
"Apa ada kesalahanku yang sangat besar sampai Dokter harus membenci saya," lanjut Aliyah yang memberanikan diri untuk bertanya pada Kayra karena melihat sikap Kayra yang tidak baik kepadanya.
Kayra membalikkan tubuhnya dan berhadapan dengan Aliyah, melihat wajah senduh Aliyah yang seperti ingin di kasihani.
"Kenapa kamu punya pikiran. Jika saya membenci kamu?" Kayra bertanya kembali kepada Aliyah.
"Karena sudah terlihat sangat jelas. Jika Dokter memang membenci saya. Dokter seakan tidak suka melihat saya dekat dengan Brian, bahkan bukan hanya dengan Brian saja. Saya juga melihat Dokter yang tidak menyukai saya, jika saya dekat Dokter Naomi," jawab Aliyah dengan suara senduhnya.
"Jangan salah paham. Saya tidak pernah membenci kamu," ucap Kayra.
"Dokter kenapa sikap Dokter seperti itu kepada saya. Dan saya bisa melihat Dokter tidak menyukai saya," ucap Aliyah dengan yakin. Jika Kayra memang membencinya.
"Aliyah kamu salah menanggapi sikap saya terhadap kamu. Saya tidak pernah menegur atau mengingatkan wanita yang dekat dengan Brian. Saya hanya mengingatkan putra saya saja dan untuk wanita-wanita yang di dekatinya saya tidak peduli bagaimana mereka dan asal kamu tau. Jika kamu menjadi satu-satunya yang saya ingatkan dan saya beritahu mengenai putra saya. Itu artinya bukan karena saya membenci kamu. Tetapi karena saya peduli kepada kamu," tegas Kayra dengan setiap katanya yang penuh dengan penekanan.
"Peduli! Apa itu artinya Dokter Kayra tau. Jika saya tidak akan mungkin bersama Brian?" tanya Aliyah.
"Aliyah perasaan putra saya kepada kamu. Itu bukan urusan saya. Saya mengenal Brian dan tau tabiatnya. Dan Brian bukan orang yang serius dalam menjalani hubungan dan semua wanita dia sama ratakan dan saya sebelumnya sudah mengatakan itu kepada kamu, sudah mengingatkan kamu dan kamu pasti tidak lupa dengan apa yang saya katakan sebelumnya kepada kamu,"
"Dan sepertinya kamu sedang di masa melihat semua itu dari Brian dan itu bukan kesalahan saya lagi Aliyah. Saya sudah mengingatkan kamu!" ucap Kayra dengan tegas.
"Lalu bagaimana jika Brian tidak menyamakan saya dengan wanita-wanita sebelumnya. Apa Dokter akan bersikap baik kepada saya?" tanya Aliyah. Dia tau jika nasibnya akan sama saja dengan wanita-wanita sebelumnya. Namun dia ingin tau jawaban Kayra.
"Saya tidak pernah melarang Brian berhubungan dengan siapapun dan saya bukan seorang ibu yang harus ikut menilai pasangan anak saya dan saya tegaskan kepada kamu. Jika saya tidak pernah membenci kamu. Tidak pernah melarang kamu berhubungan dengan Brian dan Jika kamu merasa demikian itu saya tidak bisa memaksa kamu untuk berpikir yang positif kepada saya," tegas Kayra yang berkali-kali mengatakan jika dia tidak membenci Aliyah.
Aliyah terdiam mendengar apa yang di katakan Kayra. Dia hanya ingin mendapatkan jawaban dari Kayra masalah sikap Kayra kepadanya.
"Baiklah Aliyah. Saya rasa cukup dengan apa yang saya katakan kepada kamu. Saya berharap kamu paham dengan selanjutnya atas apa yang saya katakan dan mengerti dengan semua situasi ini. Saya permisi!" ucap Kayra yang tidak banyak bicara lagi dan langsung pergi.
"Tapi jika seandainya aku juga bersama dengan Brian apa yang di dapatkan Dokter Naomi tidak akan aku dapatkan. Karena aku bisa melihat Dokter Kayra, kedua orang tua Brian sangat menyayanginya," batin Aliyah dengan air matanya yang menetes.
Aliyah memejamkan matanya dengan napasnya yang terus di aturnya. Tangannya juga kembali memegang dadanya yang mungkin kembali terasa sesak. Aliyah belakangan ini kurang sehat. Jadi sangat wajar jika Aliyah sering bermasalah dengan jantungnya.
**************
Rachel yang baru datang ke rumah sakit terlihat lesuh dan kali ini sangat tidak bersemangat. Langkahnya yang Gontai seperti tidak nada kehidupan.
"Rachel!" Anju memanggil Rachel. namun Rachel yang sibuk dengan lamunannya tidak mendengarkan panggilan sahabatnya itu.
"Rachel!" Anju memanggil lagi. Dan Rachel masih tetap tidak mendengar membuat Anju yang langsung menghampiri Rachel.
"Woy!" Anju menepuk bahu Rachel membuat Rachel kaget.
__ADS_1
"Anju bikin kaget aja," gumam Rachel dengan mengelus-elus dadanya.
"Makanya jangan melamun terus. Di panggilan dari tadi malah nggak dengar," gumam Anju geleng-geleng.
"Suara kamu pelan. Makanya aku nggak dengar," ucap Rachel.
"Sembarangan. Kamu tuh yang melamun, mikirin apa sih?" tanya Anju.
Keduanya sama-sama berjalan dengan santai melewati koridor-koridor rumah sakit
Rachel menghela napas menjawab pertanyaan Anju.
"Berat amat beban hidupnya," ucap Anju.
"Aku lagi bingung," keluh Rachel dengan lemas.
"Bingung kenapa?" tanya Anju dengan heran.
"Entahlah aku nggak bisa ngejelasin. Mungkin ini yang kamu rasakan," jawaban Rachel membuat Anju mengkerutkan dahinya.
"Apa yang aku rasakan?" tanya Anju bingung.
"Kamu itu bicara ke arah mana?" tanya Anju yang semakin bingung.
"Bukannya kamu itu di gantung Brian selama bertahun-tahun. Jadi rasanya bagaimana. Apa sangat di lema?" tanya Rachel.
"Apa sih! Kenapa jadi bahas Brian?" tanya Anju.
"Ya udah jawab aja," sesak Rachel.
"Rachel. Aku sudah menikah dan Brian bukan siapa-siapaku selain kita berteman. Jadi jangan mempertanyakan suatu hal mengenai hal yang tidak penting dan apalagi aku sudah menikah!" tegas Anju yang memang tidak ingin membahas Brian atau masa lalunya. Bagaimana pun konsep pernikahannya dengan Danesh dia sangat menghargai hal itu.
"Cuma nanya aka," sahut Rachel.
"Kenapa bertanya? Azka sedang menggantungnya kamu!" tebak Anju yang tau aja.
Rachel diam dan seakan sudah menjawab pertanyaannya jika apa yang di duga Anju benar.
"Lagian aneh banget. Masa iya bertahun-tahun tidak pernah komunikasi dan bisa-bisanya kamu menunggunya yang wajahnya juga tidak pernah kamu lihat," ucap Anju geleng-geleng kepala.
"Arghhh sudahlah, jangan membahasnya. Aku pusing. Mending nanti pulang dari rumah sakit. Temenin aku nonton," ucap Rachel yang ingin menghilangkan suntuk.
__ADS_1
"Aku nggak bisa. Soalnya aku ada makan sama orang tuanya Danesh," jawab Anju yang memang tidak bisa menonton bersama Rachel.
"Ya, mentang udah nikah. Jadi waktunya kebanyakan pada suaminya deh," sahut Rachel dengan wajah kecewa.
"Lain kali aja kita nonton," sahut Anju.
"Iya-iya deh," sahut Rachel yang harus gagal nonton yang padahal dia ingin menghilangkan suntuknya.
*************
Rachel menemui Naomi dan sekalian untuk melihat keadaan Naomi apa sudah membaik apa belum.
"Kalau kamu tidak sakit aja Naomi. Kita bisa jalan-jalan malam ini," ucap Rachel yang masih aja mencari teman untuk jalan-jalan.
"Tumben sekali mau jalan-jalan biasanya mager," ucap Naomi.
"Ya sekali-kali tidak ada salahnya. Buat hilangin suntuk," sahut Rachel.
"Memang suntuk kenapa?" tanya Naomi.
"Banyak!" jawab Rachel.
"Cerita dong," sahut Naomi.
"Nggak usah entar aja. Nanti kalau aku cerita yang adanya kamu akan semakin sakit. Itu namanya menambah beban," ucap Rachel.
"Iya deh terserah kamu. Tapi kalau mau cerita aku siap dengerin," sahut Naomi.
Rachel menganggukkan kepalanya.
"Rachel kamu lihat Aliyah tidak?" tanya Naomi.
"Nggak memang dia kerumah sakit?" tanya Rachel.
"Iya. Anju bilang iya dan sampai sekarang dia tidak menemuiku yang padahal Anju mengatakan. Jika Aliyah ingin menemuiku,"'jawab Naomi.
"Paking juga sebentar lagi masuk. Kita tungguin aja," sahut Rachel.
"Iya, mungkin sebentar lagi akan datang," sahut Naomi.
Bersambung
__ADS_1