
"Kamu mau kemana lagi? Apa belum cukup seharian kamu menghabiskan waktu dengan Hendrik? dan pulang dengan senyum yang lebar?"
Gama memang senang melihat Datiyah tersenyum, tapi melihat senyumnya karena laki-laki lain membuat hatinya panas.
Datiyah yang mendengar pertanyaan Gama melihat secercah harapan karena merasakan kecemburuan Gama. Dia kemudian melangkah maju ke arah Gama.
"Kenapa? Apa kamu cemburu?"
Gama langsung melepaskan tangan Datiyah. Entah kenapa Datiyah langsung merasa kecewa.
"untuk apa aku cemburu? Aku punya wanita yang aku cintai. Aku cuma bertanya."
"Gama?" Datiyah menyebut nama Gama dengan halus.
"Apa aku boleh mencintai kamu?"
Gama terkejut mendengar pertanyaan Datiyah.
"Tiyah, kamu tau sejak awal. Pernikahan kita, perasaan yang kita punya. Semuanya berdasarkan perasaan persahabatan. Aku Ingin kita tetap jadi sahabat."
Datiyah mengangkat tangannya. "Cukup, aku mengerti. Tapi, apa kamu tau? Aku sudah terlanjur suka sama kamu."
"Tiyah..... maafin aku." ucap Gama pelan.
Mendengar ucapan Gama, harapan Tiyah pupus hari itu juga.
Tapi tak semudah itu ia menghapus perasaannya pada Gama. Laki-laki pertama yang membuat ia merasakan kebebasan untuk sesaat, laki-laki yang memberinya ciuman pertamanya.
"Aku cuma minta, kalau di depanku jangan bertindak mesra dengan Kak Aira. Aku yakin, aku bisa tidak menyukai kamu lagi sebagai laki-laki, dan hanya menyukai kamu sebagai sahabatku lagi."
Datiyah lalu masuk ke kamar mandi.
"Karena tak ada kesedihan yang tak dapat ku tanggung sendiri." batin Datiyah sambil meneteskan air mata yang sudah mengancam jatuh sejak tadi.
"Ternyata begini rasanya, ketika perasaanmu ditolak." ucap Datiyah memegang dadanya.
3 Hari berlalu dengan Gama yang selalu menghindar dari Datiyah dengan diam di ruang kerja. Begitu juga Datiyah yang selalu mengunjungi perpustakaan. Meskipun setiap malam ia menunggu Gama untuk kembali ke dalam kamar.
Sehari sebelumnya, mereka berdua menemani Aira yang keluar dari rumah sakit. Meskipun tak berjanji, Gama menuruti permintaan Datiyah, meskipun tidak di tempat umum untuk tidak bermesraan dengan Aira.
Keesokan harinya, Datiyah dan Gama harus mengadakan meeting tentang bulan madu dan kencan yang harus mereka lakukan.
Seisi rumah merasakan kecanggungan antara mereka berdua. Tapi tidak ada yang berkomentar.
Ketika akan berangkat kerja.
"Aku tunggu kamu di kantor jam 11 nanti." ucap Gama yang pergi tanpa berbalik.
Datiyah hanya menghela nafasnya.
"Kenapa rasanya sangat menyesakkan? Dia suamiku, tapi hatinya untuk wanita lain. Dia sahabatku, tapi sulit untuk menganggapnya begitu lagi." Batin Datiyah yang melihat kepergian Gama.
"Apa Nona baik-baik saja?" tanya Hendrik.
"Menurut Kakak, sebaiknya aku melakukan apa? Hubunganku dan Gama berubah jadi canggung. Apa perlu aku melakukan hal ini untuk membantu Gama dan Kak Aira?"
__ADS_1
Hendrik tentu saja senang jika Datiyah memilih untuk tidak melakukannya.
"Itu semua tergantung Nona. Saya juga yakin, Tuan Gama akan menghargai keputusan Nona."
"Aarrgghhh.. sudahlah. Lagipula aku sudah janji untuk membantunya." Datiyah kemudian pergi mengganti pakaiannya.
Dalam kamarnya, ia mencoba memilih pakaian terbaiknya. Tapi semua pakaiannya dengan model dan jaket yang sama dengan warna yang berbeda.
Meskipun, ia ingin sesekali menggunakan pakaian yang sedikit terbuka dan menggoda Gama.
Ia menggeleng cepat, mengahapuskan fikiran untuk menggoda Gama.
Sambil melihat ke cermin, ia berkata pada dirinya sendiri.
"Mana ada laki-laki yang mau melihat tubuh dengan luka seperti ini. Seandainya aku berhasil menggodanya, terus apa? Apa yang kamu harapkan. Kamu tak punya rencana masa depan dengannya." Merasa sedih tak sadar air matanya keluar, Ia menyekanya dengan cepat.
Ia sadar, bahwa kehidupannya bukanlah kehidupan yang bisa dengan bebas membuat rencana masa depannya sendiri.
Setelah meeting, sore harinya mereka langsung berangkat ke lokasi bulan madu mereka. Di mana sepi pengunjung dan mereka dengan bebas mengatur semuanya.
"waaaahhh, sudah lama sekali aku gak ke pantai" ucap Datiyah yang senang lalu membuka sandalnya dan memainkan kakinya di pasir.
Terakhir ia ke pantai ketika liburan bersama Papa, Mama dan juga Kakeknya.
Dengan begitu, mereka harus berada dalam satu kamar. Karena tidak semua pegawainya yang ikut mengetahui cerita sebenarnya. Mereka hanya tau, mereka perlu melakukan publikasi hubungan Presiden perusahaan dan istrinya.
"Waaah, Gama. Kamar ini benar-benar cantik." Ucap Datiyah ternganga dan tersenyum dengan lebar.
Dua laki-laki menatap Datiyah ikut senang dengan ekspresinya. Gama dan Hendrik. Rendra membangunkan lamunan kedua laki-laki itu.
Setelah pamit, Hendrik pun ikut keluar.
"Gama?"
"Iya, kenapa?Kamu perlu sesuatu?"
"Maafin aku yah? Gara-gara aku, kita jadi canggung seperti ini. Tapi kamu gak perlu khawatir. Aku siap buat jadi sahabatmu lagi."
Deg, Gama merasa sedih dalam hatinya.
"Ada apa denganku? Mendengar Datiyah ingin jadi temanku lagi. Membuat fikiranku kosong" batin Gama.
Gama tidak bisa menjawab apa-apa.
"Oh yah, kapan ya pakaiannya akan datang?" Datiyah berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Mending kita istirahat dulu." Datiyah pun pergi ke tempat tidur tanpa memperdulikan Gama yang masih bengong.
Datiyah berpura-pura tidur. Sampai 2 jaman, dia belum juga bisa tertidur. Sementara Gama, mengerjakan tugas kantornya di laptopnya.
Terdengar suara orang mengetuk pintu. Ternyata pakaian yang harus mereka gunakan tiba.
Ketika Datiyah melihatnya, dia sangat terkejut.
__ADS_1
"Bukannya aku sudah bilang. aku perlu pakaian lengan panjang dan juga celana panjang atau rok panjang."
"Tapi itu tidak seksi, aku tau kamu gak pernah pakai pakaian seksi, tapi ini juga hanya lengan pendek. Dan tubuhmu tidak sepenuhnya terlihat."
Datiyah merasa kesal.
"Apa susahnya mendengarkan permintaanku? Apa aku meminta banyak?" Datiyah memarahi orang yang membawa pakaian itu.
"Kami sudah mempersiapkan sesuai pesanan Nyonya." Datiyah mengambil nafas dan membuangnya perlahan.
Gama menghentikan orang itu.
"Anda bisa keluar sebentar. Saya ingin bicara dengan istri saya."
Setelah orang itu keluar, Gama menatap Datiyah.
"Kenapa?" tanya Datiyah kesal.
"Kamu sadar kan? kita sekarang ada di pantai? Pakaian ini sama sekali tidak terbuka" ucap Gama yang membolak-balikkan pakaian yang baru saja dibawa.
"Aku gak perduli kita lagi ada di mana. Yang perlu kamu tau. Selain lengan panjang aku gak mau."
Datiyah lalu kembali duduk di atas tempat tidur.
Akhirnya Gama meminta Rendra Untuk mengurusnya.
Tiba-tiba seorang kameramen datang, dan meminta mereka untuk berpose menggunakan jubah mandi hotel.
"Apaaa?? Kalian serius?" tanya Datiyah yang semakin kesal.
"Tidak, aku tidak mau. Lagipula itu tidak akan kalian publikasikan kan? Jadi tidak perlu memotretnya." Datiyah pergi berganti pakaian dan berjalan keluar.
"Telpon aku kalau pakaiannya sudah siap." Ucap Datiyah yang menyambar ponselnya.
"Kak, aku jalan-jalan sebentar. Kalau ada hal penting kakak bisa telpon."
Tak lama setelah pesan itu masuk, Hendrik baru saha selesai mandi dan melihat ponselnya. Dengan buru-buru ia mengenakan pakaiannya, dan pergi menuju kamar Datiyah dan Gama.
Setelah mengetuk pintu dan dibuka oleh Rendra.
"Kemana Nona Tiyah pergi?" tanya Hendrik agak kasar.
"Dia hanya berjalan-jalan sebentar. Dia Juga membawa ponselnya. Tunggu saja disini." ucap Rendra.
Hendrik semakin kesal ketika tau Datiyah pergi karena pakaian yang diberikan untuknya. Padahal dengan jelas dan tegas Datiyah dan Hendrik mengecek permintaan ukuran pakaian yang harus digunakan Datiyah.
Semakin sore, Datiyah belum juga kembali. Hendrik mencoba menelpon Datiyah berkali-kali. Akan tetapi, ponselnya tak aktif.
Hendrik merasa semakin risau, begitu juga Gama yang tak kalah gelisah di dalam kamar.
Hendrik dan Gama akhirnya memutuskan untuk pergi mencari Datiyah. Sampai malam tiba, dia tak juga berhasil menemukan Datiyah.
Hendrik yang kesal menarik kerah baju Gama.
"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Nona Tiyah, aku janji akan menghabisi mu. Aku tak perduli jika Nona Tiyah mencintaimu."
__ADS_1
Rendra yang melihat dari jauh apa yang dilakukan Hendrik segera berlari dan melepaskan tangan Hendrik dari leher Gama.
*bersambung.......