Bolehkah Aku Mencintaimu?

Bolehkah Aku Mencintaimu?
Galeri Mutia


__ADS_3

Gama menghirup nafasnya dalam-dalam sebelum mengetuk pintu ruangan mamanya.


"Kenapa kamu ke sini?" tanya Mutia yang kesal karena sudah mengetahui alasan putranya datang ke galerinya.


Sejauh yang dia ingat, putranya sangat membenci galerinya. Meskipun dia sendiri tidak tahu apa alasan putranya. Dia menghela nafasnya dengan keras.


"Jangan bilang, kamu menginjakkan kakimu ke dalam galeri mama, karena perempuan itu?!" ucap Mutia agak marah.


"Kenapa ma? kenapa mama membenci Aira? apa Aira sudah melakukan sesuatu pada Mama?"


"Keluar dari sini, jika kamu hanya ingin membicarakan Aira." perintah Mutia.


Gama berusaha menahan kekesalannya, karena bagaimanapun wanita didepannya ini adalah ibunya.


"Apa aku harus berlutut, dan bersujud pada mama agar mama bisa menerima Aira? Aku sangat mencintai Aira ma, bagiku dia satu-satunya wanita yang bisa mengisi hatiku. Dan aku tidak akan pernah menggantikan dia dengan siapapun.


Jadi, aku harap mama tidak menganggunya.


Dia sudah cukup kesusahan dalam hidupnya.


Dia sedang berusaha mencari tante Amira yang hilang entah ke mana. Dia gak punya siapa-siapa lagi selain aku.


Dan aku gak mau dia menderita lagi setelah bertemu denganku." Gama lalu berlutut di depan meja tempat mamanya bekerja.


"Kamu... kamu gak akan ngerti.


Mama benar-benar tidak membencinya. Tapi, mama akan melakukan apapun agar kalian tidak bisa bersama. Dan ingat, mama gak akan segan-segan untuk merusak hidupnya." Mutia menutup matanya menahan tangis dan kekesalannya.


"Aku akan tetap memperjuangkan dia. Sampai mama bisa menerima dia, sampai mama aka menyukai dia sep....." belum selesei Gama bicara.


"Keluar!! Keluar, Keluaaaaar!!" Mutia berteriak dan berdiri sambil memukul meja kantornya.


Monica yang mendengar keributan langsung berlari masuk dalam ruangan. Cepat dia membantu Gama bangun dan mengajaknya keluar.


Gama yang masih berlutut akhirnya bangun dan keluar dari ruangan Mutia dengan bantuan Monica.


Begitu dia keluar, terdengar suara pecahan dan teriakan dari dalam ruangan.


"Tuan, saya mohon lebih baik Tuan kembali ke kantor. Saya yang akan menenangkan nyonya." Ucap Monica yang melihat Gama berbalik memegang gagang pintu ruangan Mutia.


Tiba-tiba bayangan masa lalu dalam galeri, melintas di kepala Gama.


Suara berisik dari dalam ruangan, membuatnya kembali pada masa lalu di mana sebagian besar kenangan itu sudah ia lupakan.

__ADS_1


.........


3 hari setelah pemakan Harry, Mutia selalu meninggalkan rumahnya dan pergi menuju galeri. Gama yang saat itu, masih berusia 15 tahun merasa sedih karena mamanya selalu meninggalkan Gina dan dirinya.


Untungnya pada saat itu, ada Rendra dan juga Aira yang membantu mereka dengan kesedihan mereka.


Gama yang juga menghibur Gina yang bersedih karena mamanya sering tidak di rumah.


Gama yang merasa sedih, juga penasaran dengan seringnya menghilangnya Mutia dari rumahnya.


Seminggu kemudian, Gama memutuskan mengikuti mamanya ke galeri.


Begitu dia memasuki galeri mamanya, barang-barang koleksi galeri pecah berserakan. Dia berjalan pelan menuju ruangan mamanya.


Di sana ia melihat mamanya berteriak sambil membanting semua yang ada di hadapannya.


"bohong! dia bohong! aaahhhhhh.. hikkks..hiksss hikkkss. Dia bilang akan selamanya mencintaiku, dia bilang akan selamanya di sisiku, dia bilang aku satu-satunya wanita di hatinya. Semua yang dikatakannya adalah bohong. Dia bilang akan memohin pengampunanku selamanya"


Meski setahun berlalu setelah perselingkuhan Harry dan Amira, Mutia masih tidak bisa mempercayai dan menerimanya.


Hatinya yang hancur, tak bisa terobati.


Melihat Harry, membuat ia ingin percaya kalau Harry benar-benar mencintainya, tapi mengingat Amira membuat semua pandangan, kata-kata, dan bukti-bukti cinta Harry hanya sekedar kebohongan.


Satu kesalahannya sudah membuat orang yang paling dicintainya terluka dan hancur.


"Nyonya!" Monica berusaha menenangkannya.


Lama Monica berusaha menenangkan Mutia. Ketika melihat Monica hendak keluar mengambilkan air, Gama cepat bersembunyi.


Saat itu ia sama sekali tidak mengerti ucapan mamanya. Dia tidak tahu siapa yang di anggap pembohong, pada siapa mamanya marah seperti itu.


Agak lama Monica mengambilkan Mutia air minum. Gama berusaha mendekati ruangan Mutia yang terlalu sunyi.


Baru selangkah dia berjalan, Monica kembali membawakan botol air minum dengan buru-buru. Gama kembali bersembunyi di balik tembok dekat mamanya berada.


"Nyonyaaaa!!Nyonyaaaaa!! nyonyaaaa!!" Gama yang mendengar suara Monica dan berlari ke ruangan Mutia, dia berdiri di pintu yang terbuka. Melihat tubuh Mutia lemas di pangkuan Monica.


Sambil menelepon ambulan, Monica terus berusaha membangunkan Mutia.


Sementara Gama membeku tak bergerak melihat mamanya. Tanpa sadar ia menangis dan khawatir. Pikirannya sudah ke mana-mana.


Tidak mungkin ia akan bisa hidup jika harus kehilangan mamanya juga setelah baru saja kehilangan ayahnya. Tenggorokannya tercekat, menahan isak tangis. Ingin bertanya, tapi takut jika khayalannya akan jadi kenyataan.

__ADS_1


Ambulan tiba, membuat Monica melihat ke arah pintu dan kaget melihat Tuan mudanya.


Beberapa petugas, menggeser posisi Gama dari depan pintu, dia berdiri dengan fikiran kosong.


Petugas kesehatan mengangkat tubuh Mutia dan cepat memindahkannya ke atas ambulans. Monica mengikutinya dari belakang. Tapi langkahnya terhenti ketika melihat Gama.


"Tuan Muda, lupakan semua kejadian malam ini. Nyonya akan baik-baik saja. Jika anda mengungkit hal ini. Maka akan banyak yang kecewa dan terluka." ucap Monica sambil memegang kedua lengan atas Gama dan sedikit mencengkramnya.


"Tuan Muda mengerti kan? Lupakan semuanya. Hemm?" Seperti sebuah hipnotis, Gama mengangguk dan melupakan kejadian itu, yang tersisa hanya kebenciannya terhadap galeri mamanya.


Monica yang pergi, buru-buru menelepon Rendra untuk menjemput Gama.


.........


Lama Gama berdiam diri di depan pintu.


"Apa mama akan coba bunuh diri lagi?" tanpa sadar Gama mengeluarkan pertanyaan itu, ketika Monica akan masuk.


Drngan tenang Monica menjawab," Saya tidak akan membiarkannya." Lalu cepat Monica berjalan masuk menenangkan Mutia.


"Tuan Muda?" Rendra memanggil Gama.


Gama masih tenggelam dalam fikirannya.


Laki-laki yang dicintai Mamanya hanya satu, dan Laki-laki yang sangat mencintai mamanya pun hanya satu.


Pembohong itu adalah ayahnya. Cepat Gama menutup matanya,


"Ayahku, adalah laki-laki setia yang tidak akan pernah menduakan Mama. Meskipun saat itu aku masih anak-anak. Aku tahu Ayah tidak mungkin membohongi Mama ataupun menghianati Mama." batin Gama.


Tapi dia menghubungkan semuanya, alasan mamanya tidak menyetujui hubungannya dengan Aira, ucapan mamanya di malam itu, Ayahnya yang tiba-tiba tidak pernah pulang dengan alasan sibuk. Karena ia tahu, sesibuk apapun Ayahnya pasti menyempatkan waktu untuk Gina dan dirinya.


Dia menggeleng, merasa pusing. Jika ia ingin mencintai ia akan mencintai sepenuh hati dari aoa yang selalu dia lihat dari Mama dan Ayahnya.


"Rendra! Apa yang kamu ketahui tentang hubungan Ayah, mama, tante Anira dan Aira?"


Rendra yang kaget, tiba-tiba menghentikan mobilnya.


"Berarti kamu juga mengetahuinya! Pergi ke hotel Aira."


"Tuan?!"


"Cepat berangkat ke hotel Aira!!" Gama berteriak. Wajahnya sudah berkedut kesal.

__ADS_1


*bersambung......


__ADS_2