Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 64 Perasaan Rachel bimbang


__ADS_3

"Jika Azka tidak pernah mendapatkan cuti panjang. Itu artinya dia tidak akan pernah kembali. Lalu apa aku harus masih menunggunya. Menunggu dalam hal apa. Tetapi dia berjanji akan kembali. Tapi apa peluang kembali itu ada," batin Rachel yang tiba-tiba sedih memikirkan Azka.


Tidak biasanya dia galau dengan permasalahan hubungannya dengan Azka. Selama ini dia yakin dan tetap menunggu Azka. Tidak pernah komunikasi sama sekali di antara keduanya dan sudah bertahun-tahun.


"Kamu kenapa Rachel?" tanya Rania yang melihat Rachel tiba-tiba bengong dengan wajah murung Rachel.


"Oh tidak apa-apa kok Tante," jawab Rachel dengan tersenyum yang menutupi kesedihannya. Padahal dia sedang memikirkan Azka dan Azka yang tidak pernah pulang.


"Yakin tidak apa-apa?" tanya Rania.


"Iya kok Tante. Yakin," sahut Rachel dengan tersenyum.


"Kamu sendiri bagaimana Rachel. Apa tidak ada niat untuk ke Jerman?" tanya Rendy yang tiba-tiba memberi kode pada Rachel untuk mengajak Rachel ke Jerman.


Dia tidak tau kedekatan putranya dengan Rachel seperti apa. Namun Rendy hanya memberikan tawaran pada Rachel ya. Siapa tau saja bisa membantu Rachel dan Azka untuk bersama.


"Iya Rachel. Kamu tidak pernah ke Jerman untuk bertemu Azka. Kalau kamu mau ikut. Bisa kok ikut sama Tante dan Om. Kita sama- sama lihat Azka," ucap Rania yang juga setuju dan dia juga sangat senang. Jika Rachel bisa ikut bertemu dengan Azka.


"Tidak usah Tante. Rachel juga tidak ada cuti panjang. Jadi mana bisa me Jerman," sahut Rachel yang menolak.


"Ya sayang banget ya," sahut Rania sedikit kecewa.


"Lain kali saja Tante," sahut Rachel.


"Ya sudah. Nanti lain kali kalau ada cuti dan waktunya pas. Kita ke Jerman sama-sama untuk mengunjungi Azka," ucap Rania yang masih memberi kesempatan kapanpun itu jika Rachel mau.


"Apa itu artinya Azka tidak akan kembali ke Indonesia? Jika orang tuanya yang selalu mengunjunginya dan apa mungkin Azka memang akan menetap selamanya di Jerman," tanya Rachel pada hatinya.


"Bengong lagi!" tegur Rania.


"Tante, Om apa Azka akan tetep tinggal di Jerman dan tidak kembali ke Indonesia?" Rachel memberanikan diri untuk menanyakan hal itu.


Rendy dan Rania saling melihat. Pernyataan Rachel memang sangat bisa terduga ke arah mana.


"Hmmm, maksud Rachel. Om dan Tante yang sering mengunjungi Azka. Seperti Azka tidak akan pernah kembali lagi," sahut Rachel.

__ADS_1


"Kita tidak tau Rachel. Kami sebagai orang tua. Hanya mendukung apa yang di pilih Azka. Dan jika ada sesuatu antara kamu dan Azka. Tidak ada salahnya kamu menghubunginya dan berkomunikasi padanya," sahut Rendy. Dia tidak pernah membatasi apapun kepada anak-anaknya dan selagi itu positif Rendy pasti akan mendukung.


"Bagaimana mau berkomunikasi. Rachel saja tidak mempunyai no Azka," sahut Rania yang memang tau hal itu.


Rachel hanya mengikuti apa yang di katakan Azka saja. Mereka ada janji saat mereka lulus sekolah dan wajar. Jika Rachel tidak mempunyai no Azka.


"Kamu tidak punya nomornya?" tanya Rendy. Rachel menggelengkan kepalanya.


"Tapi memang tidak harus punya Om," ucap Rachel.


"Sudahlah Om. Kenapa jadi harus bahasa Rachel," sahut Rachel yang mengalihkan situasi dengan dia yang senyum-senyum.


"Ya sudah kita lanjut makan lagi. Dan jangan membahas Rachel. Yang ternyata tidak ingin di bahas," sahut Rania tersenyum. Rachel menganggukkan kepalanya yang mengeluarkan senyum tipisnya.


"Aku hanya berharap. Jika Azka bukan laki-laki yang ingkar janji," batin Rachel yang memberikan sepenuhnya harapannya kepada Azka yang berada di Jerman.


*********


Setelah Anju selesai bersiap-siap ingin kerumah sakit. Anju langsung keluar dari kamar dan menuju meja makan untuk melakukan sarapan seperti biasanya. Dan di sana sudah ada Danes yang sarapan terlebih dahulu seperti biasa dan sarapan dengan santai sembari melihat tabletnya yang pasti melihat pekerjaannya yang tidak ada habisnya.


Anju duduk di depan Danesh dan mengambil sarapannya. Masih tetap sama keduanya diam dan tanpa menyapa. Padahal sebelumnya ke-2nya banyak bicara dan apalagi saat terjadi insiden kebakaran itu. Tetapi terasa berbeda. Karena saat ini Anju justru sangat gugup dan tidak seperti biasanya.


"Apa kamu malam ini ada shift malam?" tanya Danesh yang tiba-tiba mengeluarkan suaranya membuat Anju mengangkat kepalanya menghadap Danesh.


"Memang kenapa?" tanya Anju. Ya pasti Anju heran. Kenapa Danesh bertanya soal tugasnya nanti malam.


"Tadi mama baru menelpon dan katanya dia ingin kita makan malam di rumah," jawab Danesh.


"Hmmm begitu rupanya," sahut Anju.


"Kalau kamu tidak bisa. Biar aku sampaikan pada mama," sahut Danesh. Biasanya juga Danesh menyuruh Anju sendiri yang menelpon orang tuanya yang memberikan alasan sendiri.


"Tidak usah. Sepertinya aku memang tidak sibuk dan juga tidak ada shitt malam," sahut Anju.


"Apa itu artinya kamu bisa ikut?" tahta Danesh.

__ADS_1


"Iya, karena aku memang tidak sibuk. Jadi tidak ada salahnya datang kerumah mama dan papa," jawab Anju yang tumben-tumbenannya tidak berpikir dan langsung mau saja.


"Ya sudah kalau begitu aku akan menghubungi mereka. Jika nanti malam kita bisa makan bersama mereka," ucap Danesh. Anju menganggukkan kepalanya dengan Anju yang mengeluarkan senyum tipis dan melanjutkan sarapannya tanpa ada obrolan lagi di antara ke-2nya.


************


Rumah sakit.


Naomi masih dalam perawatan yang sekarang bersandar pada kepala ranjang dan sedang di suapi Kayra makan bubur.


"Enak?" tanya Kayra. Naomi menganggukan kepalanya.


"Makasih Dokter sudah baik sekali kepada pasiennya," ucap Naomi dengan candaannya yang sembari tersenyum kepada Kayra n


"Kalau begitu pasiennya harus cepat sembuh supaya Dokter nya senang," ucap Kayra menegaskan dengan wajah galaknya.


"Takut sembuh dokternya galak," seloroh Naomi.


"Kamu ini," kesal Kayra pada Naomi.


"Bercanda tante, jangan marah," sahut Naomi dengan tersenyum kembali.


"Naomi kamu jangan seperti ini lagi ya. Jangan membuat Tante takut. Kamu di dalam sana sendirian dan jangan dia biasakan apa-apa sendiri," ucap Kayra dengan wajah khawatirnya yang memang sangat tulus kepada Naomi dan tubuh ingin Naomi kenapa-kenapa.


"Iya Tante. Tetapi semua itu adalah insiden dan kita tidak tau kapan itu akan terjadi dan lagi sialnya Naomi yang mengalaminya," sahut Naomi.


"Suster Yesi yang mencari masalah," ucap Kayra menghela napas yang masih kesal dengan Suster yang namanya Yesi yang bersama Naomi di dalam tempat penyimpanan.


"Tante Naomi sudah mengatakan semua itu insiden dan Tante jangan menghukumnya terlalu berat dan jangan memperpanjang Maslaah ini," ucap Naomi yang juga tidak mau ada yang harus kehilangan pekerjaan gara-gara kecelakaan yang tidak terduga itu.


" Iya-iya. Tahta hanya memberinya peringatan dan tidak akan memperbesar masalah ini. Jadi tidak ada hal yang harus di pikirkan dan kamu juga sebaiknya jangan memikirkan hal itu," ucap Kayra.


"Iya Tante," sahut Naomi.


"Ya sudah sekarang kamu makan lagi," ucap Kayra. Naomi menganggukkan kepalanya dan melanjutkan makannya yang masih di suapi Kayra.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2