
Mentari pagi kembali tiba. Sinarnya yang begitu terik. Masih di kediaman Melody dan juga Ardian. Anju masih tertidur di dalam kamar di atas tempat tidur dengan nyenyak. Namun Danesh sudah tidak ada di sampingnya dan tidak tau di mana Danesh. Karena hanya tinggal Anju yang ada di dalam kamar itu.
Sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela membuat Anju mengkerutkan matanya. Sinar matahari itu sangat mengganggu tidurnya yang begitu nyenyak. Bagaimana tidak nyeyak tidurnya dia yang tidur lasak dan Danesh yang menjadi korbannya.
Anju mengkerutkan matanya dan langsung membuka matanya karena sudah sangat terganggu dengan sinar matahari itu. Matanya terbuka dengan begitu berat dan memijat kepalanya.
"Ahhhhhhh!" Anju menguap panjang dengan menutup mulutnya dan meluruskan tangannya kedepan. Tubuhnya terasa retak padahal yang jatuh tadi malam adalah Danesh.
"Jam brapa ini!" gumamnya yang langsung duduk dan memiring-miringkan tubuhnya kekiri dan kekanan, meluruskan tangannya dengan saling menyatukan telapak tangannya ala-ala olah-raga.
Anju kembali menguap dan benar-benar matanya masih ngantuk.
"Malas sekali untuk bergerak. Kenapa tidak libur saja. Aku benar-benar sangat mengantuk," keluhnya yang sangat malas untuk bergerak.
Memangnya ini sudah jam brapa," gumamnya yang mengambil ponselnya di atas nakas dan mihat layar ponselnya yang membuatnya terkejut dengan melotot saat melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 07 pagi.
"Aku kesiangan!" Anju langsung panik dan langsung menyibak selimutnya, turun dari ranjang dan buru-buru masuk kamar mandi. Meski weekend. Anju tidak ada liburnya. Liburnya di hari tertentu saja.
"Aaaaaaaaaaaaa!" teriak Anju dengan sekencang-kencangnya saat masuk kamar mandi dan mendapati Danesh yang sedang mandi.
Mulut Anju yang berteriak kencang langsung di bekap Danesh dengan tangannya dan di dorong Danesh pada tembok. Sehingga Anju bersandar pada tembok dengan wajah keduanya yang saling berdekat.
"Ini rumah bukan hutan, berteriak sesukamu. Kau pikir telingaku tidak sakit dengan apa yang kau lakukan," ucap Danesh dengan menekan suaranya. Anju tidak dapat bicara karena mulutnya yang di bekap Danesh
Anju malah melihat tubuh Danesh yang polos sampai bawah dan bodohnya Anju melihat kebawah dan langsung memejamkan matanya dan mendorong Danesh.
"Pakai pakaian mu!" kesal Anju masih memejamkan matanya dan napasnya juga terasa sesak. Karena Danesh yang membekap mulutnya.
"Kau itu benar-benar ya Anju, tidak ada hentinya berteriak! apa mulutmu itu di ciptakan untuk berteriak!" kesal Danesh mengambil bathrobe yang mengantung dan langsung memakainya. Padahal mandinya belum selesai. Tetapi Anju sudah masuk kedalam kamar dan mengganggu dirinya dan bagaimana dirinya tidak kesal.
"Apa sudah memakainya?" tanya Anju yang masih menutup matanya.
"Punya mata, lihat sendiri," kesal Danesh dan Anju langsung membuka matanya yang pasti pertama pelan-pelan dulu untuk memastikan Danesh apa benar sudah berpakaian apa belum.
__ADS_1
"Kau kenapa berteriak?" tanya Danesh.
"Ya makanya jangan bugil seperti itu. Apa kau ingin pamer atas tubuhmu yang tidak seberapa itu," sahut Anju yang sudah membuka matanya dan masih aja bisa menyalahkan Danesh.
Semua memang akan menjadi kesalahan Danesh dan Anju kunyit kebiasaan yang menyalahkan Danesh.
"Memang ada orang mandi memakai pakaian, kau itu benar-benar sakit jiwa," kesal Danesh.
"Kau sembarangan mengataiku sakit jiwa. Kau yang sakit jiwa," sahut Anju.
"Yang sakit jiwa itu orang yang pagi-pagi berteriak. Kau ingin mama dan papa datang kekamar ini karena mendengar teriakan mu," tegas Danesh.
"Kau yang sakit jiwa dan pamer akan tubuhmu itu," sahut Anju.
"Menyalahkan orang saja. Makanya masuk kamar mandi jangan sembarangan. Sudah salah, menyalahkan dan sekarang lihat apa yang kau lakukan!" umpat Danesh marah-marah pada Anju. Mandinya terganggu dan gendang telinganya juga hampir pecah karena Anju
"Ya namanya aku buru-buru mau mandi! kenapa pintunya tidak di kunci," sahut Anju yang pasti ada saja alasannya untuk bisa mengalahkan Danesh.
"Kebiasaan tidak pernah menerima kesalahan dan ada saja jawabannya, menyalahkan orang lain," sahut Danesh dengan kesal dan hanya mengumpat saja pada Anju.
"Apa katamu. Kau mengusirku. Apa kau tidak lihat aku belum selesai mandi," jawab Danesh.
"Tapi aku bisa telat. Aku benar-benar sudah terlambat," sahut Anju
"Bukan urusanku! Siapa yang menyuruhmu bangun lama," sahut Danesh yang masa bodoh.
"Udah jangan berdebat denganku. Aku tidak punya waktu untuk berdebat padamu. Jadi keluar dari sini!" Anju langsung mengusir Danesh dengan mendorong Danesh sampai keluar dari kamar.
"Anju kau benar-benar ya!" geram Danesh yang tetap di dorong Anju sampai keluar kamar mandi dan langsung menutup pintu kamar mandi kembali.
"Isss mata ku sial sekali harus melihat hal itu," ucap Anju goyang-goyang kepala yang merasa dirinya benar-benar begitu bodoh.
"Arghhh semuanya benar-benar sial," umpat Anju dengan emosi. Sudah dia kesiangan dan melihat Danesh yang bukan hanya telanjang dada. Tetapi semuanya polos membuat Anju benar-benar sial.
__ADS_1
Sementara Danesh yang di luar pintu kamar mandi hanya menghela napas kasar yang hari-harinya juga benar-benar sial menghadapi istrinya yang semakin lama semakin bar-bar dan banyak tingkah yang membuatnya lama-lama bisa gila.
Tadi malam pinggangnya sakit. Karena di tendang Anju dan jatuh ke lantai. Untung Danesh tidak geger otak dan sekarang Danesh juga di teriaki dengan kencang membuat gendang telinganya mau pecah.
Diusir dari kamar mandi padahal dia sendiri belum selesai mandi, istrinya benar-benar dan sudah tidak tau lagi mau mengatakan apa kepada istrinya itu. Danesh harus benar-benar bersabar.
**********
Anju harus buru-buru, karena dia yang sudah terlambat. Anju keluar dari kamar mandi dengan lari-lari dan Anju sudah memakai pakaian yang di kenakannya semalam. Anju langsung mengambil tasnya dan menumpahkannya semua isinya di atas ranjang.
Dia mengambil makeupnya dan hanya memoles sedikit saja karena dia benar-benar buru-buru. Sementara Danesh yang hanya memperhatikannya yang juga duduk di atas ranjang.
"Kau akan kerumah sakit dengan keadaan seperti itu?" tanya Danesh.
"Keadaan seperti apa maksudmu, memang aku seperti apa," sahut Anju dengan heran mendengar pertanyaan Danesh.
"Pakaian yang kau gunakan. Kau akan kerumah sakit dengan pakaian seperti itu?" tanya Danesh.
"Lalu mau apa lagi. Aku tidak punya pakaian di sini dan tidak sempat ke Apartemen," jawab Anju yang terus make-up.
"Jorok sekali," desis Danesh membuat Anju menatap horor Danesh.
"Apa maksud dari perkataan mu?" tanya Anju kesal.
"Kau itu jorok sekali, pakaian itu sudah kau pakai tadi malam, kau juga sudah memakainya tidur dan bekerja dengan memakai pakaian yang kotor. Kau memang perempuan jorok," ejek Danesh yang mengatai Anju tanpa ampun.
Anju yang kesal langsung melempar spons bedak kewajah Danesh. Dan sial Danesh tidak sempat mengelak dan akhirnya mengenai wajahnya dan ada bekas bedak di spons itu membuat wajah Danesh terdapatnya sisa beda.
"Anju!" geram Danesh.
"Apa!" sahut Anju.
"Kau itu seenaknya mengataiku. Kemarin kau katakan aku bau mulut, mengatai sakit jiwa dan sekarang jorok. Memang dirimu sudah yang paling bersih hah!" umpat Anju dengan kesal yang langsung marah-marah pada Danesh.
__ADS_1
Bersambung