
Aliyah akhirnya mengunjungi Naomi juga. Sejak tadi Naomi mencarinya dan akhirnya Aliyah mengunjungi Naomi setelah Aliyah menata hatinya sebelumnya.
"Saya mencari kamu sejak tadi. Kamu malah tidak datang-datang," ucap Naomi.
"Iya Dokter Naomi. Saya tadi habis dari toilet," ucap Aliyah dengan tersenyum.
"Kamu seperti tidak pernah kerumah sakit ini saja. Sehingga ke toilet lama sekali. Seperti kamu yang kesasar aja," ucap Naomi.
"Dokter bisa aja. Mana mungkin saya tersesat di rumah sakit ini. Ini sudah menjadi rumah ke-2 saya. Tapi ya saya pasti tidak akan berada di rumah sakit ini lagi," ucap Aliyah dengan tersenyum.
"Kenapa begitu. Bukannya meski sembuh. Kamu harus mengunjungi rumah sakit ini juga?" tanya Naomi.
"Kalau sembuh iya dan kalau sudah tidak ada, siapa yang mau mengunjungi," sahut Aliyah dengan tersenyum getir membuat Naomi tiba-tiba menjadi datar.
"Kamu bicara apa Aliyah?" tanya Naomi.
"Tidak ada, hanya candaan saja," sahut Aliyah yang tersenyum-senyum mengalihkan situasi yang sempat menegang dengan celetukan Aliyah yang membuat Naomi aneh.
"Oh iya, bagaimana keadaan Dokter Naomi. Dokter Naomi sudah tidak apa-apa kan?" tanya Aliyah yang mengalihkan pembicaraan.
"Tidak Aliyah. Tidak apa-apa, saya sudah merasa jauh lebih enakan," jawab Naomi dengan tersenyum tipis.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Aliyah.
"Kamu sendiri bagaimana? Bukannya kamu juga terluka?" tanya Naomi.
"Tidak terluka Dokter. Saya tidak apa-apa. Dan hanya sesak sedikit kemarin pas kejadian. Tetapi sekarang sudah baik-baik saja," jawab Aliyah.
"Syukur kalau begitu," sahut Naomi dengan tersenyum.
"Ini Dokter saya bawakan makanan untuk Dokter," ucap Aliyah yang sejak tadi masih memegang paper bag tersebut.
"Makasih Aliyah, kamu tidak pernah lupa membawakan saya makanan," sahut Naomi yang langsung mengambilnya.
"Iya Dokter dan Dokter bisa makan nanti saja. Kalau Dokter sudah lapar," ucap Aliyah.
"Kenapa seperti itu?" tanya Naomi.
"Tadi saya melihat Dokter sudah makan. Jadi Dokter pasti sudah kenyang sekarang," jawab Aliyah.
__ADS_1
"Melihat! Jadi kamu tadi sebenarnya sudah datang?" tanya Naomi dengan menaikkan alisnya.
"Iya. Tapi kebelat pipis. Makanya langsung ketoilet," jawab Aliyah bohong.
"Nanti Dokter makan aja. Kalau sudah lapar ya," ucap Aliyah yang kembali mengalihkan suasana yang sempat membuat Naomi kepikiran.
"Ya sudah nanti saya makan. Makasih ya kamu selalu membawa saya makanan. Karena saya jadi pasien hari ini. Jadi saya menerima makanan kamu dan tidak menganggap ini suap," ucap Naomi dengan selorohnya yang membuat Aliyah tersenyum.
"Sama-sama Dokter," ucap Naomi.
"Duduk Aliyah. Jangan berdiri saja!" titah Naomi yang sejak tadi hanya berdiri di samping Naomi. Aliyah mengangguk dan langsung duduk di samping Naomi.
"Kamu mau buah?" tanya Naomi.
"Tidak Dokter," jawab Aliyah dengan tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Naomi.
"Keadaan Dokter bagaimana?" tanya Aliyah lagi. Padahal dia sudah mempertanyakan hal itu sebelumnya.
"Kamu lihat sendiri. Sudah merasa jauh lebih baik dan pasti besok saya juga sudah mulai bisa beraktifitas sebagai Dokter," jawab Naomi.
"Jangan dulu Dokter. Dokter harus benar-benar istirahat dulu. Harus benar-benar sembuh baru melanjutkan aktivitas Dokter. Karena tidak ada Dokter yang sakit untuk menangani pasiennya. Jadi bagaimana pasien mau sembuh. Jika Dokternya sakit," ucap Aliyah.
"Dokter Naomi sangat beruntung ya," ucap Aliyah tiba-tiba.
"Dalam hal?" tanya Naomi mengkerutkan dahinya heran dengan pertanyaan Aliyah.
"Banyak hal," jawab Aliyah.
"Dokter punya sahabat yang baik dan sangat tulus pada Dokter dan Dokter juga memiliki orang tua Brian yang sudah menganggap Dokter sebagai anak," ucap Aliyah.
"Aliyah sebenarnya apa maksud dari pembicaraan kamu. Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Dan membawa Brian? tanya Naomi yang mulai merasa. Jika Aliyah sedang tidak baik-baik saja.
"Tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya iri pada Dokter," ucap Aliya yang jujur tentang apa yang di rasakannya.
"Kenapa?" tanya Naomi heran.
"Dokter di kelilingi orang-orang yang sangat menyayangi Dokter. Brian yang sangat mengkhawatirkan Dokter dan orang tuanya yang benar-benar Dokter miliki sepenuhnya," ucap Aliyah dengan tersenyum menyimpan kesedihan di matanya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu iri Aliyah. Karena kamu masih mempunyai orang tua dan jelas saya yang harus iri kepada kamu. Aku sudah tidak punya orang tua," ucap Naomi yang wajahnya juga mulai senduh.
"Tidak ada yang special dari saya dan Dokter tidak pantas untuk iri," ucap Aliyah.
"Dokter makasih ya sudah baik sama saya selama ini. Dokter Naomi bukan hanya seorang Dokter bagi saya. Tetapi juga seperti seorang kakak," ucap Aliyah dengan matanya berkaca-kaca.
"Kenapa tiba-tiba bicara se sweet ini," sahut Naomi.
"Karena saya sangat bahagia yang di pertemuan dengan orang-orang yang sangat baik dan lebih bahagianya saat di pertemuan dengan Dokter. Dokter Naomi yang sangat baik, sangat lembut, murah senyum dan sangat humbel," ucap Aliyah dengan tersenyum yang tulus mengungkapkan perasaannya kepada Naomi.
"Kamu juga baik Aliyah dan kamu bukan hanya pasien bagi saya. Tetapi juga keluarga saya, adik saya dan bukannya kedekatan kita bukan hanyalah antara pasien dan Dokter saja," sahut Naomi. Aliyah tersenyum terharu mendengarnya.
"Iya Dokter," sahut Aliyah.
"Hmmmmm....Andai saja Dokter Kayra bisa memperlakukan saya sama dengan seperti Dokter Naomi. Pasti saya sudah sangat bahagia, dan akan lebih bahagia,"ucap Aliyah. Pernyataan Aliyah membuat Naomi heran.
"Maksud kamu?" tanya Naomi.
"Kenapa membawa nama Tante Kayra?" tanya Naomi.
"Seperti yang saya katakan. Dokter Naomi sangat beruntung. Bisa mempunyai sahabat yang begitu mengkhawatirkan Dokter. Keluarga Dokter Brian yang begitu dengan dengan Dokter dan jujur saya sangat cemburu," ucap Aliyah yang bicara pada adanya kepada Naomi.
"Aliyah sebenarnya apa maksud dari perkataan kamu?" tanya Naomi. Dia mulai merasa perkataan Aliyah yang sudah melantur entah kemana-mana.
"Dokter apa saya cocok bersama Brian!" Aliyah bertanya dan tidak menjawab pernyataan Naomi. Pertanyaan Aliyah bahkan tidak menyambung dengan pembahasan mereka sebelumnya.
"Aliyah! Maksud kamu apa? tanya Naomi semakin heran dengan setiap apa yang di katakan Naomi yang bahkan sudah tidak nyambung.
"Apa jika saya menjadi kekasihnya. Saya akan mendapatkan perhatian yang Dokter dapatkan?" Aliyah bertanya kembali yang membuat Naomi semakin bingung.
"Apa maksudnya Aliyah?" tanya Naomi heran.
"Saya mencintai Brian," sahut Aliyah yang air matanya menetes.
Naomi sedikit shock dengan Aliyah yang mengatakan hal itu di depannya dia tau. Jika Aliyah menyukai Brian. Namun tidak di duganya jika Aliyah mengatakan hal itu.
"Tetapi saya tidak tau bagaimana perasaannya kepada saya. Dia tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Dokter tau. Jika saya hanya ingin tau perasaan Brian seperti apa. Tetapi Brian tidak mengatakan apa-apa Dokter," jelas Aliyah yang seolah mengadu kepada Naomi.
Wajah Naomi senduh mendengar curahan hati Aliyah. Pasti tidak mudah bagi Aliyah menerima semua itu dan Naomi sudah tau. Jika hal ini akan terjadi.
__ADS_1
"Tetapi sepertinya bukan saya yang di inginkannya. Tetapi mungkin Dokter dan sama seperti kedua orang tuanya yang tidak membuka diri untuk saj," ucap Aliyah dengan air matanya yang terus terurai. Seolah mengadu pada Naomi.
Bersambung