
"Tapi ini luka tidak apa-apa. Dan aku bisa mengobati sendiri," Anju tetep keras kepala yang tidak mau di obati Danesh m
"Aku akan melakban mulutmu. Jika kau bicara lagi," tegas Danesh membuat Anju terdiam. Danesh jarang bicara dan bicaranya kali ini benar-benar galak membuat Anju menelan salivanya.
"Jadi diamlah Anju, aku tidak akan memakanmu, aku hanyalah ingin mengobati mu," tegas Danesh. Anju terdiam dan Danesh mulai mengobati Anju.
"Ahhhhhh," lirih Anju saat dahinya perih karena cairan obat tersebut. Danesh memang langsung mengoleskan cairan itu dengan kapas untuk membersihkan luka di dahi Anju.
"Aku pikir Dokter tidak akan kesakitan!" sindir Danesh. Anju diam saja mendengarnya. Walau wajahnya kembali kesal. Ya Anju sangat membanggakan Dokter. Makanya seolah tidak apa-apa dan tidak mau di obati.
"Aku heran melihatmu. Entah apa yang ingin kau pastikan, sampai kau harus berlari tanpa memikirkan dirimu. Kau itu ceroboh sekali," decak Danesh dengan geleng-geleng kepala melihat Anju.
"Aku tidak ingin memastikan apa-apa. Aku hanya melihat Naomi. Dia sahabatku dan aku juga tidak mungkin diam. Jika dia kenapa-kenapa," jawab Anju dengan mengangkat kepalanya melihat ke arah Danesh.
Danesh menundukkan pandangannya dan melihat kearah Anju sehingga mata ke-2nya yang saling bertatapan.
"Tapi bukan itu yang aku lihat," jawab Danesh yang bisa mengetahui apa yang di pikirkan Anju.
"Jangan sok tau. Aku memang hanya ingin tau keadaan Naomi. Aku tidak ingin mengetahui apapun. Atau memikirkan apa-apa," sahut Anju dengan menegaskan kepada Danesh. Jika dia memang hanya ingin melihat Naomi.
"Benarkah!" sahut Danesh yang tidak percaya.
"Iya," sahut Anju menegaskan.
"Kau itu wanita paling pintar bersandiwara," ucap Danesh dengan berdesis.
"Terserahmu berpikiran seperti apa kepadaku yang penting aku tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku juga tidak bisa membuatmu harus berpikir baik kepadaku. Intinya aku hanya ingin mengetahui keadaan Naomi," sahut Anju dengan mengalihkan pandangannya dari Danesh.
Ya dia tau Danesh akan berpikiran. Jika dirinya hanya ingin melihat apa yang akan di lakukan Brian kepada Naomi dan memang benar. Rasa itu ada di hati Anju. Namun Anju masih menutupinya dan Danesh bukan Pria yang mudah percaya begitu saja.
Danesh tidak bicara lagi dan melanjutkan mengobati luka Anju. Karena mau dia mengorek sebanyak apapun. Anju tidak akan mengakui apa yang sebenarnya.
Danesh mengobati begitu lembut bahkan sekali-kali meniupnya. Danesh mengambil tangan Anju. Punggung tangan Anju juga terlihat terluka, mungkin ada yang menginjaknya. Danesh juga dengan lembut mengobati punggung tangan itu dan Anju menurut saja yang tidak protes dan banyak bicara lagi.
Anju terus melihat Danesh dengan kelembutan mengobati dirinya membuat Anju beberapa kali menelan salavinya yang memperhatikan Danesh dalam mengobatinya. Sampai Anju menunduk kembali saat Danesh melihat dirinya.
__ADS_1
"Terima kasih!" ucap Anju mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Danesh membuat Danesh juga melihat ke arah Anju.
"Terima kasih sudah menolongku," ucap Anju. Bagaimana pun dia harus berterima kasih dengan Danesh. Jika tidak ada Danesh. Dia juga tidak akan tau apa yang terjadi pada dirinya.
"Kamu bisa juga mengucapkan terima kasih?" tanya Danesh dengan alisnya yang terangkat.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Anju.
"Kamu seorang Dokter. Aku pikir Dokter berbeda," jawab Danesh yang lagi-lagi menyindir Anju.
"Dokter juga manusia dan aku juga bisa bicara mengucapkan terima kasih tanpa ketercuali," sahut Anju. Membuat Danesh menyunggingkan senyumnya.
"Apa ada yang salah dari ucapanku?" tanya anju yang melihat Danesh tersenyum. Anju jelas heran dengan hal itu m
"Jika Dokter manusia. Seharusnya tidak menolak untuk di obati dan tidak keras kepala," tegas Danesh yang membuat Anju tersenyum tipis.
"Ya sudah aku berterima kasih, sudah menolongku dan mengobati ku dan pergilah dari sini," usir Anju membuat Danesh melihat horor Anju.
"Mengusirku!" sahut Danesh dengan kepalanya yang terangkat.
"Jika aku tidak mau," sahut Danesh yang menantang.
"Danesh!" Pekik Anju dengan pelan.
"Jika pimpinan melihat ada kamu di sini. Aku bisa mendapat masalah. Ini ruangan khusus dan bukan ruangan Dokter pribadi. Jadi pergilah!" Anju memang tidak ingin mendapat masalah. Brian saja anak dari direksi rumah sakit pernah di tampar gara-gara Aliyah masuk ruangan itu dan Anju tidak ingin mendapatkan resiko itu.
"Danesh aku mohon!" pinta Anju.
"Kalau begitu ayo pulang!" ajak Danesh.
"Aku belum selesai bertugas," sahut Anju.
"Kau terluka dan harus istirahat," ucap Danesh.
"Aku Dokter di rumah sakit ini dan aku harus...."
__ADS_1
"Dokter juga manusia," sahut Danesh memotong pembicaraan tersebut yang membuat Anju menghela napasnya. Ya tadi Anju sendiri yang mengatakannya.
"Ayo!" ajak Danesh lagi.
"Baiklah," sahut Anju yang akhirnya menurut. Tidak tau kenapa dia harus menuruti apa yang di katakan Danesh. Ya mungkin memang itu yang terbaik. Lagian dia juga sangat lelah dan kondisinya bisa tidur baik-baik saja. Jika di paksakan bekerja.
************
Kebakaran di rumah sakit sudah bisa teratasi dan tidak ada yang terluka. Hanya Naomi. Karena Naomi berada di dalam ruangan tempat kebakaran. Selebihnya hanya mengalami masalah pada pernapasan saja.
Sekarang Naomi sudah berada di dalam ruang perawatan. Kondisinya sudah mulai membaik. Namun Naomi kembali tidak sadar. Tetapi sudah mendapatkan perawatan.
Brian yang duduk di samping Naomi dengan tangannya yang memegang tangan Naomi yang begitu khawatir pada Naomi. Tangannya terus mengusap-usap punggung tangan Naomi.
Rachel dan Aliyah ada di ruangan itu yang berdiri di belakang Brian yang juga turut prihatin dengan kondisi Naomi. Namun Aliyah sejak tadi hanya diam saja yang tetap memperhatikan Brian. Bahkan dirinya seperti sudah tidak di anggap lagi. Ketika Brian hanya fokus kepada Naomi saja.
"Brian bagaimana Naomi?" tiba-tiba Kayra memasuki ruangan itu dan melihat keadaan Naomi dengan kepanikannya. Karya sampai menyenggol Aliyah dan membuat Aliyah bergeser sedikit dan untuk tidak jadi.
"Ya ampun Naomi," Kayra menjadi kaget saat melihat Naomi yang tidak sadarkan diri.
Bukan hanya Kayra. Tetapi Davin juga suami Kayra ada di rumah sakit itu ketika mendengar rumah sakit itu mengalami sesuatu. Dan untunglah istri dan putranya tidak apa-apa. Tetapi Naomi yang celaka.
"Apa yang terjadi pada Naomi. Kenapa dia bisa sampai seperti ini?" tanya Davin yang juga khawatir
"Naomie berada di ruangan pusat kebakaran. Tempat itu meledak dan aku tidak tau bagaimana Naomi di dalam sana," sahut Brian.
"Ya ampun Naomi kasihan sekali kamu," Kayra menjadi takut dengan hal buruk yang terjadi pada Naomi.
"Ini semua salahku. Aku tidak bisa menjaganya," sahut Brian yang tetap menyalahkan dirinya.
"Makanya kamu jangan berantem dengan dengan Naomi. Kamu ini sih," sahut Kayra menyalahkan Brian.
"Dugaanku benar. Naomi memang ribut dengan Brian dan maknanya mereka beberapa hari ini jarang mengobrol," batin Rachel.
Namun Aliyah yang melihat situasi itu. Hanya melihat senduh, semakin tertampar dirinya. Jika dia tidak memiliki tempat di keluarga itu. Orang tua Brian yang sangat takut terjadi sesuatu pada Naomi, mencemaskan Naomi begitu berlebihan.
__ADS_1
Bersambung