Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 61 Danesh dan Anju


__ADS_3

Aliyah yang menghela napasnya dan langsung perlahan mundur dari ruangan itu. Tidak tau kenapa dia tiba- tiba saja Aliyah harus mundur. Aliyah mungkin merasa tidak pantas atau tidak ada tempat di ruangan itu.


Aliyah langsung meninggalkan tempat tersebut. Karena hatinya sudah tidak sanggup menerima kenyataan itu. Dia hanya akan semakin di hadapkan dengan kenyataan bahwa tidak ada tempat untuknya. Dan hanya Naomi yang di khawatirkan.


Keluarnya Aliyah dari ruangan itu di selingi dengan air matanya yang jatuh dan langsung di sekanya dengan menghela napasnya, "Aliyah apa yang sebenarnya ingin kamu lihat. Sebaiknya aku pergi dari sini," batin Aliya yang kembali menyeka air matanya yang terus jatuh.


Namun dari kejauhan Anju dan Danesh yang hendak pergi melihat hal itu keluar dari rumah sakit yang kebetulan melihat Aliyah yang keluar dari salah satu ruang perawatan membuat suami istri itu menghentikan langkah mereka.


Mereka berdua hanya saling melihat yang pasti heran apa yang terjadi pada Aliyah. Namun tidak sempat bertanya. Aliyah sudah pergi terlebih dahulu dengan tangan yang masih menyeka air mata itu. Danesh dan Anju melanjutkan langkah keduanya. Saat tepat berhenti di depan pintu keluar Aliyah tadi mereka melihat kedalam ternyata itu ruangan Naomi yang sedang di rawat.


Anju sudah bisa menduga apa sebab Aliyah tiba-tiba menangis. Ini yang di duganya apa lagi jika bukan Naomi dan keluarga Brian. Anju juga menunjukkan wajah senduhnya. Posisi seperti itu pernah di alaminya dan membuatnya juga mundur. Jadi seolah Anju tau apa yang di rasakan Aliyah.


"Kamu mau masuk?" tanya Danesh.


Anju menggelengkan kepalanya"Kita langsung pulang saja," jawab Anju yang sudah sangat lelah dan lebih baik pulang. Lagi pula dia sudah memastikan Naomi baik-baik saja dan itu sudah cukup.


"Baiklah!" sahut Danesh yang menurut saja.


*************


Danesh dan Anju masih berada di dalam mobil dengan Danesh yang menyetir dan Anju yang duduk di sampingnya. Mereka memang tidak naik mobil masing-masing. Karena melihat kondis Anju yang seperti itu. Jadi mana mungkin Anju di biarkan menyetir oleh Danesh.


Walau tadi saat masih ada perdebatan di antara keduanya Maklum saja Anju selalu menolak dan merasa tidak enak tetapi Danesh tetap memaksa Anju dan akhirnya Anju mau ikut bersama Danesh satu mobil dengan Danesh


Di perjalanan pulang yang pasti tidak obrolan dan di tambah lagi macet. jika tidak macet bukan Jakarta namanya. Begitulah jika tinggal di ibu kota akan penuh dengan kemacetan. Danesh menoleh ke sebelahnya dan melihat Anju yang kelihatan sangat murung dengan melihat keluar jendela dan enatah apa yang membuatnya begitu murung.


"Masih memikirkan hal itu?" tanya Danesh tanpa menoleh kearah Anju dan menyenderkan tubuhnya di jok mobil.


"Tidak! Aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Anju yang selalu mengelak.


"Tapi jika aku menjadi kamu. Aku juga akan memikirkan hal itu. Aku juga akan memikirkan apa yang terjadi pada kamu. Aku juga akan memikirkan bagaimana kamu menghadapi semuanya," ucap Danesh.


" Kenapa mengatakan seperti itu?" tanya Anju mengkerutkan dahinya.

__ADS_1


"Brian adalah Pria yang kamu sukai dan pria yang kamu tunggu kepastiannya. Namun di sisi lain. Ada wanita yang tidak mengharapkan apa-apa. Tetapi justru dia menjadi topik dalam kehidupan Brian," jelas Danesh yang sok tau.


"Maksud kamu Naomi?" tanya Anju.


"Tidak ada persahabatan di antara keduanya dan terlihat ada sesuatu yang lebih dari sahabat. Namun tidak di sadari keduanya," ucap Danesh yang menduga-duga.


Anju mendengar pernyataan Danesh menghela napasnya saja. Dia tidak tau harus berbicara apa lagi. Tetapi apa yang di pikirkan Danesh hal itu juga yang di pikirkan Anju selama ini.


"Kau masih menunggunya?" tanya Danesh tiba-tiba, Anju melihat kearah Danesh.


"Aku tidak menunggunya. Aku sudah melepasnya. Karena aku ingin tau bagaimana ujungnya dia dan Naomi nanti," jawab Anju tampak tenang.


"Aku juga sudah menikah dan untuk apa aku menunggunya. Aku tidak berharap apa-apa dari Brian," sahut Anju yang sulit di tebak apa yang di katakannya benar atau tidak.


"Apa sekarang pernikahan kamu jadikan komitmen?" tanya Danesh melihat ke arah Anju dan Anju juga melihat Danesh dengan keduanya yang saling menatap.


"Kita berdua adalah orang yang sama-sama mempunyai masa lalu yang tidak selesai dan memutuskan menikah dengan kesepakatan kita. Tapi kita tidak pernah membahas untuk ada akhir dalam hubungan pernikahan kita. Kita tidak saling mencampuri masalah satu sama lain. Tetapi bukankah semuanya ada batas waktunya dan bukan batas waktu itu untuk perpisahan. Karena tidak ada bahasan di dalam pernikahan kita," ucap Anju.


"Mungkin bisa di katakan Iya," jawab Anju.


"Lalu bagaimana dengan orang yang bisa mempertahankan pernikahannya dengan sangat lama tanpa ada perasaan apa-apa?" tanya Danesh.


Mereka memang tidak pernah membahas sebelumnya mengenai pernikahan mereka sebelum mereka menikah. Tidak pernah membahas pernikahan itu untuk sampai kapan Apakah ada perceraian atau perpisahan di antara keduanya ketika menemukan pasangan masing-masing.


Dan memang sangat aneh jika mereka tetap bertahan menikah tanpa ada perasaan apa-apa dan tidak tahu sampai kapan hal itu sangat wajar dipertanyakan Danesh.


"Kalau begitu mari mengikut dengan pemikiran kedua orang tua kita. Mereka tau kita menikah tanpa ada perasaan apa-apa. Tetapi mereka berharap suatu saat nanti kita bukan menjadi asing. Tetapi menjadi dekat dan perasaan itu muncul sendiri," ucap Anju.


Tidak tau kenapa Anju bisa mengeluarkan pemikiran seperti itu. Kata-kata itu keluar saja dari mulutnya tanpa ada perencanaan apa-apa.


Mendengarnya Danesh mengendus tersenyum. Ya tidak percaya baginya. Jika kata-kata itu keluar dari mulut Anju.


"Jangan tersenyum. Jangan pikir aku berharap banyak dari mu. Aku tidak berharap apa-apa dari mu. Kau bertanya dan aku hanya menjawab," sahut Anju yang membuat Danesh tetap aja senyum. Entah apa yang di senyumi Danesh. Mungkin lucu riasanya kata-kata Anju.

__ADS_1


"Masih aja mengejekku!" desisi Anju dengan kesal.


"Lampunya sudah hijau. Menyetirlah!" tegas Anju dan Danesh langsung menyetir dengan masih merasa lucu dengan apa yang di katakan Anju. Anju yang tadinya murung menjadi kesal dengan Danesh.


**********


Ternyata Aliyah belum pulang dia masih berada di rumah sakit dan duduk di salah satu bangku yang ada di luar dengan wajahnya yang murung.


"Bukannya itu Aliyah!" tiba-tiba Rachel lewat dan melihat Aliyah.


"Aliyah!" tegur Rachel yang menghampiri Aliyah.


"Dokter Rachel!" sahut Aliyah.


"Kamu ngapain di sini? Kamu tidak pulang?" tanya Rachel.


"Oh iya Dokter saya mau pulang kok. Saya hanya ingin tau keadaan Dokter Naomi," ucap Aliyah.


"Naomi baik-baik saja. Dia sudah mendapatkan perawatan dan sebaiknya kamu pulang saja. Kamu juga harus jaga kesehatan," ucap Rachel.


"Iya Dokter," sahut Aliyah dengan tersenyum.


"Kamu mau ikut pulang sama saya tidak. Kebetulan saya juga mau pulang?" tanya Rachel dengan menawarkan .


"Tidak usah Dokter saya akan memanggil supir. Jadi tidak perlu Dokter," sahut Aliyah.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu secepatnya pulang dan jaga kesehatan. Naomi pasti baik-baik saja," ucap Rachel.


Aliyah menganggukkan kepalanya


Bersambung


...Pentengin terus ya masih ada lanjutan beberapa bab lagi sesuai janji saya....

__ADS_1


__ADS_2