
"Iya aku ingat," jawab Anju yang meski sudah lama sekali dia masih mengingat sedikit-sedikit mengenai Danesh.
"Anak Tante Melody dan Om Ardian seorang pengacara yang hebat," sahut Anna.
"Oh begitu," sahut Anju yang hanya menanggapi dengan datar saja.
"Kamu ini tanggapannya datar sekali. Padahal mama serius loh," sahut Anna.
"Anju mau sarapan mah. Jadi jangan bahas anak orang lain," sahut Anju yang memang tidak mood membahasi apa-apa.
"Iya-iya. Ya sudah kamu sarapan aja. Yang penting kamu ikut dengan mama dan papa nanti," sahut Anna. Anju hanya menganggukkan kepalanya saja.
***********
Brian dan Naomi sampai kerumah sakit dan mereka sama-sama turun dari mobil.
"Anju kenapa belum datang aku kok nggak lihat mobilnya?" tanya Brian yang melihat di sekitar parkiran.
"Aku nggak tau. Mungkin belum datang," jawab Naomi.
"Bagaimana mau menyelesaikan masalah. Jika dia saja ngambek mulu," protes Brian.
"Makannya jangan terus membuatnya marah," sahut Naomi yang menjawab dengan simpel.
"Naomi Brian!" panggil Rachel yang menghampiri Naomi dan Brian.
"Rachel. Happy banget hari ini!" ucap Naomi.
"Biasanya juga aku selalu happy kok," sahut Naomi dengan tersenyum.
"Tapi kali ini berbeda terlihat jauh lebih Happy," jawab Naomi.
"Arghhh, itu hanya perasaan kamu saja," sahut Rachel.
"Oh iya Anju hari ini tidak masuk. Dia kayanya capek dan ingin istirahat," ucap Rachel.
"Dia sakit," sahut Brian dengan cepat.
"Kalau masalah itu aku tidak tau," sahut Rachel dengan mengangkat ke-2 bahunya Brian jadi terlihat cemas.
"Ya sudah ayo kita masuk!" ajak Rachel dengan merangkul bahu Naomi dan mereka langsung masuk kedalam rumah sakit. Namun Brian masih tetep berdiam di tempatnya yang juga kelihatan mencemaskan Anju.
***********
Naomi berada ruangan Aliyah yang memeriksa perkembangan kesehatan Aliyah.
"Dokter Naomi apa Dokter Brian dan Dokter Anju ada hubungan special?" tanya Aliyah.
"Kenapa jika bertemu saya selalu mempertanyakan masalah orang lain. Aliyah saya ini Dokter bukan ahli asmara yang harus mengetahui setiap hubungan orang," ucap Naomi dengan serius berbicara.
"Maaf Dokter. Bukan itu maksud saya. Saya hanya....."
"Kamu sebaiknya fokus dengan kesehatan kamu. Jangan memikirkan apa-apa dan ingat tentang kejadian semalam. Kamu bisa drop. Karena pemikiran kamu yang selalu memikirkan hal yang tidak perlu kamu pikirkan. Aliyah ini bisa mengganggu kesehatan kamu. Jadi saya mohon kamu jangan seperti ini lagi. Jika kamu tidak mau kenapa-kenapa," ucap Naomi memperingatkan Aliya. Naomi kali ini bicara tegas dan serius dengan Aliyah.
__ADS_1
Dia mendengar keadaan Aliyah yang drop. Jadi jelas Naomi harus tegas pada pasiennya itu.
"Kamu mengerti?" tanya Naomi.
"Iya Dokter. Maafkan saya. Saya janji akan lebih memerhatikan kesehatan saya," ucap Aliyah
"Baguslah kalau begitu," sahut Naomi.
"Kalau begitu istirahatlah. Saya permisi dulu!" ucap Naomi yang langsung keluar dari ruangan itu. Aliyah hanyalah mengangguk saja.
"Baru kali ini aku melihat wajah Dokter Naomi yang serius. Dia sangat galak ternyata. Tetapi wajar sih dia terlihat mengkhawatirkanku," gumam Aliyah dengan menghela napasnya.
***********
Akhirnya keluarga Anju sampai juga di kediaman rumah sahabat Anna dan Athar. Saat turun dari mobil mereka sudah di sambut Melody dan Ardian.
"Assalamualaikum!" sapa Anna dengan ramah.
"Walaikum salam," sahut Melody dan Ardian. Lalu mereka saling berpelukan.
"Apa kabar kamu Anna?" tanya Melody .
"Biasa. Saya baik-baik saja," jawab Anna melonggarkan pelukannya itu.
"Athar kamu sehat?" tanya Ardian.
"Seperti yang kamu lihat sangat sehat," jawab Athar.
"Alhamdulillah jika kita semua masih di beri kesehatan yang sangat baik," sahut Melody. Mereka sama-sama tersenyum.
"Anju. Kamu semakin besar. Terakhir bertemu saat kamu liburan sekolah dan liburan di Singapore," ucap Melody.
"Iya Tante," sahut Anju.
"Anak kamu semakin cantik Anna," ucap Melody.
"Ya mamanya juga cantik," sahut Anna yang sangat percaya diri.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita sebaiknya masuk saja," sahut Melody. Anna, Athar dan Anju mengangguk dan mereka masuk kedalam rumah.
Saat memasuki rumah. Pria tampan dengan aura dinginnya menuruni anak tangga. Pria itu terlihat rapi di siang hari ini.
"Apa itu Danesh?" tanya Anna berbisik pada Melody.
"Iya," sahut Melody.
"Danesh ayo kemari!" ajak Melody. Danesh mengangguk dan langsung melanjutkan menuruni anak tangga untuk menyapa tamu orang tuanya itu.
"Kamu masih ingat Om Athar dan Tante Anna?" tanya Melody.
"Iya masih ingat," jawab Danesh dengan datar.
"Apa kabar Tante, om," sapa Danesh dengan sopan.
__ADS_1
"Baik-baik aja Danesh. Kamu semakin tampan saja," jawab Anna memuji Danesh.
"Mamanya juga sangat tampan. Jadi wajar," sahut Melody.
Ardian dan Athar sama-sama mengenal napas.
"Istri-istri kita ini memang punya tingkat percaya diri di luar nalar," ucap Athar.
"Biasalah. Tidak mau kalah," sahut Ardian. Melody dan Anna hanya tertawa-tawa saja.
"Oh iya Danesh ini Anju. Kamu masih ingatkah dulu kalian pernah bertemu saat kita di Australia mengunjungi mereka. Saat itu Anju masih SMA dan sekarang dia sudah menjadi Dokter," ucap Melody yang memperkenalkan Anju.
"Iya aku masih ingat," sahut Danesh dengan datar.
"Anju ini Danesh dan sekarang dia seorang pengacara," Melody juga memperkenalkan lebih jelas lagi putranya itu pas Anju.
"Hallo!" sapa Anju dengan ramah.
Danesh hanya mengangguk tanpa tersenyum. Bahkan ke-2nya tidak berjabat tangan lagi.
"Ya sudah bagaimana kalau kita langsung makan saja. Soalnya perut ini sudah mau di isi," sahut Ardian.
"Iya-iya ayo makan. Saya sudah memasakkan banyak makanan," sahut Melody.
"Ya ampun pasti sangat merepotkan," sahut Anna.
"Tidak apa-apa ayo! Ayo Anju, kamu juga Danesh," ajak Melody. Anju dan Danesh hanya mengikut saja. Danesh sebenarnya tadi tidak ingin makan siang. Karena dia harus kekantor. Tetapi sudah di paksa Melody awalnya makanya Danesh ikut makan siang.
**********
Mereka makan siang bersama sembari mengobrol-ngobrol. Obrolan sangat random. Terkadang masalah bisnis dan terkadang hal-hal lainnya. Anju dan Danesh hanya diam tanpa ada bicara sama sekali yang mendengarkan pembicaraan itu saja sembari makan.
"Hmmm Anju apa makannya enak?" tanya Melody.
"Iya Tante enak. Tante pintar sekali memasak," jawab Anju.
"Kamu ini bisa saja. Memang mama kamu tidak bisa memasak?" tanya Melody.
"Tidak Tante. Papa yang lebih pintar memasak," jawab Anju apa adanya membuat Athar tersenyum.
"Kamu nggak usah jujur-jujur amat," tegur Anna diam yang mengundang senyum di meja makan itu.
"Di dalam rumah tangga itu memang ada kelebihan dan kekurangan dan mama kamu tidak bisa memasak. Tetapi papa kamu bisa. Jadi saling menutupi," ucap Melody.
"Kamu benar Melody. Memang harus saling menutupi," sahut Anna yang merasa bangga karena ada yang membelanya.
"Hmmm kamu sudah punya kekasih Anju?" tanya Melody yang berbicara mulai intens.
Anju tidak langsung menjawab. Anna dan Athar melihat ke arah Anju yang seperti menunggu jawaban Anju. Mereka tau kedekatan Anju dengan Brian. Namun itu tidak bisa di katakan kekasih karena hubungan mereka tidak ada kejelasan atau status yang pasti.
Anju menjawab pertanyaan itu dengan menggeleng kepala dan menunduk hal itu membuat Melody tersenyum.
Anna dan Athar terlihat datar. Mereka tidak tau harus bereksperesi apa. Mereka justru sangat kasihan dengan anak mereka itu.
__ADS_1
Bersambung