
"Kenapa diam? Ingin bertanya?" tanya Danesh kembali yang sepertinya tau jika Anju ingin bertanya.
"Hmmm, begini. Aku mengingat. Jika aku tadi malam tidur di sini. Lalu kenapa aku bisa berada di kamar? Seharusnya aku masih beras di sini?" tanya Anju dengan ragu-ragu. Dia sebenarnya hanya modal nekat untuk bertanya pada Danesh.
"Siapa yang membawaku kekamar?" tanya Anju dengan rasa penasarannya.
"Aku yang membawamu masuk kedalam kamar," sahut Danesh dengan jujur. Jika memang benar apa adanya. Jika aku Danesh yang membawanya kedalam kamar.
"Kau! yang melakukannya? tanya Anju dengan terpekik kaget. Danesh menganggukkan kepalanya.
"Sendiri? tanya Anju lagi.
"Atau dengan Bibi?" tanya Anju.
"Aku membawamu kekamar sendirian dan tidak dengan siapa-siapa. Karena kau tidak bangun-bangun sudah sampai jam 1 pagi. Jadi mau tidak mau aku yang membawamu," ucap Arga.
"Bagaimana cara mu membawaku?" tanya Anju. Pertanyaan itu sebenarnya tidak perlu di tanyakan. Tetapi bukan Anju namanya jika tidak random dan ingin tau.
"Menggendong!" jawab Danesh apa adanya membuat mata Anju terbelalak kaget.
"Kau menyentuhku!" sahut Anju dengan menguatkan volume suaranya yang terlihat tidak terima.
"Mana mungkin menggendong tanpa menyentuh," sahut Danesh dengan santai dan kembali meneguk tehnya.
"Lalu kenapa tidak membangunkanku. Kau pasti cari kesempatan untuk memegangku," protes Anju yang malah marah pada Danesh.
Mendengarnya membuat Danesh mendengus kasar, "aku sengaja!" sahut Danesh dengan dahinya yang mengkerut.
"Ya iyalah kau sengaja melakukan hal itu. Kau mencari kesempatan dengan memanfaatkan aku yang masih tidur atau jangan-jangan kau melakukan hal yang lain lagi kepadaku!" Aku sudah berpikiran buruk dengan menuduh Danesh yang tidak-tidak.
"Terserah kau mengatakan apa. Aku laki-laki yang punya prinsip dan jika aku menggendongmu. Itu tandanya kau sudah tidak bisa di banguni lagi dan jangan salahkan aku untuk hal itu," tegas Danesh yang menghela napas.
"Issss, mencari alasan saja!" ucap Anju yang malah kesal sendiri. Anju pun meninggalkan Danesh. Namun karena tidak melihat jalannya kakinya menabrak pinggir meja.
"Auhhhh!" lirih Anju yang kesakitan.
Danesh hanyalah geleng-geleng saja melihat Anju yang teledor.
"Kenapa harus menggeser mejanya. Sengaja membuatku terkena meja supaya aku kesakitan," ucap Anju dengan kesal yang menyalahkan Danesh. Padahal meja itu tetep di tempatnya dan Danesh tidak melakukan apa-apa. Tetapi namanya Anju yang ada-ada saja kerjanya.
"Isssss menyebalkan!" umpat Anju dengan kesal kembali pergi dengan sedikit bengkak karena kakinya yang sakit. Namun tiba-tiba dia terpeleset saat hendak melewati Danesh.
Anju kaget dengan matanya yang melotot dengan tubuhnya yang ingin jatuh yang berusaha mencari pegangan. Danesh melihat hal itu langsung sigap mengulurkan tangannya sehingga di pegang Anju. Namun karena tubuh Anju yang tidak seimbang alhasil Anju jatuh ke tubuh Danesh yang duduk di sofa dan Anju menindihnya dengan wajah mereka yang saling berdekatan.
Mata Anju melotot saat dia berada di tubuh kekar Danesh dan wajah mereka yang tampak jarak. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang dan begitu gugup sampai kesulitan menelan salivanya saat sangat dekat dengan Danesh.
Sementara Danesh terlihat biasa saja dengan kedua tangannya yang memegang ke-2 bahu Anju. Namun matanya juga menelisik masuk kedalam sorot mata Anju yang sejak tadi menatapnya.
__ADS_1
"Kenapa kau sangat ceroboh sekali dan bahkan menyalahkan ku sejak tadi?" tanya Danesh dengan suara beratnya.
"Memang kau yang bersalah dan hari ini aku sial sekali karena kau," sahut Anju yang masih aja menyalahkan Danesh yang membuat Danesh mendengus kasar.
"Cari-cari kesempatan," umpat Anju yang hendak ingin berdiri. Namun Danesh semakin memegang kuat pegangan tangan itu membuat Anju melotot dengan sikap Danesh.
"Aku tidak mencari kesempatan. Tetapi kau yang mencari perhatian dari ku!" tuduh Danesh membuat Anju mengkerutkan dahinya dengan matanya yang melotot.
"Jangan suka tidur sembarangan. Atau sengaja tidur supaya aku menggendongmu!" ucap Danesh.
"Dan jangan memulai pembicaraan yang membuat perdebatan yang membuat kita semakin lama bicara,"
"Berhenti mencari perhatian dari ku Anju,"
"Dan terakhir mandilah dan gosok gigi sebelum keluar dari kamar. Kau tadi malam tidak gosok gigi saat tidur. Jadi aroma nafasmu, baunya sangat aneh!" ucap Danesh membuat Anju semakin melotot.
Hal itu langsung membuat Anju memukul Danesh refleks.
"Dasar sinting!" umpat Anju yang langsung berdiri dari tubuh Danesh.
"Sembarangan kau mengatai masalah bau mulutku. Ihhhhhhh!" Anju yang geram sendiri langsung mengambil bantal sofa dan langsung melempar kewajah Danesh untuk berhasil di tangkap Danesh.
"Argggghhh!" teriak Anju dengan tangannya yang ingin menerkam Danesh.
"Awas kau!" kesal Anju yang langsung pergi dengan emosi.
Danesh mendengus kasar melihat kepergian Anju yang seperti orang sinting.
**********
Anju memasuki kamarnya kembali yang berdiri di depan cermin sembari mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
"Argghhh, Danesh gila!" teriaknya seperti orang kesetanan.
"Enak sekali dia mengatakan aku bau mulut, argghhh!" teriak Anju yang tidak terima di ejek Danesh.
"Seumur hidupku belum ada laki-laki yang berani mengatakan itu kepadaku. Memang napasnya sewangi apa hah! Harga diriku benar-benar di runtuhkan
"Kamu juga sih Anju kenapa coba harus keluar kamar tanpa mandi dulu, Aissss kamu benar-benar mempermalukan diri kamu," Anju menyalahkan dirinya yang merasa dia begitu bodoh.
"Argggghhh," Anju yang terus berteriak.
Dia sangat malu dengan ucapan Danesh kepadanya. Mana mungkin dia tidak malu.
***********
Rumah sakit.
__ADS_1
Naomi hari ini kerumah sakit. Setelah semalam tidak kerumah sakit. Karena dia full untuk beristirahat.
"Naomi?" panggil Rachel yang juga baru sampai dan menghampiri Naomi.
"Rachel!" sahut Naomi.
"Kamu sudah sembuh?" tanya Rachel.
"Sudah," jawab Naomi. Mereka melanjutkan langkah mereka.
"Maaf ya Naomi aku nggak sempat lihat kamu. Soalnya tadi malam aku menggantikan shif Dokter Febi," ucap Rachel.
"Tidak apa-apa. Aku hanya istirahat di rumah saja dan tidak sakit apa-apa. Kamu nggak perlu repot-repot seperti itu. Santai aja," sahut Naomi
"Iya deh yang penting kamu sudah sembuh," ucap Rachel.
"Hmmm, kamu benar," sahut Naomi.
"Oh iya Brian mana? Kamu nggak bareng dia?" tanya Rachel.
"Bareng kok. Sudah masuk duluan," jawab Naomi.
"Hmmm, begitu. Kamu yang sakit dia yang tidak ikut masuk semalam," sahut Rachel.
"Aku sudah memaksanya. Tetapi memang dia. Aja yang malas," sahut Naomi.
"Iya kamu benar," sahut Rachel.
"Kamu ada operasi pagi ini?" tanya Rachel.
"Aku kosong. Tapi mungkin Brian yang ada operasi. Makanya buru-buru masuk," jawab Naomi.
"Buru-buru masuk pasti bukan karena Operasi. Jangan-jangan karena Aliyah lagi," sahut Rachel.
"Aliyah!" sahut Naomi mengkerutkan dahinya.
"Iya, pasti melihat Aliyah yang ada di ICU!" ucap Rachel yang membuat Naomi kaget.
"Aliyah masuk ICU?" tanya Naomi dengan wajah kagetnya.
"Kamu nggak tau?" Rachel berbalik bertanya. Naomi menggelengkan kepalanya.
"Semalam pagi Aliyah di antar supir Taxi kerumah sakit dan ternyata Aliyah drop di dalam Taxi," jelas Rachel dengan singkat yang membuat Naomi benar-benar terkejut.
"Lalu bagaimana keadaannya sekaran?" tanya Naomi dengan wajah kagetnya.
"Belum ada peningkatan masih di ICU," jawab Rachel.
__ADS_1
"Ya ampun Aliyah!" lirih Naomi yang jadi khawatir pada Aliyah.
Bersambung