
"Mutia, dia tidak pergi dengan tenang, di akhir hayatnya dia menahan rasa sakit sendirian merindukan kamu dan anak-anaknya. Tapi, dia tau tak punya hak untuk meminta anaknya hadir di akhir hayatnya." Fadil ikut emosi.
"Apa maksud semua ini? " Tanya Gama yang membuka pintu.
"Gama? " Mutia takut Gama mendengar pembicaraan mereka.
"Sejak kapan kamu di situ?" tanya Mutia.
"Sejak, Pertama dia membantu Anton membunuh suami dan Ayah Jihan, setelah itupun dia tak mau membantu Jihan, di tambah pengkhianatan nya padaku. Apa maksud itu semua?" tanya Gama curiga dan mendekat pada Mutia dan Fadil.
"Jadi benar apa yang dikatakan Anton? Aku benar-benar tak ingin mempercayainya. Tapi mendengar perbincangan kalian barusan." Gama melangkah mundur lalu berjalan ke arah Datiyah.
"Dan kamu juga tau akan hal ini?"
Datiyah tak menjawab hanya menundukkan kepalanya.
"Kalian anggap apa aku?. Kalian menyimpan rahasia sebesar ini. Harry itu ayahku, bahkan ketika dia sakit aku tak tahu. Teganya mama melakukan ini sama anak mama sendiri.. Rahasia apa lagi yang kalian sembunyikan dari aku? Hah?"
"Karena kamu sudah punya asisten dan perawat pribadi, aku akan berhenti mengunjungi kamu seperti yang kamu mau." Gama lalu pergi meninggalkan kamar Datiyah.
Meskipun Datiyah terluka karena Gama tak akan mengunjunginya lagi, tapi dia mengerti kemarahan Gama karena tak bisa bersama ayahnya di akhir hidupnya.
Gama duduk terdiam di ruang kerjanya yang gelap. Berpikir, apa yang membuat semua orang menganggapnya remeh dan tak bisa mempercayakan dengan rahasia sebesar itu.
Ayahnya terlibat dalam kematian Fuad dan Gunawan, begitu juga ketika Jihan meminta bantuannya. Dan pengkhianatan Ayahnya pada ibunya. Apa yang sudah terjadi?
Dan Dia tau, harusnya dia tak meninggalkan Datiyah saat keadaannya seperti itu. Tapi mendengar keluarga Datiyah hancur karena ulah ayahnya, dan Datiyah terluka seperti itu. Meskipun menurutnya mengembalikan harta milik Datiyah adalah penebusan dosa, dia juga tak akan mengakui hal itu jika jadi Datiyah. Sudah terlambat, terlalu terlambat.
Dan dia juga tau, kalau besok dia akan kembali ke sana untuk memeriksa keadaan Datiyah.
Suara ketukan dari pintu kamarnya membuyarkan lamunannya.
"Tuan, ini data yang anda minta tentang para laki-laki yang menahan Aira."
Rendra menyerahkan sebuah map.
"Apa ada yang lain yang anda butuhkan? " tanya Rendra.
"Apa tidak ada rahasia lain lagi, yang kalian sembunyikan? " tanya Gama.
"maksud Tuan? "
"Apa mama, belum memberitahumu, kalau aku sudah mendengar sebagian besar rahasia pengkhianatan Ayah? "
__ADS_1
"Tuan... Saya hanya mengikuti perintah Tuan Harry untuk menjadi asisten Tuan, dan melayani Tuan seperti saya melayani Tuan Harry, masalah rahasia, saya sama sekali tidak berhak membeberkannya."
Gama mengangguk dan menyuruh Rendra keluar.
Sampai pagi tiba lagi, Gama tak tidur dan bergerak dari meja kerjanya, sia melihat isi map yang di berikan Rendra. Sambil Menunggu, berharap Mutia datang memberitahu semuanya.
Sampai ketika pagi di meja makan dia bertemu dengan Mutia.
"Mama tau, kamu menunggu mama menceritakan semuanya. Tapi mama tetap tidak berubah pikiran. Urusan Ayah dan Mama adalah masalah kita berdua."
"Tidak ma, itu bukan hanya mama dan ayah lagi. Mungkin bagi mama, Ayah hanya suami mama. Tapi dia juga ayah kami. Ayahku dan ayahnya Gina." Gama berusaha menahan emosinya.
"Kak Gama, ada apa? " Gina agak takut melihat Gama marah.
"Apa kamu tau, kalau Ayah meninggal karena sakit? Dan ayah meninggal dalam keadaan kesepian? " tanya Gama pada Gina.
"Apa maksud Kakak? Ayah meninggal karena kecelakaan kan?"
Gina melirik pada Mutia.
Mutia memilih pergi meninggalkan anak-anaknya dan menghindari pertanyaan mereka.
Tapi Gina mengejar Mutia sampai Mutia menyerah dan Mutia menceritakannya pada Gina.
"Aku dengar, kamu sudah bisa pulang hari ini." tanya Gama mengupaskan jeruk untuk Datiyah.
"Apa kamu gak ada kerjaan? Atau tempat lain yang perlu kamu kunjungi?. "
"Aku akan pergi setelah mengupas ini." Gama terus mengupas jeruk untuk Datiyah.
Sejak datang, Gama tak menatap lurus ke arah Datiyah.
Setelah selesai, Gama mengibas jasnya dan memakainya.
"Aku tahu, kamu berhak mendorongku pergi, karena ulah Ayahku, kamu mendapatkan luka yang gak bisa disembuhkan dan sekarang Tante Jihan malah masuk penjara " ucap Gama lesu di dekat Datiyah.
Datiyah ingin menenangkan Gama, membuat dia tahu, kalau apa yang dilakukan ayahnya tidak ada hubungannya dengan dia, dan ayahnya pun sudah menebus rasa bersalahnya.
"Maaf, aku gak bisa antar kamu."
Gama berjalan keluar, tanpa berbalik.
Dia langsung menuju kamar Aira.
__ADS_1
Datiyah menatap punggung laki-laki itu dengan sedih
Tiba di kamar Aira
"Gama.... " Aira yang masih berjalan pincang memeluk Gama yang tiba dengan lesu.
"Apakah kamu masih menyembunyikan rahasia dari aku? Apa ada rahasia yang harus aku tau?"
Aira mundur selangkah untuk menatap wajah Gama.
"Ada apa? Kamu kenapa? " Aira lalu mengusap air mata Gama.
"apa yang kamu cari dari aku? Apa alasanmu kembali ketika tau aku sudah menikah?." tanya Gama bertubi-tubi.
"Apa maksud kamu? " tanya Aira marah.
"Kamu sendiri yang bilang, kamu masih cinta sama aku. Bahwa kamu menungguku. Meski sekarang aku tau, kamu jatuh cinta pada Tiyah, tapi jangan bilang kamu lebih memilih dia daripada aku. Kamu sudah menungguku selama itu, tapi kamu lebih memilih dia." Aira mulai berteriak.
"Aku, bukan jatuh cinta. Tapi aku mencintai dia. Aku, hanya tau menyukai kamu sejak kita masih kecil, aku pikir cinta seperti itu. Tapi apa yang aku rasa untuk Tiyah, membuat aku gugup, senang, sedih dan bahagia di saat yang sama. Aku tak pernah tau perasa... "
"Cukuuup... Cukuuppp Gama. Kalian, laki-laki selalu seperti itu. Kamu yang katanya mencintai dan menungguku, membiarkan hatimu jatuh untuk wanita lain, begitu juga ayahmu, yang katanya mencintai mamamu, tapi membiarkan dirinya di sentuh oleh mamaku dan menganggap itu semua kesalahan. Dan lagi, sekarang aku yang kamu korbankan. "
"Aira, aku tak Mengorbankan siapapun. Aku akan tetap membantumu bebas seperti yang kamu inginkan."
"ohhh, jadi sekarang kamu ingin menebus kesalahan mamamu, dengan membebaskan aku dari sini? Waahh.. Waahh.. Hebat, benar-benar anak yang berbakti." Aira semakin marah dan bertepuk tangan di depan wajah Gama.
"Apa hubungannya ini dengan mama? "
"Jadi, kamu benar-benar tidak tahu? Hah, lagipula sejak dulu kamu memang anak yang selalu di manja ibumu." Aira berjalan pincang kembali ke tempat tidurnya.
"Apa maksud kamu? " tanya Gama mendekat pada Aira.
"Kalau saja Ayahmu tidak. berselingkuh dengan mamaku, Maka aku gak perlu di usir dan sampai sekarang aku gak harus mencari mamaku di mana.." Aira mulai menangis.
"Apa maksud kamu? " tanya Gama penasaran.
"Mama kamu, menyembunyikan mamaku.? " tangis isak Aira semakin keras.
"Apa maksud kamu? Bukannya tante Amira berada di kota Kelambu bersama suaminya? Tante Amira menikah lagi 7 tahun yang lalu." Gama bingung.
"a... Aa... Apa maksud kamu? " Aira terbata-bata dan terkejut...
...****************...
__ADS_1