
Setelah merasa cukup tenang. Akhirnya Naomi tidak menangis lagi. Namun masih berada di atas gedung dengan Brian yang duduk di sampingnya dengan memberikan Naomi air mineral yang tutupnya sudah di buka.
"Kamu seorang Dokter Naomi. Mental kamu tidak boleh selemah ini. Pasien berhenti bernyawa itu bukan di tangan kita. Jangan pernah merasa menyesal atau merasa bersalah. Hanya karena kamu gagal Operasi. Cukup kamu merasa menyesal dengan kepergian Gilang dan kamu bukan penentu nyawa orang lain,"ucap Brian membuat Naomi melihat kearah Brian.
Brian hanya berusaha untuk mengingatkan Naomi agar Naomi kuat dan tidak lemah. Naomi yang sejak tadi menangis dengan matanya masih sembab dengan berkaca-kaca.
"Kematian tuan Karma bukan kesalahan kamu itu sudah menjadi takdir," tegas Brian yang kembali mengingatkan Naomi.
"Tapi kondisinya menurun karena suntikan yang tidak tepat," sahut Naomi dengan suara seraknya.
"Kalau begitu itu kelalaian ku," sahut Brian.
"Aku tidak fokus di ruang operasi dan bisa-bisanya aku memerintahkan mu hal itu," ucap Brian yang juga mengakui kesalahannya atas apa yang terjadi.
"Aku Dokter yang seharusnya bertanya dan tidak melakukan begitu saja," sahut Naomi.
"Tetapi kematiannya tidak berkaitan dengan suntikan itu. Tuan Karma meninggal karena terjadinya sesuatu pada sarafnya dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan suntikan itu. Di tambah dengan jantungnya yang juga melemah," jelas Brian dengan yakin.
Brian bisa memastikan jika suntikan yang di berikan Naomi tidak fatal dan bukan karena itu pasien mereka drop. Ada hal lain dan memang sudah takdirnya seperti itu.
"Jadi aku mohon kepadamu untuk tidak memikirkan kematian tuan Karma. Kamu seorang Dokter dan tidak selamanya operasi itu berhasil dan ini juga menjadi pelajaran untuk ku agar aku lebih fokus lagi dan bisa profesional dan seharusnya mendengarkanmu di awal," ucap Brian yang mengakui itu adalah kesalahannya.
Brian merangkul bahu Naomi dengan mengelus-elus bahu Naomi. Kepala Naomi bersandar pada bahu Brian.
"Jangan menangis lagi. Kamu harus fokus pada pasien yang lain. Pasien-pasien di rumah sakit ini akan berubah penilaian. Dari Dokter yang katanya lembut berubah menjadi Dokter yang cengeng," ucap Brian dengan candaannya yang membuat Naomi tersenyum tipis yang sudah merasa jauh lebih tenang sekarang.
Mungkin karena mendengar penjelasan Brian, mengenai apa yang di katakan mengenai riwayat kematian tuan Karma yang tidak berkaitan dengan suntikannya. Sehingga Naomi bisa sedikit tenang.
**********
Hari ini Naomi ada jadwal pemeriksaan kepada Aliya yang kondisi Aliyah semakin membaik.
"Aliyah besok kamu sudah bisa pulang," ucap Naomi
"Benarkah. Yes aku senang sekali," sahut Aliyah dengan gembiranya. Naomi hanya tersenyum melihat Aliyah yang begitu ceria. Jika pasiennya keadaannya membaik. Maka dia juga pasti senang.
"Tapi ingat untuk kamu yang terus jaga kesehatan. Jangan sampai masuk rumah sakit lagi," ucap Naomi mengingatkan.
"Pasti Dokter yang baik," sahut Aliya dengan tersenyum lebar.
__ADS_1
"Dokter aku ada hadiah untuk Dokter," sahut Aliyah membuka laci dan memberikan kotak hadiah untuk Naomi dengan di berikan pita yang sangat cantik.
"Tidak boleh seorang Dokter menerima apapun di dalam rumah sakit dari pasiennya. Itu bisa seperti suap," sahut Naomi.
"Apa sih Dokter ini itu bukan suap. Ini hanya hadiah kecil untuk Dokter. Sudahlah terima saja," Aliyah tampak memaksa dan mau tidak mau Naomi mengambilnya.
"Ini hadiah karena aku sangat bahagia yang pertama aku bisa pulang dan yang ke-dua Dokter Brian sekarang singel," ucap Aliyah dengan tersenyum kesenangan yang membuat Naomi heran.
"Singel!" sahut Naomi.
"Lihat ini!" Aliyah memperlihatkan undangan pernikahan Anju dan Danesh.
"Dokter Anju mengundangku di hari pernikahannya. Orang-orang bilang Dokter Brian dan Dokter Anju itu ada hubungan special. Tetapi ternyata tidak. Dokter Anju mengatakan tidak ada hubungan apa-apa dan mengundangku ke pernikahannya," Aliyah begitu semangat yang membuat Naomi hanya geleng-geleng saja.
"Ya sudah kalau begitu. Kamu harus benar-benar sembuh biar bisa datang ke pernikahan Dokter Anju," ucap Naomi memberikannya saran.
"Pasti Dokter. Oh iya Dokter. Kalau aku dan Dokter Brian jadian. Kira-kira cocok tidak?" tanya Aliyah yang membutuhkan jawaban dari Naomi.
"Cocok," jawab Naomi dengan singkat.
"Makasih Dokter. Aku tau itu memang aku sangat cocok bersanding dengan Dokter Brian," sahut Aliyah yang semakin senang.
"Ya sudah saya permisi dulu ya," ucap Naomi. Aliyah menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
*********
Naomi duduk salah satu bangku rumah sakit yang ada di luar dan membuka hadiah yang di berikan Aliyah kepadanya. Ternyata kotak musik yang unik dengan binder yang membuat Naomi tersenyum menerima hadiah unik itu.
"Dari siapa itu?" tanya Rachel yang tiba-tiba datang dan langsung duduk di samping Naomi.
"Dari Aliyah," jawab Naomi.
"Aliyah pasien kesayangan Brian itu!" tebak Rachel.
"Iya, pasien kamar 07," jawab Naomi.
"Tumben kasih hadiah? Ada apa memangnya?" tanya Rachel.
"Dia besok akan pulang, Katanya ingin memberi hadiah saja. Karena dia sangat bahagia," jawab Naomi dengan singkat.
__ADS_1
"Begitu rupanya," sahut Rachel.
"Ya sudah kita makan siang yuk!" ajak Rachel.
"Ayo," sahut Naomi yang memang sekarang terasa sangat lapar membuat Rachel langsung berdiri dan mereka menuju kantin untuk makan siang bersama.
*********
Kediaman Brian.
"Aku pulang!" sahut Brian yang langsung duduk di sofa menghampiri ke-2 orang tuanya yang ada di sana.
"Belakangan ini wajahnya di tekuk terus. Ada apa? Ada masalah ya?" tanya Kayra.
"Nggak ada apa-apa," sahut Brian bersandar pada sofa dan mengeluarkan ponselnya dari sakunya dan menscroll ponselnya itu.
"Tidak ada apa-apa. Atau ada hubungannya dengan pernikahan Anju!" sahut Kayra dengan sindiran.
"Mama tau dari mana Anju menikah. Naomi yang beritahu," sahut Brian dengan wajah kagetnya.
"Naomi belum apa-apa sudah bilang-bilang aja," sahut Brian kesal.
"Kamu menuduh sembarang. Mama taunya bukan dari Naomi," agar Kayra.
"Jika bukan Naomi siapa lagi?" tanya Brian.
"Tuh undangannya," sahut Kayra yang memperlihatkan dengan matanya undangan pernikahan Anju dan calon suaminya.
"Tadi siang om Athar dan Tante Anna yang datang sendiri mengundang kerumah ini . Mama dan papa yang di undang langsing," sahut Davin menambahkan.
"Oh jadi mereka datang sendiri. Untuk apa sih harus mengundang mama dan papa segala. Mau pamer kalau anaknya menikah gitu atau mau mengejekku," sahut Brian jadi sewot sendiri.
"Kamu ini kenapa sih seperti orang kesetanan aja," sahut Kayra.
"Kamu kesal Anju menikah," sahut Davin.
"Nggak biasa aja," sahut Brian dengan santai.
"Alah bilang aja kamu nggak terima kan Anju menikah. Makannya jadi cowok itu jangan plin-plan. Wanita itu hanya butuh kepastian. Jadi jangan suka menggantungi wanita. Lihat dia bisa mendapatkan yang lebih dari pada kamu dan kamu hanya di tinggal nikah," Kayra malah menceramahi Brian dan bahkan tidak prihatin dengan suasana hati Brian yang sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
"Udah deh mah. Nggak usah sok puitis. Dia mau menikah yaitu urusannya dan tidak ada hubungannya denganku. Kepala ku juga sakit mengurusnya," sahut Brian semakin kesal dengan Kayra yang malah menyalahkannya.
Bersambung