
Danesh masih malu di depan Anju dengan Melody yang membongkar sisi lain dari dirinya. Hal itu juga membuat Anju yang sebenarnya ingin ngakak. Di pastikan di dalam hati Anju sudu menertawakan Danesh.
"Ya sudah kalian menginap di sini ya," ucap Melody tiba-tiba. Danesh dan Anju langsung melihat serius kearah Melody.
"Di luar hujan. Jangan menyetir malam-malam dan lagian besok juga weekend. Danesh kamu tidak kekantor. Jadi apa salahnya menginap sekali-kali di sini, sudah lama kamu tidak tidur di rumah mama, dan papa," ucap Melody pada anak dan menantunya itu.
"Papa setuju. Kita bisa mengobrol lebih banyak. Kita berdua sudah lama tidak membahas perusahaan," sahut Davin yang setuju dengan niat istrinya.
"Danesh tidak bisa mah," sahut Danesh menolak.
"Kenapa Danesh? Apa salahnya menginap. Kamu besok tidak masuk kerja. Mama mau kamu dan Anju harus menginap di sini. Malam ini saja?" tegas Melody.
"Tapi mah!" Danesh tetap protes. Anju hanya diam Namun gelisah. Karena Anju pasti tidak mungkin protes. Dia tidak enak dengan ke-2 orang tua Danesh.
"Tapi apa? Kamu nggak mau menginap di rumah orang tua kamu. Kamu itu lahir di sini. Besar di sini. Lagian di luar juga hujan. Kalau nanti terjadi bahaya bagaimana? Jangan membantah apa yang di katakan mama. Mama baru aja bicara, cuaca itu belakangan ini tidak bagus. Jadi kamu harus dengarkan apa yang mama katakan. Kamu mau jadi sakit gara-gara tidak mendengarkan mama," tegas Melody yang mendesak Danesh. Dia harus memaksa Danesh untuk menginap di rumahnya walau harus mengoceh dulu.
Danesh dan Anju jelas tidak setuju dengan keinginan itu. Mana mungkin mereka menginap di rumah Melody.
"Anju kamu mau kan menginap di sini?" Melody mengalihkan kepada Anju.
"Hmm, ah, a,a," Anju tampak bingung dan gugup harus menjawab apa. Tidak mungkin menolak dan tidak mungkin juga jika mengatakan iya.
"Kamu juga tidak mau Anju?" tanya Melody tampak kecewa.
"Bukan begitu ma," sahut Anju.
"Sudah kalian berdua jangan berpikir. Kalian berdua menginap malam ini di sini dan besok Anju kalau kerumah sakit di antar Danesh dari sini. Jadi jangan menolak dan tetap menginap di sini," sahut Ardian yang ikut mendukung istrinya.
"Tuh dengar kata papa kalian," sahut Melody.
Danesh membuang napas beratnya yang tidak bisa protes. Jika Danesh saja tidak bisa protes ya sama saja dengan anju yang juga tidak mungkin protes.
Keduanya jelas tidak setuju untuk menginap. Karena di Apartemen saja mereka itu pisah kamar dan jika menginap mana mungkin pisah kamar. Hanya akan mengundang kecurigaan orang tua Danesh dan Anju.
"Mau kan menginap?" Melody masih memastikan.
__ADS_1
"Iya," sahut Danesh dengan terpaksa, membuat Melody dan Ardian tersenyum. Sementara Anju menghela napas lelah.
"Bagaimana ini? Masa iya aku menginap di sini," batin Anju yang mulai bingung dan tidak tau harus apa.
"Ya sudah kita lanjutkan makannya," sahut Ardian. Anju dan Danesh melanjutkan makan dengan pikiran mereka yang pasti sudah tidak tenang.
*********
Anju dan Danesh berdiri di depan kamar tamu bersama dengan Melody yang juga ada di dekat mereka.
"Kalian tidur di kamar tamu ya. Soalnya kamar Danesh masih ada perbaikan. Masih di renovasi. Jadi tidak mungkin untuk tidur di sana," ucap Melody yang merasa tidak enak pada Anju.
"Ngapain menyuruh menginap mah. Kalau kamarnya saja tidak ada," sahut Danesh kesal.
"Astaga Danesh. Kalian menginap di rumah mama bukan perencanaan dan tidak ada janjian. Ini hanya mendadak. Dan tidak sempat memebereskan kamar kamu," ucap Melody.
"Ya kalau begitu jangan memaksa menginap. Jika kamarnya saja tidak ada," sahut Danesh.
"Jadi maksud kamu. Kamar tamu ini bukan kamar. Ini sama aja Danesh. Hanya lebih kecil sedikit. Memang kamu mau tidur di kamar kamu yang masih seperti gudang, berantakan hah!"ucap Melody.
"Kamu benar-benar ya. Protes aja dari tadi. Sudah jangan protes lagi kamu sama Anju . Tidur di kamar ini. Sana masuk ajak istri kamu, dia sudah kecapean seharian di rumah sakit. Jangan mengoceh terus kerja kamu dengan protes aja," kesal Melody yang lama-lama bisa gemes dengan putranya itu.
Danesh menghela napas yang tidak berbicara lagi yang membuat Melody bisa tambah marah.
"Nggak apa-apakan Anju. Tidur di kamar tamu?" tanya Melody.
"Nggak apa-apa kok mah. Itu sama aja bagi Anju yang penting bisa tidur," sahut Anju yang memang mana bisa protes seperti Danesh.
"Tuh istri kamu aja nggak banyak protes. Kamu itu permintaannya terlalu banyak," kesal Melody.
"Iya-iya mama jangan marah-marah lagi. Capek!" sahut Danesh.
"Kamu yang bikin mama marah. Sudah kalian istirahatlah. Mama juga mau istirahat," ucap Melody.
"Selamat tidur ya Anju! Kamu yang nyaman ya," ucap Melody.
__ADS_1
"Iya mah," sahut Anju. Melody tersenyum dan meninggalkan suami istri itu yang berada di depan pintu itu.
Danesh dan Anju sama-sama menghela napas panjang. Helaan napas yang serentak dan sama-sama tidak di sadari keduanya. Keduanya juga sama-sama masuk dan malah terhimpit di depan pintu. Pintu kamar itu terlalu kecil membuat keduanya tidak bisa masuk kalau sekali dua.
Tubuh keduanya masih menempel dengan mereka yang saling melihat dan tetep memaksa masuk tanpa ada yang mau mengalah.
"Mau sampai kapan kita seperti ini?" tanya Anju yang memang tidak akan bisa masuk jika tidak ada mengalah.
Danesh menghela napas dan akhirnya mengalah mundur dari Anju.
"Masuklah!" titah Danesh dan Anju Langsung masuk yang kemudian di susul Danesh dengan Danesh menutup pintu kamar.
Ke-2nya berdiri di depan pintu yang sudah terlihat dan melihat kamar tamu yang memang hanya ada tempat tidur yang ukurannya tidak terlalu besar dan tidak kecil juga. Jika untuk 2 orang sangat pas. Namun pasti harus berdekatan.
Kamar itu juga tidak ada sofa dan hanya ada meja-meja tempat beberapa peralatan.
"Kamu tidurlah di sini. Aku akan tidur di luar," ucap Danesh yang memilih mengalah. Karena tidak mungkin tidur di kamar itu yang tidak ada tempat selain ranjang.
"Tunggu!" Anju langsung mencegah Danesh.
"Jika kamu tidur di luar apa kata mama dan papa nanti. Mereka pasti akan bertanya-tanya," ucap Anju.
Danesh tampak berpikir, apa yang di katakan Anju memang benar. Semuanya hanya akan menimbulkan pertanyaan saja dan hal itu sangat tidak mungkin.
"Lalu bagaimana. Aku tidur di mana. Tidak ada sofa di sini hanya ada ranjang?"tanya Danesh.
Anju tau itu dan dia juga bingung harus tidur di mana.
"Ya sudahlah. Aku tidur di lantai saja," sahut Danesh yang akhirnya mengambil keputusan terakhir, dia sudah lelah dan malas untuk berpikir.
"Tanpa alas?" tanya Anju. Karena memang lantai juga polos dan sangat tidak memungkinkan tidur di lantai.
"Mau bagaimana lagi. Beginilah ruang tuan Ardian pengusaha kaya yang pelit dengan kamar tamu yang ada hanya ranjang saja" ucap Danesh yang membicarakan papanya yang memang kaya raya. Namun kamar tamu di rumah itu benar-benar sangat minim.
Bersambung
__ADS_1