
Brian langsung membuka obat tersebut yang memberikannya pada Naomi. Dengan menyulangkan ke mulut Naomi dan juga memberi Naomi air mineral.
Padahal itu hanya biasa saja. Tetapi Aliyah merasa sangat berlebihan yang bahkan membuat dada Aliyah terasa aneh. Dia bahkan seperti obat nyamuk di antara Brian dan Naomi.
"Sudah tidak sakit lagi kan?" tanya Brian dengan lembut sembari mengusap-usap pucuk kepala Naomi. Hal itu begitu manis di lakukan Brian. Brian mungkin lupa. Jika ada Aliya di sana.
"Tidak. Sakitnya sudah hilang kok. Makasih ya kamu sudah menemaniku selamaman. Lihat mata kamu hitam seperti itu. Kamu pasti ngantuk bukan. Karena kamu nggak tidur," ucap Naomi.
"Hmmm dan kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang terjadi padaku. Lihat aku mengantuk seperti ini," keluh Brian membuat Naomi tersenyum. Naomi dan Brian seperti menganggap tidak ada Aliyah di tempat itu. Aliyah seperti orang asing dan bahkan di anggap tidak ada. Mereka berdua sibuk dengan dunia mereka sendiri.
"Naomi!" tiba-tiba Kayra masuk yang membuat Aliyah sadar dari lamunannya.
"Iya Tante," sahut Naomi. Karya menghampiri Naomi dan tiba-tiba Aliyah berdiri dari tempat duduknya yang seperti mulai minder.
"Sayang Tante ke rumah sakit dulu ya. Kamu jangan ke rumah sakit ya. Kamu di sini aja harus istirahat," ucap Kayra.
"Tapi Naomi sudah baik-baik saja kok Tante. Jadi sudah bisa kerumah sakit," ucap Naomi yang merasakan sudah sembuh.
"Jangan bandel Naomi. Kamu harus istirahat. Besok saja kamu ke rumah sakit. Brian kamu bisa temani Naomi di sini. Kalau kamu nggak sibuk di rumah sakit," tegas Kayra.
"Iyaaa mah," sahut Brian.
"Jangan iya-iya aja," ucap Brian menegaskan sekali lagi.
"Iya mama sayang, iya," sahut Brian meyakinkan Kayra. Naomi hanya tersenyum saja. Ibu dan anak itu memang kerap kali bertengkar kecil. Aliyah yang sekarang berdiri terasa begitu asing yang seperti tidak tidak di anggap.
"Ya sudah sayang Tante pergi dulu. Kamu baik-baik ya di sini," ucap Kayra dengan mencium kening Naomi. Naomi memang seperti sudah anaknya sendiri yang begitu sayang kepadanya.
"Kamu jaga Naomi!" tegas Kayra sekali lagi. Brian hanya mengangguk dan Kayra langsung pergi. Sebelum keluar dari kamar itu saat melewati Aliyah. Aliyah menundukkan kepalanya seolah sopan pada Kayra. Kayra hanya melihat sebentar namun langsung pergi.
Senyum Aliyah sudah menunjukkan jika perasannya sedang tidak baik-baik saja. Sikap Kayra kepadanya membuatnya sedih dan belum lagi dengan kedekatan Naomi dan Brian yang semakin dekat. Mereka bahkan sampai detik ini masih menunjukkan keromantisan mereka.
"Aliyah!" tegur Naomi yang melihat Aliyah hanyalah diam saja.
__ADS_1
"Iya Dokter Naomi," sahut Aliyah.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Naomi.
"Iya Dokter. Hmmmm, sepertinya saya harus pulang Dokter," ucap Aliyah pamit. Mungkin semakin tidak tahan dengan perasaannya jadi ada sebaiknya dia pulang saja.
"Aku panggilkan Taxi ya Aliyah," sahut Brian.
"Taxi," sahut Aliyah. Brian menganggukkan kepalanya dengan santai.
"Atau kamu ada panggil supir?" tanya Brian.
"Jadi kamu tidak ada inisiatif untuk mengantarku Brian dan malah kepikiran untuk memanggil Taxi," batin Aliyah yang ternyata mengharapkan hal lain dan malah tidak sesuai dengan expetasi nya.
"Bagaimana Aliyah?" tanya Brian yang melihat Aliyah diam saja.
"Oh iya. Aku, aku memang memanggil supir," sahut Aliyah dengan tersenyum.
"Hmmmm, ya sudah kalau begitu aku pulang dulu. Dokter Naomi cepat sembuh ya," ucap Aliyah.
"Iya Dokter sama-sama," sahut Aliyah yang tersenyum yang sudah merasa tidak enak hati.
"Baiklah Aku permisi!" Ucap Aliyah yang langsung pamit begitu saja. Dia bahkan tidak banyak bicara lagi. Karena suasana hatinya yang mulai tidak baik.
"Kamu tidak antar Aliyah?" tanya Naomi setelah kepergian Aliyah.
"Dia sudah menelpon supir," sahut Brian dengan santai.
"Biasanya kamu langsung sigap," sahut Naomi.
"Sigap seperti apa? Lagian kamu juga sendirian. Jadi mana mungkin aku tinggal. Yang adanya mama akan memarahiku," ucap Brian.
"Jangan lebay. Aku tidak apa-apa sama sekali," sahut Naomi dengan tersenyum.
__ADS_1
"Kamu memang sering seperti itu. Selalu merasa tidak apa-apa," ucap Brian dengan geleng-geleng kepala.
"Kan memang benar dan sekarang aku mau istirahat. Jadi jangan menggangguku," ucap Naomi.
"Baiklah kalau begitu kamu istirahatlah. Aku juga mau istirahat," sahut Brian. Naomi menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.
************
Aliyah ternyata pulang tidak di jemput supir. Melainkan Aliyah menaiki Taxi dengan perasaannya yang tidak baik-baik saja. Aliyah duduk di bangku belakang dengan wajahnya yang murung yang melihat keluar jendela yang kacanya di turunkan.
Di dalam pikirannya dan di bayangannya. Hanya terlintas Naomi dan juga Brian yang menunjukkan kedekatan yang luar biasa dan membuat hatinya cemburu.
"Mereka hanya sahabat. Lalu kenapa aku merasa tidak seperti itu dan aku juga merasa sangat cemburu melihat mereka berdua yang sangat dekat dan begitu sangat dekat. Itu bukan hubungan persahabatan. Sangat jelas tadi hubungan itu lebih dari apapun," batinnya yang memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
"Aku juga merasa Brian berubah kepadaku. Dia biasanya sangat effort kepadaku dan melakukan hal-hal yang luar biasa yang membuatku merasa bahagia. Tetapi belakangan ini hal itu berkurang bahkan tadi dia tidak berminat untuk mengantarku pulang hanya karena Dokter Naomi masih sakit. Sekarang rasa pedulinya sudah tidak sama lagi seperti itu dulu. Ada apa sebenarnya. Kenapa dia berpikir seperti itu," batin Aliyah.
"Tante Kayra yang tidak menyukaiku. Aku tidak tau apa salahku dan sebelumnya dia mengingatkan ku akan banyak hal mengenai Brian dan seperti menyuruhku mundur. Apa dia memang tidak menyukaiku dengan Brian dan apa dia hanya menginginkan Dokter Naomi. Karena kedekatan mereka yang luar biasa,"
"Jika Tante Kayra tidak menyukaiku. Lalu bagaimana hubunganku dengan Brian dan Brian juga belum memperjelas perasaannya kepadaku,"
Aliyah bergerutu sendiri di dalam hatinya dengan kebingungan antara hubungannya dengan Brian. Aliyah sudah banyak yang mengingatkan. Tetapi tetap nekat berharap banyak pada Brian dan sepertinya Aliyah akan menjadi korban Brian.
"Apa yang terjadi sebenarnya. Apa mungkin tidak ada tempat di hatiku. Apa mungkin sebenarnya Dokter Naomie yang terbaik. Apa benar yang sebenarnya Dokter Naomi lah tempat di hati Brian dan Tante Kayra juga sangat menyayanginya. Tante Kayra begitu tulus kepadanya dan sementara aku tidak mendapatkan perlakuan seperti itu," batinnya yang sangat cemburu dengan apa yang terjadi.
"Auhhhhhh!" lirih Aliyah yang tiba-tiba memegang dadanya yang terasa sakit. Dia bahkan mengeluh dengan dahinya yang mengkerut dan sedikit menunduk seperti menahan sakit.
Supir Taxi melihat dari kaca spion dan merasa sepertinya ada yang tidak beres dengan Aliyah.
"Nona baik-baik saja?" tanya supir Taxi tersebut yang panik dengan dengan melihat Aliyah.
"Pak bisa antarkan saya kerumah sakit," ucap Aliyah yang berbicara begitu sulit karena adanya yang sakit di dadanya. Suaranya juga semakin hilang.
"Baik Nona saya akan antarkan kerumah sakit secepatnya," sahut supir Taxi yang langsung setuju. Dia juga melihat Aliyah memang terlihat tidak baik-baik saja dan lebih baik membawanya dengan cepat. Karena juga takut terjadi sesuatu pada Aliyah.
__ADS_1
Bersambung