Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 55 Masih menagih.


__ADS_3

Rumah sakit.


Naomi kerumah sakit sendirian. Karena Brian dengannya sedang tidak baik-baik saja. Jadi beberapa hari ini Naomi kerumah sakit selalu sendiri. Naomi ada fasilitas mobil dari rumah sakit. Namun jarang di gunakannya dan lebih sering bersama Brian. Kali ini Naomi harus terbiasa menyetir. Karena Brian yang tidak bersamanya.


Saat turun dari mobilnya. Naomi sudah melihat Aliyah yang turun dari mobil yang sepertinya di antar supirnya. Mungkin saja Aliyah yang ingin menemui Brian. Namun Naomi tampak cuek dan bahkan tidak memanggil Aliyah yang sudah berjalan memasuki rumah sakit.


"Naomi!" Panggil Rachel membuat Naomi melihat kebelakang.


"Rachel!" sahut Naomi. Rachel tersenyum dan berjalan ke arah Naomi dengan langsung menggandeng lengan Naomi.


"Apa ini nempel-nempel. Ada maunya ya!" tebak Naomi.


"Tau aja," sahut Rachel dengan tersenyum lebar melihat Naomi.


"Memang mau apa?" tanya Naomi dengan dahinya yang mengkerut yang penasaran dengan apa yang di inginkan Rachel.


Rachel menghentikan langkahnya dan menghadap Naomi dan memberikan dokumen pada Naomi.


"Apa ini?" tanya Rachel.


"Please antar kerumah sakit Medikal setia cipta nanti siang!" titah Rachel dengan wajahnya yang penuh dengan permohonan.


"Bukannya itu rumah sakit calon mertua kamu. Ya kamu sendiri dong yang mengantar. Sekalian ketemu dengan calon mertua," sahut Naomi yang pasti tau rumah sakit itu milik keluarga Azka. Keluarga Dokter Rendy yang memang sangat terkenal.


"Sejak kapan aku menjadi calon menantu. Isss kamu ini bicara suka di lebih-lebihkan," sahut Rachel.


"Ya kan. Putra Dokter Rendy. Anaknya sedang kamu nanti-nanti," jawab Naomi dengan tersenyum m


"Iya terserah kamu deh. Yang penting please tolong ya kamu anterin ke sana. Aku nggak bisa antar," ucap Rachel dengan permohonan.


"Kenapa bukan kamu akan Rachel? kenapa harus aku?"" tanya Naomi.


"Aku nanti siang ada operasi. Seharusnya ini di antar kemarin dan aku lupa terus. Nanti aku nggak enak dengan om Rendy. Jadi aku mohon tolong antarkan!" bujuk Rachel pada Naomi.


"Ayo dong Naomi please!" bujuk Rachel lagi dengan memohon.


"Ya sudah," sahut Naomi.


"Nah gitu dong," sahut Rachel dengan kesenangan yang tersenyum pada Naomi.


"Kamu baik sekali," ucap Rachel langsung memuji.


"Udah nggak usah lebay," sahut Naomi.


"Ayo masuk!" ajak Naomi.


"Iya-iya," sahut Rachel.

__ADS_1


"Oh iya. Kamu kok tumben nggak sama Brian dan tumbennya bawa mobil sendiri," ucap Rachel.


"Memang harus apa. Aku sama Brian terus," sahut Naomi.


"Ya kan memang biasanya seperti itu," sahut Rachel.


"Ohhhh, atau jangan-jangan benar lagi. Kamu lagi bertengkar ya dengan Brian?" tanya Rachel dengan penuh selidik.


"Jangan sok tau. Nggak ada yang ribut," sahut Naomi.


"Ya lalu kenapa tidak bersama dan beberapa hari ini. Kalian jarang ngobrol. Baik itu di ruangan. Maupun di sini. Makanya aku bertanya," ucap Rachel.


"Udahlah aku sama Brian tidak ada masalah apa-apa. Sudah ayo masuk!" ajak Naomi yang malas membahas Brian.


*********


Aliyah memang menemui Brian. Tidak tau apa yang ingin di katakan Aliyah kepada Brian lagi. Mereka duduk di salah satu bangku dengan keduanya berhadapan.


"Aliyah untuk apa sih kamu harus bertanya masalah itu lagi?" tanya Brian.


"Brian aku hanya ingin tau bagaimana perasaan kamu kepadaku," jawab Aliyah yang ternyata masih menuntut isi hati Brian.


"Untuk apa Aliyah?" tanya Brian dengan suara seraknya.


"Aku ingin mendengarnya," jawab Aliyah.


Aliyah tersenyum dengan menahan kesedihan dan memegang pipi Brian dengan tatapan mereka yang semakin dalam.


"Aku ingin kamu menjawab sejujurnya. Bagaimana perasaan kamu kepadaku dan aku akan menerima apapun jawaban kamu," ucap Aliyah.


Tiba-tiba Aliyah mencium pipi Brian yang membuat Brian kaget menerima ciuman dari Aliyah dengan mata Brian yang terbuka lebar.


"Dokter Naomi ayo! di sana ruangannya!"


Ternyata Naomi yang tidak sengaja lewat melihat hal itu dan langsung tersentak kaget saat Suster menegurnya. Brian juga menoleh kearah Naomi dan kaget dengan keberadaan Naomi.


"Oh iya ayo!" sahut Naomi yang mendadak gugup dan langsung pergi bersama suster.


Sementara Aliyah memperhatikan ekspresi Brian saat melihat kepergian Naomi. Seperti ada sesuatu di dalam diri Brian.


"Aliyah aku harus masuk!" ucap Brian yang ingin berdiri dari tempat duduknya. Namun Aliyah menghentikan Brian dengan memegang tangan Brian.


"Tetapi aku ingin tau jawaban kamu. Jangan membuatku menunggu dan jawablah pertanyaan ku!" ucap Aliyah yang masih menginginkan jawaban dari Brian. Brian menatap Aliyah. Tidak ada yang keluar dari mulut Brian seakan tidak berani mengatakan apa-apa kepada Aliyah. Untuk jujur akan perasannya. Sebenarnya bisa saja dia mengatakan tidak suka. Jika tidak suka. Namun untuk keberanian itu ternyata tidak ada. Jadi hal itu membuat Brian hanya diam.


"Brian kenapa diam?" tanya Aliyah.


"Kamu akan tau jawabannya," sahut Brian melepas pelan tangan Aliyah darinya.

__ADS_1


"Aku harus masuk!" ucap Brian yang langsung meninggalkan Aliyah.


Aliyah memejamkan matanya dengan menghela napasnya.


"Jawaban apa yang aku dapatkan Brian. Aku saja tidak tau apa yang kamu maksud dan sepertinya sudah ada yang memiliki hatimu dan kau sudah menempatkannya pada seseorang dan bukan aku," batin Aliyah dengan menghela napas beratnya yang terasa begitu lelah dengan keadaan yang di alaminya.


Dia sudah mulai merasa. Jika Brian tidak punya perasaan apa-apa kepadanya dan dirinya yang telah di gantung oleh Brian. Namun Aliyah masih mengharapkan sedikit harapan saja dari Brian. Ya dia ingin mendengar jawaban Brian dan berusahalah untuk menerima jawaban itu.


**********


Naomi berada salah satu ruangan yang penuh dengan buku-buku dan obat-obatan. Ruangan yang luas itu hanya dia dan suster yang berada di dalamnya yang sepertinya mengecek sesuatu.


Tangannya terlihat bekerja. Namun pikirannya yang kelihatan kosong dan tidak tau apa yang dipikirkannya dan tiba-tiba saja dia terbayang saat Aliyah yang mencium pipi Brian.


"Dokter yang ini di masukkan ke mana? tanya Suster tersebut. Namun Naomi tidak menjawab dan tetap dalam lamunannya.


"Dokter!" tegur suster.


"Iya kenapa?" tanya Naomi yang tersentak kaget.


"Dokter baik-baik aja?" tanya Suster.


"Iya maaf. Kamu tanya apa tadi?" tanya Naomi dengan Naomi yang berusaha untuk fokus.


"Sayang hanya bertanya ini di taruh di mana?" tanya Suster yang memperlihatkan beberapa botol cairan yang di pegangnya.


"Kamu kumpulkan saja di sana," jawab Naomi.


"Baik Dokter," sahut Suster dengan menganggukkan kepalanya.


Apa yang aku pikirkan. Kenapa aku tiba-tiba tidak fokus seperti ini. Terserah Brian mau seperti apa dan mungkin saja dia mendengarkan apa yang aku katakan dan seharusnya aku tidak memikirkan apa-apa," batin Naomi yang menggoyang-goyangkan kepalanya yang berusaha untuk fokus.


Dia juga tiba-tiba tidak fokus karena permasalahan Brian dan hal itu membuat dirinya benar-benar kepikiran.


"Dokter saya keluar duluan ya!" sahut Suster tersebut setelah meletakkan cairan itu di dalam satu box.


"Iya terima kasih ya. Kamu sudah membantu say," ucap Naomi.


"Iya Dokter," sahut suster tersebut dan langsung keluar dari ruangan itu.


Huhhhhhh


Naomi menghela napasnya perlahan kedepan.


"Ayo Naomi. Kamu harus fokus, Jangan seperti ini. Fokuslah Naomi, fokus!" ucapnya yang mencoba untuk fokus dengan melanjutkan pekerjaannya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2