Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
canggung


__ADS_3

Ketika subuh tiba, Gama mendekati Datiyah yang berpura-pura tertidur.


"Ada yang harus aku urus hari ini, Semoga kamu cepat pulih. Aku mencintaimu. " Bisik Gama lalu mengecup pipi dan kening Datiyah.


"Tante Jihan? " ucap Gama terkejut ketika membuka pintu.


Datiyah juga ikut terkejut, langsung duduk dan melihat ke arah pintu.


Mata Datiyah berkaca-kaca, dia bingung dengan perasaannya ketika melihat Jihan. Suaranya Tercekat, tangisannya tertahan. Semua perasaan bercampur aduk.


Marah pada Jihan yang tidak bisa melakukan apapun untuknya, Sedih karena dia tau, tak melakukan apapun untuk Datiyah adalah salah satu cara menyelamatkannya.


Datiyah, masih tidak tahu, apakah Anton benar-benar berakhir setelah memb*nuh seseorang.


Jihan pun berfikiran sama, dia tak tau. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Semuanya terasa begitu canggung. Dia melihat putrinya tumbuh dewasa dihadapannya, tanpa bisa memberikan kasi sayang yang harusnya dia terima.


Jihan maju selangkah demi selangkah, mendekati putrinya. Ia takut, Datiyah ataupun dirinya terlalu terkejut dengan semua emosi yang selama ini terpendam dalam hati mereka.


Kerinduan, penyesalan, amarah, kesedihan, haru. Dengan perasaan yang susah mereka ungkapkan.


Tangan Jihan meraih pipi Datiyah, mata Datiyah mengeluarkan air mata yang tak terbendung...


"Maaf..... " ucap Jihan pelan dan memeluk Datiyah.


Dalam hati, Datiyah sangat ingin mendorong tubuh Jihan menjauh, tapi dia juga hanya seorang anak yang merindukan ibunya.


Mereka menangis terisak-isak, Datiyah masih terlalu takut memeluk Jihan.


Melihat adegan itu, Gama pergi meninggalkan mereka berdua dalam perasaan mereka yang selama ini terpendam.


Sejak kedatangan Jihan, dan setelah menangis. Mereka berdua hanya duduk bertatapan tanpa sepatah kata pun.


Sampai pagi, seorang perawat memasuki ruangan.


"Selamat pagi, saya akan mengganti air infus ibu Datiyah."


"silahkan," ucap Jihan sambil berdiri mempersilahkan.


"Apa ada keluhan yang dirasakan?" tanya perawat.


"Tidak ada," ucap Datiyah pelan.


"Kalau ada yang di perlukan, silahkan pencet tombol biru." ucap perawat seraya keluar dari ruangan.


"Tiyah, gak butuh apa-apa?"


Datiyah menjawab dengan gelengan.


"Gak mau makan apa-apa?"


Lagi-lagi di jawab dengan gelengan.


"emmm.... "

__ADS_1


"aku gak butuh apapun, lebih baik.... "


"Ggguruuurrrurur... " perut Datiyah berbunyi.


Karena sejak terbangun sampai sekarang dia menahan lapar.


"Mama, akan minta makananmu ke suster."


Datiyah hanya diam dan malu. Karena sebenarnya dia tak ingin dibantu oleh mamanya sama sekali.


Gama sebenarnya sudah mencarikan perawat pribadi untuk membantu Datiyah.


Tapi, setelah menerima pesan dari Jihan, Gama membatalkan perawat pribadi, karena Jihan yang akan merawat Datiyah.


Sementara itu, Gama setelah mandi dan berpakaian rapi, dia langsung menuju penjara tempat Anton di tahan.


"Wah... Siapa yang menduga bahwa yang pertama kali menjengukku adalah menantuku. Setelah memasukkan mertuanya ke dalam penjara." ucap Anton sambil tertawa dan bertepuk tangan.


Mereka duduk di sebuah ruangan yang agak besar, dan hanya di batasi sebuah meja.


"Aku sejak kecil tahu, kalau keluarga anda memang sangat bahaya untuk di ajak berbisnis, tapi siapa yang menduga, bahwa kehidupan sehari-hari anda juga sangat bahaya." ucap Gama yang semenjak tiba, menahan emosinya,


Ketika dia mengingat bekas luka pada tubuh Datiyah yang ia lihat hari itu, ia sangat ingin menghajar Anton.


"Hahahahahhaa... Tahu apa kamu tentang kehidupanku?" sambil tersenyum licik, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan malas.


"Obrolan ini sangat membosankan. Oh yah, beri tau Tiyah. Aku akan menjenguknya beberapa hari lagi."


"Jangan berharap kamu akan keluar dengan mudah." ucap Gama memukul meja.


"Putri? Bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal sekeji itu pada anaknya? " Ucap Gama dengan penuh emosi. Gama benar -benar sudah menahan emosi sejak datang, jika bisa tanpa banyak bicara ia sangat ingin menghajar Anton.


Anton mengerutkan dahinya sejenak seperti berfikir... "Aaaaahhh, jadi kamu sudah melihatnya?? Itu salah satu karya seniku." ucap Anton sambil mengeluarkan senyuman liciknya.


Ketika Gama akan bangun menghajar Anton, Rendra menahan bahu Gama.


Nafas Gama sudah memburu, dengan amarah.


"Tapi, bagaimana bisa kamu datang ketika aku sedang menghukum putriku?" tanya Anton penasaran.


Mengingat hari kejadian itu, Gama menerima pesan dar Hendrik.


"Tuan Gama, saya Hendrik. Saya mohon, tolong jaga Nona Tiyah, kalau saya sudah tak bisa melindunginya lagi."


Awalnya, Gama menganggap pesan itu, hanya ucapan Hendrik karena dia akan meninggalkan Datiyah atau karena hal lainnya.


"Siapa dia, menyuruhku menjaga istriku sendiri?."batin Gama. Meskipun Begitu, dia memeriksa pesan Hendrik berkali-kali berfikir bahwa Hendrik tidak mungkin meninggalkan Datiyah.


Tak lama kemudian, Gama mendapatkan telpon dari orang nomor asing.


"Gama, tolong... Bantu Tiyah keluar dari sini. Tante Mohon. "


"Tante? Tante Jihan"

__ADS_1


"Gama, cepat datang ke sini. Tante takut terjadi apa-apa dengan Tiyah."


Di sisi lain, Jihan benar-benar sidah tak tahu apa yang harus dia lakukan. Memanggil polisi pun tak ada gunanya, karena orang-orang di sana juga adalah antek-anteknya.


Karena itu juga, Hendrik hanya bisa langsung pergi ke sana tanpa menelpon polisi.


Kembali ke hari ini.


"Untuk apa kamu penasaran dengan hal itu? " Tanya Gama pada Anton.


"Wah... Memang anak-anak jaman sekarang harus dihukum. Awalnya kamu menyebutku dengan kata anda, tapi sekarang menggunakan kata kamu."


"Hah" Gama menghela nafas tak percaya dengan Anton dihadapannya. Lelaki gila dihadapannya ini, benar-benar sudah tak waras.


Dia memutuskan untuk berdiri dan tak mau lagi berhadapan dengan Anton.


"Bagaimana rasanya bercinta, dengan wanita dengan banyak bekas luka yang menjijikan itu? " ucap Anton dan menghentikan langkah Gama untuk meninggalkannya.


"Tapi itu adalah karya seni, harusnya kamu bangga, tapi Aku sebagai penciptanya saja jijik melihat bekas luka itu, karena aku melihat proses bagaimana goresan-goresan itu tercipta di tubuhnya, Tubuh mungil yang hanya bisa menangis tanpa suara..hahahahaha"


Gama langsung berlari ke arah Anton dan menghajarnya dengan membabi buta,


"Bagaimana bisa kamu melakukan itu pada anak kecil yang tak tahu apa-apa. " setiap kata, Gama memukul wajah Anton. Sampai dia terlentang di lantai, dan Gama menduduki tubuhnya sambil menghajarnya.


Rendra mencoba menghentikannya, tapi dia terdorong jatuh, karena tak menyangka Gama mengeluarkan kekuatan sebesar itu untuk menghajar Anton.


Gama tak bisa membayangkan, Datiyah yang saat itu di ingatannya adalah gadis yang sangat ceria, dan Anton menyiksanya bertubi-tubi.


Gama memukulnya sambil mengeluarkan air mata.


Sampai penjaga ikut melerai Gama.


Anton yang sudah berdarah itu tertawa licik.


"kalau bukan ayahmu yang membantuku, maka semuanya takkan mungkin."


"Tuan.. Hentikan. Jangan mendengarnya. Dia hanya menghasut Tuan muda." Ucap Rendra membantu Gama berdiri dan menariknya keluar.


"Hei.. Apa maksudmu? Ayahku kenapa?" Sambil berteriak berusaha masuk dan menanyakannya pada Anton.


"Hentikan Tuan. Apa anda lupa, bagaimana liciknya Anton? "


Gama sedikit tenang, berharap apa yang dikatakan Rendra benar, kalau Anton hanya ingin memprovokasinya.


"Akan ku pastikan dia tidak akan bisa keluar." ucap Gama.


Setelah itu dia memutuskan untuk kembali menjaga Datiyah di rumah sakit. Ketika dia di rumah sakit, dia menyerahkan segala urusan kepada Wakil pimpinan sehingga dia bisa bersama Datiyah.


Sementara itu, ketika Jihan sedang mengupas buah untuk Datiyah, ponselnya berdering.


"Ya, Halo? " jawab Jihan.


"Sayang? Kamu di mana? Apa kamu tidak membesuk ku? Aku sedang kesakitan sekarang." mendengar suara itu, tubuh Jihan terasa membeku....

__ADS_1


...****************...


__ADS_2