
"Kamu seperti bukan seorang yang punya pendidikan. Kamu sama saja dengan berandalan di luar sana yang membuat onar," kecam Kayra dengan menunjuk tepat di wajah Brian.
"Lepas saja seragam Dokter kamu ini. Tidak ada gunanya status Dokter kamu. Jika etika dan atitude kamu semakin buruk," ucap Kayra.
"Jangan jadi Dokter dirumah sakit ini. Jika tidak bisa di beritahu. Jadi lepas semua ini!" Karya berusaha menarik almamater yang di pakai Brian. Brian hanya diam yang tidak bisa melawan atau membantah.
"Tante sudah," sahut Naomi yang menghentikan Kayra untuk menenangkan Kayra dengan apa yang di lakukan Kayra pas Brian.
"Tante ayo kita pergi! Tante harus tenang. Jangan seperti ini. Ini rumah sakit," Naomi yang tidak ingin Kayra semakin mengamuk dan Brian semakin malu. Lebih baik dia membawa Kayra yang masih penuh dengan emosi.
"Awas kamu ya," umpat Kayra dengan napasnya yang naik turun dan dibawa Naomi cepat-cepat pergi dari ruangan itu. Sebelum Kayra semakin menjadi-jadi.
Sisa perawat yang ada di sana juga langsung keluar. Rachel dan Anju saling melihat. Mereka bingung mau apa dan lebih baik pergi dan tinggal Brian yang sendirinya yang menghela napasnya kedepan perlahan.
Wajar Kayra malu dengan perbuatan Brian. Bisa-bisanya ada pasien yang masuk kedalam ruangan khusus tersebut dan itu adalah larangan. Dan tadi ada beberapa senior dan paling parahnya ada profesor Han. Jadi mau di taruh di mana wajah Kayra. Putranya lagi yang melakukan hal itu.
********
Sekarang Naomi duduk di atas meja di dalam ruangan Dokter tempat mereka tersebut dengan Brian yang duduk di depannya dengan kursi. Naomi yang mengkompres pipi Brian yang memerah akibat tamparan Kayra.
"Makanya kalau di kasih tau itu di dengarkan. Jangan banyak tingkah dan terus melawan. Kamu lihat Tante Kayra begitu marah dan juga pasti malu dengan Dokter lainnya. Jadi wajar kamu mendapatkan tamparan seperti tadi," ucap Naomi.
"Auhhhh, ihhhhhhh,"lirih Brian yang merasa perih pada pipinya yang di obati Kayra.
"Hanya seperti ini saja harus merengek," ucap Naomi dengan kesal.
"Tadi aja sok-sok an. Seharusnya jika tidak mau mendapatkan seperti ini. Dengarkan apa kata Tante Kayra," ucap Naomi.
"Kamu jangan kayak mamah ikut-ikutan memarahiku. Cukup mama saja mempermalukan ku tadi," ucap Brian.
"Kamu hanya di perlakuan dengan orang-orang yang dekat dengan kamu. Kalau bagaimana Tante Kayra tadi apa kamu tidak memikirkan dirinya yang harus bersikap seperti apa atas kelakuan anaknya yang kelewatan," tegas Naomi yang mengobati sembari mengoceh.
"Naomi aku juga tidak tau kalau Aliyah akan nekat masuk kedalam ruangan ini," sahut Brian mencari pembelaan.
"Makanya jangan mengatakan apa-apa kepadanya. Kamu itu di beri tahu keras kepala sekali. Tidak pernah mau mendengarkan siapa-siapa," ucap Naomi ikutan kesal.
"Iya-iya kamu jangan marah-marah terus. Sakit tau pipi aku!" Keluh Brian.
__ADS_1
"Syukurin," sahut Naomi kesal.
"Kamu itu belain mama terus," sahut Brian dengan cemberut.
"Aku hanya membela siapa yang benar dan kamu salah besar. Minta maaf secepatnya sama Tante Kayra. Dia sangat marah sampai emosinya tidak terkontrol. Kamu tidak boleh menyakiti perasaannya. Kamu masih punya seorang ibu. Jadi berbuat baiklah kepadanya jangan membuatnya kesal," ucap Naomi yang mulai ceramah membuat Brian menghela napasnya.
"Iya Naomi, aku tau dan aku akan minta maaf. Sudah ya jangan memarahiku lagi
Aku memang salah dan akan minta maaf pada mama," ucap Brian dengan lembut.
"Awas saja kalau tidak," sahut Naomi dengan kesal. Brian tersenyum melihat Naomi. Kalau soal ibu Naomi memang sangat tegas. Karena dia sudah kehilangan sosok tersebut dan Brian sangat paham dengan perasaan Naomi. Makanya Brian tidak protes dari pada Naomi nanti sedih.
"Makasih ya kamu sudah membawa mama pergi dan menenangkannya," ucap Brian.
"Jika tidak aku pasti habis di tangan mama," ucap Brian begitu lembut yang menatap Naomi sangat intens.
"Iya. Jangan melakukan itu lagi," ucap Naomi. Brian mengangguk.
"Masih sakit?" Tanya Naomi.
"Iya sangat sakit," sahut Brian mode manja.
"Merahnya sebentar lagi akan hilang dan tidak akan sakit lagi," ucap Naomi membuat Brian hanya diam dan terus menatap Naomi. Suara Naomi sangat lembut yang mampu membuat orang tertidur.
Naomi meniup pipi Brian dengan begitu lembut yang terlihat khawatir pada Brian dan Naomi juga memegang ujung bibir Brian semakin mendekatkan wajahnya dan bibirnya yang meniup ujung bibir itu agar sakitnya hilang.
Wajah mereka itu begitu dekat dengan jarak yang sedikit saja. Tiba-tiba Brian menelan salivanya yang merasa ada sesuatu padanya. Tidak tau kenapa dia merasa gugup dengan apa yang di lakukan Naomi yang padahal biasa. Tetapi kali ini terasa sangat berbeda dan memang keduanya tampak sangat intens.
Ceklek.
Pintu ruangan itu terbuka yang ternyata Anju yang masuk kedalam ruangan itu dan melihat Naomi dan Brian yang begitu intens. Menyadari ada orang yang masuk membuat Naomi melihat kearah tersebut.
"Anju!" sapa Naomi yang kembali menegakkan kepalanya.
"Hmmm aku hanya mengambil tas dan mau pulang langsung," sahut Anju yang buru-buru mengambil Tasya.
"Kalian belum pulang?" tanya Anju dengan basa-basi.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita akan pulang," jawab Naomi.
"Oh ya sudah kalau begitu aku pulang duluan," ucap Anju yang langsung pergi dengan menghela napasnya. Naomi hanyalah mengangguk saja.
"Masih sakit?" tanya Naomi pada Brian.
"Sakitnya lumayan hilang," jawab Brian.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita pulang!" ajak Naomi.
"Hmmm, ayo!" ajak Brian dan menurunkan Naomi dari atas meja dengan memegang pinggang Naomi dengan kedua tangganya.
"Ayo pulang!" ajak Brian.
"Oke!" sahut Naomi yang mengambil tasya dan langsung ingin pulang.
**********
Anju sampai ke Apartemennya dengan menekan kata sandi Apartemen tersebut dan Apartemen itu terbuka. Wajahnya yang kelihatan lesuh, kucel dan terlihat begitu lelah. Beberapa kali Anju membuang napas beratnya dan melangkah menuju kamarnya.
"Ada-ada saja kejadian hari ini. Aliyah yang seperti ini dan itu. Brian di tampar dan tadi apa sih mereka berdua. Masa Iya sedekat itu tidak ada perasaan apa-apa sangat tidak masuk akal," gumam Anju dengan geleng-geleng dan membuka pintu kamar.
Ceklek.
"Argggghhh!" Anju berteriak dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat kaget melihat Danesh yang bertelanjang dada di depannya yang hanyalah memakai handuk yang di lilit di pinggangnya.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Anju.
"Aku baru selesai mandi," jawab Danesh dengan apa adanya.
"Aku tau kau baru selesai mandi. Maksudku untuk apa kau ada di kamarku?" teriak Anju yang masih memejamkan matanya dan kesal dengan Danesh.
"Apa maksudnya ini kamarmu dan seharusnya aku yang bertanya kepadamu. Kenapa masuk kedalam kamarku," ucap Danesh.
"Jangan mengarang cerita. Ini jelas kamarku dan kau cepat keluar dari kamar ku!" usir Anju.
"Buka matamu dan lihat ini kamar siapa!" sahut Danesh dengan santai. Anju yang kepikiran membuka matanya sebelah dengan sipit.
__ADS_1
"Gunakan pakaian mu!" titah Anju. Danesh menghela napas dan mengambil bathrobe yang memakainya begitu saja. Dia juga heran dengan Anju yang masuk
Bersambung