Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 43 Merawatnya.


__ADS_3

Brian memegang tangan Naomi dan bisa merasakan jika Naomi belum tidur. Masih tidur -tidur ayam yang sebentar-sebentar merasa sakit tangannya yang satu lagi juga terus memegang perutnya.


"Sebentar lagi pasti hilang sakitnya. Kamu jangan khawatir. Aku akan ada di sini," ucap Brian dengan menatap nanar wajah Naomi yang menahan rasa sakit.


Brian menarik selimut sampai ke dada Naomi. Dia pasti akan mengawasi Naomi dan tidak akan meninggalkan Naomi. Karena Brian tidak ingin terjadi sesuatu pada Naomi dan dia juga takut. Jika Naomi butuh sesuatu siapa nanti yang akan membantu Naomi.


*********


Anju dan Danesh pulang kerumah. Mereka sama-sama masuk kedalam apartemen mereka.


"Jangan mengajakku bicara. Kalau hanya membahas Naomi dan Brian atau Aliyah," ucap Anju menekankan membuat dahi Danesh mengkerut. Perasaan dia tidak ingin membahas apa-apa.


Anju belakangan ini memang sangat sensitif dan ada-ada saja yang di lakukan Anju membuat Danesh geleng-geleng.


"Kamu mengerti?" tanya Anju dengan wajah seriusnya. Danesh hanya diam dengan wajah kebingungannya.


"Dan lain kali. Jika mama menyuruh kamu untuk menjemputku. Kamu cari alasan lain Aku tidak mau terikat hutang Budi apapun," tegas Anju.


"Hanya menjemput, terjadi masalah hutang Budi, aneh sekali," ucap Danesh berdecak dengan pernyataan Anju.


"Ya siapa tau aja kamu mengungkitnya saat hari itu. Jadi aku nggak mau ada ungkit saling ungkit di antara kita berdua. Pokoknya jangan mengungkit hal itu. Aku juga tidak memaksamu untuk makan bersama kami dan bukan aku yang menyuruhmu untuk menjemputku," ucap Anju penuh dengan penegasan dan penekanan di setiap perkataannya.


"Kamu berpikir terlalu jauh Anju. Padahal aku tidak memikirkan apa. Jadi jangan bicara hal yang tidak aku pikirkan dan tidak ada hutang Budi di antara kit," sahut Danesh dengan dingin.


"Ya siapa tau aja. Kitakan tidak ada yang tau apa yang terjadi kedepannya," sahut Anju.


"Terserah kamu mau berpikir apa. Pikiran kamu sedang tidak baik-baik saja dan menyalahkan orang lain dalam hal apa yang kamu pikirkan," sahut Danesh.


"Maksud kamu apa?" tanya Anju heran.


"Tidak ada," sahut Danesh yang langsung pergi dari hadapan Anju menuju kamarnya. Anju menyerngitkan dahinya melihat Danesh.


"Isss apa-apaan sih dia. Argggghhh sudahlah yang penting aku tidak ada memaksanya dan itu artinya tidak ada hutang di antara kamu berdua!" tegas Anju yang mengoceh sendirian dan Anju juga menyusul untuk kekamarnya. Dia juga mau istirahat.


**********


Brian berada di Apartemen Naomi yang menjaga Naomi. Sebentar-sebentar Naomi terbangun dan terdengar suara lirihan kesakitan. Brian yang berada di sofa langsung membuka matanya dengan menghampiri Naomi tiba-tiba.


"Kamu butuh sesuatu?" tanya Brian yang duduk di samping Naomi.


"Sakit!" ucap Naomi yang membuka matanya.


"Hanya beberapa jam lagi supaya pagi dan sakitnya akan hilang," ucap Brian. Biasanya kalau sudah pagi rasa sakit itu tidak akan ada lagi dan hanya tinggal sedikit-sedikit saja.

__ADS_1


"Kamu minum dulu ya," ucap Brian yang langsung memberikan Naomi air mineral dan Naomi langsung meminumnya perlahan. Dan dia kembali berbaring.


"Kamu sudah merasa jauh lebih baik?" tanya Brian.


"Lumayan," jawab Naomi.


Brian melakukan hal-hal yang sering di lakukannya kepada Naomi untuk mengurangi rasa sakit Naomi. Brian pasti tau apa yang di lakukannya. Karena selama ini dia melakukan hal itu untuk membantu Naomi.


Brian mengubah posisi duduknya yang duduk bersandar pada kepala ranjang di dekat kepala Naomi dan mengusap-usap kepala Naomi. Naomi tiba-tiba menaikkan dirinya dan langsung memeluk pinggang Brian dengan erat.


"Kamu istirahatlah!" ucap Brian.


"Kamu tidak pulang?" tanya Naomi.


"Tidak Naomi. Aku mana mungkin meninggalkan mu," jawab Brian.


"Baik sekali," sahut Naomi tersenyum.


"Aku memang selalu baik padamu," sahut Brian. Naomi hanya tersenyum.


"Brian aku mau tanya sesuatu pada kamu?" ucap Naomi tiba-tiba.


"Apa itu?" tanya Brian.


"Ada apa dengan Aliyah?" tanya Brian balik.


"Aku melihat kalian sangat dekat dan kamu juga pasti tau. Jika Aliyah menyukaimu. Bukan hanya mengagumi sebagai Dokter. Tetapi dia juga punya perasaan lain kepadamu," ucap Naomi.


"Lalu! Bukannya memang semua wanita itu menyukaiku," sahut Brian dengan percaya dirinya.


"Bukan itu konteks yang ingin aku bicarakan," sahut Naomi mengangkat kepalanya dan melihat Brian.


"Lalu apa?" tanya Brian melihat Naomi dengan alis terangkat.


"Jangan melukai perasaannya. Dia anak yang polos dan sangat baik. Jangan menyamakannya dengan wanita lain yang sangat kesal kepadamu dengan semua tingkahmu. Aliyah sangat berusaha mengimbangi mu. Namun dia berbeda dari wanita-wanita yang lain. Jadi jika kamu punya perasaan yang lebih kepadanya. Ungkapkanlah jangan membuatnya menunggu," ucap Naomi dengan lembut yang sangat memikirkan Aliyah.


"Naomi aku tidak bisa menentukan perasaan ku dan konteksnya aku masih dalam...."


"Kalau memang masih mencari yang tepat," sahut Naomi memotong pembicaraan Brian.


"Kalau begitu jangan Aliyah. Karena ternyata nanti bukan dia. Dia akan kecewa. Karena sekarang dia bergantung kepadamu. Brian aku hanya tidak mau kamu menyesal," ucap Naomi melanjutkan kalimatnya dengan mengingatkan Brian.


"Karena jika sudah tidak ada penyesalan itu akan sangat berat. Jangan memberi harapan pada wanita yang hanya memiliki harapan sedikit. Aliyah tidak sama dengan wanita lainnya. Kamu seorang Dokter dan kamu pasti tau apa yang aku maksud," ucap Naomi yang bicara begitu serius.

__ADS_1


"Kamu serius sekali bicaranya Naomi. Apa kamu takut jika apa yang terjadi pada kamu akan terulang padaku?" tanya Brian.


"Mungkin iya. Makanya aku memberimu saran," jawab Naomi.


"Terima kasih atas sarannya," ucap Brian.


"Naomi aku tau apa yang harus aku lakukan dan sejauh ini aku nyaman-nyaman saja dekat dengan Aliyah. Jadi kamu jangan khawatir," ucap Brian.


"Aku hanya mengingatkan kamu Brian," sahut Naomi.


"Dan semuanya akan aku dengar," jawab Brian.


"Sudah jangan membahasa tentang diriku. Kamu harus istirahat. Karena amu tidak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Brian.


"Baiklah!" sahut Aliyah.


Brian mengusap-usap ribut Naomi agar Naomi bisa tertidur. Dan Naomi juga tidak banyak bicara lagi. Matanya terpejam dengan perlahan dan langsung istirahat.


*********


Anju kerumah orang tuanya pagi-pagi sekali. Sebelum kerumah sakit dia mampir dulu kerumah orang tuanya.


"Kamu mau sarapan apa Anju?" tanya Anna yang berada di dapur


"Mama kenapa menyuruh Danesh untuk menjemput Anju semalam?" tanya Anju.


"Mobilnya tidak ada. Ya mama suruh Danesh lah. Danesh kan suami kamu," ucap Anna.


"Ya tapi mama bisa bilang sama Anju. Kalau mobilnya tidak ada. Jadi anju bisa naik Taxi," ucap Anju.


"Anju suami kamu bisa menjemput kamu. Jadi kenapa harus di permasalahkan," ucap Anna geleng-geleng.


"Tapi mah. Anju tidak enak. Danesh harus menjemput Anju," sahut Anju.


"Sudahlah masalah menjemput sudah selesai. Sekarang kamu mau makan apa. Pagi-pagi datang yang di bahas hanya masalah itu aneh kamu," ucap Anna geleng-geleng.


"Ada apa ini?" tiba-tiba Athar datang dan langsing menarik kursi untuk duduk.


"Tumben sekali Anju kamu pagi-pagi sudah datang. Kamu sendiri? Danesh tidak ikut?" tanya Athar.


"Nggak pah Danesh sudah kekantor," jawab Anju.


"Lalu apa yang kamu debatkan dengan mama kamu di pagi seperti ini?" tanya Athar yang sebelumnya mendengar ibu dan anak itu berdebat.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2