
"Brian papa pergi," ucap Davin.
Brian menganggukkan kepalanya, " iya pah hati-hati," sahut Brian yang juga mencium punggung tangan Davin.
"Anju Om duluan!" Davin juga berpamitan pada Anju.
"Iya Om hati-hati," ucap Anju dengan tersenyum. Lalu Davin langsung pergi meninggalkan ruangan Naomi.
"Hmmm, Naomi kamu istirahat ya. Tante mau keruangan dulu sebentar ada pekerjaan yang harus Tante kerjakan," ucap Kayra yang juga harus pamit.
"Iya Tante, makasih sudah temani Naomi," sahut Naomi dengan menganggukkan kepalanya.
"Iya kamu jangan mikir apa-apa ya dan langsung saja istirahat," ucap Kayra memberi saran.
"Iya Tante," sahut Naomi dengan menganggukkan kepalanya.
"Anju saya duluan ya," Kayra juga berpamitan pada Anju. Anju menganggukkan kepalanya dan Kayra langsung pergi. Dia sudah selesai memberi Naomi makan dan selebihnya ada Brian. Jadi Kayra bisa melanjutkan pekerjaannya.
"Kamu sudah baik-baik aja kan Naomi?" tanya Anju.
"Iya Anju, aku sudah enakan kok dan sudah tidak apa-apa," jawab Naomi dengan tersenyum yang merasa jauh lebih baik.
"Oh iya. Kenapa Aliyah tidak datang juga?" tanya Naomi yang masih aja kepikiran dengan Aliyah.
"Aku juga nggak tau kenapa Aliyah tidak datang sampai sekarang. Mungkin saja masih di toilet," jawab Anju yang menduga-duga saja. Dia juga heran kenapa Aliyah tidak datang ya mungkin memang Aliya masih di toilet. Dia hanya berpikiran positif saja.
"Aku juga tidak melihat Aliyah sejak kejadian kebakaran itu apa dia baik-baik saja," batin Brian yang terlihat kepikiran. Dia sibuk dengan Naomi sampai melupakan Aliyah dan padahal sebelumnya Brian tau kondisi Aliyah kurang baik.
"Aneh sekali. Lama sekali di toilet," ucap Naomi yang masih kepikiran.
"Sudahlah Naomi, nanti juga Aliyah datang kamu jangan berpikiran aneh. Ingat kata mama tadi," ucap Brian.
"Benar Naomi, sebentar lagi Aliyah juga pasti datang," sahut Anju yang juga sependapat dengan Brian.
Naomi menganggukkan kepalanya yang hanya berharap seperti itu.
"Ya sudah Brian, Anju. Kalau kalian mau bertugas ya bertugas saja. Aku tidak apa-apa sendirian di sini aku juga sudah baik-baik saja," ucap Naomi yang tidak ingin merepotkan Anju dan Brian.
"Bisa-bisanya kamu mengusir kami Naomi," sahut Brian dengan menaikkan alisnya.
__ADS_1
"Bukan begitu Brian. Kalian Dokter dan banyak pasien yang membutuhkan kalian dan aku tidak apa-apa," ucap Naomi memberikan alasannya.
"Kamu juga pasien Naomi," sahut Anju m
"Iya. Tapi aku sudah tidak apa-apa dan aku Dokter aku bisa mengontrol diriku sendiri," sahut Naomi.
"Sudah kalian jangan memikirkan ku aku sungguh sudah baik-baik saja. Bertugas lah," ucap Naomi yang tidak ingin merepotkan Anju dan juga Brian.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahatlah. Aku juga ada operasi pagi ini," sahut Brian berdiri dari tempat duduknya.
"Ya sudah Naomi aku juga harus cek pasien lainnya. Kamu istirahat ya," ucap Anju. Naomi menganggukkan kepalanya.
"Makasih ya," sahut Naomi.
"Kami keluar ya. Ada apa-apa kamu panggil kami," ucap anju. Naomi mengangguk kepalanya.
Anju dan Brian pun meninggalkan kamar Naomi dan membiarkan Naomi untuk beristirahat.
"Brian!" panggil Anju yang ketika mereka sudah berada di luar kamar Naomi.
"Ada apa?" tanya Brian.
"Bisa bicara sebentar?" tanya Anju.
"Ya bisa di katakan lumayan penting. Tapi jika kamu ada waktu saja dan aku tidak memaksamu," sahut Anju.
Brian melihat arloji di tangannya, "baiklah bicaralah. Aku masih ada waktu untuk keruang operasi," ucap Brian setelah memastikan jadwalnya.
"Jangan di sini ya!" ucap Anju.
"Kenapa?" tanya Brian.
"Tidak enak bicara di jalan," jawab Aliyah.
"Lalu di mana?" tanya Brian.
"Ikut denganku," sahut Anju.
"Oke!" sahut Brian yang tidak masalah. Jika Anju ingin bicara di mana. Yang penting cepat. Karena Brian juga akan ada operasi setelah itu.
__ADS_1
************
Akhirnya Brian dan Anju berbicara di luar rumah sakit yang memang tidak terlalu banyak orang, hanya ada orang-orang yang lalu lalang yang jauh dari tempat mereka berdua berdiri.
"Ada apa Anju. Kenapa mengajakku untuk bicara di sini? Dan sepertinya serius sekali?" tanya Brian heran.
"Brian maaf. Jika aku terlalu ikut campur. Namun ini membuatku kepikiran terganggu dan aku harus menyampaikan ini," ucap Anju.
"Apa itu?" tanya Brian yang penasaran pada apa yang di sampaikan Anju.
"Masalah hubungan kamu dengan Aliyah," jawab Anju yang memang memikirkan hal itu. Mendengar nama Aliyah dan Brian sudah tau ujung pembicaraan itu membuat Brian menjadi datar dan menghela napasnya.
"Terserah kamu mau berpikir apa. Jika aku kembali mengingatkan mu. Aku hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Aliyah dan akhirnya kamu bisa menyesal dan akan banyak yang tersakiti lagi. Aku mengatakan seperti tidak ada kaitannya dengan aku yang menikah," ucap Anju yang berbicara apa adanya.
"Kita sama-sama tau bagaimana keadaan Aliyah dan aku sangat berharap untuk kali ini kamu paham. Jika tidak menyukainya maka hentikan dan jika menyukainya jangan membuatnya menunggumu," ucap Anju. Brain memejamkan matanya dengan menghela napasnya.
"Aku berbicara seperti ini. Karena kamu sahabatku Brian dan kita berdua sudah tidak ada hubungan special. Jadi aku mengingatkan mu sebagai sahabat," lanjut Anju lagi.
"Brian hanya kamu yang tau apa yang sebenarnya ada di hati kamu. Hari kamu adalah milik kamu dan perasaan kamu adalah keinginan kamu. Aku tidak berhak untuk mengetahui lebih banyak lagi. Tetapi aku sangat berharap. Kamu mengerti dengan semua situasi ini. Situasi yang tidak biasa di hadapi Dan kamu bisa mempertimbangkan banyak hal untuk semua ini, agar tidak ada yang menjadi korban," Anju terus memberikan kata-kata untuk Brian dengan tenang dan lembut dan tanpa ada emosi.
Brian hanya mendengarkan dan tidak menyangkal apa yang di katakan Anju. Mungkin Brian sudah mulai berada di dalam situasi yang sulit dengan semua yang di hadapinya dan juga terlibat masalah dengan Aliyah.
"Baiklah Brian aku hanya mengatakan itu saja. Aku tidak ingin berbicara banyak. Karena kamu tau apa maksud ku. Aku permisi!" ucap Anju yang langsung pergi tanpa mendengar respon dari Brian.
Brian membuang napasnya perlahan kedepan mengusap mulutnya dengan tangannya.
"Kenapa masalahnya jadi seruyem ini," umpatnya yang mulai sadar. Jika semua yang di hadapinya sekarang bukan main-main lagi.
"Aku harus menyelesaikan semuanya," batin Brian yang sudah serius dan tidak bisa menganggap semua main-main lagi.
*************
Karya berada di kamar mandi yang mencuci tangannya di wastafel. Namun Aliyah tiba-tiba keluar dari salah satu toilet dan bertemu dengan Kayra. Aliyah diam sejenak di depan pintu. Aliyah menghela napasnya dan ikut mencuci tangan di samping Kayra.
Tidak ada siapa-siapa di toilet itu selain Meraka berdua. Tidak ada yang bicara dan diam seperti orang asing. Aliyah pasti sedih. Karena jika itu Naomi akan lain lagi ceritanya. Mungkin Kayra tidak akan sedingin ini kepada Aliyah.
Selesai mencuci tangannya. Karya mematikan keran dan mengambil tisu dan melap tangannya. Tetap tidak mengeluarkan suaranya dan Kayra langsung pergi.
"Apa Tante membenciku?" tanya Aliyah yang membuat langkah Kayra tiba-tiba terhenti.
__ADS_1
"Maaf Dokter!" Aliyah melarat kata-katanya. Ya dia pernah di tegur karena panggilannya kepada Kayra.
Bersambung