
Aliyah dan Brian pun pergi ke ruang tamu untuk mereka sarapan bersama. Sarapan yang di bawakan Aliyah pada mereka.
"Mama kamu sangat dekat dengan Dokter Naomi?" tanya Aliyah dengan basa-basi.
"Ya begitulah. Tadi malam aja. Mama maksa untuk datang kemari. Saat aku memberitahu kalau Naomi sedang sakit. Aku langsung mencegah. Kalau tidak mama benar-benar mama akan datang. Makanya pagi ini mama datang langsung," ucap Brian yang sembari makan menjelaskan pada Aliyah. Apa yang di katakan Brian apa adanya dan tidak melebih-lebihkan atau mengurangi apapun.
"Sesuai dengan apa yang kamu ceritakan. Jika Dokter Naomi bagian dari keluarga kalian," sahut Aliyah yang tersenyum.
"Kamu benar Aliyah. Naomi tidak memiliki siapa-siapa. Mama dan papa sangat mencintainya, sangat menyayanginya," sahut Brian dengan tersenyum pada Aliyah.
"Lalu bagaimana dengan kamu?" tanya Aliyah. Tidak tau kenapa dia harus bertanya hal itu pada Brian.
"Aku," sahut Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya.
"Aku kenapa?" tanya Brian.
"Ya sayang apa tidak?" tanya Aliyah.
"Pada Naomi?" tanya Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya.
"Aku sangat menyayanginya," jawab Brian yang apa adanya.
Bicara tanpa ragu dan penuh keyakinan. Namun terlihat Aliyah yang tiba-tiba terdiam. Jantungnya berdebar dengan kencang. Entah mengapa perkataan Brian yang mungkin sebenarnya biasa saja. Karena dia tau hubungan Naomi dan Brian seperti apa. Tetapi tiba-tiba ada perasaan yang aneh baginya.
Seperti rasa cemburu dan tidak sanggup mendengar kata-kata Brian yang menyayangi Naomi.
"Naomi bukan hanya sahabat ku saja. Namun sudah seperti adikku sendiri dan berusaha selalu ada di dekatnya," lanjut Brian lagi sembari mengunyah makanan.
"Iya kamu benar. Aku melihat hal itu. Kamu begitu tulus kepadanya," sahut Aliyah dengan tersenyum getir yang berusaha untuk tenang dengan apa yang katakan Brian.
"Lalu bagaimana dengan aku Brian. Apa perasaan kamu kepadaku?" Aliyah hanya bertanya di dalam hatinya yang tidak berani bertanya langsung pada Brian.
"Kamu tidak sarapan?" tanya Brian.
"Sudah tadi. Kamu makanlah. Aku membawakan untuk kamu dan Dokter Naomi," jawab Aliyah yang masih tersenyum.
"Makasih Aliyah," sahut Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya dengan menghela napasnya.
"Brian!" tiba-tiba Kayra datang dan memanggil putranya itu.
"Iya mah," jawab Brian.
"Kamu jangan kebanyakan ngobrol. Cepat kamu tebus obat Naomi!" titah Kayra dengan tegas.
"Baik mah," sahut Brian dengan mengangguk.
__ADS_1
"Aliyah aku tinggal sebentar ya. Kamu bisa masuk dan lihat Naomi," ucap Brian.
"Iya," sahut Aliyah. Brian langsung berdiri dan pergi secepatnya.
"Dokter!" sapa Aliyah yang menunduk. Sekarang Aliyah terlihat mulai sungkan dengan Kayra. Tidak seperti dulu lagi yang cengengesan terhadap Kayra. Mungkin sekarang sudah terasa bagi Aliyah dengan melihat sikap Kayra kepadanya sangat berbeda pada Aliyah.
"Saya boleh melihat Dokter Naomi?" tanya Aliyah dengan hati-hati.
"Silahkan. Tapi jangan lama-lama. Naomi butuh istirahat agar kondisi baik-baik saja," jawab Kayra yang tampak ketus.
"Iya Dokter," sahut Aliyah dengan menundukkan kepalanya dan langsung pergi dari hadapan Kayra.
"Tante Kayra sepertinya tidak menyukaiku. Apa yang salah dalam diriku. Apa karena waktu itu dan apa itu juga alasan Brian tidak ingin memperkenalkan aku dan Tante Kayra dengan intens," batin Aliyah yang mulai merasa tidak di sukai dan Aliyah langsung pergi memasuki kamar Naomi.
Sementara Kayra hanya menghela napas yang geleng-geleng kepala melihat Aliyah.
"Masih saja Brian. Kamu benar-benar tidak pernah mendengarkan mama dan Iya terserah kamu. Semakin di larang kamu akan semakin sulit untuk di beritahu. Jadi kamu sudah dewasa, semoga kamu bijak dalam, menyelesaikan semuanya," batin Kayra yang pasrah dengan Brian.
*********
"Makasih ya Aliyah, Kamu sudah menjenguk saya," sahut Naomi yang bersandar pada kepala ranjang dan Naomi duduk di sampingnya.
"Iya Dokter. Saya senang kok bisa menjenguk Dokter. Kapan lagi saya bisa main-main ke Apartemen Dokter dan ini suatu kehormatan bagi saya," ucap Aliyah dengan tersenyum.
"Tapi saya sudah merepotkan kamu," ucap Naomi yang merasa tidak enak pada Aliyah.
"Iya pasti," sahut Naomi dengan tersenyum.
Aliyah tersenyum dan melihat sekitar kamar Naomi. Namun matanya berhenti pada suatu titik yang berada di atas meja.
"Apa ini Dokter?" tanya Aliyah.
"Itu album foto," sahut Naomi.
"Saya boleh melihatnya?" tanya Aliyah.
"Silahkan," sahut Naomi. Aliyah tersenyum dan langsung melihat album tersebut. Ternyata album yang berisi foto-foto 2 anak kecil.
"Ini Dokter?" tanya Aliyah menunjukkan pada Naomi.
"Iya itu saya. Saat berusia 9 tahun," jawab Naomi.
"Lalu siapa Pria ini?" tanya Aliyah.
"Itu Dokter Brian," jawab Naomi.
__ADS_1
"Ohhhh, dari kecil sudah tampan," sahut Aliyah.
"Ya begitulah," sahut Naomi dengan tersenyum.
Aliyah kembali membuka-buka album tersebut dan album itu penuh dengan foto-foto Brian dan Naomi yang terlihat dekat.
"Dokter 1 sekolah juga dengan Brian?" tanya Aliyah.
"Iya aku sama Brian satu sekolah sewaktu kami SMP. Setelah SMA sekolah kami berbeda. Tetapi kamu satu arah. Jadi kami sering pergi bersama. Dokter Brian 1 sekolah dengan Dokter Anju," jelas Naomi sedikit.
"Oh benarkah. Apa mereka mulai dekatnya saat SMA? tanya Aliyah.
"Mungkin," jawab Naomi.
"Dokter Naomi dan Dokter Brian memang sangat dekat," ucap Aliyah yang terus melihat foto-foto tersebut.
Semakin dewasa Brian dan Naomi foto-foto itu semakin mesra. Tadinya terlihat adik dan kakak. Namun sekarang terlihat seperti pasangan kekasih dan entah mengapa Aliya merasa cemburu dengan melihat foto-foto itu.
"Kamu sarapan Aliyah?" tanya Naomi.
"Sudah Dokter," jawab Aliyah dengan tersenyum.
"Hmmm, oh iya Dokter aku melihat. Di album ini hanya khusus foto-foto Dokter dan Brian. Apa kekasih Dokter dan Dokter Brian tidak marah saat berfoto seperti ini?" tanya Aliyah dengan hati-hati.
"Marah! sahut Naomi heran. Aliyah menganggukkan kepalanya.
"Apa yang harus di marah kan?" Naomi kembali bertanya.
"Oh iya ya. Karena Brian dan Dokter Naomi adalah teman dekat. Jadi hal seperti ini wajar-wajar saja," ucap Aliyah yang menjawab sendiri sembari tertawa-tawa seperti menghibur dirinya sendiri. Naomi hanya mengangguk saja. Namun Aliyah sendiri terlihat dari wajahnya. Jika dia tidak baik-baik saja.
Semakin melihat foto-foto itu. Semakin perasannya tidak tenang, terasa begitu sesak. Cemburu jelas iya. Tetapi apakah dia punya hak untuk cemburu. Karena Brian dan bukan siapa-siapanya. Statusnya masih di gantung oleh Brian.
Krekkk.
Pintu kamar terbuka yang membuat Aliyah dan Naomi melihat ke arah pintu yang ternyata Brian yang sudah datang.
"Kalian membicarakan apa?" tanya Brian yang menghampiri Naomi.
"Tidak ada yang membicarakan mu Brian," sahut Naomi.
"Tapi kenapa telingaku bergerak-gerak seperti aku sedang di bicarakan," ucap Brian.
"Itu hanya perasaan kamu saja. Karena pada kenyataannya. Tidak ada yang membicarakan mu. Aku dan Aliyah hanyalah membicarakan masalah pribadi kami saja," sahut Naomi dengan tersenyum kepada Brian.
"Benarkah!" Naomi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu kamu harus minum obat. Ini sudah waktunya untuk minum obat," ucap Brian yang duduk di samping di sebelah kanan Naomi. Sementara Aliyah duduk di samping kanan Naomi.
Bersambung