
Anju kembali kekamar dan berbaring miring di samping Rachel yang sudah tertidur. Karena mata Rachel benar-benar sudah tidak tertolong lagi. Anju membelakangi Rachel dengan posisi tidur yang meringkuk dan Naomi memegang dadanya dengan kuat yang tiba-tiba terasa begitu sesak. Air matanya yang jatuh tiba-tiba.
Anju seolah di perlihatkan oleh kenyataan atas gambarnya hubungannya dengan Brian. Bukan hanya Brian yang sedang menggantungnya. Tetapi dia juga tidak punya tempat di keluarga Brian. Karena sepertinya ada Naomi yang lebih special di dalam rumah itu. Bahkan Naomi bisa tidur di kamar Brian.
Perlakuan Kayra pada Naomi yang sangat special. Naomi dan keluarga Brian memang saling dekat. Dan Anju tau itu. Namun hal ini terlihat tidak wajar bagi Anju. Dan itu membuat perasaannya sangat sesak. Kalau ditanya cemburu ya pasti sangat cemburu.
***********
Rumah sakit.
Seperti biasa banyak yang di lakukan di rumah sakit. Hari-hari Anju di rumah sakit hanya penuh dengan kegalauan. Jika tidak melihat Brian yang selalu melayani pasiennya bernama Aliyah dengan berlebihan. Maka akan melihat kedekatan Brian dan Naomi yang sebenarnya sudah biasa.
Namun Anju semakin merasa ada sesuatu di antara Naomie dan Brian. Belum lagi Brian yang tebar pesona dengan banyak wanita di rumah sakit.
Anju sendiri tidak mengerti apa dia punya hak untuk cemburu atau tidak. Karena dia dan Brian tidak ada status apa-apa dan seharunya dia tidak punya hak untuk cemburu kepada Brian.
"Anju!" panggil Naomi membuat langkah Anju terhenti.
"Iya Naomi?" tanya Anju dengan wajah datarnya.
"Ini hasil rekap medis yang kamu minta kemarin," ucap Naomi memberikannya pada Anju.
"Makasih ya," sahut Anju dan tidak melihat apa yang di berikan Naomi.
"Sama-sama," sahut Naomi tersenyum. Keduanya tanpa ada obrolan lagi dan berjalan pelan dengan langkah yang sama.
"Oh iya Naomi apa Brian mempunyai wanitanya yang di suka?" tanya Anju yang tiba-tiba mempertanyakan hal lain.
"Tumben sekali mempertanyakan hal seperti itu?" tanya Naomi heran dengan melihat Anju.
"Aku melihat saja. Sepertinya ada wanita special di hatinya," jawab Anju.
"Bukannya dia memang suka dengan semua orang. Brian itu suka tebar pesona," sahut Naomi dengan santai.
Anju hanya diam mendengarnya membuat Naomi melihat kearah Anju dengan menghentikan langkahnya dan memegang ke-2 tangan Anju.
"Tapi ada yang special di hatinya. Walau dia suka bertingkah. Ada kok satu wanita di hatinya," ucap Naomi yang bicara dengan intens pada Naomi.
"Kamu?" sahut Anju yang langsung bicara to the point. Mendengarnya membuat Naomi tersenyum.
__ADS_1
"Bukan aku, bukan Aliyah dan bukan orang-orang yang sering dekat dengannya. Tetapi kamu," jawab Naomi dengan santai. Yang sekarang gantian Anju yang tersenyum seolah tidak percaya dengan apa yang di katakan Naomi.
"Kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti itu?" tanya Anju.
"Karena Brian sendiri yang mengatakan kepadaku. Jika dia hanya menyukaimu. Dia dekat dengan yang lain dan tidak ada perasaan apa-apa," ucap Naomi yang meyakinkan Anju.
"Dia mengatakan sendiri?" tanya Anju. Naomi mengangguk apa adanya.
"Tetapi kenapa tidak mengatakannya kepadaku?" tanya Anju.
"Mungkin belum saatnya," jawab Naomi dengan singkat.
"Anju jika memang kamu menginginkan hubungan yang serius dengan Brian. Sebaiknya bicaralah padanya. Jangan menunggunya. Karena dia mempunyai kelemahan atas kesadarannya," ucap Naomi dengan selorohnya.
"Kamu ingin aku membicarakan hal serius pada Brian?" tanya Anju memastikan ucapannya.
"Kenapa tidak? Kalian berdua sama-sama orang dewasa dan kalian berdua sama-sama mengerti perasaan kalian masing-masing. Jadi tidak akan rugi jika memulai membicarakan hal itu," saran Naomi.
"Lalu apa kamu oke?" tanya Anju.
"Why not," sahut Naomi dengan santai.
"Baiklah aku akan mencobanya nanti," sahut Anju dengan tersenyum yang mempunyai arti. Naomi juga tersenyum pada Anju.
**********
Hujan deras membasahi bumi di malam hari yang gelap. Padahal siang tadi cuaca begitu terik dan tidak ada tanda-tanda hujan. Tetapi hujan begitu deras membasahi bumi.
Naomi yang turun dari Taxi di depan rumah Brian yang langsung berlari memasuki rumah Brian dengan berlindung dengan tasnya yang di letakkan di atas kepalanya. Sangat bertepatan dengan Brian yang keluar dari rumah.
"Naomi!" ucap Brian.
"Brian!" sahut Naomi yang membuang napasnya napasnya dengan mengusap-usap lengannya.
"Kamu ngapain hujan-hujanan?" tanya Brian mendekati Naomi dengan dengan bahu Naomi.
"Aku ingin menyelesaikan pekerjaan kita tentang operasi tumor. Kita bukannya janji untuk meneliti sama-sama," jawab Naomi.
"Ya ngga datang hujan-hujanan kayak gini juga kali. Kamu bisa telpon aku. Aku bisa jemput kamu," ucap Brian
__ADS_1
"Aku kenak hujan dari depan sampai sini. Aku bukan berjalan dari rumah," ucap Naomi.
"Ya sudah sebaiknya kamu masuk dan langsung ganti baju. Nanti kamu masuk angin," ucap Brian yang tampak sangat mengkhawatirkan Naomi.
"Kamu sendiri mau kemana? Kok rapi amat dan juga harum sekali?" tanya Naomi yang melihat perubahan penampilan Brian.
"Aku ada makan malam dengan Anju. Jadi aku mau bertemu dengannya," jawab Brian.
"Tumben," sahut Naomi.
"Tumben apanya?" tanya Brian.
"Ya kamu tumben ingat dan bahkan pergi biasanya malas banget apa lagi hujan kayak gini," ucap Naomi heran.
"Aku tidak ingin membuatnya marah lagi dan sepertinya aku harus meyakinkan Anju. Belakangan ini sangat jutek dan dingin terhadap ku. Aku rasa aku harus meyakinkan tentang perasaan ku kepada-nya," ucap Brian.
"Kamu mau bicara serius dengan Anju?" tanya Naomi memastikan.
"Iya dia juga katakannya ingin bicara serius dan aku yakin pasti mengarah ke arah sana. Jadi aku juga tidak mau mengecewakannya. Walau ini berat untukku," ucap Brian.
"Maksudnya?" tanya Naomi.
"Ya kalau aku dan Anju lebih serius lagi. Itu artinya aku tidak bisa dekat-dekat dengan siapapun," jawab Brian dengan garuk-garuk kepala membuat Naomi menghela napasnya.
"Kamu ini ya masih sempatnya mikir kayak gitu. Aneh!" sahut Naomi geleng-geleng.
"Ya namanya juga masih..."
"Masih apa.....sudah sana kamu pergi. Nanti Anju marah lagi kalau kamu telat," ucap Naomi yang tidak mau mendengar ocehan Brian lagi yang panjang lebar.
"Baiklah aku akan pergi dan aku mendengarkan kata-kata dan saran dari mu. Ya semoga saja semuanya baik-baik aja dan semoga menjadi pilihan yang terbaik. Ya sudah aku pergi dulu. Kamu langsung masuk dan ganti baju. Ingat langsung ganti baju. Jangan sampai kamu sakit," ucap Brian menegaskan pada Naomi.
"Iya-iya," sahut Naomi menganggukkan kepalanya.
"Jangan hanya iya-iya saja. Kamu harus mendengarkanku," tegas Brian sekali lagi. Naomi hanya mengangguk saja.
"Ya udah aku pergi ya. Da," sahut Brian memegang kepala Naomi dan Brian langsung pergi. Naomi hanya mengangguk dan melihat kepergian Brian yang berlari menuju mobil.
Wajah Naomi tidak terbaca saat melihat kepergian Brian. Wajah dingin dengan ekspresi yang sulit di baca. Apakah dia sangat bahagia dengan keputusan Brian. Atau justru tidak. Naomi mengehela napas perlahan ke depan dan Naomi langsung memasuki rumah Brian. Dia akan menunggu Brian selesai makan malam bersama Anju.
__ADS_1
Bersambung