkah nyonya sangat mencintai Tuan?"
"Aku tahu dia sangat mencintaiku, lukanya sangat besar, sebesar dia mencintaiku.
Sehingga tidak perduli apapun yang aku lakukan. Lukanya tidak akan sembuh. Harusnya aku bisa hidup lebih lama dan membiarkan dia mengutukku seumur hidupnya." Harry kembali berjalan ke tempat tidurnya di bantu Rendra karena mulai merasa pusing.
Setelah berbaring, dia kemudian menggenggam tangan Rendra.
"Bisakah aku menitipkan keluargaku padamu?
Jangan biarkan anak-anakku mengetahui kesalahanku dan membuat mereka terluka. Jaga mereka seperti keluargamu sendiri.
Gama memang laki-laki, tapi dia sangat sensitif, kalau dia tahu apa yang sudah aku lakukan, dia pasti akan sangat sedih dan kecewa. Dia selalu mengatakan akan mencintai satu gadis seperti aku mencintai ibunya."
"Tuan, jangan mengucapkan yang tidak-tidak. Tuan akan kembali sehat dan melindungi keluarga Tuan. Dan menerima kutukan dari Nyonya sampai Nyonya memaafkan Tuan." tanpa sadar mata Rendra berkaca-kaca. Laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya dan kakaknya kini mulai terbaring lemah kerena penyakit yang menyerangnya.
Harry hanya tersenyum menatap Rendra.
*bersambung......
__ADS_1