
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk uhuk, uhuk-uhuk-uhuk-uhuk. Naomi hanya batuk-batuk dengan suaranya yang lemas. Brian benar-benar lega melihat keadaan Naomi yang sudah baik-baik saja yang membuatnya sangat bersyukur dan air matanya yang kembali jatuh.
Brian langsung mengangkat kepala Naomi dan langsung memeluknya dengan erat dengan meluapkan rasa takutnya memeluk wanita yang masih lemas itu.
"Maafkan aku! Maaf Naomi! Maafkan aku!" lirih Brian yang merasa bersalah atas kejadian itu dan terus meminta maaf pada Naomi.
"Aku tidak akan mendenatmu lagi Naomi. Aku tidak akan membiarkan mu mengalami hal ini lagi. Maafkan aku Naomi, maaf," ucap Brian dengan napasnya yang naik turun saat, memeluk erat Naomi.
Dia terus meminta maaf pada Naomi dan Naomi hanya diam saja di pelukan Brian yang juga tidak sanggup berbicara. Namun pasti Naomi dapat mendengarkan suara Brian ya memintanya maaf dengan suara yang bergetar itu.
Perlahan tangan Naomi melingkar di pinggang Brian dan memeluk pinggang Brian juga dengan erat. Dia juga sangat membutuhkan Brian. Karena dirinya sendiri yang juga takut.
Aaliyah tetap berdiri di tempatnya dengan melihat Naomi dan Brian membuat wajah Aliyah sangat menyedihkan. Ya Naomi dan Brian berpelukan seperti itu. Dan seperti bukan sahabat dan melainkan sangat lebih.
"Apa ini jawaban yang ingin kamu tunjukkan kepadaku Brian! Ini jawabannya. Jika aku memang tidak ada di dalam hati kamu dan aku bukan menjadi tempat di hati kamu. Kamu tidak menjawab apapun atas perasaan yang aku ucapkan dan Kamu memberikan jawaban seperti ini Brian. Inilah jawabannya. Kamu bersahabat dengan Dokter Naomi. Tetapi bukan sahabat yang aku lihat," batin Aliyah dengan matanya berkaca-kaca.
Melihat Naomi dan Brian yang seperti itu membuat Aliyah tertampar oleh kenyataan dengan apa yang di lihatnya. Air matanya yang juga mendadak jatuh seolah hatinya tertusuk dan tidak bisa menerima kenyataan itu.
Perasaannya masih di gantung Brian dan Brian mengatakan akan tau jawabannya. Tidak menunggu lama. Jawaban itu seolah sudah dapat di lihat Aliyah. Jika Brian memang tidak pernah menyukainya.
Ternyata Anju melihat sedari tadi ekspresi Aliyah dan Anju seolah tau apa yang di rasakan Aliyah. Anju sok mengamati ekspresinya. Dia tidak tau. Jika suaminya juga sedang mengamati eksperesinya sejak tadi.
"Aliyah sangat sulit jika berharap banyak pada Brian. Tidak ada yang tau. Di mana letak hatinya. Jika aku di posisi Naomi. Mungkin aku juga belum tentu mendapatkan apa yang di lakukan Brian. Dia begitu takut akan terjadi sesuatu pada Naomi dan tidak tau bagaimana perasaan Brian sebenarnya kepada Naomi dan juga sebaliknya," batin Anju yang masih tetap melihat kearah Aliyah.
"Aku tidak tau Aliyah apa yang kamu rasakan sekarang, apa yang kamu pikirkan dengan hal ini. Tetapi apa yang kamu lihat adalah nyatanya ini adalah kenyataan yang sebenarnya Aliyah. Jika Brian memang seperti ini dan aku dulu. Mundur juga karena melihat hal ini," batin Anju yang baru mengakui. Jika dia mundur dari Brian. Karena merasa Brian sebenarnya hatinya tidak bersama dirinya. Namun ada tempat yang special.
Danesh menghela nafas yang memperhatikan mimik wajah istrinya itu dan langsung memegang tangan Anju yang membuat Anju kaget dan tersentak dari lamunannya yang tiba-tiba tangan Anju di tarik yang membuat Anju kaget dan bingung dengan apa yang di lakukan Danes.
__ADS_1
"Danesh!" pekik Anju kaget dengan Danesh yang menariknya.
"Ikut denganku!" sahut Danesh dengan wajah seriusnya.
"Mau kemana?" tanya Anju heran.
"Semuanya sudah cukup!" sahut Danesh yang membawa Anju meninggalkan tempat itu dan Anju hanya heran kemana Danesh akan membawanya. Yang padahal Anju masih ingin tau keadaan Naomi.
"Brian ayo kita bawa Naomi!" sahut Rachel.
"Iyah!" sahut Brian yang akhirnya melepas pelukan itu dan Brian yang kembali menggendong Naomi ala bridal style dan membawanya pergi yang melewati Aliyah begitu saja dan Aliyah benar-benar tampak murung melihat hal itu.
"Aliyah ayo. Jangan di sini. Tempat ini sangat tidak bagus untuk kesehatan kamu," ucap Rachel memberikan ingat pada Aliyah.
"Iya Dokter," sahut Aliyah dan Rachel langsung pergi terlebih dahulu. Kemudian Aliyah menyusul dengan menghela napasnya.
Brian yang buru-buru langsung membawa Naomi untuk mendapatkan perawatan. Sementara Aliyah yang sangat sulit mengejar langkah Brian yang sangat kencang. Aliyah yang tiba-tiba menghentikan langkahnya dengan memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Dengan hembusan napasnya yang mulai tidak stabil.
********
"Danesh lepaskan aku. Kau membawaku kemana?" tanya Anju yang di bawa paksa Danesh yang tidak tau kemana Danesh akan membawa dirinya.
"Danesh! Apa kau tidak punya mulut. Lepaskan aku. Kau jangan gila Danesh!" umpat Anju yang di seret oleh suaminya itu.
Danesh diam saja dan tiba-tiba membawa Anju kedalam salah satu ruangan yang ternyata itu ruangan Anju dan Dokter lainnya. Ruangan khusus yang tidak boleh di masuki siapapun.
"Danesh apa yang kau lakukan! Kau jangan masuk ini bukan ruangan sembarangan!" tegas Anju dengan panik dengan Danesh yang semakin berani.
__ADS_1
Namun Danesh tidak peduli yang tetap masuk keruangan itu dan begitu melihat papan nama Anju yang berarti letak meja Anju. Danesh langsung membawa Anju ke mejanya dan mendudukkan Anju di kursinya membuat Anju kaget yang di dudukkan secara paksa oleh suaminya itu.
"Apa ya kau lakukan? Apa kau gila!" tanya Anju dengan wajah kagetnya melihat tingkah Danesh.
"Danesh!" Anju hendak berdiri dan Danesh kembali mendudukkan Anju.
"Danesh! Kau benar-benar gila! Apa yang kau lakukan!" pekik Anju mulai marah.
"Seharusnya aku yang bertanya? Apa yang ingin kau lihat sampai kau harus tidak peduli dengan dirimu yang terluka seperti ini!" tegas Danesh yang berdiri di depan Anju dan wajah Danesh tampak marah dengan sangat serius.
Apa maksud mu. Aku tidak mengerti?" tanya Anju heran.
"Kau terluka dan seharusnya pikirkan dirimu dan bukan memastikan suatu hal yang tidak penting," tegas Danesh.
"Kau bicara apa. Aku tidak mengerti. Minggir," sahut Anju yang berusaha berdiri. Namun Danesh mencegahnya dengan menekan kedua bahu Anju yang membuat Anju melotot.
"Aku akan mengikatmu di kursi ini. Jika kau berani pergi lagi!" Ancam Danesh dengan matanya melotot dan wajahnya yang begitu serius melihat Anju dan tidak tau kenapa membuat Anju tidak bisa berkutik.
"Jadi diamlah di sini!" tegas Danesh. Anju benar-benar diam namun bingung dengan apa yang akan di lakukan Danesh.
Danesh melihat di sekelilingnya dan melihat ada kotak obat. Danesh langsung mengambilnya dan Danesh yang berdiri di depan Anju langsung mengobati dahi Anju yang terluka.
"Aku bisa mengobatinya sendiri," ucap Anju.
Danesh tidak peduli dan membuka tutup botol cairan alkohol dan meletakkannya pada kapas.
"Danesh. Aku Dokter, aku bisa mengobatinya sendiri!" ucap Anju yang menolak untuk di obati Danesh.
__ADS_1
"Apa perlu aku tunjukkan jika Dokter juga ada yang mati karena terluka," sahut Danesh dengan suara dinginnya.
Bersambung