
Pagi-pagi Anju sudah mandi. Anju keluar dari kamar mandi dengan rambutnya yang basah Ya dia keramas pagi-pagi. Supaya fresh. Anju berjalan menuju jendela sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Anju membuka tirai jendelanya kamarnya yang yang melihat area kolam renang di bawah sana.
Ternyata ada Danesh yang baru memunculkan kepalanya dari dalam kolam renang. Danesh yang baru melakukan aktivitas berenangnya di pagi hari.
"Apa tidak dingin berenang pagi-pagi seperti ini," gumamnya dengan memperhatikan Danesh. Sampai Danesh mendarat dari dalam kolam renang.
Orang yang berenang ya tau sendiri pakaiannya. Danesh hanya menggunakan celana pendek yang ketat yang biasa untuk di pakai berenang dan pasti telanjang dada yang membuat Anju refleks memejamkan matanya saat melihat tubuh kekar Danesh.
Ternyata hanya memejamkan sebentar saja. Tidak tau apa yang membuat Anju penasaran dan membuka matanya. Ya Anju melihat tubuh sixpack suaminya itu. Di tambah lagi dengan Danesh yang menggoyang-goyangkan kepalanya sehingga tetes demi tetes berjatuhan dari rambutnya.
Danesh pagi-pagi seperti ini memang tampil sangat mempesona dengan karismatik yang di tunjukkannya. Hal itu membuat mata Anju tidak berkedip sama sekali. Bahkan dia lupa untuk mengeringkan rambutnya. Danesh sudah seperti tebar pesona sana saja pada Anju.
Danesh mengambil bathrobe yang ada di atas kursi dan langsung memakainya. Namun tiba-tiba mata Danesh melihat ke arah atas dan mendapati Anju yang sedang melihatnya. Anju juga sadar hal itu dan cepat-cepat menutup horden kamarnya. Danesh mengendus kasar melihat hal itu dan tidur peduli lagi pada Anju.
"Hampir aja ketahuan," gumam Anju menghela nafasnya. Dia masih mengatakan hampir padahal Danesh sudah melihat dirinya.
"Lagian kamu apa-apa sih Anju. Kenapa coba kamu harus sampai melihatnya seperti ini. Kamu makin lama makin aneh," gumamnya dengan geleng-geleng kepala sendiri dengan tingkahnya yang aneh. Ya dia menyadari sendiri. Jika dia juga sangat aneh.
Anju menghelai napasnya dan langsung menuju ranjangnya yang duduk di pinggir ranjang. Anju mengambil hairdryer dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.
Tiba-tiba saja Anju kembali mengingat insiden kebakaran di rumah sakit. Bukan masalah kebakarannya yang di ingatnya. Tetapi masalah Danesh yang menyelamatkan saat itu.
Melihat wajah khawatir Danesh yang tiba-tiba membuat Anju tersenyum. Bukan hanya itu saja. Anju juga mengingat-ingat perhatian Danesh yang sangat kecil Namun sangat berkesan. Seperti memberinya minum dengan berjongkok di depannya. Memberikannya sapu tangan agar tidak kenak asap.
Ya walau Anju tidak tau diri dan memberikan sapu tangan itu pada Aliyah. Belum lagi saat Danesh menariknya keruangannya. Wajah galak Danesh yang di tunjukkan karena mengkhawatirkan Anju, mengobati Anju dengan lembut yang membuat Anju sampai detik ini masih aja tersenyum.
Namun Anju menyadari khayalannya dan langsung geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Kenapa juga aku harus memikirkannya!"
"Anju apa yang kau pikirkan? Bisa-bisanya kau mengingat hal itu. Anju kau benar-benar gila! sejak tadi fokus mu hanya pada Danesh. Masalah apa yang kau ucapkan saja belum selesai dan sekarang kau memikirkannya kembali," ucap anju yang menggerutuki dirinya sendiri karena kebodohan nnya yang memikirkan Danesh.
"Cameon Anju. Kamu harus waras. Jangan aneh-aneh. Kau bisa gila lama-lama. Jika terus memikirkannya," ucapnya dengan menepuk-nepuk pipinya yang menyadarkan dirinya sendiri.
Ya memang Anju belakangan ini sangat aneh dan mungkin ini juga karena efek dia yang juga semakin dekat dengan Danesh dan Danesh yang ternyata bukan pria yang terlalu dingin. Ada sisi dia sangat hangat dan Anju bahkan melihat Danesh tersenyum. Anju memang baru tau hal itu. Karena mereka baru lumayan intens sekarang di bandingkan sebelumnya yang mereka sibuk masing-masing.
***********
Rachel hari ini ke rumah Rendy. Dokter Rendy orang tua Azka. Pria yang masih di tunggunya selama ini. Sebelum berangkat kerumah sakit. Rachel berkunjung kerumah Rendy dan Rania untuk kepentingan pekerjaan yang harus di antarkan Rachel.
"Maaf ya om Rachel baru bisa antar sekarang dokumennya," ucap Rachel yang duduk di meja makan ikut sarapan bersama Rendy dan juga Rania. Seperti biasa jika berada di sana wajib Rachel harus makan dan pasti Rania yang memaksa hal itu.
"Tidak apa-apa Rachel. Kamu juga sudah repot-repot antar kerumah Om. Seharusnya kerumah sakit saja dan lebih dekat," sahut Rendy.
"Seharusnya mau di antar kemarin. Rachel sudah titip pada Naomi. Tetapi ternyata ada insiden. Jadi Naomi tidak bisa mengantarnya yang mau tidak mau. Rachel harus antar ketempat om," jelas Rachel.
Sebelumnya memang dia mengalihkan dokumen itu kepada Naomi. Namun siapa yang tau akan ada musibah. Mungkin memang harus Rachel sendiri yang harus mengantar dokumen untuk pemilik rumah sakit yang bekerja sama dengan rumah sakit tempatnya bekerja.
"Lalu bagaimana Rachel keadaan Naomi?" tanya Rania.
"Masih dalam perawatan Tante. Tetapi untunglah Naomi tidak mendapatkan luka serius. Bahkan luka bakar pun tidak," sahut Rachel.
"Alhamdulillah. Allah masih melindungi Naomi. Padahal pusat kebakarannya berada di dekatnya bahkan Naomi ada di lokasi tersebut. Tetapi Naomi tidak mengalami hal yang serius. Allah benar-benar sangat melindunginya," ucap Rania yang ikut bersyukur.
"Benar Tante. Semoga saja kejadian ini terulang lagi," sahut Rachel.
__ADS_1
"Memang apa yang terjadi Rachel. Kenapa tiba-tiba tempat penyimpanan meledak?" tanya Rendy.
"Ada kesalahan dalam penyimpanan. Dan polisi yang menyelidikinya. Namun salah satu suster di rumah sakit yang bersama Naomi saat itu. Mengakui kesalahannya dan pihak rumah sakit. Dokter Kayra sedang menangani hal itu," jelas Rachel dengan apa yang di ketahuinya.
"Semoga dia juga tidak mendapat Sanski yang berat. Karena mengakui kesalahan itu adalah tindakan terpuji dia luar apa yang di lakukannya sangat berbahaya. Tetapi sudah berani mengakui kesalahannya. Semoga suster itu. Bisa belajar dari kesalahannya," sahut Rania.
"Iya Tante benar. Rachel juga berharap seperti itu. Semoga Suster itu juga tidak mendapat hukuman berat dan aku sangat yakin Dokter Kayra Dokter yang sangat tegas dan bijak," sahut Rachel.
"Ya sudah Rachel kita doakan saja yang terbaik," sahut Rendy.
"Ayo Rachel nasi gorengnya di makan, dari tadi cerita terus!" ucap Rania.
"Iya Tante," sahut Rachel yang kembali menikmati nasi goreng buatan Rania.
"Kak Asyifa tidak di sini?" tanya Rachel yang tidak melihat Asyifa.
"Kemarin Asyifa, Rafa dan putri mereka ke Jerman dan Om dan Tante. Nanti sore rencananya ingin menyusul," jawab Rania.
"Jerman! Tempat Azka!" tebak Rachel.
"Iya Rachel. Sudah lama tidak mengunjunginya. Jadi Tante dan Om ingin mengunjunginya. Ya namanya juga orang tua pasti sangat merindukan anaknya," sahut Rania.
"Memang Dokter di Jerman. Jauh lebih sibuk ya Tante dari pada di Indonesia. Sampai tidak punya kesempatan untuk pulang?" tanya Rachel.
"Sebenarnya sama aja Rachel. Hanya saja. Kalau Azka pulang mana bisa cuti satu atau 2 hari. Harus panjang. Dan Azka belum mendapatkan cuti panjang. Ya pernah dapat 1 Minggu. Tapi Azka juga tidak mungkin pulang dengan waktu singkat itu. Jadi mau tidak mau, Om dan Tante yang akan mengunjunginya," jawab Rendy menjelaskan.
Bersambung
__ADS_1