Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 44 sayangnya Kayra.


__ADS_3

"Hanya masalah mama menyuruh Danesh menjemputnya kerumah sakit. Langsung marah pada mama," sahut Anna yang mengadu pada suaminya itu.


"Bukan begitu mah," sahut Anju yang membela dirinya.


"Lalu apa?" sahut Anna.


"Sudah-sudah jangan membahas hal itu lagi. Jangan memperbesar masalah yang tidak seharusnya di bahas. Anju kamu itu sudah menikah dan Danesh suami kamu. Papa minta sama kamu untuk menghargainya. Jangan mempermasalahkan hal kecil. Dan kamu juga ingat. Jika Danesh adalah masa depan kamu dan Brian sudah tidak adalagi dalam hidup kamu. Jadi jangan berharap apa-apa pada Brian," tegas Athar.


"Kenapa jadi bahas Brian sih pah. Ini tidak ada sangkut pautnya dengan Brian," sahut Anju.


"Karena papa tau. Kamu belum sepenuhnya bisa melupakan Brian. Kamu ingat kamu seorang istri dan bagaimana jika suami kamu juga tidak bisa melupakan masa lalunya. Jadi bersikaplah dengan baik," ucap Athar dengan tegas.


"Iya pah. Tapi Anju tidak marah sama mama. Anju hanya tidak ingin merepotkan Danesh pah," sahut Anju membela memberikan alasan.


"Merepotkan atau tidak sebagai suami istri kalian berdua sangat wajar untuk saling merepotkan," sahut Athar.


Anju menganggukkan kepalanya apa yang di katakan Athar memang benar. Dia sudah menikah dan sangat tidak pantas untuk memperbesarkan masalah pada suatu hal yang tidak penting.


"Sudah-sudah ini kamu makan dulu. Jangan mempermasalahkan hal yang tidak seharusnya di permasalahkan," sahut Anna memberikan Anju nasi goreng. Anju menganggukkan kepalanya dan memakan masakan namanya itu.


"Anju kapan-kapan ajak Danesh main kerumah kita," sahut Athar.


"Iya pah," jawab Anna dengan mengangguk saja.


**********


Aliyah hari ini tidak kerumah sakit. Namun masih pagi-pagi sekali. Aliyah sudah berada di salah satu gedung Apartemen. Apartemen Naomi. Setelah turun dari Taxi. Aliyah langsung berjalan di koridor-koridor Apartemen dengan membawa banyak kantin yang di pegangnya sejak tadi.


"Semoga saja Dokter Naomi suka dengan makanan yang aku bawa. Dan aku juga membawa untuk Brian," ucapnya dengan tersenyum yang tampak semangat.


Aliyah pagi-pagi sudah menghubungi Brian. Dia hanya bertanya apa Brian sudah bangun apa belum. Namun pembicaraan mereka jadi panjang dengan Brian yang mengatakan dia berada di Apartemen Naomi.


Lalu Aliyah meminta izin untuk ke gedung Apartemen Naomi untuk menjenguk Naomi. Awalnya Brian menolak. Tetapi akhirnya Brian mengijinkan Naomi setelah Naomi memaksa untuk ke Apartemen Naomi. Aliyah pasti memaksa Brian untuk kemauannya dan Brian yang tidur ingin repot mau tidak mau harus menuruti Aliyah.


Aliyah sudah berada di depan Apartemen Naomi. Alamat yang sudah di berikan Brian dengan lengkap.


"Ini bukan ya alamat Dokter Naomi," gumamnya yang tampak ragu.


"Hmmm iya pasti ini," Aliyah langsung memencet bel Apartemen.


Tidak lama pintu terbuka dan Brian yang membukanya.


"Aliyah!" gumam Brian membuat Aliyah tersenyum.


"Kamu benar jadi datang," ucap Brian.


"Aku bilang aku datang maka akan datang," sahut Aliyah.


"Ya sudah ayo masuk!" ajak Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya dan langsung masuk.

__ADS_1


"Di mana Dokter Naomi?" tanya Aliyah.


"Ada di kamar. Kamu mau melihat?" tanya Brian.


"Iya, aku datang kemari hanya untuk melihatnya," jawab Aliyah.


"Ya sudah ayo!" ajak Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya dan mengikuti Brian.


Pintu kamar Naomi terbuka dan membuat Aliyah melihat ke dalam. Ternyata Naomi tidak sendiri ada wanita yang duduk di sampingnya dan seperti menyuapi Naomi makan.


"Siapa itu?" tanya Naomi pelan.


"Mama!" jawab Brian.


Kayra memang pagi-pagi sekali langsung datang ke Apartemen Naomi untuk melihat ke adaan Naomi.


Naomi yang sekarang di suapi bubur oleh Kayra tiba-tiba melihat Aliyah..


"Aliyah!" sahut Naomi yang membuat Kayra heran dan langsung melihat kebelakang. Dia melihat gadis yang pernah di nasehatinya berdiri di depan pintu dan tersenyum pada Kayra.


Namun Kayra tampak datar yang kembali menyuapi Kayra tidak tersenyum atau basa-basi dengan Aliyah.


"Ayo masuk!" titah Brian pada Aliyah. Aliyah mengangguk dengan senyum tipis .


"Dokter Naomi," sapa Aliyah. Naomi tersenyum.


"Dokter Kayra!" Aliyah juga menyapa Kayra. Namun Kayra tampak cuek dan hanya diam. Aliyah hanya mengukir senyum tipis. Dia mulai sadar jika Kayra tidak menyukainya.


"Iya Aliyah saya baik-baik saja. Kamu kenapa bisa ada di sini?" tanya Naomi.


"Aku yang memberitahunya dan dia ngotot untuk datang kemari," sahut Brian yang mengambil alih untuk menjawab.


"Ya ampun Aliyah. Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot," sahut Naomi merasa tidak enak.


"Siapa yang repot Dokter. Justru saya senang bisa melihat keadaan Dokter," sahut Aliyah.


"Tapi saya tidak enak sama kamu. Saya hanya datang bulan saja dan kamu tidak perlu serepot ini," ucap Naomi.


"Tidak apa-apa Naomi. Dia juga sudah datang dan lagian aku juga tadi sudah mengatakan seperti itu. Tetapi dia memaksa," sahut Brian.


"Iya Dokter saya merasa tidak di repotkan kok dan ini saya membawa makanan untuk Dokter," ucap Aliyah memberikan kantung paper bag yang di bawanya.


"Aku juga membawakan untuk kamu," sahut Aliya pada Brian.


"Makasih," sahut Brian.


"Aliyah saya jadi semakin tidak enak," sahut Naomi.


"Tidak perlu sungkan Dokter," sahut Aliyah.

__ADS_1


"Tidak kok Dok....."


"Naomi kamu jangan bicara terus. Ayo makan lagi," ucap Kayra dengan datar yang memotong Aliyah yang tidak sempat melanjutkan kalimatnya. Aliyah hanya diam dengan menelan salivanya saat Kayra bersikap seperti itu kepadanya.


"Ayo di makan!" titah Kayra. Naomi menganggukkan kepalanya.


"Hmmm, Aliyah ayo kita keluar. Biar Naomi sarapan dulu. Aku juga mau sarapan," sahut Brian yang mengalihkan situasi canggung itu.


"Iya. Ayo!" sahut Aliyah yang memang lebih baik keluar dan tidak mengganggu Naomi dan Kayra.


"Dokter saya keluar sebentar ya," ucap Aliya. Naomi mengangguk.


"Mah aku ke ruang tamu dulu," ucap Brian.


"Jangan lama-lama sarapannya. Ingat tebus obat Naomi. Dia harus minum obat setelah ini," ucap Kayra dengan tegas dan dengan suara dinginnya.


"Iya mah," sahut Brian.


Aliyah mendengar hal itu tiba-tiba sendu. Seperti tidak di terima Kayra dirinya di tempat itu. Dia juga tidak tau kalau Kayra ada di Apartemen Naomi.


"Ayo Aliyah!" ajak Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya dan mereka langsung keluar dari kamar Naomi.


"Kamu makan lagi. Jangan banyak bicara," ucap Kayra menegaskan.


"Tante kenapa wajahnya segalak itu. Naomi jadi takut," ucap Naomi.


"Jika Tante tidak galak. Kamu tidak akan mendengarkan Tante. Jadi Tante harus galak pada kamu," tegas Kayra.


"Iya Dokter galak," sahut Naomi.


"Tante tidak bercanda Naomi," sahut Kayra.


"Iya Tante," sahut Naomi tersenyum.


"Tante makasih ya. Sudah mau jenguk Naomi, Bawak Naomi bubur," ucap Naomi.


"Jika bukan Tante. Lalu siapa yang akan melakukannya," sahut Kayra.


"Tante baik sekali, sama seperti mama Naomi," ucap Naomi jadi terharu.


"Tante memang pengganti ibu kamu dan sudah menjadi tanggung jawab Tante untuk kamu. Itu juga janji Tante pada almarhum ibu kamu," ucap Aliyah.


"Dan ibu Naomi sangat bahagia di surga yang melihat anaknya bersama orang yang tepat dan di sayangi," ucap Naomi.


"Iya dan kamu juga harus dengar omongan Tante. Jangan bandel-bandel," tegas Kayra.


"Sip Tante," sahut Naomi dengan tersenyum.


"Sudah makan lagi," tegas Kayra. Naomi menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2