
Aliyah hari ini kerumah sakit. Setelah merasa lebih baik dia memang sudah pulang kerumah beberapa hari. Namun Brian tidak pernah melihatnya atau datang kerumahnya. Padahal Brian sudah berjanji lewat telpon. Jika dia akan mampir untuk berkunjung kerumah Aliya. Namun Brian tidak pernah datang kerumahnya.
Aliyah yang turun dari mobil seperti biasa membawa paper bag yang pasti berisi makanan untuk Brian. Makanan itu tidak akan pernah absen.
"Pasti Brian sibuk sekali sampai tidak bisa menemuiku. Tidak apa-apa aku yang kerumah sakit. Aku tidak mungkin memaksa Brian untuk menemuiku," gumamnya yang memahami profesi Brian yang pasti sangat sibuk dan Aliyah harus terbiasa dengan hal itu.
Saat kaki Aliyah ingin melangkah. Tiba-tiba saja Aliyah melihat Kayra yang turun dari mobil.
"Itu bukannya namanya Brian. Iya itu Tante Kayra seorang Dokter yang juga mama Brian," Aliyah tersenyum dan langsung menghampiri Kayra.
"Tante!" sapa Aliyah dengan ramah yang membuat Kayra menghentikan langkahnya dan sangat mengingat siapa wanita yang memanggilnya itu. Wanita yang membuat dirinya malu dan sekarang senyum cengengesan di depannya seolah tampak tidak berdosa.
Wajah Kayra terlihat datar melihat wajah Aliyah. Seperti tidak menyukai Aliyah. Atau karena Aliyah yang sudah membuat dirinya malu dan makanya melihat Aliya dengan tatapan seperti itu.
"Tante!" sapa Aliyah sekali lagi. Karena Kayra diam saja menatap dirinya.
"Kamu siapa?" tanya Kayra dengan suara beratnya.
Bertanya seperti itu membuat wajah Aliyah mendadak datar dan bahkan seperti orang bingung.
"Tante tidak mengingat saya?" tanya Aliyah. Kayra hanya diam dengan menunjukkan wajah datarnya.
"Tante saya ini pasien Kamar rawat 07," ucap Aliyah yang masih tersenyum pada Kayra.
"Kamu tau saya Dokter?" tanya Kayra. Aliyah menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Dan kamu kamu tau ini di mana?" tanya Kayra lagi. Aliyah kembali menganggukkan kepalanya.
"Kalau kamu seorang pasien. Tolong jaga panggilan kamu dan kamu tidak seharusnya memanggil saya dengan ucapan yang seperti tadi," ucap Kayra dengan apa adanya yang membuat Naomi terdiam dengan kata-kata Kayra.
"Kamu terlihat tidak sopan dalam menyapa seseorang," lanjut Kayra lebih kejam lagi bicara.
Perkataan itu sangat ringan. Namun membuat Aliyah diam dan sepertinya kata-kata itu lumayan menusuk bagi Aliyah sampai tidak bisa bicara lagi.
"Kamu tau arti kata sopan kan?" tanya Kayra. Aliyah mengangguk dengan pelan.
"Bagus kalau kamu mengerti," sahut Kayra.
__ADS_1
"Maaf Dokter," ucap Aliyah tertunduk malu. Dia baru memanggil Kayra dengan sebutan Dokter dan bukan Tante lagi.
"Tapi Dokter, saya bukan pasien lagi. Saya sudah pulang," sahut Aliyah kembali mengangkat kepalanya. Ternyata dia masih mencari pembelaan.
"Begitu rupanya! Lalu untuk apa kamu ada di sini?" tanya Kayra semakin sinis pada Aliyah.
"Saya ingin menemui Brian," jawab Aliyah dengan jujur.
Hal itu membuat Naomi tersenyum mendengus kasar
"Kamu memanggil namanya dengan mudah dan tidak dengan profesinya. Apa kah kalian punya hubungan special lebih dari pasien dan dokter?" tanya Kayra dengan melihat penuh selidik Aliyah.
"Aku rasa iya Tante, eh maaf Dokter," sahut Aliyah dengan percaya dirinya dan kembali cengengesan.
"Kenapa kamu bisa mengatakan hal seperti itu?" tanya Kayra.
"Karena Brian sangat dekat denganku dan hubungan kami juga pasti special. Dia selalu ada untukku dan membuatku sangat nyaman," Aliyah tidak malu mengungkapkan perasaanya pada Kayra yang padahal sejak tadi Kayra menunjukkan wajah garangnya pada Aliyah. Namun Aliyah tidak takut sama sekali dengan Kayra.
"Kamu yang punya perasaan seperti itu. Lalu apa Brian iya," sahut Kayra.
"Aliyah. Sebaiknya jangan membuang waktu untuk hal yang tidak penting. Brian bukan seseorang yang sesuai dengan apa yang menurut kamu dan telinga saya sudah sangat sering mendengar kata-kata ini dari berbagai macam wanita. Jadi sebaiknya kamu itu berpikir saja untuk kesehatan kamu dan jangan membuang kehidupan kamu untuk hal yang tidak penting," ucap Kayra dengan penuh penegasan yang bicara apa adanya kepada Aliyah.
Dia bahkan tidak membela Brian atau membanggakan Brian. Dia jujur seperti apa putranya itu.
"Saya bicara seperti ini. Bukan karena membenci atau tidak menyukai kamu. Tetapi saya bicara seperti ini. Karena saya sangat mengenal siapa anak saya dan makanya mulut saya bisa mengatakan seperti ini," ucap Kayra yang bicara dengan sejelas-jelasnya pada Aliyah.
Aliyah diam yang hanya mendengar apa yang di katakan Kayra. Tanpa protes atau apapun.
"Baiklah saya rasa cukup dengan apa yang saya katakan. Semoga kamu paham dan tidak membuang waktu kamu lagi," ucap Kayra tidak bicara banyak lagi dan Kayra langsung meninggalkan tempat itu.
Aliyah hanya diam di tempatnya dengan penuh kebingungan.
"Kenapa mamanya Brian mengatakan seperti itu. Mamanya memang terlihat sangat ketus. Aku tau itu," gumam Aliyah
"Arghhh sudahlah mungkin karena kami belum saling mengenal saja dan makanya mamanya Brian bicara seperti itu. Aku yakin. Jika kami saling mengenal dia tidak akan begitu kepadaku," ucap Naomi yang mencoba berpikir positif.
Apa yang di kataka Kayra ternyata tidak berpengaruh apa-apa kepadanya dalam mengejar Brian. Padahal perkataan Kayra sudah sangat jelas. Namanya orang yang jatuh cinta dan mana mungkin bisa mendengarkan hal-hal seperti itu.
__ADS_1
*********
Aliyah masih di rumah sakit dan ternyata masih mencari Brian. Karena sejak tadi tidak menemukan Brian. Aliyah mencari-cari di koridor rumah sakit melihat di sekitarnya. Namun tetap dia tidak menemukan Brian.
"Kenapa sejak tadi aku tidak melihatnya? Di mana yah dia. Apa ada diruangannya?" Aliyah bertanya sembari kepalanya yang tetao melihat-lihat di sekelilingnya.
"Jika diruangannya aku tidak mungkin ke sana. Pasti dia akan marah. Tapi bagaimana caranya aku menemuinya ya," Aliyah menjadi galau sendiri yang tidak bisa menemukan Brian. Dia juga sudah menelpon tetapi Brian tidak mengangkat telponnya.
"Aliyah!" tegur Rachel yang melihat Aliyah celinguk celinguk.
"Dokter Rachel," sahut Aliyah.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rachel bingung dengan Aliyah yang juga kebingungan.
"Saya ingin menemui Dokter Brian," jawab Aliyah dengan apa adanya.
"Brian!" sahut Rachel. Aliyah menganggukkan kepalanya.
"Dokter tau tidak Dokter Brian ada di mana?" tanya Aliyah.
"Tadi sih aku lihat lagi keluar bersama dengan Dokter Naomi," jawab Rachel apa adanya. Sebelumnya dia memang melihat Brian dan Naomi keluar.
"Dokter Naomi," sahut Aliyah. Rachel menganggukan kepalanya yang memang apa adanya.
"Mereka kemana?" tanya Aliyah yang kelihatan penasaran.
"Saya nggak tau juga sih. Tapi coba kamu telpon Dokter Brian," ucap Rachel memberikan saran.
"Saya sudah menghubunginya sejak tadi dan tidak di angkat," jawab Aliyah. Dia sudah lelah menghubungi Brian. Namun tidak ada respon sama sekali.
"Nggak heran sih. Brian itu memang kalau sudah sama Naomi pasti tidak bisa mengangkat telpon," sahut Rachel dengan geleng-geleng kepala.
Namun Aliyah yang mendengar hal spontan dan singkat itu terdiam. Aliyah merasa ada sesuatu yang membuatnya diam dengan jantungnya yang berdebar dan teras tiba-tiba sesak.
"Ya sudahlah Aliyah. Paling bentar lagi juga balik. Kamu tunggu aja. Brian memang suka seperti itu, sangat sulit untuk mengangkat telpon. Jadi harus maklum," ucap Rachel menghela napas.
Bersambung
__ADS_1