
"Apa itu?" tanya Naomi. Brian masuk kedalam kamar itu dan menutup pintu kamar dan duduk di samping Naomi dengan meletakkan semua kantung plastik di atas meja.
"Kamu sendiri menyembunyikan apa?" tanya Brian.
"Apa yang aku sembunyikan?" tanya Naomi yang mengelak.
"Di belakangmu!" Brian mengarahkan kepalanya pada bantal. Brian memang melihat Naomi menulis di sebuah buku dan begitu Brian datang Naomi langsung menyembunyikan buku tersebut. Jelas Brian bertanya-tanya karena gerak-gerik Naomi yang tidak biasanya.
"Bukan apa-apa," sahut Naomi yang tidak ingin memberitahu Brian.
"Jika bukan apa-apa. Kenapa langsung di sembunyikan? Pasti ada satu bukan?" tanya Brian.
"Itu privasi," jawab Naomi dengan singkat.
"Privasi apa?" tanya Brian.
"Kamu tidak harus tau Brian. Dan privasi itu tidak harus di ketahui orang lain maupun kamu," tegas Naomi pada Brian.
"Begitu rupanya," sahut Brian, "baiklah simpanlah dan aku tidak akan mau tau," sahut Brian. Naomi diam saja.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Naomi.
"Makanya kesukaan kami. Kita akan banyak malam ini, aku sengaja membelinya untuk menemani malam kita," ucap Brian yang mulai mengeluarkan makanan itu dari kantung plastik.
"Kamu tidak pulang?" tanya Naomi.
"Jika aku sudah ada di sini dan membawa makanan untuk menemani kita. itu artinya aku tidak pulang dan Aku harus menjagamu," jawab Brian.
"Tapi aku sudah tidak apa-apa. Besok juga aku rencana ingin masuk kerja," ucap Naomi.
"Aku tau itu. Tapi aku harus tetap di sini menjagamu," tegas Brian pada Naomi.
Naomi diam karena bagaimanapun dia mau menolak. Tidak akan bisa karena Brian yang akan tetap menjaga dirinya.
"Ya sudah kita makan ya! Jangan banyak protes lagi. Kita harus makan yang banyak," Brian langsung memberikan makanan untuk Naomi dan Naomi langsung mengambilnya dan mulai makan.
"Ini dari Restaurant yang kamu suka. Aku sengaja membelinya. Supaya kamu banyak makan dan cepat sembuh," ucao Brian lagi.
__ADS_1
"Makasih sudah melakukannya untukku," sahut Naomi yang mulai makan.
Brian juga ikut makan dengan mereka yang sama-sama menikmati makanan itu. Namun Naomi melihat Brian yang seperti ada yang ingin di katakannya.
"Jika aku bertanya lagi pada Brian. Brian pasti marah dan kemungkinan kami akan berdebat lagi. Kami baru saja berbaikan," batin Naomi yang sepertinya ada yang ingin di sampaikannya. Namun Naomi tidak berani karena takut akan memunculkan kembali kemarahan di antara ke-2nya.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Brian yang memperhatikan Naomi yang terlihat jelas ingin bertanya. Namun terlihat keraguan di wajah Naomi.
"Tidak ada," sahut Naomi yang tidak yakin menyampaikan apa yang ingin di sampaikan.
"Yakin?" tanya Brian. Naomi menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kamu makanlah! Jangan melamun!" ucap Brian. Naomi menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya.
"Kamu tidak Bertemu Aliyah?" tanya Naomi di tengah makannya yang tanpa melihat Brian.
"Tidak! Aku tidak menemuinya dan aku juga banyak operasi tadi. Jadi tidak sempat bertemu dengannya," jawab Brian sembari mengunyah makananya.
"Tadi dia ada di sini," ucap Naomi.
"Tadi Anju juga mengatakan itu saat dia datang," sahut Brian.
"Bukannya barusan aku mengatakan. Aku ada operasi tadi," jawab Brian yang tidak banyak bicara. Naomi hanya menghela napasnya.
"Ayo makan lagi. Jangan berbicara saat makan," ucap Brian.
Naomi menganggukkan kepalanya. Padahal biasanya juga mereka sering makan sembari mengobrol-ngobrol. Namun Brian tumben-tumben nya bicara seperti itu. Dan Brian juga terlihat seperti memikirkan sesuatu. Makanya perkataannya sangat dingin dan tidak ingin banyak bicara termasuk pada Naomi.
************
Brian benar-benar menjaga Naomi. Naomi yang berada di atas tempat tidur yang sementara Brian yang berada di atas sofa dengan satu lengannya yang berada di dahinya.
Dari tempat tidur Naomi yang belum tertidur melihat terus wajah Brian. Wajah Naomi yang terlihat senduh yang tidak tau apa yang di pikirkannya. Pasti tidak jauh-jauh dari Aliyah.
Aliyah yang menangis di pelukannya. Karena perasaannya yang terlalu dalam pada Brian dan Brian si pelaku utama yang tidak memberi kepastian itu. Hal itu pasti menjadi beban pikiran bagi Naomi.
Naomi menghela napasnya dan perlahan turun dari ranjang. Naomi mengambil selimutnya dan langsung berjalan menghampiri Brian dan menyelimuti Brian dengan tubuh Naomi yang sedikit membungkuk.
__ADS_1
Naomi melihat wajah Brian begitu lama. Wajah yang tampak tenang saat tertidur.
"Brian apa kamu tidak niat untuk menyelesaikan masalah ini," batin Naomi.
Naomi yang terus melihat nanar wajah Brian dan tiba-tiba tangan Brian memegang tangan Naomi membuat Naomi kaget dengan Brian yang memegang tangannya.
"Jangan melihatku seperti itu katakan jika ada yang ingin kamu katakan!" ucap Brian yang ternyata belum tidur dan itu membuat Naomi kaget.
Kemudian Brian membuka matanya dengan tangannya yang masih memegang tangan Naomi.
"Ada apa Naomi? Apa ada yang mengganggu pikiran kamu?" tanya Brian dengan suara beratnya. Naomi mengangguk kepalanya yang memang dia tidak bisa tenang sebelum bicara pada Brian tentang apa yang ingin di sampaikannya.
Brian pun duduk dan Brian menarik perlahan tangan Naomi dan membawanya untuk duduk di dekatnya.
"Ada apa?" tanya Brian dengan wajah senduhnya dan suaranya yang lembut.
"Aku tidak berani memulai pembicaraan ini. Aku takut kamu marah kepadaku," ucap Naomi yang bicara apa Adanya.
"Masalah Aliyah!" tebak Brian. Brian sudah tau jika pasti Maslaah itu yang membuat Naomi kepikiran dan memang benar. Masalah Aliyah yang ingin di sampaikannya kepada Brian.
"Bukannya hanya masalah Aliyah yang tidak akan pernah selesai. Masalah kamu dan Aliyah, malah apa yang aku takutkan, masalah yang menjadi kita ribut dan bukan aku ingin ikut campur. Tetapi masalah Aliyah seakan tidak bisa aku lepas," ucap Naomi dengan apa adanya yang berbicara pada Brian.
"Naomi. Aku mohon sama kamu jangan memikirkan antara aku dan Aliyah. Aku akan menyelesaikannya. Aku juga tidak akan tinggal diam saja. Aku tau aku salah dan aku akan menyelesaikannya, aku akan bertanggung jawab dengan masalah ini," ucap Brian.
Kepalanya juga sudah hampir pecah gara-gara terjebak dengan ulahnya sendiri tidak mendengarkan siapa-siapa.
"Menyelesaikan bagaimana? Bertanggung jawab dengan konteks apa dan bagaimana resikonya?"tanya Naomi. Dia ingin tau kejelasannya seperti apa. Dia ingin tau tanggung jawab yang di maksud seperti apa.
"Yang penting aku akan menyelesaikannya dan itu pasti yang terbaik dengan apa yang aku putuskan. Dan jangan khawatir. Aku akan menyelesaikannya," ucap Brian yang sebenarnya juga tidak tau bagaimana jalan yang terbaik itu. Karena posisinya serba salah.
"Brian, pertimbangkan dengan baik. Jangan sampai terjadi hal buruk dengan penyelesaian yang kamu maksud," ucap Naomi yang panik dan mulai takut.
"Kamu jangan khawatir, aku tau apa yang harus aku lakukan dan tidak akan terjadi hal buruk," Brian hanya meyakinkan Naomi yang dirinya saja tidak yakin. Brian membawa Naomi kepelukannya. Memeluk Naomi sembari mengusap-usap pucuk kepala Naomi.
"Aku memang tidak mendengarkanmu Naomi, dan aku akan bertanggung jawab atas semua ini," batin Brian dengan hembusan napas beratnya antara yakin dan tidak sebenarnya.
"Aku hanya berharap jika tidak akan terjadi sesuatu," batin Naomi yang jujur begitu ketakutan.
__ADS_1
Bersambung