
Ternyata Brian memang benar-benar berada di rumah sakit yang baru selesai keluar dari ruang operasi. Sebagai Dokter memang waktu itu tidak bisa di pastikan seperti apa. Mungkin benar apa kata Anju. Jika Brian tidak mengingat mempunyai janji dengan Aliyah. Makanya Brian tidak kunjung datang.
Selesai dari ruang operasi. Brian mengganti bajunya dan langsung Keruangannya untuk mengambil ponselnya yang berada di atas mejanya. Namun Brian tidak melihat dan langsung memasukkan kedalam sakunya.
Brian tidak mengecek sama sekali apakah ada pesan masuk atau tidak. Dia benar-benar cuek yang langsung menggantungi saja ponsel itu. Setelah itu lalu Brian keluar dari ruangan tersebut. Ketika melihat arloji di tangannya yang menunjukkan pukul 10 malam yang harusnya Brian pulang.
Meski melihat arloji di tangannya. Brian tetap tidak mengingat. Jika ada janji dengan Aliyah atau tidak. Tingkat pelupanya memang sangat parah. Ya harap di maklumi saja.
Brian keluar dari dalam lift menuju lobi yang ingin pulang pastinya.
"Waduh hujan deras ternyata," gumamnya geleng-geleng melihat ke halaman rumah sakit. Hujan ternyata begitu deras.
"Males banget nyetir hujan-hujan," gumamnya dengan dengan garuk-garuk kepala.
"Nggak mungkin juga nginap di rumah sakit. Udah enak-enak nggak lembur, pake mau nginap segala. Tetapi menyetir malasnya minta ampun," keluh Brian yang serba salah.
Namun tiba-tiba Brian melihat di ujung pagar rumah sakit di bagian pos terlihat Naomi yang sendirian dengan memeluk tubuhnya yang terlihat kedinginan.
"Bukannya itu Naomi," gumam Brian yang mengkerutkan dahinya.
"Ngapain di sana apa tidak bisa menunggu di sani saja," Brian berdecak dan kemudian memutuskan keluar dari rumah sakit untuk menghampiri Naomi. Brian harus berlari dengan buru-buru agar tidak basah.
"Naomi," panggil Brian yang sudah menghampiri Naomi dan berdiri di samping Naomi.
"Brian!" sahut Naomi.
"Kamu ngapain di sini?" tanya namu.
"Aku yang bertanya. Kamu ngapain di sini?" sahut Brian yang balik bertanya pada Naomi dan melihat Naomi yang basah-basahan.
"Aku lagi nunggu taxi online seharusnya sudah datang. Tetapi malah belum datang. Makanya aku berada di sini," jawab Naomi.
"Kamu kan bisa menunggu di dalam. Apa harus menunggu di sini," sahut Brian.
"Tadi supirnya sudah menelpon dan katanya sudah sampai dan ketika aku di sini malah tidak ada Taxi dan lihat ponselku mati," jawab Naomi sedikit penjelasan.
__ADS_1
"Ya udah kenapa nggak masuk lagi aja. Ya ampun Naomi kalau nggak ada supir Taxinya kamu bisa masuk dan di dalam kamu bisa ngechas dan tidak harus menunggu supirnya di sini," ucap Brian yang merasa Naomi itu kurang kerjaan.
"Kamu itu bagaimana sih Naomi!" Brian jadi kesal sendiri.
"Ya namanya, aku sudah terlanjur di sini Brian bagaimana dong," sahut Naomi.
"Kamu ya memang paling suka cari penyakit," ucap Brian geleng-geleng.
"Lalu kamu sendiri nagapin di sini. Hujan deras malah lari-larian?" tanya Naomi.
"Kamu juga kurang kerjaan," balas Naomi.
"Aku tidak akan kemari kalau tidak melihat kamu ada di sini. Jadi aku berada di sini itu karena kamu," jawab Brian.
"Iya deh," sahut Naomi.
Brian menghela napasnya dan membuka jaket yang di gunakannya langsung memakaikan pada Naomi. Dia mana tega melihat Naomi sampai kedinginan.
"Lihat kamu sampai basah!" ucap Brian.
"Masih aja ngeles," sahut Brian.
"Iya-iya, kamu juga yang berlebihan," sahut Naomi.
Brian tidak mengatakan apa-apa lagi dan berdiri di samping Aliya. Mereka berdua terakhirnya sama-sama menunggu hujan reda. Padahal bisa ya mereka langsung ke mobil.
Tiba-tiba Brian melihat ke arah Naomi yang memeluk tubuhnya membuat Brian yang mendadak usil menampung air ujan dengan kedua tangannya dan di percikkan pada Naomi.
"Brian!" pekik Naomi. Brian menyunggingkan senyumnya dan kembali melakukannya.
"Isss kamu ya Brian cukup! Jahil banget sih kamu!" tegas Naomi dengan kesal. Namun namanya juga Brian yang jahil jadi tidak akan berhenti sama sekali.
Sampai akhirnya Naomi yang kesal mendorong Brian sampai keluar dari pos dan mengenai hujan.
"Naomi kamu!" kesal Brian yang cepat kilat basah kuyup.
__ADS_1
"Syukurin makanya jangan jahil, emang enak basah," sahut Naomi yang merasa puas sudah mendorong Brian.
"Oh kamu pikir sudah bisa menang hah!" sahut Brian yang tidak mau kalah dan dengan jahilnya menarik Naomi yang akhirnya keduanya sama-sama terkena hujan.
Lalu Naomi akhirnya basah juga, untuk apa Brian harus memakaikannya jaket. Keduanya kembali seperti anak kecil yang saling membalas kejahilan masing-masing dengan bermain air hujan. Saling bercanda dan saling membalas satu sama lain yang tidak ada yang mau mengalah.
Di tengah Keasyikan keduanya yang seperti anak kecil. Tiba-tiba mobil Danesh sampai di depan rumah sakit. Mobil itu tidak memasuki rumah sakit dan hanya berhenti di pinggir jalan. Karena Aliyah sudah melihat Naomi dan Brian yang saling becanda.
Anju langsung melihat Aliyah dari kaca spion. Anju seperti turut prihatin dengan melihat ekspresi Aliyah yang penuh dengan kasihan. Ya sangat menyedihkan sekali Aliyah melihat Brian dan Naomi yang seperti punya dunianya sendiri.
Dia sejak tadi menunggu di Restaurant. Namun Brian tidak datang. Dia berusaha berpikir positif bahwa mungkin Brian ada pasien mendadak. Aliyah juga memaksakan diri untuk ke rumah sakit untuk memastikan jika Brian tidak apa-apa.
Bukan Brian yang tidak apa-apa. Justru sekarang dirinya yang apa-apa. Melihat hal seperti itu di depan matanya membuatnya menghela napas dengan penuh kecemburuan dan wajah yang penuh dengan kesenduhan.
Danesh bukan melihat eksperesi Aliyah. Justru dia melihat ekspresi istrinya.
Tidak tau apa yang ingin di ketahui Danesh dari memperhatikan wajah sang istri. Tetapi memang wajah Aliyah dan Anju tidak jauh beda saat melihat Brian dan Naomi.
"Benar kata Dokter Rachel. Jika bersama Dokter Naomi. Brian tidak akan mengangkat ponselnya. Sejak tadi aku menunggunya. Namun dia tidak ada kabar sama sekali dan sekarang dia malah bersama Dokter Naomi seolah tidak terjadi apa-apa," bayinya dengan penuh kesedihan yang merasa sangat sedih dengan apa yang di lihatnya.
"Aliyah kami akan mengantarkan kamu pulang!" sahut Anju yang tidak tega lama-lama melihat Aliyah dalam kesedihan.
Aliyah tidak mengatakan apa-apa. Matanya masih melihat Brian dan Naomi yang semakin romantis.
"Kita jalan!" titah Naomi pada Danesh. Danesh hanya mengangguk saja dan menurut saja. Ya ternyata tidak hasilnya Aliyah kerumah sakit karena yang di lihatnya hanya keromantisan Naomi dan Brian.
Dia hanya terluka dan Anju sudah menyarankan Aliyah tadi. Namun Aliya tetap keras kepala dan sekarang ya tau sendiri akibatnya kalau tidak percaya dengan Anju.
Anju sudah sangat berpengalaman dan tidak di percayai padahal hasilnya seperti itu dan bisa di lihat sendiri.
Sementara Naomi dan Brian masih sama-sama terlihat asyik sendiri dan bahkan mereka ber-2 berpelukan di bawah air hujan yang deras itu. Aliyah yang masih berada di dalam mobil. Menengok kebelakang dan melihat hal yang lebih romantis lagi yang membuat hatinya sakit.
Anju juga kembali melihat Aliyah dari kaca spion dan wajah Anju juga sama kasihannya dengan Aliyah
Bersambung
__ADS_1