Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Haruskah Aku Berhenti?


__ADS_3

Ketika akan beranjak pergi..


"Raka tau kan, Mama sangat sayang Raka sama Ayah?"


Deg..... sekali lagi jantungnya terasa tertusuk. Ucapan Jihan membuat jantungnya terasa terhenti.


Raka menjawab dengan mengangguk.


"Karena itu, Raka harus tetap sama Ayah kalau nanti mama gak ada."


"Mama mau pergi ke mana?"


Sementara itu Datiyah masih terdiam, terpaku dan terluka di depan kamar Raka.


"Mama gak akan pergi kemana-mana.. Mama akan tetap terus sama Raka dan Ayah........"


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Datiyah terkejut namun cepat menutup mulutnya dan menyuruh pelayan yang baru saja keluar agar tetap diam.


Pelayan itu hanya mengangguk dan berjalan pergi.


Datiyah tidak tau lagi harus berbuat apa. Dia berharap apa yang didengarnya hanyalah sebuah kesalahan atau hanya sebuah sandiwara agar Anton percaya pada Mamanya.


Datiyah ingin beranjak pergi, akan tetapi kakinya kaku dan lemas di saat bersamaan.


"Nona...." Panggil Hendrik pelan.


Melihat Hendrik ia membiarkan dirinya jatuh dan Hendrik dengan sigap menangkapnya agar Datiyah tidak terjatuh ke lantai.


"cepat Bawa aku pergi dari sini." ucap Datiyah pelan dengan suara tertahan berusaha keras menghalangi air matanya jatuh.


Dan Hendrik pun langsung menggendong Datiyah dengan gaya sepasang pengantin. Dia sudah tak perduli apa yang dikatakan penghuni rumah itu. Yang ia tahu ia hanya perlu membawa Nona nya jauh dari rumah itu.


Sesampainya di mobil, Datiyah hanya terduduk lemas. Dan Hendrik langsung melajukan mobilnya. Membawa Datiyah berkeliling.


Sementara itu,


"Ya Udah, mama mau bicara sama Kak Tiyahmu dulu yah.? Raka bisa pergi main." ucap Jihan keluar dari kamar Raka langsung menuju ruangan Anton.


Begitu masuk ke dalam ruangan, Jihan tak melihat putrinya.


"Tiyah mana?"


"Dia sudah pergi sejak tadi." jawab Anton singkat.


"Apa? bukannya kamu bilang kamu akan mengizinkan aku bicara sama dia hari ini kan?"


"Aku bisa apa? putrimu sekarang sidah tidak berada dalam genggamanku."


"Kamu menyuruhnya pergi?"


"Tidak. Aku fikir dia akan langsung menuju ke tempatmu."


Jihan berfikir sejenak, langsung berlari ke arah pintu depan dengan cepat berharap Datiyah tidak mendengarkan ucapannya pada Raka.


Tapi terlambat. Datiyah sudah tidak terlihat lagi.


"Nyonya, ada apa?" tanya seorang pelayan yang kaget melihat Nyonya kalang kabut.

__ADS_1


"Tiyah, tadi kamu keluar dari kamar apa Tiyah di sana?"


Pelayan itu menjawab dengan ragu tapi akhirnya mengangguk.


"Tidak...tidak... Tiyah pasti sangat kecewa dan marah. Tapi aku harus bagaimana? Biar bagaimanapun, Anton adalah ayah Raka, dan juga laki-laki yang pernah aku cintai." Batin Jihan berkecamuk.


Setelah itu, Jihan berusaha meminta izin pada Anton agar membiarkannya pergi menemui putrinya. Tapi Anton tidak akan pernah mengizinkannya.


Jihan hanya bisa menangis di dalam kamarnya.


"Tiyah...maafkan mama.. mama harap suatu saat kamu akan mengerti."


Sementara itu, Hendrik terus malajukan mobil tanpa bertanya pada Datiyah. Melaju sepanjang jalan yang ia temui tanpa tujuan yang jelas.


Datiyah masih terlihat lemas bersandar pada kursi mobil, dia meletakkan lengan lengannya di atas matanya.


"Kak, haruskah aku berhenti? Menghentikan semua ini? Dan terima semua keadaan ini?" ucap Datiyah pelan.


Hendrik melirik ke arah Datiyah yang berada di bangku belakang, tanpa mengucapkan apapun. Karena ia sendiri tak tahu, apa yang sudah terjadi barusan sampai membuat Datiyah begitu sedih.


"Aku pengen istirahat sebentar" ucapnya menurunkan tangannya dan memejamkan matanya.


Berjam-jam sudah berlalu. Sampai Hendrik harus mengisi bensin di pemberhentian.


Sambil menunggu bensin penuh ia memeriksa keadaan Datiyah.


"Nona, apa anda ingin makan sesuatu?" tanya Hendrik lewat jendela.


Tapi tak ada jawaban dari Datiyah.


"Nona?" panggil Hendrik lebih keras secara berulang.


Hendrik yang kaget langsung berusaha membangunkan Datiyah dengan berteriak yang kencang. Masih tak ada jawaban.


dengan cepat ia menyelesaikan urusannya dan langsung membawa Datiyah ke rumah sakit.


Dia pun langsung membawa Datiyah ke UGD dengan menggendongnya. Tubuh Datiyah terkulai lemas dalam pelukannya.


Setelah beberapa lama diperiksa. Semua keadaannya normal. Hanya dia tidak terbangun.


"Apa anda yakin, Ibu Datiyah tidak meminum obat apapun? obat tidur misalnya?" ucap perawat yang merawat Datiyah.


"Saya yakin, dan setahu saya. Nona Tiyah tidak pernah mengkonsumsinya."


"Baiklah kalau begitu. akan saya sampaikan pada dokter."


Mereka melanjutkan tanya jawab tentang keadaan Datiyah.


"Saya tidak melihat ada hal fisik yang mempengaruhi keadaan pasien. Apakah ada masalah yang membuat pasien stress?"


Hendrik dengan ragu menjawab.


"Saya rasa begitu."


"Saya lihat, pasien tidak ingin terbangun. Dia merespon semua pemeriksaan dengan baik. Hanya saja tak ingin membuka matanya."


"Lantas, apa yang harus saya lakukan?"

__ADS_1


"Kamu tidak perlu melakukan apapun. Aku yang akan mengurusnya." ucap Gama dari pintu ruangan.


"Apa yang anda lakukan disini?" tanya Hendrik kaget melihat Gama.


"Aku yang harusnya bertanya. Kenapa kau tak mengabarkan padaku kalau istriku masuk rumah sakit? dan terlebih aku mengetahuinya melalui reporter yang kebetulan ada di sini? hah?" ucap Gama kesal.


"Tuan, lebih baik anda temui Nona Tiyah lebih dulu." ucap Rendra berbisik menenangkan Gama.


Gama tanpa kata, langsung berbalik dan menuju ruangan Datiyah. Hendrik dan Rendra pun ikut keluar dari ruangan.


"Dok, saya akan kembali nanti" ucap Rendra pamit sekaligus keluar dari ruangan.


"Seharusnya kamu mengabari kami lebih awal." ucap Rendra pada Hendrik.


"Apa? karena Nona Tiyah istrinya? atau wanita yang sebentar lagi dia tinggalkan?"


"Jaga ucapanmu. Biar bagaimanapun mereka berdua suami istri yang sah. Secara hukum Tuan Gama yang paling berhak memutuskan semuanya." jawab Rendra tegas.


Melihat ketegasan dalam ucapan Rendra, Hendrik mutuskan berhenti berdebat dan menahan emosinya.


Gama memasuki kamar Datiyah. Sudah 8 jam Datiyah tertidur.


"Tiyah?" panggil Gama pelan.


Kening Datiyah berkerut ingin menjawab panggilan Gama.


Tetapi Datiyah sudah masuk ke dalam lubang hitam dalam hatinya.


Kenangan bahagia masa kecilnya bersama Papa Fuad, Mama, kakeknya dan semua kebahagiaan yang pernah dia rasakan, dalam keadaan bahagia itu, tiba-tiba bayangan gelap menutupi mereka.


Dimulai dari Papanya, Kakeknya, teman-temannya, dan kemudian mamanya mulai menghilang.


"Mama........ jangan tinggalin Tiyah." Datiyah memanggil mamanya berulang kali.


Tiba-tiba dia merasakan tangan Anton memegang pundak kecilnya.


Teringat semua kenangan yang dia dapatkan ketika awal pertemuannya dengan Anton. Dia berteriak sekeras-kerasnya. Tak ada yang mendengarkannya.


Di dalam gelapnya kenangan itu. Dia sendiri meringkuk menangis tersedu-seduh.


"Tiyah?" tiba-tiba dia mendengar suara yang tak asing.


Dia mengangkat kepalanya. Tapi semuanya masih gelap dan kosong.


"Tiyah?" suara itu terdengar lagi. Tapi ia tak mengenali suara itu. Berulang kali ia mendengar namanya di panggil. Ia merasakan ada sedikit ketenangan dalam hatinya.


Tiba-tiba muncul 2 sosok orang, yang tengah berpegangan tangan. menghadap satu sama lain. Saling menatap penuh cinta.


"Aku cinta sama kamu, Anton." Ucap Jihan pada Anton, mendengar hal itu. Datiyah merasa sangat marah berteriak kepada mereka. Begitu dia menghampiri sosok tadi, secara langsung menghilang dari hadapannya.


"Aaaaaaaaaaaarrrrrkkkkkkkk". Datiyah berteriak sekuat tenaga tapi tak ada seorangpun yang mendengarkannya.


Sementara itu di dunia nyata, Gama menggenggam tangan Datiyah dengan dokter yang memeriksa keadaan Datiyah.


Datiyah mengeluarkan keringat yang banyak dan suara yang samar-samar.


Tapi tak selang beberapa lama. suara dan gerakan Datiyah berhenti. Dia kembali masuk ke dalam lubang hitam di hatinya.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2