Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 73 Suami istri masih aja debat


__ADS_3

Biasanya memang kamar tamu di rumah orang kaya itu sama saja dengan kamar utama. Namun ternyata tidak di rumah orang tua Danesh yang benar-benar polos dan tidak ada apa-apa yang membuat Danesh benar-benar kesal pada orang tuanya itu.


"Sudahlah jangan banyak berpikir. Kamu tidurlah di atas ranjang. Aku sudah mengantuk dan mau tidur!" titah Danesh yang berjalan ingin membaringkan di lantai. Namun Anju menahan tangan Danesh.


"Apa lagi Anju?" tanya Danesh.


"Tidur di atas saja," ucap Anju yang memutuskan.


"Kamu bagaimana?" tanya Danesh dengan dahinya mengkerut.


"Kita berdua tidur di tempat tidur. Tapi jangan macam-macam denganku. Masih ada batasannya dan jangan mencari-cari kesempatan saat kita di atas ranjang," ucap Anju yang memperingatkan Danesh sebelum mereka tidur.


Dia tidak tega. Jika Danesh harus tidur di lantai dan apalagi sebelumnya Melody mengatakan Danesh sensitif dan bisa saja sakit. Anju juga tidak mau menjadi korban nantinya. Jadi lebih baik mengambil jalan tengah untuk tidur di atas ranjang.


"Yakin mau tidur satu ranjang?" tanya Danesh menaikkan alisnya.


"Di lantai dingin dan jangan cari penyakit. Dan bukan berarti kita sama-sama di atas. Tapi ingat kamu nggak boleh macam-macam kepadaku!" tegas Anju sampai menunjuk Danesh dengan jari telunjuknya yang tepat di wajah Danesh.


"Ingat jangan macam-macam padaku. Jangan cari-cari kesempatan dalam kesempitan!" tegas Anju pada suaminya itu yang membuat Danesh menyunggingkan senyumnya mendengar larangan dari Anju.


Danesh mengendus kasar dan menurunkan jari tengah Anju yang menunjuk nya. Wajah Danesh maju pada wajah Anju membuat wajah Anju refleks mundur dengan menelan salivanya yang mendadak gugup.


"Aku tidak yakin dengan hal itu," ucap Danesh yang langsung pergi dari hadapan Anju DNA terlebih dahulu menaiki ranjang. Sementara Anju masih mengatur napasnya.


"Issss apa maksudmu!" desis Anju yang jadi kesal.


"Ya aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan," jawab Danesh.


"Dengar Danesh aku setuju untuk tidur di atas ranjang itu karena aku tidak mau kau nanti akan sakit dan seperti apa kata mamamu. Jadi kau harus menghargai kebaikan ku. Jika kau tidak macam-macam kepadaku, tidak boleh melakukan apa-apa saat kita tidur satu ranjang," Anju kembali memperingatkan Danesh


"Aku pria normal dan aku tidak bisa jamin itu," jawan Danesh dengan santai.


"Pokoknya awas saja kalau kau berani kepadaku. Kalau kau berani macam-macam awas kau. Aku benar-benar akan...."


"Akan apa?" Danesh menyahut pembicaraan Anju.


"Ya aku akan melakukan hal yang tidak pernah kau duga," sahut Anju dengan wajah galaknya.


"Jadi penasaran! Apa itu kira-kira," sahut Danesh dengan menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Issss Danesh awas aja kau...." geram Anju merapatkan giginya.


"Lalu bagaimana jika kau yang macam-macam," sahut Danesh.


"Aku tidak mungkin," sahut Anju dengan yakin.


"Tidak mungkin tapi cari-cari kesempatan untuk mengintipku," sahut Danesh pelan membuat Anju melotot dengan apa yang di katakan Danesh.


"Apa maksud mu? Kapan aku melakukannya?" bantah Anju.


"Kolam renang," jawab Danesh. Membuat Anju langsung terdiam.


"Mana mungkin dia tau," batin Anju jadi malu.


"Jadi aku takut. Jika kamu yang akan macam-macam. Jangan-jangan kamu sudah mengincarku," ucap Danesh.


"Sembarangan bicara. Jangan pikir aku wanita yang seperti itu. Pokoknya awas saja jika kau berani macam-macam kepadaku," tegas Anju lagi penuh penekanan dan Anju juga langsung menaiki ranjang.


Danesh hanya mengendus kasar melihat tingkah Anju. Anju harus berada di pinggir kali. Karena tidak mau memberi kesempatan bagi Danesh untuk dekat padanyanya.


"Awas jatuh!" ucap Danesh mengingatkan Anju yang memang sudah di ujung.


"Aku hanya mengingatkan," sahut Danesh.


"Diamlah!" tegas Anju.


"Keras kepala," desis Anju.


Anju tidak peduli dan langsung memiringkan tubuhnya, memebelakangi Danesh. Danesh hanya mendengus saja dan dia belum tidur yang masih melihat ponselnya dan membiarkan Anju yang tidur terlebih dahulu.


**********


Melody dan Ardian berada di dalam kamar mereka yang berada di atas ranjang dengan Melody yang di pelukan suaminya, sembari rambutnya di elus-elus Brian.


"Kamu sampai benar-benar niat, mengubah kamar tamu hanya untuk Danesh dan Anju?" tanya Ardian.


"Iya sayang bagaimana menurut kamu, rencanaku berhasil bukan," jawab Melody


Rumah sultan Ardian Ternyata bukan seperti apa yang di katakan Danesh. Ternyata ada Melody yang sempat-sempatnya membuat kamar tamu jadi polos hanya untuk Anju dan Danesh berada di atas tempat tidur yang sama.

__ADS_1


"Rencana mama berhasilkan dengan membuat Anju dan Danesh berada di kamar tamu yang tidak ada apa-apa," ucap Melody.


"Iya sayang kamu niat sekali. Untung mereka benar-benar menginap. Bagaimana jika tidak apa tidak sia-sia usaha kamu," ucap Ardian.


"Kamu benar untung aja hujan dan mama punya alasan untuk menyuruh mereka menginap. Alam juga sangat mendukung rencana mama dan hasilnya berhasil," ucap Melody.


"Kapan kamu mengerjakan semuanya?" tanya Ardian.


"Saat Danesh menelpon. Jika dia dan Anju sudah mau sampai. Mama langsung buru-buru dan di bantu Bibi, mengatur kamar tamu, sesuai dengan apa yang amma inginkan. Ya ide itu muncul tiba-tiba," jawab Melody.


"Kamu melakukan itu. Seolah kamu tau. Jika Danesh dan Anju tidak tidur sekamar selama ini," ucap Ardian.


"Sayang mereka menikah tanpa cinta dan masih saling mengenal. Bukannya bibi yang bekerja di Apartemen Danesh pernah keceplosan tentang mereka berdua di Apartemen seperti orang asing. Jadi jelas mereka selama ini pisah kamar dan bagaimana mau dapat cucu. Jika 1 kamar aja tidak pernah," ucap Melody.


Ternyata orang tua Danesh tau. Namun mereka tidak membahas hal itu dan hanya mencoba untuk memahami situasi pernikahan Anju dan Danesh yang memang hanya perjodohan.


"Tapi siapa tau sekarang mereka sudah satu kamar dan tidak pisah kamar lagi," ucao Ardian.


"Mama berharapnya juga seperti itu. Tapi sudahlah yang penting sekarang mereka berada di kamar yang sama. Dan semoga ada hasil yang baik," ucap Melody.


"Amin. Kita biarkan saja Anju dan Danesh. Menjalani semuanya dengan natural. Karang yang tidak saling mengenal saja bisa jatuh cinta dan mereka sudah menikah. Jadi banyak kemungkinan pasti akan jatuh cinta. Cinta yang tumbuh dengan sendirinya," ucap Ardian.


"Iya sayang kita doakan saja yang terbaik untuk Anju dan Danesh dan kita tidak perlu memaksa mereka," ucap Ardian.


"Kamu benar sayang," sahut Melody.


"Ya sudah kita juga harus istirahat. Papa juga sudah mengantuk," ucap Ardian. Melody menganggukkan kepalanya dan mengeratkan pelukannya pada suaminya dengan Ardian yang mencium pucuk kepala istrinya.


"Selamat malam!" ucap Ardian.


"Malam," sahut Melody.


Rumah sakit.


Brian selesai bertugas sebagai Dokter langsung menghampiri kamar Naomi dengan tangannya yang penuh dengan kantung plastik yang pasti berisi banyak makanan untuk Naomi. Karena dia akan menginap di rumah sakit untuk menemani Naomi.


"Lihat aku bawa apa!" sahut Brian yang berdiri di depan pintu. Naomi yang tadinya menulis tiba-tiba kaget dan langsung menutup bukunya menyimpannya di bawah bantalnya dengan kedatangan Brian yang tiba-tiba membuatnya kaget dengan menelan salivanya. Tidak tau kapan Brian berada di depan pintu yang tiba-tiba saja sudah menegurnya m


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2