
Setelah berhasil pergi dari Brian dan Naomi. Kayra langsung bersama suaminya.
Davin dan Kayra berada di dalam mobil dengan Davin yang menyetir dan istrinya berada di sampingnya. Tadi Kayra minta jemput suaminya di Restaurant tempat dia berhenti.
Kayat tidak makan dengan Davin. Dia hanya akal-akalan saja untuk membuat Brian dan Naomi berdua. Supaya mereka tidak bertengkar lagi.
"Mama jadi pusing pah. Melihat ke-2 anak itu jika masih bertengkar saja. Mereka itu sudah dewasa dan tidak pernah saling bete sampai separah itu," oceh Kayra dengan memegang kepalanya yang terasa berat. Karena memikirkan Naomi dan juga Brian.
"Memang kenapa mereka bertengkar?" tanya Davin pada istrinya.
"Mama juga tidak tau pah. Apa masalahnya. Yang jelas ke-2 anak itu hanya diam saja dan mukanya saling bete kayak gitu. Ya mama juga bingung. Kita itu lagi makan dan papa tau sendiri kan kalau lagi makan mereka itu seperti apa. Pasti mereka berdua punya dunia mereka masing-masing mengobrol yang padahal mereka setiap hari bertemu. Tetapi ini apa mereka berdua malah diam dan tidak ada obrolan yang sibuk dengan diri sendiri," jelas Kayra panjang lebar kepada suaminya itu saat menerangkan bagaimana Brian dan juga Naomi yang membuat kepalanya sakit.
"Kenapa mereka sampai seperti itu!" sahut Davin dengan menghela napasnya.
"Ya mama mana tau pah," sahut Kayra.
"Jadi ke-2nya tidak ada yang mau mengaku apa penyebab mereka bertengkar?" tanya Davin.
"Tidak ada sama sekali hanya diam dan tutup mulut. Tapi yang semoga aja setelah mama mendudukkan mereka berdua. Mereka itu baik- saja. Semoga mereka berdua sudah baikan," ucap Kayra dengan harapannya.
"Ide mama memang bagus. Ya harus kita berikan waktu untuk mereka untuk berdua dan semoga saja mereka baik-baik aja setelah ini. Papa juga malas melihat mereka yang harus bertengkar," ucap Davin.
"Iya pah. Makasih ya sudah jemput aku tadi. Jika tidak. Mama juga bingungnya mau pulang bagaimana," ucap Kayra.
"Ya pasti lah papa jemput," sahut Davin. Kayra tersenyum. Dia hanya berharap setelah apa yang di lakukannya. Naomi dan Brian baik-baik saja.
Namun harapannya belum terkabul. Karena kondisi Brian sama sekali tidak baik-baik saja. Brian dan Naomi masih tetep perang dingin. Padahal Kayra sudah berusaha dengan semampunya untuk mendamaikan Brian dan Naomi.
**********
Rumah sakit.
Hari ini Aliyah keluar dari rumah sakit. Brian mengantarkan Aliyah sampai keluar rumah sakit di mana Brian mendorong kursi roda Aliyah. Sementara orang tua Aliyah yang sudah berjalan terlebih dahulu menuju mobil.
"Kamu jangan masuk rumah sakit lagi. Kamu harus sembuh," ucap Brian sembari mendorong kursi roda itu.
"Pasti Brian. Terima kasih kamu sudah menemaniku beberapa hari di rumah sakit. Aku sangat bahagia dan merasa sangat nyaman. Jika ada kamu di sampingku," ucap Aliyah.
"Sama-sama. Tetapi berjanjilah untuk tidak masuk rumah sakit lagi," ucap Brian dengan tersenyum.
__ADS_1
"Iya. Aku berjanji tidak akan masuk rumah sakit lagi," sahut Aliyah.
Saat sampai di depan mobil. Tiba-tiba, Anju, Naomi dan Rachel ingin masuk rumah sakit.
"Aliyah kamu hari ini pulang?" tanya Rachel.
"Iya Dokter Rachel," jawab Aliyah.
"Kamu jaga kesehatan ya dan ingat rajin minum obat dan jangan kelelahan," ucap Rachel memberi saran.
"Makasih Dokter Rachel," sahut Aliyah dengan menganggukkan kepalanya.
"Dokter Naomi makasih ya, sudah menjaga saya," ucap Aliyah.
"Iya Aliyah," sahut Naomi dengan tersenyum.
"Hmmm, ya sudah ayo Aliyah kita pulang!" ajak orang tua Aliyah.
"Nanti malam. Kamu jadi datang kan?" tanya Aliyah pada Brian. Sepertinya Brian ada janji dengan Aliyah dan Aliyah ingin memastikannya.
"Aku tidak akan menunggumu. Karena kamu pasti suka lupa. Tapi aku berharap kamu datang," ucap Aliyah yang mulai terbiasa dengan Brian.
Namun Naomi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa dan lagi-lagi ekspresi itu di lihat oleh Anju.
"Ya sudah aku akan menunggumu," sahut Aliyah.
"Iya. Ayo aku bantu!" ajak Brian yang langsung membantu Aliyah berdiri dari tempat duduknya dan membantu Aliyah untuk memasuki mobil. Aliyah tersenyum.
"Makasih Brian," ucap Aliyah yang sudah duduk di dalam mobil dengan wajahnya yang terus menunjukkan rasa bahagianya.
"Sama-sama," sahut Brian mengusap pucuk kepala Aliyah dengan lembut dan sangat manis.
Hal itu terlihat dekat dan sangat inten. Dan belum sempat Aliyah pergi. Naomi sudah pergi terlebih dahulu. Tidak tau kenapa Naomi tiba-tiba pergi begitu saja dan Anju memperhatikan kepergian Naomi yang tiba-tiba.
"Hati-hati," ucap Brian.
"Iya pasti!" sahut Aliyah.dengan mengangguk tersenyum. Orang tua Aliyah juga masuk setelah mengucapkan terima kasih pada Brian.mobil dan mobil itu melaju. Brian menghela napas dan berbalik badan. Namun Brian sudah tidak melihat lagi. Naomi di antara Anju dan Rachel. Brian tidak mengatakan apa-apa dan langsung pergi.
"Di mana Naomi?" tanya Rachel tiba-tiba yang baru menyadari jika Naomi sudah tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
"Sudah pergi duluan!" sahut Anju yang memang melihat Naomi pergi.
"Oh begitu. Ya sudah kita juga harus pergi," ajak Rachel. Anju menganggukkan kepalanya.
*********
Malam hari.
Naomi yang duduk di atas ranjang yang bersandar pada kepala ranjang dengan tangannya yang membuka-buka album photo miliknya dan juga Brian.
Perlahan-lahan tangannya membuka lembar demi lembar photo-photo dia bersama Brian.
"Aku hanya mengingatkanmu. Tetapi kamu sudah sangat marah. Aku nggak tau Brian harus bagaimana mengingatkanmu lagi. Hanya karena aku mengatakan hal seperti itu. Kamu sudah tidak mau menegurku lagi. Membenciku,"
"Tapi aku berharap. Kali ini, kamu benar-benar dewasa Brian. Kamu bisa menyelesaikan masalah kamu dengan Aliyah dan bertanggung jawab pada Aliyah. Karena kamu yang memulai semuanya," batin Naomi yang hanya berharap banyak untuk Brian.
Dia turut sedih dengan sikap Brian kepadanya. Brian sudah beberapa hari ini hanya diam dan tidak menegurnya sama sekali dan jujur hal itu membuat Naomi sedih.
Naomi mengehela napasnya dan memejamkan matanya. Dia memeluk album photo yang terbuka itu.
**********
Sementara Brian memang datang menemui Aliyah. Dia tidak ingkar janji dan bahkan tidak telat sama sekali. Mungkin Brian memang ada waktu dan tidak melupakan janjinya pada Aliyah. Mereka berdua duduk di salah satu bangku di taman rumah Aliyah.
"Kamu kedinginan?" tanya Brian.
"Tidak kok. Aku tidak kedinginan sama sekali," sahut Aliyah dengan tersenyum.
"Makasih ya Brian kamu sudah mau datang menemuiku," ucap Aliyah.
"Aku sudah berjanji," sahut Brian.
"Brian saat 8 bulan lalu aku datang kerumah sakit ini. Aku melihat kamu sosok Dokter yang sangat humbel dan bukan tipe Dokter yang terlalu serius. Aku benar-benar nyaman saat di periksa oleh Dokter seperti kamu yang punya ciri khas sendiri," ucap Aliyah.
"Hari demi dari,Minggu dan bulan, aku beberapa kali masuk rumah sakit yang sama dan kamar yang sama. Seolah aku menjadi bagian dari rumah sakit itu dan juga punya kamar sendiri,"
"Tetapi aku sangat bahagia menjalani semuanya dan semua itu karena kamu yang selalu mendampingi ku dan memberiku semangat,"
Bersambung
__ADS_1