
Dengan heelsnya yang cukup tinggi. Anju berjalan dengan penuh kekesalan dengan langkah yang cepat menuju salah satu kamar. Terlihat kemarahan di wajahnya yang ingin di luapkan secepatnya karena perbuatan seseorang yang siapa lagi. Jika bukan Brian pastinya yang membuatnya kesal dengan emosi tingkat dewa.
Bruk
Anju membuka salah satu kamar perawatan dengan kasar dan membuat orang yang di dalamnya kaget. Benar, Brian dan Aliya. Ada di dalam dan pemandangan yang sangat indah ketika Brian yang sedang menyuapi Aliyah. Apa yang di katakan Rachel memang benar apa kenyataan.
"Anju!" sahut Brian melihat kedatangan Anju dengan wajah kaget Brian. Kaget karena pintu yang terbuka kasar. Aliyah yang hanya heran dengan mulutnya yang mengunyah makanan yang di suapi Brian.
"Kamu nggak salah ke rumah sakit dengan pakaian seperti itu?" tanya Brian dengan tanpa dosanya. Bisa-bisanya dia menanyakan pakaian Anju. Aduh Brian memang cari masalah saja dengan Anju.
Anju mengendus kasar mendengar kata-kata Brian. Sudah jelas perkataan Brian menjelaskan jika dia tidak ingat dengan janjinya pada Anju dan sibuk dengan pasien kesayangannya itu yang sekarang di suapi.
"Anju ini rumah sakit bukan tempat Dinner. Kamu mau ngapain Dinner di rumah sakit atau kamu punya janji Dinner dengan orang lain," ucap Brian yang bisa-bisanya tertawa.
Anju tidak merespon dan hanya menatap tajam Pria tersebut. Sampai akhirnya tawa Brian hilang perlahan ketika dia mengingat sesuatu.
"Anju kita berdua ada....." lirih Brian saat menyadari dia janji dengan Anju dan dia yang mengajak Anju untuk dinner.
"Red flag," hanya 1 kata itu yang di ucapkan Anju dan langsung menutup pintu ruangan tersebut dengan kuat.
"Astaga aku lupa!" ucap Brian yang panik setelah mengingat sesuatu.
"Ada apa Dokter?" tanya Aliyah.
"Ada bencana besar. Aliyah kamu lanjutin makan ya," ucap Brian yang langsung memberikan makanan itu pada Aliya dan Brian langsung pergi dengan buru-buru yang membuat Aliya bingung dengan Brian langsung lari dengan cepat.
"Memang ada bencana apa," batin Aliyah dengan kebingungan dan melihat kepergian Brian tanpa sebab dan mengatakan hanya ada bencana.
********
"Anju Tunggu!"
"Anju dengarkan aku dulu!"
"Anju!"
"Anju!"
__ADS_1
Brian berlari mengejar Anju yang berjalan dengan cepat. Anju bahkan sampai menabrak Naomi dan juga Rachel.
"Anju kamu kenapa?" tanya Naomi. Anju tidak bicara apa-apa dan langsung kembali berjalan.
"Anju!" Brian kembali memanggil dan juga melewati Naomi dan juga Rachel. Naomi dan Rachel saling melihat dan mereka sepertinya sudah tau apa yang terjadi.
"Pasti Brian buat masalah lagi," ucap Rachel menghela napasnya.
"Kamu benar. Aku juga berpikir seperti itu dan sepertinya mereka ada janji dan makanya pakaiannya seperti itu," sahut Naomi yang memang pasti punya pikiran yang sama. Dia juga sebelumnya sempat memikirkan hal tersebut.
"Sudahlah biarkan saja. Brian memang bisanya hanya mencari masalah saja. Biarkan dia yang menyelesaikannya" sahut Rachel.
Naomi menganggukkan kepalanya dan mereka pun meninggalkan tempat tersebut. Mereka juga ada tuga yang lebih penting dari pada harus mengurusi masalah Brian yang terus membuat masalah.
Brian masih mengejar Anju dan akhirnya mendapatkan Anju dengan memegang tangan Anju.
"Lepas!" tegas Anju dengan wajahnya yang penuh dengan amarah seperti monster.
"Dengarkan aku Anju!" ucap Brian yang tidak mau melepas tangan Anju.
Ini tingkat kemarahan Anju yang sangat parah selama ini. Emosinya yang menggebu-gebu sudah ingin diledakkan nya pada laki-laki yang ada di depannya itu.
"Aku bisa jelaskan semuanya. Anju aku benar-benar lupa. Aku tadi ada operasi dan aku tidak mengingat jika kita ada janji," ucap Brian.
"Apa katamu. Operasi. Operasi yang mana. Operasi kamu yang main suap-suapan dengan pasien kamu itu hah! Itu yang kamu katakan operasi,"
"Aku menunggu kamu dari jam 7 di Restaurant. Tapi kamu malah sibuk dengan urusan kamu. Sibuk pergi untuk membeli makanan untuk pasien kamu. Sibuk menyuapinya dan membiarkan aku seperti orang gila di sana!" teriak Anju dengan penuh amarah.
"Kamu salah paham Anju. Aku itu lupa dan semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan," sahut Brian dengan merendahkan suaranya.
"Anju percayalah aku benar-benar lupa," ucap Brian lagi.
"Mana mungkin kamu ingat. Jika kamu saja tidak pernah peduli kepadaku. Kamu tidak akan mengingat karena di ingatan kamu hanya orang lain!" tegas Anju yang begitu marah. Napasnya naik turun menghadapi Brian dengan wajah Brian yang serba salah.
"Tidak begitu Anju. Aku benar-benar ada Operasi dan tadi Aliyah juga drop. Aku juga tidak memegang ponsel," ucap Brian yang masih mencari pembelaan.
"Selalu punya alasan. Aku sudah mengatakan jika tidak bisa berjanji. Maka jangan berjanji. Kau benar-benar bajingan. Selalu mempermainkanku. Aku muak mendengar alasanmu," ucap Anju dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
"Anju!"
"Diam!" sahut Anju yang tidak mau mendengar Brian.
"Lakukan semua dengan yang kau mau. Aku benar-benar sangat kecewa kepadamu. Kau tidak pernah berubah. Tidak pernah memikirkan perasaanku. Aku bertahan dengan sikapmu yang sangat egois itu sampai bertahun-tahun," ucap Anju yang suaranya sudah mulai pelan yang terlihat lelah menghadapi Brian yang bersikap terlalu cuek dan terlalu santai padanya.
"Brengsek!" umpat Anju yang langsung pergi dari hadapan Brian.
"Anju tunggu!" panggil Brian.
Namun Anju tidak mendengarnya dan langsung pergi begitu saja. Karena memang capek menghadapi Brian yang selalu membuatnya marah.
"Maafkan aku Anju. Aku benar-benar lupa Anju. Aku tidak sengaja Anju melakukan hal itu. Aku benar-benar minta maaf," ucap Brian yang merasa bersalah.
Anju sudah berpenampilan cantik dan menunggu lama di Restaurant. Tetapi Brian ingkar janji dan malah asyik dengan Aliyah. Bagaimana tidak hati Anju yang terasa sakit dengan Brian. Sudah hubungan tidak ada kejelasan dan belum lagi Brian yang selalu ingin suka-sukanya.
***********
Setelah bertengkar dengan Anju. Brian memasuki ruangan khusus untuk Dokter bedah. Ruang yang bisa untuk berkerja dan juga untuk istirahat. Ruangan untuk para dokter-dokter ahli bedah. Namun bukan untuk pertemuan pasien dengan Dokter.
Karena di ruangan itu di lengkapi dengan beberapa meja untuk orang-orang yang di dalamnya dan pasti Brian yang paling senior.
"Ada Rachel?" tanya Naomi menoleh kebelakang saat pintu terbuka. Dia mengira Rachel yang datang ternyat Brian.
"Brian!" ucap Naomi menutup bukunya yang tadi dia sedang menulis dan melihat Brian yang tampak lesu.
"Aku pikir Rachel," sahut Naomi.
Brian hanya menghela napasnya dan langsung berbaring lurus di sofa dengan satu tangannya berada di dahinya. Naomi tidak mengatakan apa-apa lagi dan membuka laptopnya. Naomi bahkan tidak bertanya ada apa dengan Brian. Mungkin Naomi sudah tau apa yang terjadi.
"Aku jelas-jelas lupa. Dia malah berpikiran yang lain-lain. Bukannya biasa seorang Dokter menyuapi pasiennya," ucap Brian yang berbicara sendiri tanpa ada yang menanyakan ada apa dengannya.
"Aku tidak tau kalau ada Dokter seperti itu," sahut Naomi menanggapi kata-kata Brian. Tanpa melihat kearah Brian yang ada di belakangnya itu yang berbaring di sofa.
"Naomi kamu juga sering menyuapi pasien," sahut Brian bertanya pada Naomi.
Bersambung
__ADS_1