Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 7 Brian dan Naomi.


__ADS_3

"Kamu bertanya padaku?" sahut Naomi.


"Ya iyalah, bukannya kamu juga sering menyuapi pasien?" tanya Brian yang merasa apa yang di lakukannya tidak salah dan Anju tidak bisa marah hanya karena hal itu. Itu pemikiran Brian.


"Bukan gadis dewasa yang aku suapi. Hanya anak kecil. Jadi jelas Anju sangat marah. Kamu juga tidak menepati janji saat Dinner dengannya dan apa lagi kamu juga terlihat bersama Aliyah dengan yang kamu katakan kamu menyuapinya," ucap Naomi berbicara dengan nada datar.


"Kamu tau dari mana aku janjian Dinner dengan Anju?" tanya Brian yang perasaannya dia belum mengatakan apa-apa.


"Di dalam hidup Anju. Hanya itu yang membuatnya marah," jawab Naomi dengan singkat.


Brian menghela napasnya dengan perlahan kedepan lalu dia langsung duduk.


"Tapi dia salah paham. Menuduhku dan memperbesar masalah. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Aliyah. Aku juga tidak mempunyai perasaan apa-apa pada Aliyah. Aku menganggapnya adikku sendiri dan sama dengan wanita-wanita lain. Anju juga tau aku tidak pernah serius kepada wanita manapun. Mereka yang mengejar-ngejar ku dan aku hanya menanggapi saja," Brian dengan santainya yang terus melakukan pembelaan yang tetap tidak mau di salahkan dan menjelaskan apa yang terjadi.


Naomi hanya diam karena dia tau Brian pasti hanya menganggap kedekatannya dengan wanita lain itu hanya sebatas hiburan.


"Dan tadi aku benar-benar ada Operasi dan aku tidak bohong sama sekali. Jika ada pasien dan kondisi Aliyah drop," lanjutnya yang memberikan alasan lagi.


"Naomi kenapa diam ayo berikan solusi. Aku bukan ngambek lagi. Tetapi tadi marah," sahut Brian.


"Kalau begitu minta maaflah padanya," sahut Naomi yang membuka-buka dokumen yang mencocokan dengan data yang di bukanya di laptop. Dia malas mendengar Brian dan menyuruh Brian minta maaf saja.


"Dia tidak mau mendengarkanku," sahut Brian.


"Ya coba aja lagi," sahut Naomi.


"Dia sangat marah dengan pemikirannya yang buruk. Dia terus marah dan tidak henti mengoceh. Seharusnya dia mengerti. Jika aku tidak ada hubungan atau perasaan yang special kepada siapapun kecuali kepada-nya," ucap Brian menegaskan.


Tangan Naomi berhenti mebalik dokumen ketika mendengar pernyataan Brian yang pertama kali di dengarnya.


"Aku hanya menyukainya," lanjut Brian membuat Naomi melirik Brian dengan ekor matanya. Ekspresi wajah Naomi tampak tidak terbaca.

__ADS_1


"Lalu apa pernah mengatakan kepada-nya?" tanya Naomi dengan datar.


"Tanpa aku mengatakan. Dia juga tau itu. Aku dan Anju bukan anak kecil, anak SMP yang harus ada saling ungkap perasaan," sahut Brian.


"Kalau begitu kenapa tidak memperjelas hubungan kalian?" tanya Naomi.


Brian terdiam yang seperti tidak punya jawaban untuk pertanyaan itu. Naomi memutar kursinya dan menghadap Brian


"Jika masih punya kesempatan. Apa salahnya memperjelas. Kamu sendiri mengatakan kamu dan Anju bukan anak smp, SMA lagi. Dan seorang wanita butuh kepastian Brian. Jadi jangan membuatnya hanya diliputi rasa marah yang akhirnya akan lelah. Jika kamu mempunyai perasaan kepadanya. Seharusnya kamu juga menjadi perasaannya. Dia mungkin terlihat santai dan hanya menyimpan rasa kesalnya saat kamu berlebihan kepada wanita lain. Tetapi pasti ada perasaan yang tidak enak di hatinya. Jadi jangan mempermaikannya sebelum kamu menyesal," ucap Naomi dengan bijak memberi saran pada sahabatnya itu.


Usia Naomi 4 tahun lebih muda dari Brian.. tetapi Naomi begitu dewasa dan mungkin karena sesama wanita jadi dia lebih mengerti situasi yang di hadapi Anju.


"Kamu takut jika aku sepertimu," sahut Brian. Membuat Naomi mengkerutkan dahinya.


"Maksud mu apa?" tanya Naomi.


"Kamu mengatakan jangan menyesal. Apa kamu takut jika aku nantinya akan menyesal seperti kamu. Karena kamu kehilangan Gilang. Jadi kamu di penuhi dengan rasa bersalah," ucap Brian dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Auh sakit Naomi," keluh Arhan memegang dahinya.


"Pantes saja rasanya Anju ingin membunuhmu. Sama denganku yang juga ingin membunuhmu. Aku serius bicara. Tetapi kau menggap lelucon. Kau itu menyebalkan. Kau itu jelas berbeda dengan Gilang," tegas Naomi yang kesal.


"Iya-iya yang terus membela Gilang," sahut Brian.


"Kau ya Brian!" Naomi semakin kesal dengan Brian dan Naomi langsung menghampiri Brian dan memberi pukulan pada Brian.


"Ampun Naomi, ampun!" Brian hanya mengeluh saat Naomi terus memukul Brian. Sampai akhirnya tangan Brian memegang ke-2 pergelangan tangan Naomi dan tubuh Naomi juga sudah jatuh pada tubuh Brian dengan jarak mereka yang sangat dekat.


Napas Naomi naik turun dengan kekesalannya pada Brian.


"Kau Naomi diantara wanita yang aku kenal. Hanya kamu wanita yang berbeda yang sangat lembut bicara. Namun terkadang bisa seperti monster. Kamu itu cantik Naomi. Jika seseorang yang sudah pergi dengan bahagia bukan berarti kamu berhenti menjalankan hidupmu. Kamu perlu bahagia dengan orang yang mencintaimu atau yang kamu cintai. Kepergian seseorang bukan kesalahanmu. Jadi hiduplah dengan normal," ucap Brian yang tumben-tumbenannya bicara dengan serius dan matanya yang saling menatap dengan Naomi.

__ADS_1


Kedekatan ke-2nya kerap terjadi. Namun perkataan Brian yang terasa berbeda seketika membuat rasa gugup di wajah Naomi. Ternyata posisi Naomi dan Brian yang seperti itu di lihat oleh Anju yang tadi ingin mengganti pakaian keruangan istirahat.


Brian lupa menutup pintu dan Anju bisa melihat Naomi dan Brian yang sangat intens berbicara. Anju hanya menghela napas perlahan kedepan dan tidak ada yang di katakannya dia langsung pergi dan tidak jadi masuk.


"Sok tau!" tegas Naomi yang melepas dengan cepat tangannya dari Brian dan langsung bangkit dari tubuh Brian.


"Kau jangan mengurusi kehidupanku dan berbicara seperti orang paling benar. Kau urus malas mu dengan Anju dan jangan libatkan aku!" tegas Naomi yang berdiri di depan Brian.


"Isss!" desis Naomi masih kesal dan langsung pergi dari ruangan itu meninggalkan Brian.


"Mana mungkin Naomi tidak melibatkan kamu. Kamu yang harus menyelesaikan malah ini!" teriak Brian. Naomi sudah pergi dari tempat itu.


"Aku tidak mau," sahut Naomi dengan teriakan.


Huhhhhnnnn.


Brian menghela napasnya perlahan kedepan berkali-kali dan tiba-tiba menyinggung senyumnya.


"Aku tidak tau Naomi laki-laki seperti apa yang harus membuatmu bisa move on dari Gilang. Aku berharap semoga kamu menemukan pria yang bisa membuatmu bahagia," ucap Brian yang malah memikirkan kebahagiaan Naomi di banding masalahnya yang sedang blunder dengan Anju.


***********


Naomi yang sedang menuang kopi di dapur rumah sakit tiba-tiba melihat dari jendela. Dia melihat Anju yang duduk melamun. Naomi menghela napas melihat Anju dan Naomi langsung keluar dari dapur setelah selesai membuat kopi.


Anju dengan wajah murungnya hanya butuh ketenangan dengan berada di tempat itu. Dia hanya menetralkan emosinya yang menggebu-gebu tadi dan sudah meluapkan pada Brian sudah membuatnya jauh lebih tenang.


Dengan sendirian mungkin jauh lebih tenang. Karena percuma bicara dengan Brian. Bahkan tadi dia juga melihat kedekatan Naomi dan Brian yang padahal mereka tadi baru bertengkar.


Jawaban Brian membuatnya begitu emosi dan melihat kedekatan Brian dan Naomi tiba-tiba ada rasa cemburu. Padahal sejak dulu Naomi dekat dengan Brian. Namun Anju tau ke-2 orang itu sahabat sejak kecil dan Anju biasa-biasa saja. Tetapi tadi rasanya aneh saja bagi Anju.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2