Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Pengakuan


__ADS_3

Keesokan paginya, Gama yang bangun terlebih dulu, mencoba memeriksa kamar Datiyah yang ternyata terbuka.


"Tiyah? kamu sudah kembali?"


Tapi tak ada jawaban dari dalam kamar.


Gama masuk ke kamar dengan perlahan. Dia mendengar suara air dari kamar mandi.


"Tiyah??! Kamu di dalam?"


Datiyah yang terkejut langsung menghentikan mandinya dan bergegas mencari sesuatu yang bisa dia pakai untuk menutupi tubuhnya.


"Gama?? kamu dimana?" suara Aira memanggil.


Gama pun bergegas keluar dr kamar Datiyah.


"Kamu sudah bangun? Aku antar kamu ke kamarmu."


Aira membeku, ia takut kalau tamunya masih di kamarnya.


"e..e...e... Bagaimana kalau kita sarapan di bawah?" jawab Aira tergagap.


"Dengan pakaian ini?" tanya Gama melihat pakaian seksi milik Aira.


"Dan bagaimana kalau ada reporter yang meliput kita?"


"Kalian boleh sarapan di sini, aku akan panggilkan room service" ucap Datiyah yang keluar dengan rapi dan rambut yang masih basah.


"Atau kamu bisa ganti baju dulu dengan pakaianku. itu terserah kalian." Datiyah langsung ke pantry menyiapkan sarapan.


"Apa tidak apa kita sarapan disini?" tanya Gama ragu.


"itu terserah kalian. kalian bisa memanggil room service." ucap Datiyah berusaha cuek.


"Kak Hendrik, sarapan sudah siap." panggil Datiyah.


Hendrik menuju pantry, hanya ada 2 piring roti yang tersedia. Gama menunggu Datiyah menawarkannya.


Tapi Datiyah dan Hendrik lanjut saja sarapan tanpa memperdulikan mereka.


Datiyah melirik ke arah tiga orang yang memperhatikan dirinya sarapan.


"Kenapa lihat aku seperti itu? Apa kalian sudah mutusin buat sarapan dimana? Apa aku perlu menelpon room service atau meminjamkan bajuku, atau tidak keduanya?" ucap Datiyah yang langsung mencuci piringnya.


"Tidak perlu, aku akan ke kamar Aira dan memesan makanan disana. Aira, kamu dan Rendra pergilah lebih dulu." ucap Gama.


"Tapi Ga..."


"Aku mohon.." ucap Gama memotong ucapan Aira.


Dengan sedih Aira berjalan keluar kamar, mengingat kemungkinan masih ada Tuannya. Ia pun segera berlari ke kamarnya meninggalkan Rendra.


Begitu Aira dan Rendra keluar..


"Apa kamu gak terlalu kekanak-kanakan?"ucap Gama yang agak kesal pada Datiyah.

__ADS_1


"Apa? haha." ucap Datiyah mendengus dan ketawa.


"Kamu dengan sengaja sarapan hanya berdua saja. Bahkan tidak menawari kami."


Datiyah hanya menggeleng.


"Sebenarnya siapa sih yang kekanak-kanakan? Aku dan Kak Hendrik hanya sarapan. Dan juga aku sudah menawarkan kalian untuk sarapan memanggil layanan kamar."


Ketika akan berjalan kembali ke kamarnya, Gama menarik pergelangan tangan kiri Datiyah.


"Kamu apa-apaan sih? Lepasin." ucap Datiyah berusaha melepaskan tangannya dari Gama.


Hendrik melangkah maju.


"Jangan berani ikut campur" ucap Gama geram pada Hendrik.


Melihat kegeraman Gama. Datiyah mengangguk, Hendrik kembali kundur meskipun Ia sangat ingin melepaskan tangan Datiyah dari Gama.


Gama menarik Datiyah ke dalam kamar dan menutup pintunya. Datiyah terlalu lelah harus berdebat, dia hanya mengikuti Gama.


Melihat Gama menutup pintu dan hanya ada mereka, mata Datiyah mulai berkaca-kaca.


"Berhenti Tiyah, jangan biarkan jantungmu berdegup kencang karena dia lagi. Kamu sudah memutuskan untuk melepaskannya." batin Datiyah yang berusaha mengendalikan air matanya sambil memegang dadanya.


"Jangan pernah biarkan laki-laki lain menyentuhmu."


Datiyah yang sulit mencerna ucapan Gama hanya bisa mengernyitkan dahinya.


"Aku mau kamu jangan biarkan orang lain menyentuhmu. Selama ini, kamu bahkan tak bisa dipeluk oleh siapapun. Tapi, tadi malam kamu membiarkan Hendrik membelai pipimu."


"lepaskan Gama" ucap Datiyah lembut.


Ibu jari Gama mulai memijat lembut pergelangan tangan Datiyah, tepat urat nadinya. Entah kenapa Datiyah merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Gama terus memijatnya dengan lembut.


"Gama... lepasin tangan aku." Tapi Gama tidak melepaskannya dan terus memijat lembut tangan Datiyah.


Perlahan Gama memajukan wajahnya, pandangan Datiyah berubah kabur. Ia hanya merasakan suara nafasnya.


Gama berbisik ditelinga Datiyah.


"Setelah melihat Hendrik yang membelai pipimu semalam, aku sadar. Aku tak ingin melepaskanmu." Gama kemudian mencium pipinya.


Dug... detak jantung Datiyah serasa berhenti.


Ia seperti tersadar, "Tidak, aku tidak boleh berharap lagi." Mendadak ia mendorong Gama dengan keras.


"Berhenti Gama, ini bukan permainan. Hanya karena kamu tak suka aku disentuh laki-laki lain. Bukan berarti kamu bisa permainkan perasaanku seenaknya."


"Aku serius Tiyah. Semua orang bilang bahwa aku menyukaimu. Tapi aku terus memilih untuk menganggapnya hanya kepedulian sebagai sahabat semata."


Datiyah menggeleng.


"Jika memang kamu sadar akan hal itu semalam. Sampai tadi pagi pun, kamu masih dengan hangatnya memeluk Kak Aira."


"itu.. aku cuma berusaha menenangkannya setelah ceritanya."

__ADS_1


"Stop Gama, berhenti membuat alasan. Dan jangan jadikan aku sebagai alasan kamu meninggalkan Kak Aira karena kisah hidupnya."


"apa? apa kamu fikir aku akan meninggalkan Aira karena kisah hidupnya? Apa kamu memandangku sebagai seseorang yang seperti itu?"


"Jadi kamu tidak meninggalkannya? jadi apa gunanya kamu menyatakan perasaanmu padaku?" Datiyah mulai berteriak.


"aku tidak bisa meninggalkannya setelah apa yang dia alami. Meskipun perasaanku padanya bukan cinta lagi. tapi,..."


"Sudahlah..... kamu memang seperti ini. Kamu yang selalu bingung dengan perasaanmu, kamu tak pernah menentukan pilihanmu. Kamu masih anak kecil yang tak pernah dewasa. Aku jadi mengerti, kenapa Tante Mutia memilih tak menceritakan semuanya."


Datiyah lalu pergi meninggalkan kamar hotel bersama Hendrik.


Gama hanya terdiam berdiri tak bergerak.


Dia merasa terluka atas ucapan Datiyah yang menyebutnya belum dewasa. Dan menganggapnya seseorang yang tak bisa mengambil keputusan.


Telepon dari Aira menyadarkannya. Ia pun segera menuju kamar Aira.


sementara itu dikamar Aira. Rendra yang sedang duduk menunggu Gama pun membuka mulutnya.


"Kenapa kamu harus kembali?"tanya Rendra pada Aira.


"Jangan menjawab ku dengan alasan cinta. Karena aku, Monica dan Nyonya tau apa alasanmu kembali." lanjut Rendra.


"Jika kamu tau, untuk apa kamu bertanya." ucap Aira sambil menyiapkan sarapan yang telah diantar.


"Aku hanya heran, bukankah hidupmu cukup baik di luar sana?"


"Baik? Baik kamu bilang? Apa digilir beberapa pria adalah kehidupan yang baik? Aku ingin terbebas dari semua itu. kArena itu aku butuh Gama."


"Kamu tau, tak perduli sebesar mana Tuan Gama membayar mereka. mereka tidak akan melepaskan mu. Jadi kenapa kamu harus membawa orang lain dalam masalahmu?"


"Semua ini terjadi karena Mutia."


"Tidak, kamu harusnya tidak menyalahkan Nyonya Mutia. Tuan Harry dan Nyonya sudah berbaik hati mau menerima kamu dan ibumu. Tapi ibumu mendekati Tuan dan membuat semuanya menjadi berantakan."


"Iya, dimatamu. Tuan Besarmu tak pernah salah. Hanya Ibuku yang salah." teriak Aira pada Rendra.


"Kenapa kalian berisik sekali? Suara kalian sampai luar." ucap Gama yamg masuk tanpa mengetuk.


"Ayo sarapan dulu, kamu pasti sudah lapar." ucap Aira mengalihkan pembicaraan.


Rendra langsung berdiri dan pamit. "Saya akan makan di bawah dan menunggu anda."


Rendra langsung berjalan keluar dari kamar.


"Sejal awal, aku lihat kamu tak suka Rendra. Kenapa?"


"emm?? Gak ada. Aku tak punya alasan untuk menyukai atau membencinya."


Mereka pun memulai sarapan dalam keheningan.


Sementara itu, Datiyah sedang menunggu Hendrik mengambil mobil. Tiba-tiba sebuah mobil mewah lain berhenti tepat di depannya.


Pria didalam mengulurkan tangannya dan Datiyah pun menerimanya dengan senang hati.

__ADS_1


*bersambung.....


__ADS_2