Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Sedihmu juga Sedihku


__ADS_3

ketika kamu Mencintai seseorang, meskipun sakit, melihatnya bahagia dengan orang lain juga kebahagiaanmu. Dan melihatnya bersedih juga kesedihan bagimu.


by anonim


-------------------------


Bangun pagi dan membersihkan diri. Hendrik langsung bersiap-siap.


Setelah berganti pakaian, dia mengirimkan pesan pada Datiyah.


"selamat Pagi Nona. Semoga hari ini, Nona tidak bosan tanpa saya. Dan semoga hari Nona menyenangkan." disertai dengan foto ibunya.


"Aku juga berharap hari Kakak menyenangkan dan habiskan waktu dengan Bi Narti. Aku masih khawatir. Jadi, kakak harus mengirimkan aku pesan setiap pagi. Supaya aku tau, kalau kakak baik-baik aja." balas Datiyah.


Hendrik bersiap-siap. Untuk beberapa hari ini, Ia akan mengawasi Datiyah dari jauh.


Tak berselang lama, dia melihat GPS yang dia nyalakan di ponsel Datiyah bergerak.


Dengan cepat dia mengambil kendaraan dan mengikuti GPS ponsel Datiyah.


Dia mengikuti mereka ke kafe, mall. Melihat Datiyah tersenyum bahagia, membuat Hendrik ikut merasa bahagia, meskipun sedikit penyesalannya, bukan dirinya yang membuat senyum bahagia di wajah Datiyah.


Sore hari, ia mengikuti Gama dan Datiyah ke bioskop. Ia melihat Datiyah yang menunggu sendirian dan kemudian melihat Gama yang tiba-tiba berlari keluar, membawa mobil dan meninggalkan Datiyah.


Hendrik mengepalkan tangannya.


"apa yang laki-laki itu lakukan? Apa dia benar-benar meninggalkan Nona Tiyah sendirian?" gumam Hendrik yang melihat kejadian itu dengan kesal.


Dia melihat Datiyah yang kembali duduk dengan wajah yang sedikit ketakutan, gugup, dan ia tahu kalau nona Mudanya itu sedang berusaha tersenyum paksa.


Ingin sekali rasanya dia duduk dan menemani Datiyah. Tapi ia tak mau dan tak boleh muncul dengan keadaan wajahnya yang babak belur.


Lebih 2 jam dia menemani Datiyah dari kejauhan. Melihat mata Datiyah yang mulai berkaca, membuat perih dan sedih hatinya.


Tak berselang lama, Rendra datang dan mereka langsung berjalan menuju mobil.


Hendrik merasa lega, dan mengikuti sampai gerbang, dan kemudian kembali ke kediaman Sugesti.


Dia sangat ingin menanyakan keadaan Nona mudanya, tapi ia memutuskan untuk tidak melakukannya.


Seperti yang diminta Datiyah, pagi-pagi dia sudah mengirimkan pesan pada Datiyah.


Dan mulai mengikuti kegiatannya.

__ADS_1


Dia mengikuti Datiyah sampai galeri. Hendrik kemudian melihat Datiyah dikerumuni beberpa orang, dengan cepat dia membuka ponselnya dan.mencari berita.


Datiyah, Mutia dan Gina sudah dibawa masuk. Sehingga ia berusaha menelpon nomornya tapi tidak terhubung. Sehingga dia menghubungi Gina.


Dia memasuki galeri dengan diamndiam dan mencari lokasi Datiyah. Sambil menelpon.


Melihat wajah Datiyah yang bersedih, lagi-lagi dia ikut merasa sedih.


Dia melihat Datiyah melihat kiri kanan mencari keberadaannya karena tanpa sengaja melrang Datiyah untuk pergi sendiri.


Dengan cepat dia membuat alasan dan kemudian dia kembali ke mobil.


Tak lama, ponselnya berbunyi, panggilan dari Anton.


"Dimana kalian?" tanya Anton.


"Saya sedang di galeri Nyonya Mutia, Tuan."


"Hahahahahha, apa kamu sudah membaca berita? Aku tentu saja tau alasan mereka menikah bukan karena cinta. Tapi hal ini, benar-benar menguntungkanku." ucap Anton tertawa senang melihat harga sahamnya yang langsung melonjak naik.


Hendrik hanya bisa menggenggam ponselnya dengan erat, merasa kesal.


"Apa putriku, baik-baik saja melihat suaminya selingkuh?"


"Baiklah, titip rasa terima kasihku pada putriku itu." Hendrik hanya bisa menggenggam stir mobilnya dengan erat karena semakin merasa kesal karena tidak bisa melindungi datiyah. dan sekarang justru membuat Datiyah semakin sedih.


Dia merasa, dia sangat dibutuhkan saat ini karena Datiyah sangat sedih. Dia meletakkan dahinya di stir mobil. Tidak tahu apa lagi yang bisa ia lakukan untuk menghibur majikannya.


Berselang agak lama. Dia melihat wartawan sudah mulai meninggalkan galeri Mutia. Dia pun berusaha masuk sembunyi-sembunyi lagi.


Beberapa lama mencari, ia tidak menemukan sosok Datiyah ataupun Gina. Akhirnya ia mengirimkan pesan pada Gina menanyakan keberadaannya.


Setelah Gina memberitahukan, dia bergegas menuju lokasi yang dikatakan oleh Gina. Ketika dia hendak keluar dari mobil ponselnya berdering kembali.


"Kamu fikir kemana kamu pergi?" teriak Anton, membuat Hendrik merasa heran dan kaget.


"Saya hanya mengikuti nona Datiyah, Tuan."


"Apa, maksudmu Datiyah ada di situ? Apa kamu tau tempat apa yang kamu tuju?" teriak Anton yang juga tetap menhawasi pergerakan Hendrik.


"Apa maksud Tua? Ini bukan peetama kalinya, Nona Tiyah melakukan kerja sukarela sendirian bukan?"


"Apa kamu tau, kalau ayahmu, yang kebetulan juga ayahku ada disitu? Dan tentu saja dia sudah tau semua tentang tiyah dan juga rumah tanggaku." Anton semkain merasa gusar.

__ADS_1


Karena dia tau, kalau tua bangka itu akan berusaha keluar atau bahkan mengusik semua orang disekitarnya. Dan dia juga tak tahu jika mungkin Tiyah akan berbelok melawannya melalui Toto.


Hendrik merasa terkejut. Meski tak pernah melihatnya langsung. Sikao brital dan tak manusiawi Toto selalu diceritakan oleh pembantu di rumah Sugesti sejak ia kecil.


Dengan cepat ia berlari. Menanyakan setiap orang yang dia lewati.


"Permisi, apa anda melihat Nona Datiyah? ataupun Nona Gina?"


"Tadi, Nona Datiyah di bawa ke sebuah ruangan karena jatuh pingsan."


"Apa maksud?" belun selesei bertanya, ia menggelengkan kepalanya.


"Beritau aku dimana ruangannya?"


"di lantai 3, anda bisa naik, dan cari ruangan 303." Jawab suster itu.


Tanoa basa basi, Hendrik berlari ke arah lift. Tak mau menunggu lama. Iapun maniki tangga dan mulai berlari.


"nona, maafkan saya." batin Hendrik sambil berlari. Dalam fikirannya ia bertanya-tanya bagaimana bisa Datiyah pingsan? Datiyah memeang sering mengalami serangan panik. Tapi ia tak pernah sampai pingsan. Swmkain ia khawatir, semakin ia mempercepat langkahnya.


Ketika dia menemukan ruangannya, ia mengatur nafasnya. Tapi melihat seseorang berusaha menyentuh Datiyah.


Dia pun dengan segera membuka pintu dan pintu terbuka dengan keras, melihat wajah laki-laki tua itu, ia langsung tau siapa dia.


"Jauhkan tangan kotormu dari tubuhnya." Teriak Hendrik dengan nafas memburu, membuat Toto kaget dan Tiyah membuka matanya dengan sejenak.


"Kak Hendrik?" ucap Datiyah pelan dan kemudian menutup matanya kembali.


Toto berbalik melihat putranya, putra yang tak ia perdulikan keberadaannya.


"Jangan bilang, kau mencintai wanita ini?" ucapnya yang langsung tau siapa Handrik.


Hendrik langsung menarik Toto dengan kasar, dan membawanya keluar dari ruangan itu.


"Tuan, apa yang anda lakukan?" tanya Ajeng dan Gina yang baru kembali.


Ajeng lalu berusaha melepaskan tangan Hendrik dari baju Toto yang ditarik Hendrik.


"Apa yang kamu lakuakan? bagaimana keadaan Tiyah?" Tanya Gama yang baru juga tiba dan melihat kejadian itu.


"Tuan, tolong jaga Nona Tiyah. Saya akan mengurus laki-laki tua bangka ini." ucap Hendrik yabg masih tidak melepaskan gengamannya dan membawa Toto pergi entah kemana. Sementara semua orang hanya bisa bengong dan kaget melihatnya.


*bersambung......

__ADS_1


__ADS_2