Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 8 Kata-kata Naomi


__ADS_3

Tiba-tiba ada secangkir kopi di depannya membuat Anju mendongak keatas dan ternyata Naomi yang memberikannya.


"Makasih," sahut Anju mengambil kopi itu. Naomi menghirup udara malam dan duduk di samping Anju dengan meneguk kopinya.


"Kita harus meneliti untuk membuat obat lupa," ucap Naomi tiba-tiba.


"Maksudnya?" tanya Anju melihat ke arah Naomi.


"Obat lupa untuk Dokter Brian yang membuatmu marah dan emosi hari ini," ucap Naomi membuat Anju mendengus dengan tersenyum dan kembali menatap lurus kedepan dengan meneguk secangkir kopi tersebut.


"Jam 5 sore. Brian ada operasi sampai jam 7 malam. Lalu dia juga memeriksa beberapa pasien. Karena ini jadwalnya. Setelah itu tiba-tiba Aliyah pasien rawat 07 drop dan juga di tangani Brian sampai jam 9. Brian tidak ada waktu untuk melihat ponselnya yang sampai detik ini masih di loker. Karena penyakit lupanya dia harus memanjakan pasiennya, membeli makanan dan juga menyuapinya," ucap Naomi yang menjelaskan kegiatan Brian pada Anju. Jika Brian benar-benar lupa dan ada kegiatan di rumah sakit.


"Berapa lama menghafal teks yang di berikan Brian padamu?" tanya Anju dengan tersenyum.


"Aku tidak menghafalnya dan Brian tidak memberikan teks dan itu memang benar apa adanya yang terjadi," jawab Naomi dengan santai.


"Lalu kenapa kamu harus menjelaskannya padaku?" tanya Anju.


"Karena kamu tidak memberi kesempatan untuk Brian menjelaskannya," jawab Naomi.


"Lalu apa keuntungan kamu dengan mewakili Brian?" tanya Anju.


"Tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. Tetapi melihat kamu dan Brian tidak ribut. Menurutku itu keuntungan yang tidak terbayar dengan apapun," jawab Naomi. Mendengarnya Anju hanya tersenyum miring.


"Benarkah seperti itu?" tanya Anju melihat kearah Naomi dan seperti menelisik mata Naomi untuk melihat kebenaran dari mata itu tentang apa yang di bicarakan Naomi.


"Apa aku terlihat berbohong?" tanya Naomi balik.


Anju mengangkat ke-2 bahunya, "entahlah kamu wanita yang sangat sulit untuk di tebak dan aku tidak bisa menebaknya," jawab Anju.


"Baiklah kalau begitu kamus sudah tau jika apa yang terjadi sebenarnya. Jadi sebaiknya kamu berbaikan dengan Brian. Dia memang orang yang pelupa dan suka ingkar janji. Kamu harus maklum itu dan kamu sudah tau itu," ucap Naomi.


"Aku ingin tanya sesuatu dengan kamu Naomi?" tanya Anju.


"Tanyakanlah ada apa?" tanya Naomi.


"Apa kamu nyaman saat harus menjadi pelurus untuk hubunganku dengan Brian?" tanya Anju yang tiba-tiba penasaran.


"Aku nyaman. Aku, kamu dan Rachel dan Brian bukannya sudah saling mengenal dan bersahabat sudah lama. Jadi jika di antara kita ada masalah. Bukannya adalah kenyamanan untuk kita saling membantu agar tidak terjadi ribut-ribut dan saling mendamaikan bukannya adalah tugas kita," jawab Naomi dengan bijak.


Anju hanyalah tersenyum mendengar jawaban Naomi. Tidak ada yang di katakannya lagi. Ya Naomi memang selalu menjadi pelurus dalam masalah apapun. Naomi yang selalu tenang dan sama dengannya yang sudah sangat hafal dengan Brian.


"Jadi maafkanlah dia!" ucap Naomi. Anju diam sepertinya kali ini akan sulit. Mungkin baginya Brian sudah kelewatan dan di campur merasa ada sesuatu antara Brian dan Naomi. Walau dan Naomi terlihat biasa. Namun Anju yang merasa berbeda.

__ADS_1


*********


Rachel turun dari mobilnya yang berhenti di depan rumah yang pagi-pagi sudah bertamu.


"Assalamualaikum!" sapa Rachel yang langsung masuk saja kedalam rumah itu. Sepertinya sudah biasa Rachel kerumah itu.


"Walaikum salam," sahut penghuni rumah.


"Tante Rania!" sapa Rachel yang menghampiri Rania dan mencium punggung tangan Rania.


"Kamu apa kabar Rachel?" tanya Rania.


"Baik Tante," jawab Rachel, "oh iya Tante. Di mana Om Rendy?" tanya Rachel.


"Sudah kerumah sakit terlebih dahulu," jawab Rania.


"Ini Rachel bawa makanan," ucap Rachel.


"Ya ampun kamu ini repot-repot sekali membawa makanan," sahut Rania dengan geleng-geleng.


"Tidak repot Tante," sahut Rachel.


"Ada tamu ternyata!" tiba seorang wanita cantik menuruni anak tangga. Wanita yang berhijab dan sangat cantik.


"Kakak ada di sini ternyata," ucap Rachel.


"Iya. Kemarin kakak menginap dengan kak Rafa di sini," jawab Asyifa.


"Kamu bagaimana kabarnya Rachel?" tanya Asyifa.


"Alhamdulillah kak baik-baik aja," jawab Rachel.


"Kamu tidak kerumah sakit?" tanya Asyifa.


"Mau kerumah sakit kak. Tapi mampir sebentar mau membawakan makanan untuk Tante Rabia," jawab Rachel.


"Begitu rupanya. Baik sekali ya mah calon mantu ibu dan ayah !" goda Asyifa membuat Rachel malu-malu sendiri.


"Kamu ini sama aja seperti Rafa yang suka menggoda Azka!" tegur Rania pada Asyifa yang memang suaminya dulu saat Azka dan Rachel semasa SMA Rafa suka menggoda Azka.


"Ya kan nggak apa. Namanya juga suami istri yang kompak," sahut Asyifa.


"Sudah-sudah. Kamu lihat Rachel jadi malu," sahut Rania melihat wajah memerah Rachel.

__ADS_1


"Ya sudah Rachel mumpung kamu datang kita sarapan bersama ya," ucap Rania.


"Tidak usah Tante Rachel mau langsung kerumah sakit aja," sahut Rachel.


"Jangan seperti itu. Kamu ini selalu banyak alasan kalau diajak sarapan. Ayo sarapan," Rania harus memaksa Rachel.


"Tapi Tante," sahut Rachel yang berusaha untuk menolak. Tetapi Asyifa dan Rania memaksa Rachel. Jadi Rachel tidak bisa menolak sama sekali.


Sebenarnya Rachel dan Azka tidak pernah berkomunikasi setelah beberapa tahun lamanya. Azka juga menjadi Dokter hebat di Jerman. Saat Azka lulus SMA dan berangkat ke Jerman. Itu terakhir kalinya Rachel bertemu dengan Azka. Dan Azka juga tidak pernah pulang hanya keluarganya yang mengunjunginya jika mereka rindu.


Rachel menjalin hubungan baik dengan keluarga Azka. Rachel hanya mengingat perkataannya Azka saat perpisahan dulu. Jika mereka akan bertemu suatu saat nanti. Dan itu membuat Rachel tidak membuka hati kepada siapapun karena merasa ada hati yang di jaganya.


Azka juga menyuruh Rachel untuk menjemputnya nanti saat dia pulang. Namun sampai detik ini Azka belum pernah menginjakkan kakinya di Indonesia.


**********


Anju menuruni anak tangga dengan terlihat tidak bersemangat yang menghampiri meja makan. Di mana kedua orang tuanya sedang sarapan bersama. Anju menarik kursi dan langsung duduk dengan meneguk air putih yang di siapkan.


"Kamu tidak kerumah sakit Anju?" tanya Anna yang melihat anaknya baru bangun tidur dan masih mengenakan piyama.


"Lagi cuti mah," jawab Anju.


"Kamu ada masalah?" tanya Anna.


"Nggak ada kok," jawab Anju bohong.


"Lalu bagaimana dinner nya dengan Brian?" tanya Anna dengan semangatnya.


Anju diam dan tidak menjawab. Wajahnya sudah menunjukkan jawaban yang tidak sesuai ekspektasi. Anna juga sepertinya mengerti dan menghela napas yang kasihan dengan putrinya itu.


"Kalau kamu libur hari ini. Kamu ikut mama dan papa ya," sahut Athar


"Mau kemana?" tanya Anju dengan mengambil setangkap roti.


"Ingin silaturahmi dengan teman papa. Kamu Ingan Om Ardian dan Tante Melody?" tanya Athar.


Wajah Anju mengingat-ingat siapa orang yang di maksud orang tuanya itu.


"Hmmmm aku ingat," jawab Anju.


"Kita berkunjung kerumah mereka. Mereka mengundang kita untuk makan siang bersama," ucap Athar.


"Anaknya juga ikut makan bersama kita. Kamu ingat Danesh tidak. Yang dulu waktu kita liburan ke Australia dan saat itu kamu juga bertemu dengan anak Tante Melody dan Om Ardian," sahut Anna.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2