Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 84 Kritis


__ADS_3

Para perawat langsung keluar dari rumah sakit dan membawa tempat tidur dorong untuk mengangkat Naomi dan juga Aliyah. Brian langsung mengangkat Aliyah keatas Banjar tersebut dengan memegang kuat tangan Naomi.


Perawat yang lain juga membawa Aliyah yang langsung masuk kerumah sakit. Wajah Brian sudah tidak karuan terlihat terpukul dengan apanya terjadi. Wajahnya memerah dan penuh ketakutan dengan melihat keadaan Naomi air matanya yang keluar dan terlihat sangat takut.


"Kamu harus bertahan Naomi, aku mohon Naomi! Bertahanlah!" pinta Brian yang tidak bisa menahan dirinya. Dia sangat ketakutan terhadap Naomi.


Sangat buru-buru melangkah, sembari mendorong tempat tidur dorong itu. Namun Anju dan Rachel yang berada di bagian Aliyah yang juga panik. Sebentar-sebentar mereka menoleh kebelakang melihat keadaan Aliyah. Darah dari kepala Naomi dan bahkan jatuh ke lantai menetes.


Mereka berdua juga sama-sama panik dan mengusap air mata mereka yang harus profesional sebagai Dokter.


Sampai akhirnya tiba di ruang UGD.


"Brian, Aliyah!" ucap Rachel menghentikan Brian. Saat Brian ingin masuk ke ruang UGD untuk menangani sendiri Naomi.


"Iya Brian. Aliyah kritis. Jantungnya melemah!" sahut Anju. Memang harus Brian yang menangani Aliyah.


Posisi Brian, jadi serba salah yang bingung. Dia melihat Naomi dan tidak akan puas jika bukan tangannya yang menangani Naomi. Namun juga ada Aliyah yang juga kritis dan dia juga sangat khawatir pada Aliyah yang membuat Brian tidak dapat mengendalikan dirinya dengan napasnya yang naik turun.


Tiba-tiba Dokter wanitanya datang dan masuk ke dalam ruang UGD.


"Bawa Dokter Naomi masuk!" titah Dokter yang berkepala 4 itu.


Perawat itu mengangguk dan langsung mendorong tempat tidur Naomi. Tangan Naomi yang perlahan dari Brian dan sangat berat bagi Brian melepaskan tangan itu sampai titik terakhir dengan air matanya yang kembali jatuh saat terakhir memegang ujung jari Naomi yang sudah masuk kedalam ruangan UGD dan pintu itu di tutup.


"Brian ayo!" sahut Anju. Brian memejamkan matanya dan langsung masuk kedalam ruang UGD yang satunya dan Rachel masuk kedalam ruangan yang di mana ada Naomi.


Naomi dan Aliyah sama-sama berada di ruang UGD dengan keduanya yang langsung di pasang alat pernapasan yang langsung, semua Suster yang masing-masing ada di dalam ruangan UGD sama-sama mendapatkan perawatan.


Alat-alat mesin yang di pasang di tubuh mereka. Yang di hubungan dengan monitor jantung yang langsung berbunyi. Bunyi monitor jantung yang menakutkan itu


Suster yang membersihkan luka Naomi di bagian kepalanya, mengangkat kepala Naomi dengan membersihkan luka itu. Aliyah juga yang ditangani dengan serius.


"Jantungnya melemah!" ucap Anju.


Brian dan Anju yang berusaha untuk menyelamatkan Aliyah dengan profesional mereka bekerja. Walau di sisi lain pemikiran mereka masih ada pada Naomi di dalam sana.


"Aliyah bertahanlah, maafkan aku jika aku tau membuatmu seperti ini! Maafkan aku Aliyah!" ucap Brian yang panik dan juga sangat takut.


Naomi dan Aliyah sama-sama dalam keadaan kritis dan sampai taha melakukan pompa jantung.

__ADS_1


"Naomi bertahanlah!" pinta Rachel yang begitu takut saat Dokter itu memompa jantung Naomi.


Aliyah juga di masa ujung jantung yang melemah dan Brian yang melakukan pompa jantung. Keadaan darurat di antara keduanya dengan kodisi yang sama-sama kritis. Ditengah operasi yang di lakukan Brian. Ada juga Naomi yang nyawanya dalam keadaan yang kritis.


Di luar ruangan UGD Kayra yang mendengar Naomi kecelakaan langsung berlari keluar dari ruangannya dan melihat keruangan UGD yang mana Naomi yang sedang di tangi.


"Dokter Kayra?" tanya Rachel.


"Bagaimana keadaannya? Apa yang terjadi?" tanya Kayra panik.


"Naomi hanya kekurangan darah," jawab Rachel.


"Lalu kenapa darahnya kenapa belum ada! Lakukan transfer darah secepatnya. Darah Naomi B!" titah Dokter Kayra dengan panik.


"Kita kehabisan donor darah B," sahut Rachel.


"Apah!" sahut Dokter Kayra yang langsung panik.


"Rachel cari secepatnya darah B dan segera lakukan tarnspurtasi darah!" titah Naomi. Rachel yah dalma kepanikan menganggukkan kepalanya dan langsung pergi keluar dari ruang UGD.


*************


Sementara Danesh menunggu istrinya yang sedang melakukan penanganan pada pasien darurat. Dia melihat teman istrinya yang menjadi korban kecelakaan itu. Hal itu jelas membuat Danesh juga kepikiran, karena bagaimanapun itu adalah teman istrinya.


"Rachel!" Danesh langsung menghampiri Rachel.


"Danesh!" sahut Rachel.


"Bagaimana keadaan Naomi?" tanya Danesh.


"Dia masih kritis dan aku sedang mencari darah untuk Naomi. Dia kehilangan banyak darah," jawan Rachel dengan bibirnya yang bergetar saat menceritakan kondisi sahabatnya.


"Lalu Anju di mana?" tanya Danesh.


"Anju sedang menangani Aliyah," jawab Rachel.


"Keadaannya bagaimana?" tanya Danesh.


"Aliyah juga kritis," jawab Rachel.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, sekarang aku pergi dulu, aku buru-buru," ucap Rachel yang langsung buru-buru pergi.


Rachel langsung pergi untuk mencari Donor darah untuk Naomi yang dalam keadaan kritis.


Naomi dan Aliyah yang sama-sama kritis dan masih di tangani. Orang tua Aliyah juga sudah datang dan panik dengan penuh kecemasan menunggu Putri mereka yang ada di dalam ruangan UGD.


Flashback of,


"Apa yang ingin kamu katakan Brian?" tanya Aliyah setelah berhadapan dengan Brian. Mereka berbicara di tempat sepi untuk membahas apa yang akan di sampaikan Brian.


"Kenapa menelponku? Apa kamu ingin mengatakan yang sebenarnya tentang perasaan kamu," ucap Aliyah yang tersenyum dengan berusaha untuk tenang.


"Aliyah jangan tanya masalah perasaan dan jangan berharap kehidupan kepadaku. Aku bukan harapan hidup kamu. Kamu punya kehidupan sendiri dan jangan jatuhkan harapan kehidupan kamu kepadaku," ucap Brian yang berbicara serius.


"Brian! Kamu jawab saja. Jangan bertele-tele. Kamu menyukaiku atau tidak. Bagaimana perasaan kamu kepadaku. Katakan saja yang sebenarnya bagaimana?" ucap Aliyah yang hanya ingin meminta kepastian dari Brian.


"Aliyah...." Brian tampak tidak bisa mengatakan apa-apa dan terlihat menghela napas berat yang tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Aliyah


"Aliyah sudahlah!" ucap Brian


"Dokter Naomi!" ucap Naomi yang tiba-tiba menyebut nama Naomi yang membuat Brian kaget.


"Kenapa menyebut Naomi?" tanya Brian.


"Apa kamu ingin mengatakan, jika kamu tidak bisa membalas perasaan ku. Karena perasaan hati kamu kamu telah di miliki seseorang. Ya itu Dokter Naomi," ucap Aliyah.


Brian belum mengatakan apa-apa tentang tentang perasaannya. Tapi Aliyah sudah berani mengungkit nama Naomi.


"Aliyah! Naomi tidak ada hubungannya dalam hal ini?" sahut Brian.


Dia paling tidak bisa jika ada yang melibatkan Naomi dalam urusan kedekatannya dengan lain.


"Tetapi dari wajah kamu sangat terlihat jelas jika ada hati yang kamu jaga," ucap Aliyah.


"Jangan sok tau Aliyah dan jangan pernah membawa Naomi dalam urusan kita. Karena Naomi tidak pernah ikut-ikutan dalam urusan kita. Jadi hentikan semuanya," ucap Brian.


"Kalau begitu jawablah bagaimana perasaannya kamu padaku?" tanya Aliyah yang kembali meminta kepastian.


Brian diam dan seolah tidak punyaku jawaban apa-apa. Tidak tau apa yang harus di jawabnya dan serba salah. Namun mendengar nama Naomi yang menyebutkan Aliyah membuatnya merasa kesal. Namun melihat Aliyah di depannya dia merasa serba salah dan bingung

__ADS_1


Flashback on.


Bersambung


__ADS_2