
"Aku melihat kondisi Aliyah semakin membaik belakangan ini," sahut Anju memulai obrolan dengan Brian yang terlihat basa-basi pada Brian.
"Hmmm, harinya sangat bagus dan mungkin itu yang membuatnya semakin membaik," sahut Brian yang tetep fokus pada layar laptopnya.
"Apa mungkin karena bersama kamu. Jadi dia semakin membaik?" tanya Anju menduga-duga.
"Bisa jadi. Bukannya aku adalah Pria yang bisa membuat wanita bahagia. Dan itu hal bagus dengan aku terus dekat dengannya. Jadi kondisinya bisa membaik dan sembuh," sahut Brian dengan percaya dirinya yang melihat kearah Anju sebentar dan kembali fokus pada pekerjaannya.
"Aliyah baru mengenalmu Brian dan tidak memhamimu. Bagaimana jika dia salah paham dengan perhatian yang berlebihan yang kamu lakukan kepada-nya?" tanya Anju membuat Brian mengangkat kepalanya dan melihat Anju.
"Bukankah semua wanita selalu salah paham dengan apa yang aku lakukan?" Brian bertanya kembali.
"Jika itu orang lain mungkin bisa menerima dan meluapkan dengan kemarahan. Tapi aku tidak yakin dengan Aliyah. Dia masih polos dan aku bisa melihat dari mimik wajahnya. Jika dia bukan sekedar mengagumi. Tetapi juga menyukaimu. Bagaimana jika dia mengharapkan hal yang lebih dan kamu tidak bisa memberinya, apa menurutmu itu tidak akan memperburuk keadaanya?" jelas Anju dengan maksud dari perkataannya yang pasti menyimpan sesuatu.
Namun mendengarnya membuat Brian tersenyum miring.
"Apa kau tidak bahagia dengan pernikahanmu. Apa kau menyesal telah mengambil keputusan untuk menikah? Sehingga kau begitu mengurus kehidupanku. Anju kemarin kau bawa Naomi dalam urusan kita dan sekarang kau membawa Aliyah seolah kau lebih memahaminya," sahut Brian dengan suaranya dinginnya.
"Ini tidak ada kaitannya dengan keputusanku. Aku bahagia, atau aku menyesal. Aku memang sudah menikah. Tetapi sebagai sahabat aku hanya mengingatkanmu untuk kau harus memilih-milih wanita yang bisa kau jadikan petualangan atau tidak dan Aliyah masih dia punya kelainannya jantung kau harus bisa mengimbanginya. Jangan sampai keegoisan yang ingin bermain-main membuatnya tidak bisa menerimanya dan terluka dan bisa berpengaruh pada kesehatannya," ucap Anju mengingatkan Brian dengan serius.
"Jangan sok tau, aku yang lebih tau apa yang harus aku lakukan," sahut Brian dengan menyunggingkan senyumnya yang pasti tidak akan mendengar masukan dari orang lain termasuk dari Anju.
Ceklek.
Pintu ruangan itu di buka membuat Anju dan Brian yang saling tatap langsung mengalihkan pandangan masing-masing. Ternyata Naomi yang masuk dan melihat ke-2 orang itu sebentar. Lalu Naomi duduk di sofa yang ada di ruangan itu dengan menggerak-gerakkan lehernya yang kelihatan terasa pegal.
"Operasi terpanjang yang aku hadapi," sahut Naomi dengan keluhannya.
"Operasi apa?" tanya Anju yang memulai obrolan.
"Klenjar getah bening," jawab Naomi.
"Sudah selasai?" tanya Anju.
"Sudah," jawab Naomi.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Brian.
"Aku operasi dari jam 11 dan sekarang jam 3 jadi aku mana mungkin makan di ruang operasi," jawab Naomi dengan santai.
"Aku pesankan makanan," sahut Brian yang langsung mengambil handphonnya.
"Makasih," sahut Naomi mengangguk dan Anju melihat dia orang itu dengan ekspresi tidak terbaca.
*******
Naomi, Brian, dan Anju masih ada di dalam ruangan khusus mereka dengan pekerjaan mereka masing-masing. Bahkan Rachel sudah bergabung di sana. Malam ini Rachel sedang ada shift malam. Jadi Rachel tidak pulang dan menunggu saja dan memlih tidur di sofa dengan selonjoran.
Naomi juga yang sembari makan, sembari matanya melihat kearah laptop yang fokus dengan pekerjaannya. Menjadi dokter membuat Naomi tidak pernah punya waktu senggang dan dia terasa sangat lelah dengan pekerjaan yang semakin banyak.
Brian yang juga dengan pekerjaannya. Menoleh ke arah Naomi yang bekerja sembari makan membuat Brian menghela napasnya dan tidak menginginkan hal itu. Brian berdiri dari tempat duduknya dan langsung menghampiri Naomi.
"Naomi makan dulu. Ini bisa di kerjakan nanti," ucap Brian yang berdiri di samping Naomi dengan satu tangannya menyentuh meja dan satu lagi memegang kursi Naomi.
"Ini lagi makan," jawab Naomi menoleh kearah Brian di sampingnya dengan mengangkat kepalanya.
"Ini juga makan yang benar," sahut Naomi yang punya jawaban saja. Brian menghela napasnya dan menarik kursi kearah dekat Naomi. Brian mengambil makanan Naomi dan langsung menyuapi Naomi.
"Ayo makan!" titah Brian dengan sendok yang sudah ada di depan mulut Naomi.
"Pemaksaan," desis Naomi sewot yang membuat mulutnya.
"Jika tidak seperti ini makananmu tidak akan habis sampai malam," ucap Brian yang kembali menyuapi Naomi.
"Baiklah Dokter Brian," sahut Naomi tersenyum sembari mengunyah makanannya.
Brian tetap menyuapi Naomi dengan Naomi yang jadinya fokus makan dan tidak sembari bekerja. Mereka berdua yang kelihatan begitu dekat sembari bercanda dan tertawa-tawa. Bahkan Brian juga mengusap bekas makanan di ujung bibir Naomi dan itu terlihat biasa saja bagai keduanya. Tidak ada apa-apa bagi keduanya.
Namun justru Anju yang ada di ruangan itu yang melihat pemandangan di depan matanya itu membuatnya tiba-tiba merasa gusar. Cemburu mungkin iya. Hal itu bukan hal yang biasa. Hal itu seperti ada hubungan special. Naomi dan Brian yang seperti itu Anju yang malah terlihat panas.
Tidak ingin melihat hal itu tiba-tiba Anju menutup laptopnya dan berdiri dari tempat duduknya. Mengambil tasnya lalu pergi.
__ADS_1
"Kamu mau kemana aku?" tanya Naomi yang baru sadar temannya itu ingin pergi.
"Mau pulang. Sudah waktunya pulang," jawab Anju dengan cepat.
"Bukannya kamu ada shift malam?" tanya Naomi.
"Aku tukqr dengan Dokter lain. Aku harus pulang," jawab Anju yang pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
"Kenapa dia buru-buru sekali?" Tanya Naomi heran pada Brian.
Brian mengangkat ke-2 bahunya, "aku mana tau. Dia baru menikah. Jadi bawaannya pengen pulang aja," sahut Brian dengan santai.
"Memang seperti itu kalau orang baru menikah?" Tanya Naomi.
"Coba aja menikah. Biar tau," jawab Brian dengan tersenyum.
"Issss, memang menikah itu coba-coba apa. Dasar aneh," sahut Naomi.
"Dia juga menikah coba-coba. Sana belajar padanyanya," sahut Brian.
"Isss sok tau deh kamu," sahut Naomi memukul lengan Brian.
"Sudah makan lagi. Jangan membahas orang lain," tegas Brian. Namun Naomi menutup mulutnya rapat-rapat membuat Brian menaikkan sebelah alisnya.
"Mencari masalah?" tanya Brian. Naomi mengangkat kedua bahunya yang sepertinya sengaja mengerjai Brian.
"Ayo buka mulutmu!" Brian memaksa Naomi dengan susah payah. Bahkan sembari mencengkram pipi Naomi membuat Naomi melotot dan akhirnya terbuka mulutnya.
"Kau ini Brian!" geram Naomi dengan memukul Brian.
"Makannya jangan bandal," sahut Brian. Namun Naomi yang kesal terus membalas Brian dengan pukulan dan terakhirnya Brian yang meminta ampun atas apa yang di lakukan Naomi.
Ternyata Anju belum pulang dia masih ada di depan pintu dan menyaksikan hal itu. Anju menghela napasnya yang sudah tidak tau harus berkata apa-apa lagi dengan kedekatan 2 orang yang tidak bisa di katakan itu. Ya benar-benar begitu dekat dan sangat dekat sampai tidak tau harus mengatakan apa.
Anju baru meninggalkan tempat itu. karena seperti nyamuk saja di Antara Naomi dan juga Brian yang menunjukkan keromantisan.
__ADS_1
Bersambung