
Kepercayaan membutuhkan waktu lama untuk dibangun dan membutuhkan satu detik untuk runtuh.
Dan yang paling menyakitkan adalah, ketika orang-orang yang paling kau percaya di dunia ini adalah orang yang mengkhianati kepercayaanmu.
Orang yang membuatmu percaya tentang cinta, tentang persahabatan, tentang indahnya keluarga.
Bagaimana bisa seseorang mempercayai lagi ketika ia hancur berkeping-keping karena pengkhianatan?
2 Tahun sebelum kepergiannya, Harry yang saat itu tenggelam dengan rasa bersalahnya selalu mencari angin malam.
Berharap dapat mengurangi risau yang mengganggu hatinya.
Ketika pertama kali ia mengkhianati Fuad dan keluarga Gunawan, tidak ada yang terluka. Selain itu yang dia lakukan adalah menyelamatkan keluarganya.
Ketika dia tahu Fuad dan ayah Jihan dalam kecelakaan yang direncanakan Anton, dia tahu bahwa pengkhianatannya juga turut andil dalam semuanya.
Meski mengetahui hal itu pun, dia tak melakukan apa-apa.
Mendengar berita pernikahan Anton dan Jihan semakin membuat batinnya menggila. Dan di hari ia bertemu dengan Tiyah dan melihatnya meringis, Ia tahu pasti kalau Anton sudah melakukan sesuatu pada gadis kecil itu. Karena saat ditanya pun Anton tak menjawabnya.
Ia tak tahu pada siapa ia akan mencurahkan isi hatinya. Dia takut jika ia menceritakannya pada Mutia, Mutia akan membencinya.
Karena dia tahu betapa spesialnya persahabatan bagi Mutia.
Harry berdiri di taman belakang, menutup matanya dan menghirup dinginnya udara malam. Membiarkan rasa dingin menusuk tulangnya. Berharap dingin malam bisa membawa pergi rasa bersalahnya.
"Harry?" Dia langsung membuka matanya mendengar Amira memanggil namanya.
"Hai, Mir. Kamu belum tidur?"
"Iya, malam ini dingin banget. Kamu gak kedinginan berdiri di situ?" sambil memeluk dirinya merapatkan cardigannya.
Amira berjalan mendekati Harry.
"Hehe, sengaja." jawab Harry.
"Kenapa? Apa kamu masih memikirkan Fuad? Sudah 5 tahun berlalu, bukankah sudah waktunya kamu memaafkan dirimu sendiri?"
Amira sering melihat Harry dari jendela kamarnya. Dia merasa kasihan dengan Harry karena selalu stress sendirian.
"Hahahaha, bagaimana bisa aku punya hak memaafkan diriku sendiri? Jihan juga sahabatku, tapi aku membiarkannya bersama Anton. Membayangkan apa yang di laluinya dan Tiyah membuatku sesak."
Amira lalu memeluk Harry, awalnya Harry kaget dan tegang. Tapi akhirnya luluh dalam pelukan Amira meskipun tak membalas pelukannya.
Rasa bersalah yang tidak berani ia ceritakan pada istrinya. Tak berani ia tunjukkan pada siapapun.
"Harry, kamu adalah laki-laki yang baik. Aku tahu itu dengan pasti. Kamu bahkan menampung aku dan Aira saat suamiku membuang kami ke jalanan."
__ADS_1
"Itu semua keputusan Mutia." Harry menghela nafasnya dan melepaskan pelukannya dari Amira. Dia merasa sedikit lega ketika mencurahkan isi hatinya.
"Kalau begitu aku kemb..." belum selesai bicara, Amira menarik wajah Harry dan mencium bibirnya.
"Maafkan aku, aku seharusnya tidak melakukannya. Aku..." Harry menatap Amira, dan balik menciumnya. Mereka tenggelam dalam nafsu birahi mereka. Setan sudah menguasai kepala mereka.
Melupakan segalanya, Harry lupa bahwa ia mencintai istrinya. Amira melupakan bahwa Harry adalah suami sahabatnya.
Bagaimana dahsyat dan hebatnya nafsu menutupi cinta, menutupi kesetiaan ketika ia sudah mengotori pikiran.
Sementara itu di rumah utama.
"Bang Fadil, Mas Harry mana?" Tanya Mutia yang melihat Asisten Harry sendirian di dapur.
"Mungkin masih di taman. Kamu tahu kan?" Mutia dan Fadil mengenal satu sama lain sejak kecil.
Mereka sudah hidup seperti kakak adik saat itu. Ketika Mutia dihadapkan masalah dia sedang berada di luar kota.
Sehingga mulai saat itu ia berjanji ia akan menjaga Mutia.
Jika di rumah mereka akan bersikap santai, kalau di kantor mereka akan bersikap seperti boss dan anak buah.
Mutia mengangguk mengerti. Sudah 5 tahun setelah kematian Fuad dan Ayah Jihan, Harry selalu mencari angin menenangkan dirinya.
Mutia memilih mengabaikan penderitaan Jihan yang juga sahabatnya, dan memilih suaminya.
Mutia menunggu Harry, untuk mencurahkan perasaannya, karena ia tak mau membuat suaminya semakin merasa bersalah jika ia mengungkitnya.
Karena itu ia dengan sabar menunggu Harry terbuka padanya tentang rasa bersalahnya.
"Tapi ini sudah satu jam an. Biar aku pergi lihat dulu." ucap Fadil yang pergi menyusul Harry ke taman. Tapi ia tak menemukan Harry di sana.
Ia melihat pintu rumah belakang terbuka.
Ia pun masuk, dengan mengucapkan salam kecil takut kalau semua orang sudah tidur.
"Amira? hallo?" Seketika dia membeku, melihat Harry yang keluar tanpa baju dan jasnya dari kamar Amira dan penampilan mereka yang berantakan.
"Maafkan Aku, ini adalah kesalahan besar" Ucap Harry pada Amira sambil memakai pakaiannya dengan terburu-buru, belum menyadari kehadiran Fadil.
"A..aku yang minta maaf. Seharusnya aku tidak memeluk atau menciummu tadi. Kamu tidak akan mengusirku dan Aira kan?"
Harry terdiam sebentar. "Aku tidak tahu. Tapi aku harap ini tidak akan terjadi dan tidak perlu ada orang yang mengetahuinya." Harry berbalik dari Amira dan akan keluar, tapi langkahnya terhenti setelah melihat Fadil yang menatapnya dengan pandangan tak percaya, marah dan sedih.
"Fadil." Ucap Harry pelan. Amira yang mendengar Harry melihat Fadil dan matanya terbelalak
Fadil mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ternyata benar apa yang mereka katakan tentang pengkhianat. Setelah ia bisa berkhianat sekali, apa yang akan menghalanginya untuk berkhianat kedua dan ketiga kalinya."
"Fadil. Ini adalah kesalahan. Aku faham kamu marah. Tapi aku mohon, dengarkan penjelasanku. Aku mohon jangan beritahu Mutia." ucap Harry memohon.
"Aku tidak akan memberitahu Muti, tapi kamu dan dia. Kalian berdua yang akan memberitahunya. Dan saat ini juga, saya mengundurkan diri. Permisi Tuan." Fadil berjalan pergi, tapi dihadang Harry.
Sementara Amira hanya bisa diam tak mengucapkan apapun.
"Bang, aku tahu abang kecewa. Ini ada...... uughhhh." Fadil memukul Harry di perutnya.
"Saat pertama kali kamu mengkhianati sahabatmu demi melindungi keluargamu, aku sangat mengerti perasaanmu. Tapi apa yang kalian lakukan sekarang. Sangat menjijikan dan tak berperasaan.
Sebagai suami dan seorang ayah." menunjuk dada Harry.
"Dan kamu sebagai sahabat. Dia menerimamu dengan tangan terbuka. Kamu tunggang langgang di jalanan, kelaparan bersama putrimu. Tapi apa balasan yang dia dapatkan?" Menatap ke arah Amira.
Tapi berbalik lagi menatap Harry.
"Tapi aku, aku tidak mau mengkhianati Mutia dan melihat matanya setiap hari bahwa ada kebohongan antara kalian.
Ketika kamu sudah memberitahu Mutia, kamu bisa meneleponku kapan saja." menatap kedua orang itu dengan matanya yang berkaca-kaca.
Fadhil pergi meninggalkan mereka berdua menuju ke rumah utama. Di Sana Mutia bertanya pada Fadil "Mana mas Harry?"
"Dia masih di belakang.
Muti, Abang baru saja mengundurkan diri."
"Apa? Tiba-tiba begitu?"
"Abang pikir abang ingin lebih fokus pada keluarga. Abang pulang dulu. Istriku sudah menunggu dari tadi." Fadil tersenyum dingin dengan rasa bersalah pada Mutia dan meninggalkannya.
Belum jauh melangkah, dia terhenti sejenak.
"Mutia, maafkan Abang. Hubungi Abang kalau ada apa-apa" Langsung meninggalkan Mutia.
Fadil merasa bersalah pada Mutia. Tapi jika ia yang memberi tahu Mutia, maka mereka akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Bang?!" memanggil Fadil sampai ke depan pintu. Tapi Fadil sama sekali tak berbalik.
Meski sangat penasaran kenapa Fadil tiba-tiba seperti itu. Ia hanya akan menunggu besok pikirnya.
Ketika ia berbalik, ia melihat Harry yang baru masuk dari pintu belakang.
"Kamu kenapa?" tanya Mutia yang melihat pakaian Harry yang kusut dan wajahnya yang pucat.
*bersambung......
__ADS_1